Cara Menjadi Tokoh Di Dunia Novel

Cara Menjadi Tokoh Di Dunia Novel
Bab 017: Kembali ke Akademi (Nilam)


__ADS_3

“Bagaimana Putri bisa bergerak secepat itu?” tanya Lady Ruby heboh. Kami menang telak dari kelompoknya. Syukurlah Sari dan Lady Muthia sangat mudah untuk diajak bekerja sama.


“Itu karena kalian yang lambat,” jawabku enteng, “Apa yang membuat kalian memutar perahu di tengah jalan?”


“Itu–” Lady Ruby mengalihkan pandangannya sedikit. Terlihat agak malu. Saat kami mencapai garis finis, mereka masih saja terlunta-lunta di tengah danau. “Kami sempat miskomunikasi tadi. Sudah kuduga, aku harus banyak belajar dari Putri Saphira.”


Aku pun memekarkan kipasku sambil menatapnya datar. Entah tulus atau tidak, ucapan Lady Ruby itu bisa berarti pujian atau sindiran. Faktanya, Lady Ruby sendiri sudah sangat baik memimpin para gadis di kerajaan.


Lady Muthia memutuskan untuk tidak ikut bersama kami. Ia lebih memilih untuk menemani Putri Diamond I bersama Ratu la Diamond. Yah, jadi kami tidak memaksanya.


“Kita sampai,” seru gadis yang namanya Viola. Gadis itu menunjuk ke luar jendela. Sebuah bangunan yang cukup tinggi terlihat di sana.


Kami pun turun satu per satu dari kereta kuda. Saat menunggu yang lainnya, aku merasa melihat dua orang yang familiar dari gestur tubuhnya. Mereka baru saja keluar dari butik. Sayang sekali, aku tidak bisa melihat wajah mereka.


“Selamat datang di Butik Madam Eline,” sambut seorang wanita muda begitu kami masuk ke dalam butik. Pelayan itu menyambut kami dengan baik. Setelah melihat kartu yang Lady Ruby tunjukkan, ia segera membawa kami ke ruang utama.


Ada begitu banyak gaun yang dipajang di sini. Mulai dari yang retro sampai yang sedang tren akhir-akhir ini. Semua gaun itu sangat cantik sampai membuat para wanita pasti menginginkannya bahkan walau hanya mencoba.


“Apa Anda tertarik salah satu dari mereka, Tuan Putri?” tanya Lady Ruby. Aku pun menggeleng. Aku malas mencoba gaun-gaun itu. Mungkin karena sudah terlalu sering mencobanya di Kerajaan Safir dulu, aku jadi merasa tidak terlalu tertarik.


“Bagaimana denganmu, Sari?” aku menoleh ke arah Sari yang sejak tadi tampak kagum dengan gaun-gaun itu. Selama ini, ia hanya bisa mendandaniku tanpa bisa mencobanya sendiri. Saat aku menawarinya, ia selalu merasa sungkan.


“Eh? Saya–” Sari langsung gelagapan. Lady Ruby pun menepuk pundaknya dengan akrab. Tepukan itu membuat Sari tersentak kaget.


“Jangan ragu, Nona. Ini adalah kesempatan emas untuk mencoba gaun produksi Butik Madam Eline,” ujar Lady Ruby, “Kamu bisa mencoba gaun yang menarik perhatianmu. Aku yang akan menjaminnya.”


“Itu benar,” aku menambahkan ketika Sari menatapku seolah meminta persetujuan, “Cobalah sesekali. Kalau kamu mau, aku bisa membelikannya untukmu.”

__ADS_1


“Ti–tidak perlu, Tuan Putri. Saya–” Sari tampak ragu-ragu. Begitulah ia. Dia memang gadis yang suka tidak enak hati.


“Sudahlah, ikut saja dengan kami,” Lady Eleanor tiba-tiba mendorong Sari masuk ke ruang ganti, “Lia, Vio, tolong carikan gaun yang cocok untuknya.”


“Tentu,” balas Lady Ruby dan Nona Viola serempak. Mereka langsung meminta para pelayan di sana untuk ikut merekomendasikan gaun terbaik. Sepertinya, mereka sengaja melakukan itu ….


“Tu–Tuan Putri!” seru Sari meminta pertolongan. Aku pun melambaikan tangan, memintanya menikmati saja waktu yang menyenangkan ini. Ini waktunya bagiku untuk beristirahat.


“Tuan Putri, apa ada yang mau Anda coba?” tanya seorang pelayan ketika aku sedang melihat-lihat katalog yang butik sediakan. Aku pun menoleh pelan. Detik kemudian, aku menggeleng dengan wajah datar.


“Wah … apa desain-desain busana kami tidak mampu menarik perhatian Tuan Putri Saphira?” seorang wanita paruh baya tiba-tiba muncul mendekatiku, “Perkenalkan, saya adalah Anne Vanya, direktur dari Butik Madam Eline di ibu kota. Suatu kehormatan dapat bertemu dengan Anda.”


