Cara Menjadi Tokoh Di Dunia Novel

Cara Menjadi Tokoh Di Dunia Novel
Bab 004: Hari Pertama (Mirah)


__ADS_3

Cahaya mentari hangat menyinari kamarku di pagi yang cerah ini. Saat aku membuka mata, senyum mengembang di wajah ayuku nan imut. Aku pun bangkit dan berjalan ke cermin.


Mata merah delima yang elok, alis lentik yang cantik, dan wajah semanis boneka, ditambah dengan pipi kemerahan yang alami. Yah, itulah aku, Amelia Ruby, putri semata wayang Duke Ruby yang merupakan perdana menteri Kerajaan Diamond.


“Nona,” panggil seorang wanita yang suaranya amat familiar di telingaku, “Ah, Anda sudah bangun rupanya. Saya sudah menyiapkan air. Silakan Anda gunakan.”


“Terima kasih, Mala,” balasku riang.


Wanita itu adalah dayang yang mengasuhku sejak kecil. Mala namanya. Ia serba bisa dan kompeten. Tahun ini, umurnya sudah masuk di sekitar usia dua puluhan tahun. Aku merasa sedikit bersalah karena membuatnya tak dapat segera menikah. Sampai aku lulus nanti, ia akan terus berada di sisiku. Tenang saja, Mala. Kamu pasti akan mendapat suami yang baik dan terhormat–minimal sekelas kesatria–setelah aku lulus nanti. Dengan posisiku sebagai putri bangsawan terkemuka, mencarikan jodoh terbaik untuk dayangku bukanlah hal yang susah.


...***...


Amelia Ruby. Putri tunggal Duke Ruby, kerabat dekat Keluarga Kerajaan Diamond sejak pendirian negara. Dia adalah pemimpin para gadis muda di pergaulan kelas atas. Dengan status dan kewibawaannya yang tertanam sejak dini, ia pantas disandingkan dengan putra mahkota. Iris matanya merah semanis delima. Rambutnya ikal berwarna merah kecokelatan bak dedaunan musim gugur. Ia gadis yang supel, baik hati, dan dicintai banyak orang.


...***...


“Aku berangkat sekarang, Mala,” seruku dengan wajah ceria yang penuh semangat. Yah, tentu saja aku bersemangat. Ini adalah hari pertamaku masuk di Akademi Permata. Kira-kira … kisah seperti apakah yang menantiku di akademi nanti?


Angin sepoi-sepoi berhembus meniup rambut merahku. Segarnya … ini adalah nikmat yang nyata. Omong-omong tentang rambut merah, tokoh wanita dengan rambut dan mata merah biasanya menjadi tokoh antagonis jahat, mudah iri hati, dan kejam. Apalagi dengan status sebagai putri tunggal duke yang dekat dengan keluarga kerajaan sekaligus kandidat kuat tunangan putra mahkota. Aku sangat pantas menjadi antagonis klise di novel-novel arus utama.


Namun, itu tidak berlaku padaku. Aku sudah menjadi gadis yang baik hati, supel, dan terbuka sejak kecil. Jadi, orang-orang tidak akan menganggapku jahat sekalipun aku seorang putri tunggal duke yang berkuasa besar di kerajaan dan cenderung suka bersikap sebagai pemimpin untuk gadis seusiaku di pergaulan kelas atas.

__ADS_1


Di novel-novel arus utama, tokoh antagonis biasanya adalah lady yang sangat terobsesi dengan kekuasaan atau pasangan politiknya. Ia tidak akan rela jika ada gadis lain yang mendekati tunangannya, apalagi tokoh utama wanita protagonis. Ia pasti akan menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan saingannya.


Yah, itu kan cerita di novel-novel arus utama. Aku jauh berbeda dengan tokoh antagonis yang seperti itu. Meskipun ada rumor yang mengatakan bahwa aku akan ditunangkan dengan putra mahkota, aku tidak akan terpengaruh olehnya. Aku tidak peduli dengan pangeran itu meskipun ia tampan dan berkedudukan tinggi.


Cinta atau persahabatan? Manakah yang harus kupilih, ya? Akademi adalah tempat yang cocok untuk mendapatkan keduanya, jadi …


“Jelas aku lebih memilih persahabatan.”


Cinta itu bukan segalanya bagiku. Di balik yang namanya pernikahan, ada hal yang lebih besar dari cinta, yaitu tanggung jawab. Cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu dalam sebuah bahtera rumah tangga. Lagi pula, aku adalah seorang putri bangsawan yang terhormat. Di masa depan nanti, aku mungkin akan dinikahkan dalam politik–seperti dengan putra mahkota misalnya. Itu adalah konsekuensi kecil dari segala kemegahan yang sudah kudapatkan.


“Putra mahkota memang tampan, baik hati, dan perhatian,” gumamku begitu memikirkan sosok yang merupakan salah satu lulusan terbaik dari akademi ini. Kakakku punya persahabatan yang erat dengannya, jadi kami sudah sering saling bertemu–baik sengaja maupun tidak. “Tapi, dia terlalu hangat pada siapa pun. Kalau aku benar-benar menjadi pasangannya, akan sulit untuk memonopolinya nanti.”


