
"Ely, kamu sudah siap, kan?" tanyaku begitu masuk di kamar Eleanor yang ada tepat di samping kamarku. Aku datang ke kamarnya bersama Viona. Kami akan segera berangkat ke Istana Melati Putih bersama.
“Aku sudah siap, Lia,” jawab Eleanor yang muncul dengan memakai gaun berwarna lemon. Gaun itu cocok dengannya yang berambut pirang. Ia pun mengajak dengan riang, “Mari kita berangkat sekarang.”
“Ini pertama kalinya aku ke Istana Melati Putih,” ucap Viona asal mencomot topik ketika kami berjalan di lorong asrama menuju ke pintu keluar, “Istana itu dekat dengan akademi, kan? Aku sudah lama penasaran, tapi sedikit takut untuk sekadar melihatnya.”
“Tenang saja,” aku menepuk pundak Viona pelan. Aku sudah pernah ke Istana Melati Putih beberapa kali bersama ayahku. Kami ke sana untuk mengunjungi Putri Diamond I sekaligus bertemu dengan bibiku, Grand Duchess Margaretha Lambordy. Grand duchess adalah kakak ayahku.
“Putri Diamond I adalah putri yang baik,” aku tahu apa yang Viona pikirkan, jadi aku langsung membela tuan putri, “Semua kutukan itu cuman rumor belaka. Kamu akan tahu setelah bertemu dengannya nanti.”
“Cuman rumor?” seorang gadis berambut pirang terang menginterupsi kata-kataku. Dia berdiri di ujung lorong bersama beberapa gadis lainnya. Sebuah kipas mewah menutup setengah wajahnya. “Aku ingat bahwa ada banyak orang yang terkena sial setelah bertemu gadis itu. Anda mungkin akan menjadi yang selanjutnya setelah ini.”
“Hm?” aku menatap lady itu tanpa melunturkan senyumku. Aku tidak boleh gegabah. Jangan sampai memperlihatkan celah di hadapan lawan. “Lady Luxen, perkataan Anda sungguh keterlaluan. Anda tidak sepatutnya mengaitkan masalah orang lain dengan orang lainnya yang tidak bersangkutan.”
Dia adalah Catharina Luxen, putri sulung Duke Luxen. Kami teman sekelas. Sejak kecil, kami sudah sering dibandingkan. Orang-orang selalu mengira bahwa kami adalah rival, tapi sebenarnya aku tidak pernah berpikir begitu. Yah, Keluarga Ruby dan Keluarga Luxen memang sudah sering bersaing sejak dulu, padahal kakek moyang kami adalah sahabat karib di masa lalu.
“Itu adalah fakta, Lady,” Lady Luxen menyanggahku, “Siang ini pun, kawan-kawanku terkena sial karena gadis yang satunya.”
“Benar,” tambah seorang gadis yang merupakan salah satu pengikut Lady Luxen, “Kami sampai jatuh ke taman saat mengikutinya tadi.”
“Kenapa kalian jatuh ke taman?” tanyaku heran. Kalau tidak salah, gadis itu adalah Luna Haven, salah satu putri Count Haven dari selatan.
__ADS_1
“Itu karena kutukannya,” gadis lain yang menjawab. Dia adalah Bella Aqua, putri Viscount Aqua yang juga dari selatan. “Si hantu putih itu pasti sudah menularkan kutukannya pada kami.”
“Iya, dia menatap kami dengan dingin sebelum pergi,” sambung gadis yang paling pendek. Dia mungkin May Cessel, putri Viscount Cassel. “Tatapannya saja membuatku takut.”
“Kalau kalian takut, kenapa kalian mengikutinya?” sebenarnya, pertanyaan pertamaku masih belum terjawab. Mereka terus menggerutu sejak tadi. Hanya jawaban asal yang keluar dari lisan mereka.
“Itu …,” May tertunduk, tak mampu menjawab pertanyaanku.
“Hmph! Sudahlah,” Lady Luxen pun mengambil alih, “Biarkan saja Lady Ruby kalau dia ingin terkena bala.”
“Apa kamu kira aku akan terkena bala setelah menemui Putri Diamond I?” tanyaku santai. Karena dia bahkan tidak menghormati tuan putri, aku tidak perlu berbicara formal pada pemimpin para lady dari selatan itu. “Kamu salah, Lady Luxen. Aku selalu mendapat keberuntungan setiap kali berkunjung ke Istana Melati Putih. Kalau tuan putri mengundangmu, lebih baik kamu menerimanya. Kami pergi dulu. Selamat jalan.”