“Begitu pula dengan saya, Madam,” aku pun bangkit dari duduk, menerima uluran tangannya untuk bersalaman, “Madam adalah perancang busana yang hebat. Saya sudah beberapa kali mendengar nama Anda.”


“Ho, tapi tampaknya saya masih belum mampu memuaskan selera Anda,” Madam Anne mengulas senyum simpul di bibirnya, “Bintang dari Kerajaan Safir memang memiliki selera yang tinggi.”


“Wah, saya sungguh beruntung dapat berbincang dengan Tuan Putri,” ujar Madam Anne di tengah obrolan kami, “Saya harus berterima kasih pada Lady Ruby karena sudah memberi saya kesempatan untuk bertemu dengan Anda.”


Waktu berlalu dengan cepat selama kami berbincang ria. Aku beberapa kali melihat Sari tampil dengan gaun-gaun yang berbeda. Dia sangat cantik dan cocok dengan gaun-gaun itu. Aku cukup terhibur melihatnya.


“Antarkan gaunnya ke Akademi Permata, Madam,” ucapku sebelum kami meninggalkan butik. Aku memesan beberapa gaun untukku dan juga Sari. Awalnya, kawanku itu menolak. Ia baru mau menerimanya setelah kuberi tahu bahwa penampilannya juga berpengaruh terhadapku.


“Kami akan mengantarkannya langsung begitu gaunnya jadi,” janji Madam Anne, “Kepuasan Anda semua adalah kebahagian bagi kami.”


Kami sampai di akademi ketika hari menjelang sore. Kebanyakan siswa yang keluar untuk berlibur sudah masuk kembali. Akademi yang kemarin sore sempat sepi pun jadi ramai lagi.


“Putri Saphira,” panggil seorang pemuda yang cukup populer di kelasku, “Bisakah kita berbincang sebentar?”

__ADS_1


“Ada apa, Pangeran?” kutatap Pangeran Allan yang menghalangi jalanku. Pemuda itu tidak bersama putri kembarannya kali ini. Padahal, mereka berdua biasanya selalu bersama bagai dua sisi koin yang tak terpisahkan.


"Em …," Pangeran Allan memalingkan sedikit wajah sebelum menjelas maksudnya. Ia tampak menghindari kontak mata langsung denganku. Entah apa maksud dari tatapannya itu. "Aku … cuma mau bertanya tentang kondisi kakakku."


"Kenapa Anda malah bertanya pada saya?" keningku mengkerut heran, "Anda kan bisa langsung berkunjung kepada beliau? Saya yakin Putri Diamond I akan menerima kedatangan Anda dengan sepenuh hati."


"Itu–" Pangeran Allan ragu-ragu, "Ada satu dua kondisi yang tidak bisa kuatasi. Karena itu, aku hanya dapat bertanya pada Anda yang berkunjung kepadanya kemarin."


"Hm," meskipun merasa aneh, aku tetap memberikan jawaban sebenarnya. Lagi pula, tidak ada guna menyembunyikannya. "Beliau sangat sehat. Hanya itu saja, kan? Apa ada hal lain yang mau Anda sampaikan?"


“Anu–” Pangeran Allan kini kembali menatap lurus padaku, “Saya ingin Putri Saphira membantuku. Apa Anda berkenan?”


Aku mengerutkan kening. Huh. Pangeran ini terlalu banyak basa-basi. “Bantuan seperti apa yang Anda maksud?”


“Persiapan menjadi kepala DOS,” jawabnya pelan, “Kita harus mempersiapkan Kelas-A sebagai pemimpin para siswa di masa depan.”


Urusan pengaruhkah? Pangeran keempat memang tidak memiliki banyak pengaruh di kerajaannya. Namun, ia bisa menumbuhkannya sejak di akademi, apalagi kalau ia menjadi kepala DOS. Kepala DOS yang sekarang pun juga seorang pangeran. Kudengar, ia pangeran yang bijak dan kompeten, tidak kalah dengan pangeran pertama yang kabarnya merupakan lulusan terbaik beberapa tahun lalu.


“Bagaimana, Putri Saphira?” Pangeran Allan meminta jawaban.


“Saya akan memikirkannya, Pangeran,” jawabku singkat, “Kalau begitu, saya permisi dulu.”


Lagi pula, Putri Diamond I sudah lebih dulu minta tolong padaku. Permintaannya juga lebih baik menurutku. Aku tidak bisa memihak pada salah satu dari mereka seenaknya. Mari amati dulu bagaimana perkembangannya.


“Sari,” panggilku begitu kami sampai di kamar. Aku harus mulai mengumpulkan informasi. Informasi yang penting untuk pengambilan keputusan sebagai duta kehormatan dari Kerajaan Safir. “Ambilkan ‘kertas’ itu!”


“Baik, Tuan Putri,” jawab Sari sigap.

__ADS_1


Aku tidak pernah berpikir akan meminta Biro Informasi kembali bergerak secepat ini. Padahal Raja la Diamond masih tergolong muda, tapi anak-anaknya sudah berambisi besar atas takhta. Cepat atau lambat, aku pasti harus memberikan keputusan yang bijak terkait situasi dan kondisi di sini.


__ADS_2