Cara Menjadi Tokoh Di Dunia Novel

Cara Menjadi Tokoh Di Dunia Novel
Bab 014: Butik Madam Eline (Zamrud)


__ADS_3

“Terima kasih atas jamuannya, Tuan Putri,” ucapku hormat. Usai sarapan bersama, kami langsung pergi meninggalkan Istana Melati Putih. Sebenarnya, Putri Diamond I mengajak kami untuk jalan-jalan berkeliling ibu kota sepanjang hari ini. Namun, aku menolaknya dengan lembut karena Lily terus mendesakku untuk pergi sejak pagi tadi. Katanya, ia malu bertemu dengan Putri Diamond I dan Lady Muthia karena sikapnya pagi ini.


Aku sendiri juga bersyukur sebenarnya. Saat jalan-jalan bersama Lady Muthia pagi ini aku hampir saja salah bicara. Siapa sangka bahwa Lady Muthia akan sepeka itu? Aku jadi terpaksa berbohong untuk menghindari kecurigaanya.


Em … tidak sepenuhnya berbohong sih. Putri yang kumaksud memang aku sendiri. Faktanya, aku memang membantu Keluarga Hilton–yang sebenarnya tidak ada–menjadi sebaik sekarang.


“Jadi, mau ke mana kita hari ini?” tanyaku pada Lily. Sayang sekali kalau kami langsung balik ke asrama. Hari libur yang luang ini akan jadi lebih baik jika kami memanfaatkannya untuk jalan-jalan ke luar.


“Kita ke pusat kota saja,” jawab Lily yang tampaknya masih belum bangkit semangat, “Aku sungkan bertemu tuan putri dan lady lainnya. Sudah kuduga, aku memang tidak cocok untuk naik ke pergaulan kelas atas. Aku hanya akan menjadi figuran di sana.”


“Lily, jangan putus asa begitu saja,” aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Dia adalah variabel penting yang berguna untuk mengokohkan penyamaranku. Aku akan kesulitan bila dia tiba-tiba hengkang dari pergaulan sosial. “Lagi pula, Lady Muthia dan Putri Diamond I tidak mempermasalahkannya sama sekali. Kamu hanya perlu pembiasaan sedikit lagi.”


“Tapi …,” Lily berwajah sedih. Dia gadis yang sangat labil, mudah sekali terpengaruh oleh situasi di sekitar. Masalahnya, ia adalah gadis yang cenderung mudah menyerah.


“Tenanglah!” hiburku setelah memberi instruksi pada kusir untuk berangkat ke pusat ibu kota. Sebenarnya, mudah saja mengganti variabel seperti Lily. Namun, aku bukan gadis yang sedingin itu sampai tega meninggalkan kawan pertamaku begitu saja.


“Bagaimana kalau kita mampir ke butik dulu?” tanyaku memberi tawaran. Kebetulan sekali, ada tempat yang ingin aku kunjungi di pusat ibu kota. Itu adalah markas komando intelijen yang aku pimpin sendiri.


“Kamu tahu butik di pusat kota?” tanya Lily meragukan. Hais … dia meremehkanku hanya karena labelku seorang putri baron. Kalau aku memberitahunya identitas asliku, ia pasti akan terkejut sekali.


“Tentu saja, aku kan putri pedagang,” jawabku percaya diri, “Aku punya satu dua koneksi di sini.”


“Butik apa itu?” Lily masih terlihat ragu, tapi berusaha percaya.


“Butik Madam Eline,” ujarku ringan.


“Hah? Butik apa?” tanya Lily lagi.


“Madam Eline,” aku pun kembali menjawabnya dengan enteng, “Ibuku punya hubungan yang baik dengannya. Jadi, kita pasti bisa masuk dengan mudah ke sana.”


“Kamu serius?” Lily tetap saja meragukanku, “Madam Eline yang itu, kan?”


“Iya,” aku mengangguk dengan wajah berseri, menunjukkan keseriusanku, “Lihat saja nanti kalau kamu nggak percaya.”


“...” Lily pun terdiam.

__ADS_1


Aku tidak bohong saat bilang bahwa ibuku punya hubungan yang baik dengan Madam Eline yang terkenal di Kerajaan Diamond. Saat Kerajaan Emerald dan Kerajaan Diamond menyetujui kerja sama perdagangan, ibuku menemukan Salon Madam Eline yang masih kecil. Melihat potensinya, ibuku membantunya sehingga Madam Eline sangat berterima kasih pada kami.


