Cara Menjadi Tokoh Di Dunia Novel

Cara Menjadi Tokoh Di Dunia Novel
Bab 002: Tragedi Pertama (Berlian)


__ADS_3

Hari itu adalah seminggu setelah hari ulang tahun kedelapan Selena. Sang Putri la Diamond I mengajak Hanna Muthia untuk menemaninya bertamasya. Mereka berdua melakukan kunjungan ke sebuah wilayah kecil yang merupakan kampung halaman baginda ratu. Lusinan kesatria dan dayang mengawal mereka. Itu adalah perjalanan pertama yang amat berkesan bagi keduanya.


Yah, harusnya begitu. Tamasya itu seharusnya menyenangkan dan penuh dengan kesan bermakna baik. Sayangnya, safari itu sama sekali tak berjalan lancar. Di tengah perjalanan, mereka dikepung oleh sekelompok bandit gunung yang bengis.


Andai saja mereka hanyalah bandit biasa, para kesatria mungkin bisa mengatasinya. Namun, penyihir yang bersama mereka sangatlah merepotkan dan berbahaya. Ia membakar apa saja yang dilihatnya semata-mata untuk mengisi kebosanan hidupnya. Dengan sihir api dan ledakannya, penyihir itu membakar para kesatria pengawal satu per satu. Ia bahkan tidak peduli jika ada bandit yang ikut terbakar oleh sihirnya.


Ledakan demi ledakan terdengar. Suaranya bergemuruh amat kencang dan memekakkan telinga. Para kesatria mati-matian bertahan, sementara Selena dan Hanna yang masih kecil terjebak di dalam kereta kuda tanpa dapat melakukan perlawanan.


Di sela ledakan-ledakan yang terus berbunyi itu, terdengar gelak-gelak tawa yang mengerikan. Para bandit bersorak-sorai kegirangan. Mereka amat menikmati pembantaian sadis yang kawan-kawannya lakakukan.


"Han–Hanna," panggil Selena dengan suara yang bergetar. Ia memeluk Hanna dengan erat, berusaha menenangkan gadis yang diajaknya bertamasya itu. "Kuatkan dirimu. Kita harus kabur dari sini."


"Ta—tapi," Hanna mencengkeram gaun Selena kuat-kuat. Gadis yang masih berusia lima tahun itu membenamkan kepalanya ke pelukan sang putri dalam-dalam. Tubuhnya merinding teramat hebat.


"..."

__ADS_1


Selena tak dapat berkata-kata. Sebenarnya, ia pun juga sangat takut sekarang. Tangannya juga gemetaran. Dengan hati-hati, ia berusaha mengintip ke luar.


Mata Selena seketika terbelalak lebar. Dilihatnya sebuah ledakan besar. Api berkobar di mana-mana. Suara teriakan pilu merana dan gelak tawa saling bersahutan di luar sana.


Brak!


"Tu–Tuan Putri!" seorang kesatria membuka pintu kereta kuda tiba-tiba. Selena nyaris berteriak histeris saking kagetnya. Dilihatnya kesatria itu dalam keadaan yang amat mengenaskan. Luka bakar yang besar tampak di wajahnya. Matanya hilang separuh. Napasnya tersengal-sengal berat. Tak hanya itu, badannya berdarah-darah penuh dengan sayatan di mana-mana.


"An–da … harus se–gera per–gi," kata kesatria itu dengan terbata-bata, "Sa—saya akan me–ngawal Anda sam–pai ke … tempat yang a–man."


Tanpa berpikir panjang sama sekali, Selena menarik Hanna untuk keluar dari kereta kudanya. Tepat saat kaki keduanya menapak tanah, kereta kuda yang mereka tumpangi meledak. Ledakan itu sangat besar sampai membuat Selena dan Hanna terpental cukup jauh. Untung saja keduanya tak terpisah.


Padahal, Selena juga sama takutnya dengan gadis kecil itu. Punggungnya terasa sakit. Rasanya panas dan perih. Kepalanya pusing. Darah segar yang memancar dari luka di dahinya mengalir ke sekitar mata. Pandangannya pun berkabut. Ia tak ingat lagi apa yang terjadi setelah itu. Begitu ia tersadar, tuan putri itu sudah tak dapat melihat lagi selamanya.


