Cara Menjadi Tokoh Di Dunia Novel

Cara Menjadi Tokoh Di Dunia Novel
Bab 009: Gadis Hantu Terkutuk (Mutiara)


__ADS_3

Syukurlah Magister Cloen datang. Aku tidak ingin terlibat masalah dengan Bion Anderson yang congkak itu. Bocah itu suka berbuat semena-mena. Dia bahkan ingin memaksa Nona Hilton yang sudah punya janji dengan tuan putri dan aku.


Magister Cloen membacakan absen sebelum memulai kelas. Ia adalah pria kurus berkacamata yang terlihat lemah. Namun, sebenarnya ia adalah salah satu guru yang paling disegani di Akademi Permata. Rumornya, wali kelas kami itu tak akan segan menahan para siswa yang gagal, bahkan walaupun ia seorang pangeran atau putri. Gelar bangsawannya adalah earl, tapi ia tak punya wilayah sama sekali. Ia mendapatkan gelar itu dengan prestasinya sendiri.


Di Akademi Permata, Magister Cloen mengajar pelajaran Sejarah Kontinen dan Geografi. Ia adalah guru yang pandai mengajar. Pelajaran yang disampaikannya jelas dan lugas, langsung ke intinya, serta tidak berbelit-belit. Menurutku, ia memang pantas mendapat gelar sebagai guru besar di akademi di samping gelarnya sebagai earl.


Sayangnya, sebaik apa pun ia menjelaskan, tetap saja ada siswa yang tidak memperhatikannya. Samar-samar, aku mendengar kasak-kusuk para siswa yang tidak betah di kelas. Mereka ingin segera keluar. Selain itu, ada juga yang terlelap dengan nyenyaknya seolah dibacakan cerita pengantar tidur.


“Ingatlah, Tuan-tuan dan Nona sekalian,” kata Magister Cloen sebelum menutup pelajarannya, “Kalian harus baik-baik memperhatikan sejarah. Roda kehidupan manusia itu selalu berputar. Saat ini, kalian mungkin di atas. Namun, siapa yang tahu apa yang akan terjadi esok? Sungguh, kontinen ini pernah dikuasai imperium-imperium besar yang silih berganti. Setiap masa ada tokohnya, setiap tokoh ada masanya.”


Begitu Magister Cloen meninggalkan kelas, aku menatap ke luar jendela. Tidak ada teman yang bisa kuajak mengobrol. Ini sudah seminggu, tapi tetap tak ada satu pun orang yang mau duduk di sampingku.


Hah … biarlah begitu. Aku tidak peduli sama sekali. Lagi pula, aku sudah terbiasa dengan keterasingan ini.


“Oi, Gadis hantu terkutuk,” seru seseorang dari barisan belakang. Aku tahu bahwa orang itu sedang meledekku. Hanya aku yang memiliki label seperti itu di kelas ini. “Urusan kita belum selesai.”


Ah, ternyata Bion Anderson. Aku tidak mau menggubris ocehan bocah manja itu. Biarkan saja dia lelah dengan sendirinya. Kalau aku menoleh, itu berarti aku mengakui panggilan hina yang mereka sematkan kepadaku itu.


Brak!!!


“Oi!” seru Bion lagi, kali ini dengan menggebrak meja sampai membuatku tersentak. Aku pun refleks menoleh. Jantungku berdebar kencang saking kaget. Bocah manja itu sungguh keterlaluan.


“Beraninya kamu mengabaikanku, Gadis hantu,” katanya sambil menatapku dengan galak, “Kamu tidak pantas duduk di akademi yang elit ini. Kehadiranmu merusak mataku sejak tadi. Apa yang dipikirkan akademi sampai mau menerimamu sebagai murid?”


“...”


Aku pun kembali menoleh ke luar, menunjukkan penolakanku atas ucapannya. Anggaplah ia angin lalu yang biasanya berhembus di udara, hanya saja sedikit lebih kencang kali ini. Aku tidak perlu memasukkan ucapannya ke dalam hati.


“Apa kau tuli, heh?” Bion pindah ke depan mejaku. Kehadirannya itu sungguh mengganggu. Ia membuat suasana di kelas ini jadi sesak. “Aku memanggilmu sejak tadi.”

__ADS_1


“Sudahlah, Bion,” suara seorang pemuda lain terdengar di telingaku, “Gadis terkutuk itu memang tuli. Kamu hanya akan rugi jika mendekatinya.”


“Benar,” susul suara cempreng seorang gadis, “Dia itu hanya seonggok makhluk putih yang tidak berarti. Abaikan saja dia kalau kamu tidak mau tertular kutukannya.”


Gelak tawa pun terdengar di kelas. Entah apa yang lucu bagi mereka, yang mereka lakukan hanyalah kesia-siaan. Mereka mungkin merasa di atas sekarang, tapi entah di masa depan. Seperti kata Magister Cloen, roda kehidupan itu selalu berputar.