Kalian pasti mengerti, kan? Dia seorang pangeran. Kultur dunia ini disesuaikan dengan era pra-abad ke-20.


“Selamat pagi,” sapanya.


“Pagi, Ely,” balasku dengan seulas senyum hangat. “Kamu semangat sekali, ya? Aku jadi iri. Coba kalau aku punya tenaga sebesar kamu.”


“Ey, buat apa punya kekuatan?” Eleanor menggeleng tak setuju, “Justru bagi kita para lady, kecantikan itu lebih penting. Kamu adalah yang paling cantik di antara kita semua. Malah aku yang sebenarnya iri sama kamu.”


“Ely juga cantik kok. Banyak loh yang nge-fans sama kamu,” balasku mengembalikan pujiannya. Benar, kecantikan itu bukanlah hal yang terlampau penting. Tidak patut menyombongkannya hanya karena aku memiliki paras yang sedikit lebih ayu dibanding lady lainnya.

__ADS_1


“Apalagi kamu,” timpal Eleanor.


“Hai … tunggu!” seorang gadis berambut cokelat lurus berjalan cepat ke arah kami. Ia adalah Viola Morgan, putri Vicount Morgan. Aku, Eleanor, dan dia sudah bersahabat sejak kecil.


“Selamat pagi, Vio,” sapaku begitu ia sampai di hadapan kami. Ia pun membalas, “Pagi, Lia.”


Hari pertama adalah hari yang paling penting. Kami tak boleh terlambat hari ini. Apalagi kami membawa nama baik keluarga kami masing-masing.


Acara penyambutan peserta didik baru dan pembukaan tahun ajaran baru belum dimulai, tapi auditorium akademi sudah ramai oleh putra-putri terbaik di kerajaan. Para petugas Dewan Organisasi Siswa mondar-mandir ke sana-ke mari mengoordinasikan kondisi dan mengatur berbagai urusan. Siswa-siswi yang sudah datang pun diarahkan untuk segera menempati posisi yang sudah ditentukan.


Aku dan Eleanor duduk dalam satu kelas yang sama, Kelas-B Angkatan 98. Viola berada di Kelas-A. Ia duduk di barisan paling utara bersama kawan-kawan sekelasnya yang lain, sedangkan kami duduk di tengah-tengah barisan Angkatan 98.


Di mana-mana, kepala sekolah atau direktur akademi sama saja. Mereka selalu banyak bicara. Termasuk kepala sekolah kami, Profesor Neo. Beliau berceloteh ke mana-mana meskipun inti dari sambutannya itu hanya satu, “Selamat datang di Akademi Permata. Berjuanglah dengan giat selama menempuh studi di akademi. Kami senang bisa menyambut kalian semua!”


Begitulah beliau. Aku hampir menguap karena mengantuk saat mendengarkan sambutannya. Untung saja tak ada yang melihatku–meskipun sebenarnya aku tak perlu khawatir karena sudah belajar cara tidur sambil duduk anggun. Aku tidak boleh sampai terlihat melakukan hal kampungan–menguap di depan umum maksudku–seperti itu.


Akhirnya, acara selesai juga walaupun rasanya seperti duduk selama bertahun-tahun lamanya. Para siswa diperkenankan untuk meninggalkan auditorium selepas acara penyambutan usai. Aku, Eleanor, dan Viola pun bergegas menuju ke kelas kami masing-masing.


“Wah, wah … Anda benar Lady Amelia Ruby, kan?” sebuah suara lembut menghentikan kami, “Mata merah cerah dengan rambut selaras. Kecantikan Anda sungguh terkenal sampai ke negeri saya, Lady. Senangnya bisa bertemu dengan Anda.”


“Hm?” aku pun menoleh demi mengetahui pemilik suara yang lembut itu. Rambut biru lurus segelap malam. Mata berwarna laut gelap nan dalam secantik nilam. Kulit pucat terang seputih susu. Oh! Aku kenal gadis itu.

__ADS_1


Dia adalah sosok yang sebelas-dua belas denganku. Kami sama-sama terkenal di pergaulan kelas atas. Kedudukan keluarganya pun lebih tinggi dariku. Gadis itu adalah seorang puspita dari negeri seberang sekaligus saingan terberatku, Evanna Saphira, putri kedua dari Kerajaan Safir.


“Senang bertemu dengan Anda, Tuan Putri,” balasku sopan tanpa menundukkan kepala. Meskipun nasabnya lebih tinggi dariku, aku tidak perlu terlalu merendah di hadapannya. Bagaimanapun juga, keluargaku merupakan bangsawan terhormat yang dekat dengan Keluarga Kerajaan Diamond. Jadi, sikapku pun mencerminkan kewibawaan mereka secara tidak langsung. Lagi pula, Putri Saphira tidak akan mempermasalahkannya.


__ADS_2