
“Tok”
“Tok”
“Tok”
“Tok”
“Rasti buka pintunya, jangan pura-pura lo atau gue buka
paksa nih,” seorang wanita berpenampilan bak seorang sosialita nampak menggedor-gedor
dengan keras benda persegi panjang didepannya, nampak pula dua lelaki layaknya bodyguard sang wanita setia mengawal dibelakang, setelah lama wanita itu berteriak-teriak akhirnya benda persegi panjang itu terbuka, nampak seorang wanita
dengan dandanan menor keluar dengan tatapan tidak suka terhadap wanita didepannya.
“Ada apa?!" jawab wanita itu ketus.
“Hei Rasti lo belum bayar uang kontrakan uda 3 bulan, ayo bayar sekarang atau gue lempar lo sama anak lo ke jalanan,” ucap wanita
didepannya tidak kalah sengit.
“Gue belum ada duit, nanti kalau gue uda ada duit gue bayar, bawel banget lo,” wanita yang dipanggil Rasti itu menjawab lagi dengan ketus
seraya ingin menutup benda persegi panjang yang dia buka, tetapi dua lelaki dibelakang wanita yang bak sosialita langsung mendorong paksa benda itu hingga terbuka lebar.
“Songong lo, ngontrak ngga bayar-bayar, gaya lo kayak istri pejabat. Pelacur aja belagu!," ucap wanita bak sosialita sambil mendorong Rasti. Rasti hampir terjatuh ke belakang kalau saja dia tidak meraih benda persegi panjang didiepannya.
“Gue tunggu sampai besok pagi, kalau lo ngga bayar juga, gue
lempar lo sama anak lo ke kolong jembatan,” ucap wanita itu lagi sambil menatap Rasti tajam, lalu pergi.
Rasti menutup pintu dengan kasar setelah wanita itu pergi. “Braak”
“Carmeliaaaa……..Carmeliaaa…….” Rasti berjalan ke belakang, dia menampung air di ember dan membawanya ke luar setelah ember itu terisi penuh.
“Byuuuur.” Rasti membuang air seember yang dia bawa, nampak seorang anak perempuan yang tertidur dilantai dengan Kasur tipis bangun gelagapan karena tersiram air yang dibawa Rasti.
“Banguuuun!” teriak Rasti didepan wajah anak perempuan itu.
“Ibu kasur Lia jadi basah semua ini, Lia masih ngantuk Bu. Lia
baru pulang,” ucap anak perempuan yang dipanggil Carmelia.
“Gue ngga peduli, mana duit lo, siniin.” Rasti menadahkan tangannya didepan Carmelia. Carmelia mengusap wajah dan bajunya yang basah. “Bukannya gaji Lia uda Lia kasih semua ke Ibu?” ucap Carmelia sambil mengangkat Kasur tipisnya
__ADS_1
untuk dijemur.
“Duit segitu lo bilang gaji?, cari kerja tuh yang gajinya besar, buat apa lo kerja sampai malam kalau gaji lo Cuma segitu," ucap Rasti keras.
“Lia kan cuma kerja di café Bu, yaa gajinya cuma segitu," jawab
Carmelia dengan tatapan sedih.
“Pokoknya gue ngga mau tau, lo bayar kontrakan tiga bulan, karena kita uda nunggak tiga bulan," ucap Rasti sambil berteriak didepan wajah
Carmelia. Carmelia membuka mulut dan melebarkan matanya setelah mendengar ucapan Ibunya yang sudah menunggak kontrakan tiga bulan.
“Bu…bukannya ga-gaji Lia uda Lia kasih semua ke Ibu buat bayar kontrakan," ucap Carrmelia gugup.
“Gaji lo yang di café itu buat kehidupan gue, gue perlu make up biar tetap cantik, biar pelanggan gue ngga pada kabur, tau ngga lo!” ucap
Rasti sambil menoyor kepala Carmelia ke belakang.
Lia ngga punya uang lagi Bu, hanya gaji itu yang Lia punya
untuk bayar kontrakan," ucap Carmelia sambil menunduk.
“Buat bayar kontrakan lo cari lagi doong, jangan perhitungan lo sama gue, lo bisa segede gini siapa yang ngasih lo makan kalau bukan gue,
mendekatkan wajahnya ke wajah Carmelia yang semakin menunduk.
