
Aku bangun lebih pagi dari biasanya hari ini. Kamar di Istana Melati Putih memang yang terbaik. Dari semua tempat yang pernah kukunjungi, istana ini adalah tempat paling tenang dan nyaman. Aku selalu betah tinggal di sini.
Tidak ada orang yang mengejek rambut putihku dan tuan putri. Madam Margaretha pasti akan bertindak tegas menyingkirkan siapa pun yang menghina tuan putri di sini. Saat beliau pertama kali datang dulu, istana ini sempat ribut selama beberapa saat karena pemecatan masal.
“Wah, Lady Muthia! Anda sudah bangun lebih dulu rupanya. Kukira aku bangun paling awal, ternyata tidak,” suara riang Nona Hilton membuatku menoleh. Kulihat gadis berambut lurus sebahu itu berjalan mendekat ke arahku. Mata hijaunya yang khas membuatku penasaran. Apa para bangsawan Wilayah Utara memang bermata hijau seperti itu?
“Hm,” aku mengangguk pelan. Saat tuan putri memintaku mengantarkan surat undangan pada gadis ini, aku cukup heran. Nona Hilton adalah bangsawan baru yang tidak terkenal sama sekali. Namun, ia pasti punya hal tertentu yang lebih dari sekadar kekayaan sampai membuat tuan putri sangat tertarik.
“Lady Muthia hafal tempat-tempat di istana ini, kan?” tanya Nona Hilton semangat, “Ini pagi yang cerah. Kalau boleh, apa Lady mau memanduku berkeliling di istana ini?”
“Tentu,” aku tersenyum tipis membalas semangatnya yang tercermin dari wajah ceria itu. Dia sungguh gadis yang unik. Aku tidak pernah mendengarnya mengungkit masalah kutukan yang menimpaku dan tuan putri. Ia bahkan terkesan memberi semangat pada kami dan menyanggah siapa pun yang mengungkit tentang kutukan itu. Mungkin karena itulah tuan putri tertarik padanya.
“Tempat ini indah, ya?” ucap Nona Hilton begitu kami sampai di taman melati yang luas membentang, “Meskipun istana ini terbilang kecil untuk ukuran istana, Istana Melati Putih ini bisa dianggap sebagai salah satu istana yang paling indah sepanjang masa.”
“Apa Nona Hilton sudah sering berkunjung ke banyak istana?” tanyaku heran. Istana Melati Putih memang istana paling kecil di kerajaan, tapi istana ini tetaplah lebih besar dari kediaman seorang baron seperti Baron Hilton. Aku kagum karena Nona Hilton bisa menilainya dengan baik seakan tahu standar arsitektur istana.
“Hm!?” Nona Hilton sedikit tersentak. Ia menoleh dan buru-buru menyembunyikan keterkejutannya di balik senyuman. Melihat sikapnya itu, aku tahu bahwa ia menyembunyikan sesuatu.
“Em … aku pernah berkunjung ke Kerajaan Emerald dulu,” jawab Nona Hilton sambil mengalihkan pandangannya, “Keluarga kami sangat beruntung karena dapat menjalin hubungan yang baik dengan salah seorang putri di sana.”
“Apa karena itu juga usaha keluarga kalian jadi lancar?” aku ingat bahwa Baron Hilton adalah seorang pedagang berbakat yang sukses. Usahanya melejit dengan kecepatan tak terduga sampai kudengar, mereka mengejutkan para bangsawan di utara. Kecepatan pertumbuhannya terlalu pesat sampai sulit dipercaya.
“Ya, ya,” Nona Hilton mengangguk cepat, “Putri itu sangat baik hati. Dia pernah mengajakku berkunjung ke istananya yang besar.”
__ADS_1
“Begitu, ya? Pantas saja keluarga kalian dapat tumbuh sangat cepat sampai seperti sekarang,” aku baru mengerti sekarang. Putri Selena memang hebat sampai dapat menemukan gadis seperti dirinya. Kami pasti bisa menjalin koneksi dengan Putri vi Emerald lewat dirinya.
“Ya, putri itu sudah memberi banyak bantuan pada kami,” ucap Nona Hilton dengan senangnya, “Dia adalah sosok penuh semangat yang selalu ingin tahu banyak hal.”
“Dia mirip seperti Nona Hilton, ya. Aku mengerti bagaimana kalian bisa akrab,” aku ikut senang mendengarnya, “Akan bagus kalau kami bisa bertemu dengannya suatu saat nanti.”
“Tentu, dia pasti senang bertemu Anda berdua di Kerajaan Emerald,” ujar Nona Hilton penuh keyakinan seolah ia dan Putri Emerald itu satu hati. Aku pun membalasnya, “Itu bagus. Aku berharap hari pertemuan itu segera terjadi.”
Kami pun melanjutkan sisa tur Istana Melati Putih. Saat sampai kembali di depan kamar, aku melihat Nona Orchid tiba-tiba berhambur memeluk Nona Hilton. Ada rona kesedihan dan kekesalan di wajahnya. Ia berseru protes sambil terisak kepada Nona Hilton, “Rosy … kukira kamu sudah pergi. Kenapa kamu tidak membangunkanku? Aku takut sekali bangun sendiri.”
“Eh?!” Nona Hilton tampak tak menyangka–aku pun juga begitu. Sepertinya, putri Viscount Orchid itu benar-benar terpaksa mengikutinya memenuhi undangan ke istana ini. Tangisnya itu bukanlah sekadar air mata buaya.
