
Raja dan ratu amat terharu saat melihat betapa cepatnya Selena bangkit dari keterpurukan. Mereka pun segera mencarikan guru terbaik untuk mengajarkan huruf yang Selena maksud. Sebagai orang tua, mereka ingin memberikan yang terbaik untuk putri kesayangannya.
Tidak mudah untuk menemukan guru itu. Apalagi dengan beredarnya rumor yang mengatakan bahwa Putri Diamond I adalah putri yang terkutuk. Para sarjana dan cendekiawan langsung berpaling, bahkan sebelum mendengar penjelasan dari para pesuruh raja. Lagi pula, tidak banyak orang yang mengetahui tentang huruf Braille. Pada dasarnya, huruf itu belum diakui secara resmi di mana pun.
Dalam sela waktu kosong yang membosankan itu, Selena terus berusaha mengingat-ingat plot yang sudah dibacanya. Semua plot buruk itu baru akan terjadi saat usianya dua puluh tahun–kalau tidak salah. Selena ragu mengenai itu. Pokoknya, itu terjadi tak lama setelah para tokoh dari plot lainnya lulus dari Akademi Permata.
Umurnya saat mendapat guru membaca dan menulis adalah delapan tahun. Guru itu adalah seorang wanita dari Daratan Besar. Namanya adalah Amina, istri seorang duta dari luar kontinen.
“Amina,” panggil Selena dalam salah satu kelas belajarnya, “Apa aku akan mampu bangkit dari situasi ini?”
“Anda pasti bisa, Tuan Putri,” ucap Amina memberi semangat, “Anda memiliki semangat itu dalam hati Anda.”
Selena pun kembali meraba kertas di pangkuannya. Ia ingin segera mampu membaca dan menulis. Dengan begitu, ia pasti bisa menyimpan ingatannya sebagai bekal untuk memperjuangkan nasib.
Enam bulan berlalu dengan cepat. Selena pun dapat mulai menulis saat itu. Ia segera mencatat semua ingatannya sedetail mungkin. Sayang sekali, ia tidak bisa mengingat semuanya dengan baik.
“Siapa saudaraku yang memberontak?” pikir Selena keras. Ia sungguh tak dapat mengingatnya. Apa yang ia ingat hanyalah potongan kronologis plotnya. Namun, itu sudah lebih baik daripada tidak sama sekali. Urutannya adalah pemberontakan, pengusiran, perang saudara, dan menjadi tawanan musuh.
“Akademi,” tulis Selena, “Semua bencana itu bermula setelah para lady lulus dari akademi. Aku tidak bisa berbuat banyak, tapi mereka mungkin bisa melakukannya.”
Selama bertahun-tahun, Selena merancang rencananya sambil membangun kekuatan mikro untuk mewaspadai ‘efek kupu-kupu’. Ia belum bisa menjalankan rencana itu karena para lady belum berkumpul. Dalam catatannya, ia baru akan memulainya di tahun ajaran baru ketika para lady mulai masuk ke akademi.
“Tuan Putri,” panggil seorang wanita tua yang menjadi wali Selena di Istana Melati Putih. Ia adalah Grand Duchess Lambordy, Margaretha Lambordy yang dulu pernah menjadi pusat pergaulan sosial di masa mudanya. “Lady Muthia datang berkunjung.”
__ADS_1
“Hanna?” Selena langsung menoleh ke arah sumber suara. Ia cukup terkejut karena sudah lama tidak bertemu dengan gadis pemalu itu. Kabarnya, Hanna juga terkena dampak dari tragedi yang menimpanya.
“Benar, Tuan Putri,” Madam Margaretha mengonfirmasi, “Dia adalah Hanna Muthia.”
“Antarkan aku padanya,” seru Selena semangat. Ia tahu bahwa Hanna adalah salah satu tokoh dari karya asli. Karena itu, akan sangat bagus kalau ia bisa menjalin hubungan baik dengannya sejak dini.
“Salam, Tuan Putri,” sapa seorang gadis kecil berambut perak. Dialah Hanna Muthia, sang Mutiara yang akan menjadi sahabat terdekat Berlian di karya aslinya. Gadis itu juga mendapat julukan ‘gadis terkutuk’ karena rambutnya yang keperakan sejak tragedi itu.
Selena pun menyambutnya dengan senang hati. Ia berbincang lama dengannya. Itu mungkin bukan perbincangan yang nyaman, tapi berjalan lancar di antara mereka berdua.
“Maaf, Hanna,” pinta Selena di tengah pertemuan keduanya, “Gara-gara aku, kamu juga terkena musibah.”
“Itu bukan salah Anda, Tuan Putri,” balas Hanna legawa, “Saya ke mari justru untuk berterima kasih. Kalau saja Anda tidak melindungi saya saat itu, sudah pasti saya tidak akan pernah kembali hidup-hidup.”
