
"Rosy, apa kamu yakin?" tanya Lily dengan air muka berriak khawatir, "Dia kan Putri Diamond I, putri sulung yang terkutuk. Gadis yang mengantar undangannya pada kita pun sama. Mereka berdua adalah hantu berambut putih dari ibu kota."
"Jangan berlebihan, Lily," balasku enteng, "Mana mungkin hantu punya identitas resmi sampai bisa masuk ke akademi? Lagian, kita sudah mengirim surat balasan dan berkunjung kepadanya."
"I–itu," Lily kehabisan kata-kata. Wajahnya terlihat amat ketakutan hanya karena rumor yang mengada-ngada itu. Ternyata ia tipe gadis yang masih labil dan mudah terpengaruh dengan rumor.
"Tenanglah," kataku mencoba untuk meyakinkannya, "Dia adalah gadis biasa sama seperti kita. Rambutnya yang memutih sejak muda itu pasti punya alasan tersendiri."
"Kamu pasti belum tahu karena baru menjadi bangsawan baru-baru ini, Rosy," Lily tetap saja enggan untuk percaya ucapan rasionalku, "Kamu lihat dia tidak punya ekspresi, kan? Katanya, dia seperti itu karena dikutuk oleh penyihir. Kalau kita dekat-dekat dengannya, kita akan ikut dikutuk."
"Ha?" aku memiringkan kepala heran. Apa pula maksudnya itu? Apa dia pikir rambut putih itu akan menular?
"Ini sungguhan, Rosy!" kata Lily penuh penekanan, "Dulu, ada tuan muda yang berkunjung ke Kediaman Earl Mutia dan berpas-pasan dengan putrinya yang terkutuk itu. Esoknya, tuan muda itu langsung demam tinggi selama dua minggu."
"Hm? Apa dia demam karena jatuh hati pada Lady Mutia sejak pandangan pertama?" tanyaku bergurau untuk mencairkan suasana yang terkesan horor ini. Malam sudah semakin larut. Kami berdua mengobrol ditemani tiga buah lilin yang terpasang dalam satu wadah berbentuk timbangan.
"Bukan!" Lily langsung membantah, "Itu karena kutukannya."
"Mungkin saja tuan muda itu kehujanan karena terpaku melihat Lady Mutia yang berdiri diam di balkon," ucapku membuat-buat dugaan asal lainnya seolah tak percaya pada Lily–memang tidak percaya sih. Lucu sekali melihat ekspresi serius gadis yang jadi teman sekamarku itu. "Dia pun jadi demam karena kehujanan seharian tanpa mendapat balasan dari Lady Mutia."
"Rosy! Aku serius!!!" ucap Lily yang terlihat mulai sebal sekaligus gemas dengan segala penyanggahanku, "Tuan muda itu terkena kutukan dari Lady Mutia. Untung saja kuil suci bisa menyembuhkannya."
"Hm," aku memasang wajah yang semakin tak percaya, "Apa hanya begitu saja?"
"Ada yang lain," Lily langsung menyahut, "Pernah ada lady yang mencoba untuk mengganggu Lady Mutia. Alhasil, lady itu terkena sial seharian."
"Mungkin saja lady itu hanya menyebarkan berita bohong," balasku ketus, "Kesialan dan keberuntungan itu relatif, tergantung dari bagaimana kamu memandangnya?"
"Apa maksudmu?" Lily tidak mengerti.
__ADS_1
"Em … begini," aku memberikan studi kasus untuk menjelaskan maksudku padanya, "Menurutmu, orang yang tersandung batu sampai terjatuh dan terluka lecet itu orang beruntung atau orang sial?"
"Sial dong," jawab Lily yakin. Ia menatapku lekat-lekat seolah itu adalah jawaban yang paling tepat. Aku pun menghela napas datar karena sudah menduga jawaban itu.
"Salah," sanggahku kemudian, "Dia adalah orang yang beruntung karena tidak terjatuh sampai patah tulang atau mati."
"Heh?" Lily tersentak seolah baru saja disengat oleh lebah. Kepalanya pasti sedang berusaha mencerna informasi baru yang aku berikan.
"Kamu paham maksudku, kan?" tanyaku memastikan. Aku yakin bahwa Lily adalah gadis yang cerdas. Jadi, dia pasti mengerti. Aku pun menambahkan, "Ada musibah yang lebih besar yang mungkin saja menimpa orang itu. Dia bahkan bisa dibilang sangat beruntung karena hanya lecet di kaki."
"Ta–tapi …," Lily memejamkan mata erat-erat sampai membuat keningnya berkerut. Ia sedang berusaha mencari sanggahan untuk penjelasanku. Gadis labil itu pun berkata, "Dia kan tetap saja tersandung."
"Setidaknya, dia tidak mati," balasku mengulang argumen. Pada akhirnya, ia tidak bisa membalasku sama sekali. "Haha, sudahlah. Mari segera tidur."
"Ah, benar," Lily seakan baru tersadar, "Selamat tidur, Rosy."
"Selamat tidur," aku pun meniup ketiga lilin yang menemani kami sejak tadi. Mereka sudah habis setengahnya. Sepertinya, kami bergosip terlalu lama lagi malam ini.
"Kita tidak akan terkutuk, kan, setelah ini?" tanyanya lirih. Hais … dia masih saja ketakutan.
"Tidak," jawabku singkat, "Kalau masih tak percaya, lihat saja besok."
...***...
