Cara Menjadi Tokoh Di Dunia Novel

Cara Menjadi Tokoh Di Dunia Novel
Bab 012: Kunjungan Kakanda Putra Mahkota (Berlian)


__ADS_3

Selena mempersilakan tamu-tamunya untuk memilih sendiri buku yang mereka suka, sementara ia meminta salah seorang pelayannya untuk segera menyiapkan makan malam. Mentari sudah hampir tenggelam. Karena besok hari libur, sang putri pun mengajak teman-temannya untuk menginap.


“Itu bagus,” Amelia mendukung. Sebelumnya, ia sudah beberapa kali menginap di istana ini, tapi tidak banyak berinteraksi dengan Selena “Aku mau menginap di sini. Kalian juga, kan, Ely, Vio?”


“Kalau Lia mau di sini, aku pun juga mau,” jawab Eliana setuju. Jawabannya itu diikuti dengan anggukan pelan oleh Viola.


“Bagaimana dengan Nona Hilton dan Nona Orchid?” tanya Selena kemudian. Kedua gadis itu pun setuju. Meski Lilianne terlihat sedikit ragu, ia mengikuti saja keputusan Rosica.


Waktu sore berlalu begitu saja di perpustakaan. Para putri itu asyik membahas sejarah kontinen sampai seorang pelayan Istana Melati Putih mengabarkan bahwa makan malam sudah siap. Mereka pun diarahkan ke ruang makan yang besar.


Terdapat lentera-lentera cantik sepanjang lorong menuju pusat istana. Lentera itu dinyalakan oleh para pelayan menjelang tenggelamnya matahari, yaitu saat awan-awan mulai kemerahan di atas sana dan hari pun mulai redup.


Makan malam juga berlalu dengan cepat. Para lady menikmati makan malam itu dengan lahap. Itu karena makan malam di istana ini lebih enak dari semua makanan yang ada di akademi.


“Ini adalah hari yang menyenangkan,” ucap Selena begitu ia menyelesaikan acara makan malamnya, “Terima kasih sudah mau menemaniku. Kalian bisa segera beristirahat setelah ini.”


Langit pun mulai menggelap. Semburat sore telah habis sempurna di ujung horizon. Para lady segera masuk ke kamarnya masing-masing, sementara Selena yang belum mengantuk masih asyik membaca salah satu lembar memori yang pernah ditulisnya dulu.


Sepuluh tahun sudah berlalu sejak tragedi itu. Waktu Selena tinggal tiga tahun lagi, sedangkan ia tidak mungkin bisa mengubah plot dengan kondisinya saat ini. Mengumpulkan para tokoh dari plot-plot lainnya adalah cara terbaik. Sayangnya, informasi tentang Rubia vi Emerald masih samar.


Saat ia menyelidiki putri pertama dari Kerajaan Emerald itu, ia hanya mendapati bahwa putri itu sudah pergi dari kerajaannya sejak tiga bulan yang lalu. Perhatiannya pun tertuju pada seorang gadis bangsawan baru bermata hijau, yaitu Rosica Hilton yang baru muncul juga di bulan itu. Mata hijau itu menjadi petunjuk bagi Selena. Ia mengundangnya ke istana untuk memastikan sendiri bahwa gadis itu memang Rubia vi Emerlad.


"Aku masih ragu. Informasi tentangnya terlalu sedikit. Aku tak mau membahayakan orang lain yang tidak bersangkutan dengan plot," gumam Selena sendirian. Ia tidak perlu cahaya untuk membaca catatannya. Cukup dengan jari-jemarinya yang telah hafal setiap bentuk huruf cetak timbul di kertasnya yang tebal. Meski begitu, ia tetap ditemani oleh sebuah lampu teko yang dinyalakan oleh Margaretha.

__ADS_1


“Tuan Putri, Putra Mahkota la Diamond datang berkunjung untuk bertemu dengan Anda,” lapor Margaretha begitu Selena menyelesaikan lembar pertamanya. Tangan putri bermata bening itu pun berhenti meraba buku di pangkuannya. Ia menoleh ke depan seolah mampu melihat Grand Duchess Lambordy di sana.


“Kakak berkunjung? Malam-malam begini?” tanya Selena heran. Selama ini, ia jarang menerima tamu, bahkan dari keluarganya sendiri. Karena itu, ia sangat senang saat para lady mau berkunjung.


“Benar, Tuan Putri,” jawab Margaretha singkat. Ia menunggu jawaban Selena. Selama Selena tak mengizinkan kunjungannya, Grand Duchess Lambordy tak akan segan-segan mengusir putra mahkota, bahkan jika ia Raja la Diamond sekalipun.


“Tolong tuntun aku ke ruang tamu, Madam,” kata Selena sembari menutup buku catatannya. Ia pun menyodorkan tangan yang kemudian disambut oleh Margaretha.


“Akhirnya kamu keluar,” suara tegas seorang pemuda terdengar di telinga Selena begitu ia sampai di ruang tamu. Sang putri mengenali suara itu. Itu memang suara putra mahkota sekaligus kakak kandung Selena, Alexander la Diamond. Usianya tiga tahun lebih tua dari sang putri.


“Selamat datang, Yang Mulia,” ucap Selena menyambut kakaknya dengan sopan. Wajahnya yang diterangi cahaya redup lentera menyungging senyum ramah seperti biasa. “Ada angin apakah ini sampai kakakku tercinta datang berkunjung malam-malam begini?”