“Saya sungguh baik-baik saja, Tuan Putri,” tambah Hanna kemudian, “Anda tidak perlu merasa bersedih begitu.”
Tanpa sadar, Selena meneteskan air matanya. Itu adalah air mata pertama sejak ia menjadi tunanetra. Kesedihan itu pun menular. Hanna tetiba memeluk sang putri bagai seorang adik yang telah lama tak bertemu dengan kakaknya. Gadis itu menangis tersedu-sedu, melepas rindu setelah lama tak bertemu.
Selena ingin mempercepat rencananya andai ia bisa bertemu dengan pemilik tiga plot lainnya. Mirah, Nilam, dan Zamrud. Untuk bertemu Mirah, Selena mungkin bisa mengaturnya karena pemilik skenario itu ada satu kerajaan dengannya. Grand Duchess Lambordy pun merupakan bibi dari gadis di plot Mirah itu.
Masalahnya adalah Nilam dan Zamrud. Mereka berdua merupakan putri dari kerajaan luar. Tidak seperti dulu, Selena tidak mungkin bisa mengundang mereka begitu saja. Rumor buruk yang beredar di sekitarnya membuat hal itu sulit direalisasikan. Pada akhirnya, sang putri hanya dapat menunggu.
Tahun demi tahun pun kembali berlalu. Selena sudah semakin dekat dengan Hanna. Ia pun juga sudah beberapa kali bertemu dengan Amelia Ruby, sang Mirah yang merupakan pusat pergaulan sosial gadis-gadis muda di ibu kota. Selain itu, ia juga sudah memiliki sekelompok intelijen yang selalu memberinya informasi terbaru terkait perkembangan politik di kontinen.
__ADS_1
“Tahun ajaran baru akan segera dimulai. Selamat menikmati masa studimu,” ucap Selena memberi selamat pada Hanna sekaligus menitipkan pesan padanya, “Tolong, ya. Aku ingin kita berkumpul bersama.”
“Aku akan menyampaikannya,” Hanna berjanji, “Putri Selena tidak perlu khawatir.”
Dengan begini, Selena akan segera bertemu dengan para tokoh lainnya. Ia berharap para putri itu mengetahui plotnya masing-masing. Namun, sepertinya itu akan berakhir menjadi harapan semata karena Hanna pun tidak mengetahui apa-apa mengenai plotnya sendiri.
“Aku harus mempercepat persatuan mereka,” tulis Selena di lembar catatan cetak timbulnya, “Perpecahan kontinen harus dihindari. Selain itu, aku harus bisa mengawasi saudara-saudara tiriku yang lain.”
“Kalau rencana ini gagal,” gumam Selena kemudian, “Aku akan terjebak dalam plot karya asli. Itu tidak boleh terjadi. Novel ini harus berjalan ke akhir yang bahagia.”
Masalahnya, Selena belum mampu memastikan keberadaan Zamrud. Harusnya, gadis di plot itu sudah ada di kerajaannya saat ini. Para intelnya pun melaporkan bahwa putri dari Kerajaan Emerald itu sudah menghilang sejak beberapa bulan lalu. Bertepatan dengan itu, muncul sebuah keluarga bangsawan baru di Kerajaan Diamond.
“Zamrud tidak menjalankan cerita sesuai dengan alurnya,” gumam Selena di tengah istananya yang tenang, “Kemungkinan, dia sudah bergerak untuk mengubah nasibnya. Aku harus bisa menemukannya. Dia bisa menjadi sekutu atau musuh terkuat bagiku.”
...***...
Kutatap meja bersinar dalam diam. Sesimpul senyum pun tersungging di bibirku. Senangnya melihat ia mulai melangkah ke pintu karya asli. Yah, walaupun dia mau mengubahnya sih. Mari lihat dan perhatikan. Apa dia akan berhasil mengubahnya?
Karena "dia" sudah mengambil Berlian sebagai pilihannya, aku akan membuat Mirah, Nilam, Zamrud, dan Mutiara berjalan di alur sesungguhnya dengan sudut pandang orang pertama. Entah sebesar apa variabel bebas yang akan Berlian berikan, aku cukup menantikannya. Mari biarkan mereka mengalir dengan sendirinya.
"Ah, ya," aku melihat sebuah notifikasi waktu tidur di meja bersinarku. "Sebelum lanjut membaca, perhatikanlah kode nama di setiap judul babnya agar kamu tidak kebingungan. Setelah bab ini tokohnya akan berganti."
Dunia fantasi tetaplah dunia fantasi. Jangan terlalu larut ke dalamnya. Ini tak lebih dari sekadar imajinasi anak kecil yang dituang dalam secangkir kata-kata.
__ADS_1
Selamat datang di dunia fantasi ….