“Uda lo jangan kebanyakan drama deh, pergi sana lo cari uang, gue lapar mau makan," ucap Rasti lagi sambil mendorong Carmelia dengan
kasar kearah pintu. Carmelia berjalan menjauhi ibunya, dia tidak berani untuk menatap ke belakang lagi, langkahnya terus menjauh dan keluar dengan baju yang masih basah.
Carmelia terus berjalan disepanjang trotoar, langkahnya tidak pasti akan dia bawa kemana, dengan keringat dipelipisnya dan baju yang mulai
kering di badan dia terus berjalan tanpa tujuan. Seketika langkahnya terhenti. Disebuah warung makan pinggir jalan, warung itu nampak ramai pengunjung, Carmelia mempercepat langkahnya menuju warung tersebut.
“Permisi Bu, apa saya bisa bantu-bantu disini Bu?, saya
butuh uang tambahan untuk membayar kontrakan," ucap Carmelia kepada Ibu pemilik warung ketika ia sampai didepan warung tersebut. Ibu pemilik warung yang Carmelia ajak bicara menoleh ke arahnya, ditatapnya clCarmelia dari atas sampai ke bawah, lalu Ibu itu menoleh kearah seorang Bapak disampingnya. Seorang Bapak
yag ditatap Ibu tersebut mengikuti pandangan si Ibu menatap Carmelia sesaat lalu menganggukan kepala, si Ibu pemilik warung pun menjawab dengan angukan kepala.
“Siapa namamu nak?” tanya Ibu pemilik warung kepada Carmelia
ramah.
“Carmelia Bu," jawab Carmelia sambil tersenyum.
__ADS_1
“Kamu bisa bantu Ibu cuci piring ya, tapi maaf ibu tidak bisa bayar kamu besar, warung Ibu Cuma sebesar ini," ucap Ibu pemilik warung sambil tersenyum.
“Iya Bu tidak apa, asalkan saya bisa dapat tambahan untuk bayar kontrakan Bu," jawab Carmelia penuh harap.
“Baiklah kamu ikut Ibu ke belakang ya," ucap Ibu tersebut lalu
mengajak Carmelia mengikutinya.
Menjelang siang warung tersebut sudah tutup, karena warung
itu hanya buka dipagi hari sampai menjelang siang. Carmelia pamit kepada Ibu dan Bapak pemilik warung karena dia juga harus bekerja dicafe siang hari, tidak lupa ibu pemilik warung memberikan dia dua bungkus nasi beserta lauk pauk
seadanya untuk dia bawa pulang.
“clCarmelia ini bayaran kamu hari ini, dan ini ada dua bungkus nasi untuk kamu dan Ibumu ya, jangan lupa dibawa pulang," ucap Ibu pemilik
warung kepada Carmelia sebelum Carmelia pergi, Carmelia mengangguk sambil merapihkan piring-piring yang baru saja dia cuci.
Dengan langkah cepat Carmelia menuju rumahnya, sepanjang
jalan dia tersenyum karena berhasil membawa makanan dan uang untuk dirinya dan Ibunya.
Sampai dirumah Rasti sudah menunggu Carmelia dengan kesal,
ditatapnya Carmelia yang baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
“Apa yang kamu bawa?” tanya Rasti ketus.
“nlNasi dan lauk pauk Bu buat kita makan," jawab Carmelia sambil tersenyum.
Rasti merampas kantong plastik ditangan clCarmelia dan
membukanya, setelah membuka bungkusan yang clCarmelia bawa rasti langsung memakannya dengan lahap.
“Dari pagi gue lapar, jam segini lo baru pulang," ucap Rasti dengan mulut penuh makanan.
“Maaf Bu, Lia harus nyari tempat yang bisa nerima Lia kerja," ucap Carmelia sambil menunduk.
“Uda sana lo, bungkusan satunya lagi buat gue, anggap aja sekarang gue lagi sarapan yang tertunda, nanti yang satunya buat gue makan
siang," ucap Rasti lagi tanpa menatap ke Carmelia. Carmelia menonggakkan kepala menatap Ibunya setelah mendengar ucapan Ibunya.
“Tapi itu untuk Lia bu," ucap Carmelia ingin menangis.
“Ach bawel lo, uda sana jangan ganggu gue.” Rasti mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh Carmelia pergi., dengan langkah gontai Carmelia meninggalkan Ibunya.
__ADS_1