“Kakak tercinta, huh?” Alexander menyeringai tipis. Hidup di tengah keluarga kerajaan yang besar membuatnya tumbuh sebagai paranoid. Ia tidak bisa mempercayai siapa pun begitu saja, bahkan adik kandungnya sekalipun. Saat Selena masih sehat pun, ia memasukkan tuan putri itu ke dalam daftar saingannya. Meski begitu, ia tetap dapat memasang topeng wajah yang tebal sehingga para pendukung menganggapnya sebagai pangeran ramah dan mudah bergaul.


Andai mata Selena tidak buta, Alexander pasti menganggap kata-kata itu sebagai bualan manis belaka. Ia belum lama ini diangkat sebagai putra mahkota. Posisinya masih sangat lemah di kerajaan. Raja la Diamond bisa menggantinya kapan saja.


“Jadi, ada gerangan apa Kakanda datang ke mari?” Selena mengulang pertanyaan pertamanya.


“Aku cuman jenuh saja,” jawab Alexander beralasan. Ia sungkan mengutarakan maksudnya karena Grand Duchess Lambordy masih ada menemani Selena. Baginya, wanita tua yang terhormat itu lebih berbahaya daripada Selena sendiri.


“Apa hanya itu?” Selena sulit untuk percaya, tapi ia tidak mempermasalahkannya sama sekali, “Sayang sekali kalau begitu. Para lady sedang menginap di istanaku, jadi aku tidak bisa memberi kamar untuk Kakanda.”


“Hah? Apa hubungannya dengan itu?” Alexander mengerutkan keningnya, heran dengan perkataan adiknya.

__ADS_1


“Ini adalah Istana Putri Diamond I, Yang Mulia,” jawab Selena tegas, “Sebenarnya, tidak etis Anda berkunjung ke mari begitu saja, apalagi ketika saya tengah menerima tamu dari Akademi Permata.”


“Ck! Aku tahu, aku tahu,” ucap Alexander sambil melambai-lambaikan tangannya, “Aku tidak akan menginap malam ini. Aku hanya ingin sedikit bertanya beberapa hal padamu.”


Putra mahkota ke mari memang bukannya tanpa sebab. Sore ini, ia mendapat laporan bahwa Putri Saphira dan Lady Ruby berkunjung ke Istana Melati Putih. Alexander butuh kekuatan dan penyokong yang hebat untuk mendukungnya. Menurutnya, tidak ada yang lebih tepat selain kedua gadis itu. Jika kedua gadis itu bersahabat baik dengan Selena, maka ia akan lebih mudah mendapatkannya.


“Putri Saphira dan Lady Ruby, ya? Ah, aku mengerti maksud Kakanda,” Selena langsung paham maksud pertanyaan kakaknya. Meskipun ia buta, ia tak lantas mengabaikan berita terbaru begitu saja, termasuk tentang debut Amelia yang megah dan kedatangan Evanna yang sempat heboh. Ia adalah gadis peka yang mampu membaca situasi dengan naluri batinnya, apalagi dengan bekal pengetahuan plot dan serikat informasi yang dimilikinya.


“Mereka berdua sama baiknya menurutku,” lanjut Selena dengan senyum yang mengembang indah di wajahnya, “Lady Ruby adalah gadis terbaik di Kerajaan Diamond. Ia memiliki status, kekayaan, dan kepribadian yang ideal. Koneksinya pun sangat luas. Gadis itu juga terkenal dengan jiwa sosialnya yang tinggi. Aku yakin ia bisa menjadi ratu atau nyonya bangsawan yang hebat di masa depan. Jika Kakanda memilihnya, Kakanda akan mendapat keuntungan dari Fraksi Bangsawan Pusat yang ada di ibu kota.”


“Bagaimana dengan Putri Saphira?” tanya Alexander kemudian.


“Aku belum tahu jelas bagaimana sifat. Menurutku, ia adalah putri yang berwibawa, teliti, dan bicara seperlunya,” Selena mengingat-ingat diskusinya tadi sore. Meski baru pertama kali bertemu, ia sudah bisa hafal suara tamu-tamunya, termasuk Evanna yang hemat bicara.


“Dari segi politik, Kakanda akan mendapat banyak keuntungan darinya yang merupakan putri terbaik di Kerajaan Safir,” Selena merapatkan pakaiannya dan mengelus pipi yang mulai kedinginan, “Anda akan membutuhkannya kalau mau mendapatkan kekuatan yang besar dari pihak luar.”


“Aku mengerti,” Alexander manggut-manggut pelan sambil memejamkan mata. Sebenarnya, ia cukup penasaran dengan cara Selena mendapatkan semua informasi itu. Selama ini, Putri Diamond I didengungkan sebagai gadis yang bodoh dan tidak berguna karena matanya buta.


“Apa ada pihak lain yang bisa kamu rekomendasikan?” tanya Alexander iseng. Ia tidak mengharapkan jawaban yang kompleks kali ini.


“Ada,” jawaban Selena membuat Alexander mengerutkan keningnya, “Sayangnya, dia bukan gadis yang sederhana dan sulit ditebak. Aku belum bisa memberikan informasi akurat terkait dirinya, tapi ia pasti tidak akan kalah baiknya dengan Lady Ruby maupun Putri Saphira.”


“Siapa dia?” Alexander jadi tertarik.

__ADS_1


“Kuingatkan sekali lagi, aku belum bisa memberikan informasi akurat terkait dirinya,” ucap Selena serius, “Dia adalah Rubia vi Emerald, putri pertama dari Kerajaan Emerald.”


__ADS_2