
“Sari, ayo kita langsung pulang,” ajakku begitu pelajaran terakhir usai, “Kita harus bersiap-siap untuk pergi ke Istana Melati Putih sore ini.”
“Baik, Tuan Putri,” jawab Sari sigap.
Kabar bahwa aku akan menghadiri undangan Putri Diamond I menyebar dengan cepat. Seharian ini, sudah beberapa kali kawan-kawan sekelas menanyaiku. Mereka menanyakan pertanyaan itu-itu saja.
“Tuan Putri, apa Anda yakin akan pergi?” kurang lebih begitu pertanyaan mereka. Kadang ada yang menambahinya, “Anda harus hati-hati. Bawalah jimat dari Kuil Suci atau Anda akan terkena kutukan Putri Diamond I.”
Hah … bocah-bocah itu paranoid. Aku sudah menyelidiki perihal Putri Diamond I sebelum berangkat ke mari. Putri pertama itu sebenarnya gadis yang baik hati. Ia kehilangan penglihatannya di usia sekitar tujuh atau delapan tahun karena sebuah musibah yang tragis.
“Gadis terkutuk itu! Aku jadi sial gara-gara dia,” gerutuan seorang gadis menarik perhatianku. Ah, bukan seorang, tapi tiga orang. Penampilan mereka sangat berantakan dan kotor. Tampaknya, mereka baru saja terjatuh di tanah, bahkan ada daun yang menempel di rambut salah satu dari mereka.
“Aku setuju, Bella,” kata gadis yang paling pendek, “Tapi, bukannya kita tidak perlu mengikuti Lady Muthia lagi. Kita akan semakin sial jika terus mengikutinya.”
“Ck! Ayo pergi,” gadis yang rambutnya dikepang membalikkan badan. Dia terlihat sangat kesal. “May ada benarnya.”
“Lady Muthia, ya?” gumamku pelan sembari melihat mereka pergi, “Lady Muthia itu yang mengantarkan surat kepada kita, kan?”
“Benar, Tuan Putri,” jawab Sari yang berdiri di sampingku, “Beliau adalah lady yang dikelilingi oleh rumor-rumor sama seperti Putri Diamond I. Sepertinya, ada banyak pihak yang membencinya karena rumor kutukan itu.”
“Malang sekali,” ucapku pelan, “Padahal, mereka berdua tidak bersalah sama sekali, tapi orang-orang awam di kerajaan ini hanya bisa bergosip dan menghakimi.”
__ADS_1
“Rumornya, siapa pun yang mendekati Tuan Putri Diamond I dan Lady Muthia akan ikut terkena kutukannya,” Sari mengatakan itu dengan wajah yang sedikit tertunduk. Kami kembali berjalan ke asrama. Mendengar kata-katanya itu, aku pun bertanya, “Karena itukah kamu menolak tawaran Lady Muthia kemarin? Apa kamu percaya pada rumor itu?”
“Bu–bukan begitu,” Sari langsung berusaha menyanggah, “Saya hanya tidak ingin berlama-lama di luar.”
“Apa hanya itu saja?” aku tidak lantas percaya.
“Em …,” Sari agak ragu menjawab, tapi ia tetap saja mengatakannya, “Sebenarnya, saya khawatir Anda akan terkena gosip buruk karena perbuatan saya. Jadi, saya sungkan untuk menerima tawarannya.”
“Harusnya,” aku tersenyum tipis dan menggeleng pelan, “Kamu tidak perlu memikirkan itu. Aku sudah tahu bahwa akan ada bermacam gosip yang tersebar sejak aku menerima undangan Putri Diamond I. Itu bukanlah masalah besar. Kita pasti akan mendapat sesuatu yang bermanfaat di Istana Melati Putih nanti.”
“Hm,’’ Sari pun mengangguk, “Saya mengerti, Tuan Putri.”
“Putri Saphira,” panggil seorang gadis yang berpas-pasan dengan kami di tengah jalan. Gadis itu ditemani seorang pemuda yang sangat mirip dengannya. Mereka bagai pinang dibelah dua andai pemuda itu berambut panjang. Mereka berdua adalah teman sekelasku, Putri Ellia la Diamond dan Pangeran Allan la Diamond.
“Putri Saphira, apa Anda benar-benar akan datang ke Istana Melati Putih?” tanya Putri Ellia dengan air muka yang berriak prihatin.
Hais … pertanyaan itu lagi. Kenapa pula ia harus berwajah seperti itu? Mimiknya itu seolah menunjukkan bahwa ia khawatir aku akan pergi ke tempat paling berbahaya. Apa mereka mengira bahwa aku akan pergi ke istana penyihir jahat yang ada di novel-novel?
