
“Apa Anda meremehkanku hanya karena aku seorang gadis, Tuan Aslan?” tanyaku tajam di tengah diskusi kami terkait pengangkatan ketua kelas. Seminggu sudah berlalu sejak upacara penyambutan siswa baru. Pekan perkenalan pun sudah berakhir. Saatnya bagi kami untuk mulai menentukan sosok-sosok pemangku jabatan strategis di kelas.
Pemuda yang kutanya menatap dengan dingin. Dia sama sepertiku, bukan penduduk asli dari Kerajaan Diamond. Dia bahkan bukan dari Kontinen Western, tapi dari Daratan Besar.
“Bukan begitu, Nona Hilton. Saya yakin bahwa Anda adalah gadis yang hebat dengan kepercayaan diri setinggi itu,” akhirnya dia menjawab. Pemuda bernama Aslan itu sudah meremehkanku. Di mengira bahwa aku tidak pantas memimpin kelas ini hanya karena aku waniya. “Masalahnya, pengaruh Anda terlalu lemah, Nona. Tuan Muda Anderson tidak akan mau mengakui posisi Anda—”
“Itu sudah jelas!” seru Bion dari barisan paling belakang, “Siapa yang mau diperintah oleh seorang anak gadis baron? Sudah kubilang, hanya aku yang pantas untuk menjadi ketua di kelas ini!”
“Siapa bilang begitu? Orang yang suka menindas sama sekali tidak pantas memimpin kelas ini,” sanggahku keras. Selama seminggu ini, Bion sudah beberapa kali mengganggu murid lain dengan nama keluarganya. Cih! Dia hanya beruntung karena di kelas ini tidak ada bangsawan sekelas duke. Yah, walaupun ada yang sekelas marquez, tapi bocah itu sangat pasif, bahkan terkesan takut pada Bion dan gengnya.
“Kau–!” seruan Bion tertahan oleh sebuah tepukan dari Magister Cloen. Seluruh murid yang awalnya fokus pada bocah itu pun kini memperhatikan wali kelas di depan.
“Cukup, Anak-anak! Kalian tidak perlu berdebat lebih lama lagi,” kata Magister Cloen dengan wajah datarnya, “Jadi, apa ada lagi yang mau mencalonkan diri sebagai ketua?”
“Magister,” panggil Aslan sambil mengangkat tangannya, “Saya ingin mengusulkan orang lain.”
“Katakan!” balas Magister Cloen.
“Saya rasa,” kata bocah dari Daratan Besar itu, “Tuan Magnum lebih cocok untuk memimpin kelas ini.”
“Hai! Apa maksudmu?” Arnold Magnum, pemuda yang dimaksud oleh Aslan berseru, “Aku tidak mau mencalonkan diri sebagai ketua.”
“Jelaskan, Tuan Aslan!” pinta Magister Cloen. Tampaknya, ia tertarik pada usulan itu. Walaupun tidak terlalu suka, aku juga setuju bahwa Arnold Magnum lebih cocok memimpin kelas daripada Bion yang kasar.
__ADS_1
“Tuan Magnum adalah seorang yang berkemampuan sosial tinggi. Dia sudah berteman dengan semua murid di kelas ini,” jelas Aslan. Itu bohong. Arnold belum berteman dengan semuanya. Ia bahkan belum pernah mengobrol dengan Lady Muthia sama sekali.
“Dia juga punya latar belakang keluarga yang mumpuni. Meskipun tidak setinggi marquez, setidaknya setara dengan Tuan Anderson,” ulas Aslan detail. Cih, dasar figuran! Ucapannya banyak mengandung diskriminasi. Apa dia pikir anak-anak bangsawan di bawah count tidak bisa maju untuk mencalonkan diri?
“Ada yang lain?” tanya Magister Cloen lagi. Kelas hening. Itu berarti, tidak ada lagi yang mau mencalonkan atau dicalonkan. Magister Cloen pun melanjutkan, “Kalau begitu, kita memiliki tiga kandidat di sini. Mereka adalah Tuan Anderson, Nona Hilton, dan Tuan Magnum. Aku ingin kalian menyiapkan visi dan misi kalian selama memimpin kelas ini. Besok, kalian harus langsung menunjukkannya.”
“Baik, Magister,” jawab kami serempak.
Kelas pun kembali dilanjutkan. Kami mempelajari sejarah kontinen dan letak geografisnya. Magister Cloen juga menyinggung peperangan antara Kontinen Western dengan Daratan Besar.