Pelajaran di sekolah selesai di siang hari. Entah mengapa, hari ini terasa lebih berat dari biasanya–tidak, sebenarnya aku tahu jelas apa penyebabnya, tapi aku tak berniat untuk memikirkannya lebih jauh. Aku hanya ingin langsung kembali ke kamar hari ini, tapi …


“Hai,” panggil seorang gadis yang rambutnya disanggul rumit ke belakang. Gadis itu adalah putri seorang count dari selatan. Ia gadis yang cukup populer di kelas. “Apa kamu mau langsung pulang ke asrama?”


Gadis itu menyunggingkan senyum yang ramah padaku. Ia seolah peduli dan empati padaku. Namun, matanya yang gelap itu menunjukkan pandangan hina yang kontras dengan sikapnya.


“Oh, aku lupa!” gadis itu pura-pura kaget, “Kamu kan dikutuk tuli. Jangan tularkan kutukanmu padaku, ya.”


“Ei, Luna,” panggil gadis di sampingnya, “Dia kan sempat membela Rosica tadi. Dia hanya pura-pura tuli. Kamu harus menjaga ucapanmu. Dia mungkin akan mengutukmu karena sakit hati.”


“Tentu, Luna. Dia kan gadis terkutuk yang hina dina. Dia pasti membawa hawa buruk di tubuhnya. Kamu harus segera ke kuil suci dan memberi sumbangan,” balas Bella dengan seringai lebar di bibirnya. Ia pun menoleh ke seorang temannya yang sejak tadi ikut terkekeh bersamanya, “Iya, kan, May.”


“Iya, iya,” May mengangguk-angguk setuju.


Biarkan. Mereka hanya angin lalu yang lewat. Anjing menggonggong, kafilah pun berlalu. Selama mereka tidak main fisik, aku tidak perlu membalasnya. Aku pun meninggalkan mereka begitu saja.


“Ei,” Bella menangkap lenganku, “Siapa yang mengizinkanmu untuk pergi?”


“Lepaskan!” ucapku singkat. Aku akan langsung membalas jika mereka macam-macam. Kebetulan sekali, tanganku sedang ini memukul sesuatu saat ini.


“Apa?” Bella memiringkan wajahnya dengan seringai yang sama, “Katakan lebih keras, Gadis tuli.”


“Lepaskan, Nona Bella Aqua!” balas Nona Hilton yang berjalan mendekat ke arah kami, “Bukankah itu yang Lady Muthia katakan? Atau … apa pendengaranmu sudah mulai berkurang seperti nenek-nenek yang tua?”

__ADS_1


“Ck! Rosica Hilton,” seringai di bibir Bella langsung luntur seketika, “Jangan ikut campur kalau kamu tidak mau terkutuk seperti dia.”


“Terkutuk? Kenapa aku terkutuk?” Nona Hilton menyeringai tipis, “Aku tidak melakukan kesalahan apa pun.”


“Kamu … auuw!!?” Bella hendak membentak Nona Hilton, tapi aku lebih dulu memelintir tangannya sampai ia merintih. Ia tersentak saat kutatap dalam. Tubuhnya pun ambruk seketika, tak mampu mempertahankan keseimbangan badannya.


“Bella!?” May langsung menangkapnya, sementara Luna memberikan tatapan yang tajam padaku. Aku pun membalasnya tanpa rasa takut sama sekali. Tatapan kami saling bertemu dan beradu.


“La–Lady Muthia,” panggil Luna terbata-bata, “Apa yang Anda lakukan?”


“Aku hanya melepas tanganku,” jawabku enteng.


Entah apa yang ia pikirkan, Luna langsung memalingkan wajahnya dariku. May yang terduduk bersama Bella juga langsung menekuk wajah saat bertemu pandang denganku. Ini ….


“Ei, sudahlah,” Nona Hilton maju menengahi, “Nona Aqua hanya terjatuh biasa. Kamu tidak terluka, kan? Aku yakin Nona Aqua tidak akan terluka hanya karena terkejut seperti itu.”


“...”


Bella menatap Nona Hilton kesal. Ia juga menghindari bertatapan langsung denganku. Mungkin mereka takut karena mengira akan tertular ‘kutukan’ itu.


“Lady Muthia,” panggil Nona Hilton setelah beberapa saat suasananya aneh, “Maukah Anda pulang ke asrama bersama kami? Kebetulan asrama kita berdekatan.”


“Rosy,” Nona Orchid yang sejak tadi diam saja menepuk pundak Nona Hilton. Ia memang seperti itu sejak kunjungannya kemarin. Rupanya ia masih takut denganku sama seperti ketiga gadis pengganggu itu.


“Baiklah,” jawabku dengan anggukan kecil. Karena Nona Hilton baik-baik saja padaku, tidak ada salahnya jalan bersama mereka. Lagi pula, kami akan pergi bersama ke istana tuan putri sore ini. Kami pun meninggalkan kelas dan para gadis pembuat onar itu tanpa banyak berbasa-basi lagi.


“Lady, kenapa Anda diam saja saat mereka mengejek?” tanya Nona Hilton dalam perjalanan pulang, “Saya mohon maaf. Saya tidak bisa membela Anda sama sekali.”


“Tidak masalah,” jawabku lirih. Yah, memang tidak masalah. Bagiku, mereka tak lebih dari sekadar angin lalu. “Lagian, mereka akan menerima akibatnya sendiri tanpa campur tanganku.”

__ADS_1


__ADS_2