“Tenanglah, Lily,” hibur Nona Hilton, “Aku minta maaf karena meninggalkanmu sendiri. Habisnya, kamu tidur sangat lelap sampai aku tidak tega membangunkanmu pagi-pagi sekali. Juga, kamu harus berhati-hati menjaga etikamu. Kita ada di Istana Melati Putih sekarang. Lady Muthia pun ada di sini.”
“Hm, tidak masalah, Nona,” aku mengangguk pelan, “Lebih baik Nona menenangkan diri dulu sekarang. Aku akan memanggil kalian setelah sarapannya siap.”
“Terima kasih, Lady Muthia,” Nona Hilton pun mengajak sahabatnya untuk masuk ke kamar. Aku hanya dapat menghela napas pelan melihatnya. Terkadang, aku merasa tersinggung dengan sikap paranoid gadis-gadis itu, padahal aku sudah menganggapnya angin lalu.
Sudahlah. Aku tidak perlu memikirkan sikapnya yang seperti itu selama ia tak melampaui batas. Mereka begitu karena tidak tahu. Lagi pula, ada lebih banyak hal penting lainnya yang harus aku urus.
“Kamu sendirian lagi, Hanna,” sebuah suara lembut yang khas menegurku dari belakang. Aku yang tengah menikmati indahnya pagi dari lantai empat pun menoleh. Kudapati seorang wanita tua yang anggun nan berwajah ramah berjalan mendekat ke tempatku.
“Madam Margaretha? Ah, ya,” aku segera menghadap padanya, menunjukkan budi pekerti luhur kepada orang yang lebih tinggi derajatnya, “Teman-teman sedang beristirahat di kamar sekarang. Kami baru saja jalan-jalan tadi.”
__ADS_1
“Begitu, ya? Selama ini, kamu jarang sekali bergaul dengan orang lain, padahal ibumu adalah wanita yang cerewet,” Madam Margaretha menyungging senyum tipis. Ada kasih sayang yang memancar dari wajahnya. Dia adalah salah satu orang terdekat yang kusayangi karena kehangatannya. “Kamu harus memanfaatkan waktumu sekarang. Cobalah mencari teman yang baik di akademi. Kulihat, gadis bernama Rosica Hilton itu cukup menarik.”
“Madam pun tertarik dengannya. Dia memang gadis yang unik,” aku kembali menghadap ke luar jendela yang besar. Kulihat burung-burung kecil berterbangan, menari dengan bebasnya di angkasa.
“Hanna, teguhkan hatimu dan bersabarlah,” mewejang Madam Margaretha, “Suatu saat nanti, kamu pasti akan memetik buah dari apa yang kamu tanam.”
“Terima kasih atas dukungannya, Madam,” aku bersyukur, sangat bersyukur. Meskipun banyak sekali pihak yang mencaci dan menghinaku, masih ada orang yang mendukung dan berdiri di sampingku. “Aku pasti mengingat nasihat Anda.”
Sebelum menjadi grand duchess, Madam Margaretha adalah Duchess Lambordy yang eksis di barat. Ia menjadi panutan para nyonya bangsawan di sana sama seperti Lady Ruby yang menjadi panutan bagi para nona muda di ibu kota. Sosoknya memang sangat bersinar sejak muda. Ia bagai Bunga Bougenville yang selalu mekar dengan lebatnya. Setiap kali mahkotanya rontok, ia akan segera mekar lagi dengan cepat seakan tak pernah mati.
Yah, begitulah beliau. Bertahun-tahun lalu, Madam Margaretha pernah tinggal di sebuah villa untuk menyembuhkan penyakitnya. Karena sakit yang cukup parah, ia pun tak bisa mengikuti sebuah acara penting yang saat itu diadakan dan wajib diikuti oleh para bangsawan besar.
Maka, hanya Duke Lambordy dan duke mudalah yang berangkat ke acara itu. Di tengah perjalanan, rombongan mereka dicegat bandit. Ada yang bilang, bandit itu sama dengan para bandit yang menyerang aku dan Putri Selena.
Sayangnya, tidak ada yang selamat dari mereka. Berita itu dirahasiakan dari Madam Margaretha selama beberapa waktu. Namun, tragedi yang disembunyikan itu tersingkap juga pada akhirnya. Sakit yang madam derita pun jadi semakin parah sehingga membuat penyembuhannya semakin lama.
Setelah Madam Margaretha sembuh, ia memutuskan untuk segera menyerahkan urusan Keluarga Lambordy pada anak-anaknya. Ia pun dilantik menjadi grand duchess dan memutuskan untuk menutup diri selama beberapa tahun sampai berita tentang tuan putri terdengar di telinganya.
Entah karena simpati atau lainnya, Madam Margaretha pun meminta Raja la Diamond untuk menjadi wali tuan putri. Raja mengabulkannya. Setelah itu, ia menata ulang seluruh bagian dari Istana Melati Putih sampai jadi seindah ini.
Tak hanya itu, ketenarannya pun kembali berkembang, kali ini di ibu kota. Popularitas membuatnya dicari banyak orang, bahkan ada yang menawarinya pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaan di Istana Melati Putih. Namun, ia langsung menolaknya mentah-mentah.
Kedatangannya benar-benar tulus. Ia memandang kami seperti melihat putri-putrinya sendiri. Karena itulah aku menyukainya. “Terima kasih, Madam Margaretha.”
__ADS_1