
"Sayang sekali," ucapku sesal, "Padahal aku ingin mengenal Nona Hilton lebih dekat lagi."
"Itu bukan masalah, Lia," Putri Diamond I membalas ucapanku, "Kalian kan satu angkatan. Pasti tidak sulit untuk bertemu lagi dengannya."
"Benar, sih," aku mengangguk pelan, "Tapi kami bukan teman sekelas."
"Kamu tinggal memberinya undangan, Lady," Putri Saphira menimpali, "Aku yakin gadis sepertinya tak akan menolak undanganmu."
"Hm, aku akan mengundangnya lain kali," ucapku setuju, "Karena Tuan Putri tertarik padanya, ia pasti gadis yang hebat."
Putri Diamond I hanya tersenyum manis mendengar ucapanku. Meskipun orang-orang bilang bahwa ia hanyalah putri lemah yang cacat, aku tahu bahwa sebenarnya ia tidaklah seremeh itu. Bibi Margaretha pernah bercerita padaku bahwa tuan putri sangat pandai, bahkan bisa berbahasa asing.
Putri Diamond I mengajak kami berkunjung ke Istana Bulan setelah sarapan. Ia ingin mempertemukan kami dengan Ratu la Diamond. Ini adalah suatu kehormatan besar bagi kami.
"Teman-teman," panggil Putri Diamond I dalam perjalan ke Istana Bulan. Kami semua duduk dalam satu kereta kencana yang besar. Kereta kuda itu memiliki interior yang megah lagi cantik. Hanya keluarga kerajaan dan bangsawan kelas atas yang mampu membelinya.
"Aku ingin mendengar pendapat kalian mengenai kondisi kontinen baru-baru ini," ucap Putri Diamond I setelah basa-basi sejenak. Senyum di wajahnya tak pernah luntur sedikit pun, berbanding terbalik dengan Lady Muthia yang selalu datar.
“Setelah gencatan senjata dengan Kerajaan Marjan di musim panas tahun lalu,” Putri Saphira yang pertama kali mengungkapkan pendapatnya, “Kondisi perekonomian, perdagangan, dan masyarakat mulai membaik. Namun, kedamaian itu malah berdampak buruk pada kondisi politik kontinen.”
“Kenapa begitu?” tanyaku heran.
“Lima tahun yang lalu, kita masih bekerja sama dalam satu komando persekutuan untuk melawan hegemoni Kerajaan Marjan,” jelas Putri Saphira, “Namun, setelah gencatan senjata itu, para pemimpin dan panglima kita malah saling berebut pengaruh di antara jajaran mereka sendiri. Hal itu membuat Persekutuan Kontinen Western menjadi rentan dan kacau.”
__ADS_1
“Putri Saphira,” di luar dugaan, Lady Muthia menginterupsi, “Menurut saya, kolusi dan intrik antara para pemimpin dan panglima itu sudah muncul bahkan sejak dibentuknya persekutuan. Sejak awal, pondasi kerja sama kita sangatlah lemah. Itulah yang membuat kita tidak pernah mampu menyaingi kekuatan Kerajaan Marjan dan negeri-negeri Daratan Besar.”
“Hm,” Putri Saphira mengangguk pelan, “Itu masuk akal. Namun, perseteruan itu jadi semakin kentara setelah gencatan senjata ditandatangani. Kalau sampai para duta dari negeri-negeri Daratan Besar mengetahui hal ini, mereka mungkin akan mempertimbangkan untuk kembali menyerang kita dan mengabaikan gencatan senjata itu.”
Aku memperhatikan kedua gadis itu membahas hal-hal yang berat. Rasanya seperti ada gunung yang menjulang di antara kami. Berbeda dengan mereka berdua yang aktif memperhatikan politik luar negeri, sejak dulu aku hanya fokus pada tren-tren di dalam negeri. Bukannya aku tidak memperhatikan perpolitikan para aristokrat. Hanya saja, aku memilih untuk tidak terlalu memikirkannya selama hal itu tidak berpengaruh besar pada keluargaku.
Plok!
“Baiklah,” Putri Diamond I menepuk tangannya sekali, “Aku sudah mendengar pendapat kalian. Terima kasih atas informasi yang berharga itu. Sekarang, aku ingin mengajak kalian untuk berdiskusi.”
Seisi kereta kencana pun memperhatikan sang putri. Kami melihat sosoknya yang anggun lagi bermartabat. Wajahnya menyungging senyum ramah. Rambut putihnya menjuntai lurus bak benang-benang platinum yang mewah. Dengan suaranya yang halus, ia berkata, “Seperti yang sudah kalian katakan, kondisi perpolitikan kontinen sedang runyam meski terlihat baik-baik saja di luar. Aku ingin mengajak kalian untuk bekerja sama memperbaiki situasi itu.”