Aku mengajak Eleanor dan Viona untuk segera pergi dan meninggalkan Lady Luxen yang masih saja menyembunyikan wajahnya di balik kipas. Waktu kami sudah terbuang banyak karena dia. Kereta kuda yang terparkir di depan pun sudah menunggu lama. Sepertinya, kami akan sedikit terlambat di sana.
“Halo, Bibi,” sapaku akrab begitu sampai di halaman Istana Melati Putih. Seperti biasa, Bibi Margaretha sudah menunggu kami di sana. Ia selalu menyambutku setiap kali aku berkunjung ke mari.
“Kamu terlambat, Lia,” tegur Bibi Margaretha, “Sejak kapan putri Keluarga Ruby mengabaikan janjinya begini?”
“Itu,” aku mengalihkan mata ke arah lain, tak kuasa beradu pandang dengan mata Bibi Margaretha, “Maaf, ada sedikit masalah yang menghambat kami sebelum berangkat tadi. Jadi, kami datang sedikit terlambat.”
“Hah …,” Bibi Margaretha menghela napas maklum. Grand Duchess Lambordy itu pun mengingatkanku, “Sampaikan permintaan maaf itu pada tuan putri nanti. Ayo ikuti aku.”
__ADS_1
“Baik!” aku menurut, “Ely, Vio, ayo ke sana.”
“Tuan Putri,” panggil Bibi Margaretha begitu kami sampai di taman tempat pertemuan diadakan, “Lady Ruby, Lady Ros, dan Nona Morgan telah tiba.”
Putri Diamond I pun menyambut kami dengan hangat. Senyum ramah tersungging di wajahnya yang cantik jelita. Rambutnya yang seputih salju membuatnya terlihat semakin ayu. Ia pun mempersilakan kami untuk duduk.
“Maaf karena kami datang terlambat, Tuan Putri,” ucapku menepati janji dengan Bibi Margaretha tadi. Aku tahu kalau sebenarnya bibi tidak akan keluar dari taman sampai aku menunaikan janji. “Ada sedikit masalah yang menghambat kami tadi. Saya harap, Anda mau memaafkan kelalaian kami yang tidak disengaja.”
“Itu tidak masalah, Lia,” balas Putri Diamond I tulus, “Justru aku harusnya berterima kasih karena kamu mau datang bersama teman-temanmu.”
“Sudah tentu kami harus datang jika diundang,” aku senang dengan sikap lapang dada tuan putri berambut putih ini. Bagiku, ia sudah seperti kakak yang hebat meski kami jarang bertemu. Usianya dua tahun lebih tua dari kami semua yang ada di sini. Andai penglihatannya tidak hilang, ia pasti akan menjadi senior yang populer di Akademi Permata.
Kami mengobrolkan banyak di taman itu. Istana Melati Putih menjamu kami dengan sangat baik. Di tengah acara, tuan putri mengajak kami ke perpustakaan pribadinya. Ajakan itu sempat membuat teman-teman terkejut. Meskipun Putri Diamond I tidak dapat melihat, ia merupakan gadis muda yang sangat suka membaca dan menulis.
“Huruf Braille?” Viona mengerutkan kening di perjalanan menuju ke perpustakaan. Ia yang paling terkejut saat mendengar ajakan tuan putri.
“Itu adalah huruf cetak timbul yang dibuat oleh Louis Braille, seorang pria buta dari negara di kontinen bagian barat,” jelasku lugas, “Awalnya, huruf itu tidak diakui oleh dunia, bahkan negaranya sendiri. Huruf yang berupa titik-titik timbul itu baru diakui setelah ia meninggal dunia.”
“Kalau tuan putri bisa membaca, bukankah seharusnya beliau bisa ikut bersekolah di akademi?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Eleanor ketika kami sampai di depan pintu perpustakaan.
“Benar, pasti akan menyenangkan kalau aku bisa ikut bersekolah bersama kalian,” Putri Diamond I menjawab langsung pertanyaan itu. Eleanor sampai terkejut karena tidak menyangka bahwa suara lirihnya masih bisa terdengar oleh tuan putri.
__ADS_1
“Tapi, itu pasti akan merepotkan pihak akademi dan orang-orang di sekitarku,” lanjut Putri Diamond I, “Akademi pun keberatan untuk menerima seorang siswi tunanetra sepertiku. Meski begitu, aku bersyukur karena masih bisa belajar banyak di istana yang luas ini.”
“Selamat datang, Tuan Putri dan para Lady sekalian,” seorang pustakawan wanita menyambut kedatangan kami. Aku kenal wanita itu. Ia adalah seorang sarjana muda yang datang dari luar kontinen. Pakaian yang dikenakannya sangat elok dan unik. Pakaian itu menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Ia merupakan seorang wanita yang baik hati dan perhatian. Namanya adalah Sarjana Amina binti Idris.