“Putri Saphira, lebih baik Anda pergi bersama kami,” sambung Pangeran Allan, “Kami akan melakukan pengamatan ibu kota siang ini. Itu akan lebih menyenangkan daripada duduk bersama kakak saya.”
Ha? Apa dia melupakan etiket bangsawan yang sudah dipelajarinya. Bagaimana mungkin ia merebut tamu yang sudah punya janji dengan seorang putri?
__ADS_1
“Terima kasih atas perhatian Anda berdua, Yang Mulia Pangeran dan Putri” ucapku membalas tawarannya, “Tapi, saya sudah lebih dulu berjanji pada Putri Diamond I. Jadi, saya tidak bisa menerima ajakan Anda berdua.”
“Tapi, Anda hanya akan rugi kalau datang ke istana kakakku,” kata Putri Ellia dengan cemasnya, “Kakak–Putri Diamond I sudah terkena kutukan penyihir yang kejam. Para pendeta dari Kuil Suci pun tidak bisa menyembuhkannya. Saya khawatir Anda akan tertular kutukannya.”
“Apa kutukan itu menular?” ucapku mempertanyakan logika tak berdasar itu, “Kalau kutukan itu menular, tidak akan ada orang yang mau bekerja di Istana Melati Putih, bukan? Namun, Grand Duchess Lambordy yang terkenal kehebatannya malah mau menjadi penanggung jawab di sana dan beliau tetap baik-baik saja.”
“Itu …,” Putri Ellia kehabisan kata-kata. Gadis itu pun menoleh pada saudaranya. Pangeran Allan yang ditatap langsung mengambil alih ucapannya, “Putri, tidak masalah kalau Anda tidak mau ikut bersama kami. Namun, lebih baik Anda berhati-hati saat bertemu dengan kakakku.”
“Terima kasih atas peringatannya, Pangeran Keempat,” balasku datar, “Saya akan senantiasa berhati-hati.”
Aku dan Sari pun meninggalkan mereka berdua. Waktu kami sudah banyak tersita. Kami harus bersiap-siap segera. Sebagai seorang putri, aku tidak boleh terlambat sama sekali.
Siang itu, aku istirahat sebentar sebelum Sari mendandaniku. Saat waktunya berangkat tiba, kereta kuda dari kedutaan menjemput kami. Sais kuda sempat menanyakan hal yang serupa seperti orang-orang. Itu menjadi pertanyaan sama yang kesekian kalinya hari ini. Aku pun menyuruhnya untuk tidak berpikir macam-macam.
“Selamat datang, Putri Saphira,” sambut seorang wanita tua yang wajahnya sudah berkeriput di sana-sini, tapi masih memancarkan kewibawaan yang tinggi. Usianya mungkin sekitar lima puluhan. Dia bermuka tegas dan dingin. “Suatu kehormatan bisa bertemu Anda.”
“Sayalah yang harusnya merasa terhormat karena dapat bertemu Anda, Grand Duchess Lambordy,” balasku sopan, “Anda adalah sosok hebat yang terkenal sampai ke Kerajaan Safir kami.”
Wanita itu adalah Margaretha Lambordy, Grand Duchess Lambordy yang menjadi penanggung jawab di Istana Melati Putih. Ia mengabdi pada Putri Diamond I atas suatu alasan. Dulu, ia adalah bintang pergaulan kelas atas yang bahkan lebih terkenal dari Lady Ruby.
“Mari ikuti saya, Putri Saphira. Putri Diamond I sudah menanti kehadiran Anda,” ajaknya yang kemudian berpaling setelah aku mengangguk. Aku dan Sari pun mengikutinya. Kami menyusuri jalan setapak yang berbatu rapi. Ada dua jenis batu yang disusun untuk membuat jalan setapak itu. Tampaknya, jalan ini didesain khusus untuk Putri Diamond I yang buta.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Grand Duchess Lambordy bercerita singkat tentang tuan putri. Apa yang dikatakannya jauh berbeda dari rumor yang beredar. Ia juga sempat mengungkapkan kesesalannya karena tak mampu membendung rumor atas putri pertama itu.
“Tuan Putri, Putri Saphira telah datang,” Grand Duchess Lambordy memanggil seorang gadis yang tengah duduk bersama tiga gadis lainnya. Ah, sudah ada orang lain yang datang rupanya. Aku pun melihat seorang gadis berambut putih yang berdiri dengan senyum tulus di wajahnya. Dialah Putri Diamond I. Dengan ramah, ia menyambutku, “Selamat datang, Putri Saphira. Terima kasih sudah mau menerima undanganku.”