"Tuan Putri, syukurlah Anda selamat," sebuah suara yang asing mengagetkan Selena. Ia pun menoleh ke asal suaranya, tapi tak mendapati siapa-siapa. Ketakutan dan keterasingan pun mengalir dari relung hatinya. "Anda tidak perlu khawatir. Serikat dagang kami akan mengawal Anda sampai ke ibu kota dengan selamat."

__ADS_1


Orang yang menyelamatkannya benar-benar jujur. Selena diperlakukan dengan baik layaknya seorang putri meskipun ia tak dapat melihat lagi. Selepas sampai di istana, Ratu Clara la Diamond sangat terkejut melihatnya. Saat itulah sang putri baru tahu bahwa rambutnya telah memutih seluruhnya. Matanya pun sama putihnya, bahkan terkesan bening seperti berlian paling murni yang tak berwarna sama sekali.


“Berlian …,” gumam Selena di suatu malam. Ia terbaring di peraduannya. Setelah sampai di istana, putri kecil itu mengingat semuanya. Pemberontakan saudara tirinya. Kematian ayah, ibu, dan kakak kandungnya. Juga, kehancuran negerinya oleh perpecahan dan perang saudara. Perpecahan itu pun akan berujung pada porak-porandanya kontinen oleh perang yang berkepanjangan antarkerajaan. Belum lagi, ia akan berakhir menjadi tawanan di negeri musuh bebuyutannya dari luar kontinen.


“Aku harus mengubah nasibku,” ucapnya bertekad. Selena ingat semuanya. Setelah delapan tahun hidup dalam kenyamanan dan keamanan, akhirnya ia mengingat semua takdir yang akan menimpa dirinya, sang Berlian. Bagaimanapun caranya, ia harus mengubah sad ending-nya.


“Tapi, kenapa aku baru mengingatnya sekarang?” gumam Selena dalam bersedih. Andai ia mengingatnya sejak dini, ia pasti akan menghindari tragedi yang menimpanya bersama Hanna. Ia pasti juga tidak akan pernah merasa bersalah pada putri Earl Muthia itu. “Kenapa aku baru mengingatnya setelah menjadi buta? Bagaimana aku bisa mengubah nasib dengan tubuh yang malang ini?”


Setelah tragedi itu, kehidupan Selena berubah drastis. Ia dikucilkan. Samar-samar, ia mendengar gosip yang mengatakan bahwa dirinya telah dikutuk. Ia pun tidak peduli. Lagi pula, ia sudah menyiapkan diri sejak ingatannya mengenai plot itu muncul tiba-tiba.


Ia ingin menulis semua yang diingatnya sebelum kembali lupa. Informasi itu akan sangat berguna untuk mengubah nasibnya. Namun, matanya yang buta membuat ia tidak bisa menulis maupun membaca barang satu kata pun.


“Huruf Braille,” Selena langsung mendapat sebuah solusi, “Aku harus belajar cara membaca dan menulis huruf cetak timbul itu. Ayah dan bunda pasti bisa mencarikan guru privat terbaik untukku.”


...***...

__ADS_1


Selena la Diamond. Putri Pertama dari Kerajaan Diamond. Karena sebuah tragedi, penglihatannya menghilang dan seluruh rambutnya memutih seperti salju di musim dingin. Meski begitu, ia tetap menjadi sosok yang ceria dan penuh semangat seperti musim semi. Tanpa dapat melihat sekalipun, ia tetap tumbuh menjadi putri yang cerdas di sangkar emasnya nan terpencil.


“Begitulah awal kisahnya mengubah takdir,” ketikku di meja bersinar, “Berlian memang sosok yang penuh semangat. Ia tak akan menyerah untuk meraih cita-citanya, bahkan walaupun seisi bumi mencelanya sebagai gadis terkutuk karena rambutnya yang beruban sejak dini.”


__ADS_2