Aku pun kerap berkunjung ke tempatnya di Wilayah Utara sejak kecil. Madam Eline sudah seperti bibi kandung yang sangat dekat denganku. Dia juga yang mendandani penampilan baruku di episode awal.


“Selamat datang, Nona,” sambut seorang gadis muda ketika kami sampai di Butik Madam Eline. Ia menatap kami dari atas sampai bawah. Setelah aku menunjukkan sebuah kartu nama, ia pun langsung menunduk sopan kepadaku dan izin ke belakang sebentar.


“Silakan istirahat dulu di sini,” kata gadis itu sebelum pergi, “Saya akan segera kembali.”


“Rosy,” panggil Lily dengan wajah skeptisnya yang belum luntur juga, “Apa itu?”


“Apanya?” kataku balik bertanya.


“Kartu tadi,” Lily memperjelas pertanyaannya, “Kartu apa itu?”


“Kartu nama,” jawabku singkat dengan seulas senyum simpul di wajah. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya turun menemui kami. Ia menunjukkan sopan santun yang tinggi kepadaku dan Lily.


“Selamat datang, Nona Hilton,” sambut wanita itu sopan. Dia adalah direktur dari Butik Madam Eline di ibu kota. Kami memang tidak kenal akrab. Namun, dia sudah pernah melihat penampilanku sebagai Rubia vi Emerald tiga bulan yang lalu.


“Lama tidak bertemu, Madam Anne,” aku senang bertemu dengannya. Ia adalah wanita yang cantik dan bersahaja. “Senang sekali bertemu Anda di sini.”


“Saya pun begitu,” Madam Anne membalas senyumku dengan senyuman yang sama, “Kehadiran Nona adalah kebahagiaan bagi saya.”


“Madam, ini temanku,” ucapku memperkenalkan Lily, “Namanya Lilianne Orchid. Dia sangat baik hati dan cantik. Bukankah dia cocok untuk menjadi model desain terbaru Anda?”


Aku memberi kode kecil kepada Madam Anne. Wanita itu pun langsung paham apa maksudku. Ia segera meminta para pelayannya untuk membawa Lily ke ruang ganti, sedangkan Lily sendiri masih belum mengerti dengan apa yang terjadi padanya.


“Mari ikuti saya, Nona,” ajak Madam Anne begitu Lily pergi. Kami pun naik ke lantai empat. Di sana ada ruangan besar yang sangat luas, tapi tertutup. Tembok dan penutup langit-langitnya berbahan khusus sehingga mampu menahan suara dari luar maupun dalam.


“Izinkan saya mengulang sambutan saya,” ucap Madam Anne setelah kami berdua masuk ke dalam ruangan itu. Ia pun menjura dan menjinjingkan sedikit rok gaunnya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya di taruh ke dada, lantas berkata, “Selamat datang, Putri Rubia. Suatu kehormatan dapat bertemu dengan Anda kembali.”


“Mari lewati saja sesi formalnya, Madam,” aku membalasnya dengan anggukan kecil biasa, “Kita harus berhati-hati selama masih di Kerajaan Diamond. Panggil saja aku Rosica Hilton seperti yang sudah ditentukan.”


“Saya mengerti,” Madam Anne mengangguk paham. Pada dasarnya, Madam Anne memang bukan warga negara asli Kerajaan Diamond. Ibuku sengaja mengirimnya ke mari untuk membantu kami mengawasi setiap pergerakan politik di kerajaan ini. Ia sudah bertahun-tahun tinggal di sini, bahkan memiliki suami dari ibu kota.


“Baiklah, laporkan penyelidikan terakhir yang para pengintai dapatkan!” titahku kemudian. Madam Anne pun segera memberikan berkas-berkas yang disimpan baik-baik di ruangan itu. Ada banyak informasi yang kudapat berkaitan dengan kondisi politik yang terjadi di ibu kota sebelum aku masuk ke akademi. Aku menanyakan sesuatu yang paling kami waspadai, “Bagaimana pergerakan ‘Singa Muda’ akhir-akhir ini?”

__ADS_1


Singa Muda. Itulah kode yang kami berikan pada suksesor Kerajaan Diamond yang berpotensi mengacaukan kesimbangan kontinen, terkhusus Kerajaan Emerald. Kami mendapatkan kabar terkait dirinya sejak setahun yang lalu.