Peperangan telah berlangsung sejak ratusan tahun lamanya. Saat ini, kedua belah pihak sedang dalam masa gencatan senjata yang ditandatangani musim panas lalu. Untuk memastikan gencatan itu, kedua belah pihak mengirimkan duta kehormatannya masing-masing. Karena itulah Aslan dan beberapa orang kawannya ada di akademi ini, sedangkan Kerajaan Diamond mengirim Pangeran Keduanya untuk menjadi duta di negeri-negeri Daratan Besar bersama wakil-wakil elit dari kerajaan Kontinen Western yang lain.
“Rosy, kenapa kamu ingin melawan orang itu?” tanya Lily cemas selepas pelajaran berakhir, “Apa kamu yakin bisa mengalahkannya?”
“Em,” Lily pun mengangguk, “Baiklah.”
Yah, kekhawatiran Lily itu memang bukannya tidak beralasan. Ck, lihatlah! Bion, si bocah angkuh itu menghalangi jalan kami bersama gengnya. Dia terlihat amat sombong hanya karena bapaknya seorang count.
“Oi, Rosy,” panggilnya sembarangan, padahal aku tidak pernah mengizinkannya memanggil namaku begitu, “Kamu gadis yang unik, ya. Baru pertama kali ini aku bertemu gadis seberani dirimu.”
“Heh, minggir! Kamu menghalangi jalan,” balasku sarkas. Aku tak takut dengan tatapan galaknya sama sekali. Dia hanya bocah sok yang suka mengandalkan nama keluarganya.
“Ck, bagaimana kalau aku tidak mau?” tanyanya dengan senyum menggoda. Aku amat benci dengan senyumannya itu. Dia sungguh pemuda yang tidak tahu malu.
__ADS_1
“Rosy,” bisik Lily sambil mencengkeram bajuku. Ia jelas takut dengan intimidasi itu. Aku pun menggenggam tangannya dan mengajak pergi, "Lily, ayo cari jalan lain."
"Oi, aku belum mengizinkanmu pergi," Bion bergegas menghalangi jalanku untuk pergi. Ia meraih lenganku dengan tangannya yang besar. Aku pun membisikkan pada Lily untuk pergi sendiri.
"Ta–tapi," Lily masih ragu. Gadis itu tak mau meninggalkanku sendiri. Setelah kuberi isyarat kecil, barulah ia memaksakan diri untuk berlari.
"Hm," Bion mengencangkan cengkeramannya, "Ternyata kamu gadis baik yang rela berkorban, ya."
Aku membalas perkataannya itu dengan tatapan tajam. Karena Lily sudah tidak di sini, saatnya aku memberi mereka pelajaran. Mereka sudah sangat lancang karena berani macam-macam dengan Rubia vi Emerald–tidak, Rosica Hilton.
Kuputar tanganku dengan tenaga yang cukup kuat. Gerakan itu membuatku dapat terbebas dari cengkeraman Bion. Bocah itu sampai terkejut karenanya. Dengan refleks, ia berusaha meraih tanganku lagi. Cih, andai ini adalah medan perang, aku tidak akan segan membunuhnya dengan pedang kesayanganku.
"Enyah kau!" teriakku sambil memukulnya dengan sebatang tongkat pendek. Itu adalah tongkat yang selalu kubawa ke mana-mana. Di dalamnya ada belati yang cukup tajam, tapi aku tidak akan sampai menggunakannya untuk membunuh mereka.
"Kau—!" Bion terlihat amat terkejut. Begitu juga kawan-kawannya yang sejak tadi menonton dari belakang. "Dasar gadis—huak!?"
Aku menendang perut Bion sampai terpental ke tempat teman-temannya berdiri. Bocah itu terlalu dekat tadi. Dia membuatku risi karenanya. Untung aku menggunakan celana panjang yang longgar di balik rokku, jadi aku bisa bergerak dengan leluasa.
“Kenapa?” bentakku dengan mata melotot tajam. Tanganku menggenggam tongkat dengan erat, siap memukulkannya kapan saja, “Kalian dulu yang memulainya. Majulah satu per satu kalau kalian sungguh lelaki!”
“Wah, wah …,” suara seorang pemuda membuatku menoleh. Suara itu terdengar asing dan menyebalkan. Sepertinya, ia merupakan satu komplotan dengan Bion. “Ternyata Nona Hilton adalah gadis yang tangguh. Anda membuat saya terpukau.”
“Rosy,” Lily berlari memelukku. Dia datang membawa beberapa orang bersamanya. Mereka pun bukan orang sembarangan. “Kamu nggak apa-apa, kan?”
__ADS_1
“Aku nggak apa-apa kok,” balasku singkat. Pandanganku pun kembali terarah kepada orang-orang yang Lily bawa. Mereka adalah Lady Muthia dan dua senior laki-laki lainnya.