“Bagaimana kita bisa memperbaikinya?” Vio angkat bicara, “Kita hanya gadis-gadis kecil yang bahkan tidak dipandang sama sekali oleh para orang dewasa, khususnya di bidang politik.”
“Kamu benar,” Putri Diamond I mengangguk paham, “Kita mungkin tidak akan didengar sekarang. Sepandai apa pun kita, kita hanyalah anak-anak kecil yang polos bagi mereka. Karena itu, aku ingin menawarkan rencana jangka panjang. Bukankah kita yang akan menjadi tokoh-tokoh kontinen di masa mendatang?”
“Kurang lebih begitu,” Putri Diamond I membenarkan ucapanku, “Aku ingin kalian memulainya dari akademi, lebih tepatnya adalah angkatan kalian. Selama ini, persaingan antarkelas sangat ketat sehingga membentuk peta konstelasi kasar dalam perpolitikan di ranah akademi.”
“Begitu, ya,” Putri Saphira menimpali, “Para siswa-siswi bangsawan secara alami membangun lingkar persekutuan di antara mereka. Pada dasarnya, mereka membangun relasi sejak belajar di akademi. Anda ingin kami mempersatukan mereka demi Persekutuan Kontinen Western di masa depan.”
“Tepat sekali,” Putri Diamond I menepukkan tangannya sekali lagi, tanda setuju, “Maaf karena aku tidak bisa membantu kalian secara langsung. Namun, aku pasti akan menyokong kalian sekuat tenaga.”
“Anda tidak perlu risau. Kami akan menerima rencana ini dengan sepenuh hati,” ucapku enteng. Aku bisa mengerti maksud tuan putri. Keterbatasan dan rumor yang beredar terkait dirinya membuat ia tak bisa bergerak di depan panggung.
__ADS_1
Perbincangan berat itu membuat perjalan menuju Istana Bulan berlalu tanpa terasa. Ratu la Diamond sendiri yang menyambut kami begitu sampai di sana. Kulihat sang ratu yang segera menghampiri putrinya. Sikapnya itu menunjukkan betapa sayangnya ia pada Putri Diamond I.
Ratu la Diamond menjamu kami dengan hangat. Ia juga mengizinkan kami untuk melihat-lihat danau istana yang indah. Tiga buah perahu dikeluarkan untuk kami. Aku duduk satu perahu dengan Viola dan Eleanor, sedangkan Lady Muthia duduk bersama Putri Saphira dan pelayannya. Ratu dan Putri Diamond I duduk di perahu yang tersisa.
“Putri Saphira, bagaimana kalau kita berlomba mendayung sampai ke ujung danau sana?” tanyaku begitu kami telah duduk di posisi masing-masing. Tidak ada pelayan yang mendayungkan perahu untuk kami. Kami harus mendayungnya sendiri. Ini lebih seru daripada hanya duduk menonton sampai bosan.
"Hm, berlomba?" Putri Saphira memiringkan wajahnya, "Buat apa?"
"Untuk seru-seruan saja," jawabku jujur.
"Bukannya lomba itu harus ada hadiahnya?" Putri Saphira mengajukan syarat, "Hadiah apa yang akan kami dapat kalau menang?"
"Hm, benar juga," aku berpikir sejenak, "Bagaimana kalau pergi ke Butik Madam Eline? Kebetulan saya akan berkunjung ke sana nanti siang ini."
"Butik Madam Eline?" Putri Saphira pun menoleh pada pelayannya, "Bagaimana menurutmu, Sari?"
"Em … itu …," gadis berambut pendek sebahu itu terlihat ragu sejenak, lalu mengungkapkan pendapatnya, “Itu adalah butik yang terkenal bahkan di Kerajaan Safir. Mungkin akan menyenangkan kalau kita bisa berkunjung ke sana.”
“Lady Muthia?” Putri Saphira kini menoleh ke Lady Muthia yang duduk paling belakang. Lady Muthia pun menjawab singkat. “Tidak masalah.”
“Bagaimana?” tanyaku meminta konfirmasi, “Apa itu cukup?”
“Hm, baiklah,” Putri Saphira pun menyetujuinya, “Mari kita hitung bersama. Aku akan menguji sehebat apa butik terbaik sekerajaan yang terkenal sampai ke negeriku itu.”
__ADS_1
“Satu … dua … tiga!”
Perahu kami melaju bersama. Tidak masalah siapa menang, siapa kalah. Tidak akan ada pihak yang dirugikan dari sebuah perlombaan yang benar. Lagi pula, esensi yang ingin kudapat hanyalah keseruannya saja.