Untung saja aku tidak bangun terlambat pagi ini. Jadi, aku masih bisa persiapan dan sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah. Justru Lily yang bangun lebih siang. Matanya bengkak. Sepertinya, ia kesulitan untuk tidur semalam.
"Lily, kamu baik-baik saja, kan?" tanyaku khawatir setelah kami duduk di kelas. Hari masih pagi, tapi dia sudah terlihat lesu dan tak bersemangat saja. Apa dia masih terjaga sampai tengah malam semalam?
"Aku cuman ngantuk kok," balas Lily pelan. Matanya berkedip beberapa kali. Ia pun menutup mulutnya dan menguap.
__ADS_1
"Hai, Rosy!" seru seorang pemuda yang tiba-tiba menyelonong ke depan meja kami–Lily bahkan sampai tersentak oleh kedatangannya. Panggilannya itu membuat perasaanku memburuk seketika. Sejak pertemuan pertama kami, dia sudah mendapat nilai minus dariku.
"Apa panggil-panggil?" balasku ketus. Kami sama sekali tidak akrab. Beraninya dia memanggilku dengan nama itu. Hanya orang-orang tertentu yang boleh memanggilku begitu.
"Ho … kamu masih saja galak seperti di pertemuan pertama kita," katanya sok akrab, "Apa kamu masih marah? Aku mau mengundangmu makan malam sebagai kompensasi atas kejadian itu. Bagaimana kalau sore ini kita jalan bersama?"
"Tidak, aku tidak punya waktu denganmu," tolakku langsung. Aku tidak sudi jalan bersisian dengan bocah tak beradab itu. Lagi pula, aku punya acara dengan Putri Diamond I sore ini.
"Hm? Ayolah," ajaknya lagi. Ada kesombongan di wajahnya yang seperti batu itu. "Aku adalah putra Count Anderson. Ini adalah suatu kehormatan bagi gadis baron sepertimu untuk bisa makan malam bersamaku."
Bion Anderson. Itulah namanya. Dia memiliki rambut pirang terang. Pipinya sedikit tembam. Perutnya pun agak gempal. Ia bocah yang percaya diri dengan latar belakang hebat keluarganya. Ayahnya–Count Anderson–memang kaya dan terhormat. Namun, mereka tidak lebih baik daripada identitas asliku yang sebenarnya.
“Aku tidak sudi,” balasku kembali menolak, “Enyahlah kau! Juga, namaku Rosica Hilton. Panggil aku dengan benar kalau kamu benar seorang bangsawan yang terhormat!”
“Rosy, beraninya gadis baron sepertimu …,” Bion ingin menunjukkan kuasanya yang memang mendominasi di Kelas C kami ini. Tak ada siswa lain yang berani dengannya, bahkan putra seorang marquez dari utara yang duduk tak jauh dari bangkuku. Mereka semua segan dengan nama keluarganya yang terkenal di seantero penjuru Kerajaan Diamond.
“Tuan Muda Anderson,” panggil Lady Muthia yang duduk sendirian di pojok barisan paling depan. Ia berdiri di tempatnya dengan tagap. Pandangannya menatap tanpa rasa takut seperti kucing putih yang galak. Dia menyampaikan keberatannya dan membelaku, “Jaga etika Anda. Nona Hilton sudah punya janji bertamu ke tempat Putri DIamond I sore ini. Anda tidak boleh memaksanya begitu.”
“Heh? Siapa ini?” Bion malah memandang Lady Muthia dengan tatapan hina. Ia menyeringai jahat dan mencemooh putri berambut putih itu. “Gadis terkutuk dari timur? Aku sudah pernah mendengar tentangmu. Kamu memang buruk rupa seperti rumor yang beredar dengan rambut putih yang jelek itu.”
“Kamu keterlaluan–” aku ingin membentak bocah kurang ajar itu, tapi dia lebih dulu memotong ucapanku, “Ssst! Diamlah, Rosy! Aku akan kembali padamu nanti.”
Tanganku mengepal keras saat pemuda itu berpaling dariku. Aku ingin memukul kepalanya yang besar itu. Dia memanggilku sembarangan lagi. Bocah itu bahkan memotong dan mengabaikan kata-kataku.
“Siapa namamu? Kamu terlalu hina sampai aku tidak mengingatnya,” kata Bion sambil berjalan ke posisi Lady Muthia di depan. Kata-katanya yang lantang itu menarik perhatian seluruh kelas. Para siswa Kelas C pun saling berbisik-bisik merespon situasi yang mendadak tegang.
“Rosy,” Lily memegang tanganku saat aku hendak berdiri. Ia menggeleng untuk mencegahku bertindak atas perbuatan Bion. Aku ingin menempeleng botak bocah itu dan membela Lady Muthia, tapi bertindak gegabah memang tidak baik.
Masalahnya, Lady Muthia sedang dalam bahaya sekarang. Bion semakin dekat kepadanya. Bocah itu mungkin akan melakukan tindakan yang buruk. Aku tidak bisa membiarkannya.Tanpa memedulikan kekhawatiran Lily, aku benar-benar berdiri.
__ADS_1
“Silakan duduk di bangku kalian masing-masing, Tuan-tuan dan Nona sekalian,” suara serak-serak basah seorang pria paruh baya memecahkan ketegangan di kelas. Pria berkacamata bulat itu menyapu seisi kelas. Pandangannya sangat datar, tapi mampu membuat seluruh siswa menurut. Dia adalah wali kelas kami, Magister August Cloen.