“Tidak ada yang spesial,” lapor Madam Anne sembari memilah lembar-lembar kertas yang ada di atas meja, “Singa Muda bergerak secara pasif seperti biasa. Intensitas kehadiran di Menara Sihir pun tidak bertambah maupun berkurang. Ia selalu datang di waktu purnama paling terang saban bulannya.”


“Hm,” aku membaca dokumen yang Madam Anne berikan, “Apa kalian belum menemukan cara untuk mengetahui kegiatan yang ia lakukan di Menara Sihir?”


“Mohon maaf, Nona,” Madam Anne tertunduk dalam, “Kami masih belum bisa memastikannya. Menara Sihir memasang tabir yang kuat di wilayah sekitarnya setiap bulan purnama terbit.”


Kalau saja kami tidak mendeteksi interaksi Singa Muda dengan Menara Sihir, tentu kami akan mengabaikannya. Kami bukannya mau ikut campur dengan urusan suksesi Kerajaan Diamond. Hanya saja, kami punya riwayat yang buruk dengan Menara Sihir. Karena itulah kami tidak bisa membiarkannya begitu saja.


“Aku mengerti,” kukembalikan dokumen itu setelah selesai membacanya, “Itu memang bukan hal yang mudah. Para penyihir itu juga bukan eksistensi yang sederhana. Berhati-hatilah dalam bergerak. Segalanya akan menjadi sulit kalau sampai Kerajaan Diamond mengetahui pergerakan kita.”


“Kami pasti berhati-hati, Nona,” Madam Anne berjanji, “Operasi ini sangat menyangkut dengan kestabilan kontinen.”


“Sudah waktunya kita kembali,” aku pun merapikan kertas yang berserak di atas meja, “Mari kita turun ke bawah sebelum Lily merasa jenuh.”


“Tenang saja, Nona,” Madam Anne menyunggingkan senyum simpul, “Gadis itu tidak akan bosan sama sekali.”


Saat kami sampai di lantai dasar, kulihat Lily tengah bercermin ria. Ia memutar-mutar tubuhnya, menikmati betapa indahnya gaun yang ia pakai. Dia memang sudah cantik alami, tapi semakin cantik setelah para pegawai butik mendandaninya.


“Wah, Nona sangat cocok dengan gaun itu,” puji Madam Anne senang. Aku setuju dengannya. Gaun merah muda yang Lily pakai saat ini memang pas dengannya.


“Ah–! Madam!?” Lily segera berhenti dan menundukkan kepalanya. Ia tersipu malu mendapatkan pujian itu. “Saya senang sekali di sini. Tapi … maaf. Semua gaun ini terlalu mahal untuk saya. Saya tidak mungkin bisa membelinya.”


“Oh, itu bukan masalah, Nona Orchid,” Madam Anne menatap Lily dari atas sampai bawah, lalu menunjukkan wajah puas, “Sayalah yang justru harus berterima kasih karena Anda mau menjadi model kami. Saya jadi mendapatkan inspirasi baru setelah melihat kecocokan Anda dengan gaun itu. Anda bisa mengambil gaun itu cuma-cuma. Anggaplah itu sebagai rasa terima kasih kami atas partisipasi Anda.”


“...”


Lily tak dapat berkata-kata untuk sesaat. Ia pun melirikku sebentar sebelum bertanya memastikan, “Apa saya sungguh bisa mendapatkan gaun cantik ini?”


“Tentu, Nona,” tegas Anne mengonfirmasikannya, “Tolong terima gaun pemberian kami yang sederhana.”


“Bagaimana dengan, Nona Hilton?” salah seorang pelayan butik bertanya, “Kita punya gaun yang cocok dengan model rambutnya.”


“Benar, benar,” sahut yang lain.

__ADS_1


“Hm, kalau begitu, Nona,” Madam Anne menatapku dengan seringai usil di wajahnya. Aku pun merinding untuk sesaat. Firasatku memburuk sehingga memutuskan untuk segera pergi, “Madam–”


“Mari ikuti kami,” Madam Anne mendorongku tanpa memberi kesempatan untuk berkata sedikit pun. Lily bahkan ikut semangat melihatnya. Perasaan gadis itu sudah membaik sekarang, sedangkan aku hanya dapat menghela napas pelan. Jujur saja, aku bukan gadis yang doyan berdandan lama-lama.


__ADS_2