
“Aaaaaa…….” Carmelia bangkit, dan mendorong dada Haikal membuat Haikal tejungkal kebelakang dan punggungnya terbentur meja.
“Aakh!” Haikal berteriak sambil memegang punggungnya yang terasa sakit, Carmelia membulatkan kedua matanya, mulutnya yang tenganga ia tutupi dengan telapak tangannya. Setelah berapa lama ia baru tersadar melihat Haikal yang kesakitan sambil memegang punggungnya Carmelia berusaha membantu.
“Jangan pegang-pegang, sudah sana!” Haikal menepis tangan Carmelia yang berusaha membantunya.
“Lagian om, tiba-tiba wajahnya deketin wajah aku.” Carmelia menekuk wajahnya dan kembali duduk.
“Aku mau bangunin kamu.” Jawab Haikal ketus, Haikal mendudukan bokongnya disofa single dan mengusap-usap punggungnya yang masih terasa sakit. “aku mau bangunin kamu karena aku mau nyuruh kamu makan.” Haikal mengulagi ucapannya dengan dagu yang menunjuk ke arah meja makan.
“Waaah makan.” Wajah Carmelia berubah sumringah ketika Haikal mengatakan kalau menyuruh ia makan.
“Kenapa ngga bilang dari tadi om, uda lapar nih.” Carmelia bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya segera ke meja makan.
Haikal melebarkan kedua matanya melihat Carmelia yang langsung bernajak ke meja makan tanpa mempedulikannya, Haikal mengikuti Carmelia bangkit dari duduknya dan menuju meja makan dengan tangan yang masih memegangi punggungnya yang masih terasa sakit.
“Giliran makan aja cepet.” Gumam Haikal kesal.
“Maaf om, uda lapar.” Ucap Carmelia dengan mulut penuh makanan, Haikal mengeleng-gelengkan kepalanya melihat cara makan Carmelia yang seperti orang tidak makan berhari-hari.
Lima belas kemudian.
“Kamu sementara tinggal disini aja.” Haikal berjalan ke ruang tengah setelah mereka selesai dan menghabiskan makanannya, Carmelia merapihkan meja makan, membuang bekas bungkusan makanan dan mencuci beberapa peralatan yang mereka gunakan.
“Kenapa ngga dirumah om aja.” Carmelia menhentikan aktifitasnya dan menoleh ke Haikal.
“Ada orang tuaku, sebentar lagi ibuku pulang.” Haikal duduk disofa single dan menyalakan televisi didepannya. “Tapi aku bisa kok jadi pembantu dirumah om.” Carmelia berjalan mendekati Haikal diruang tengah, dan mendudukan bokongnya di sofa depan Haikal.
“Aku takut tinggal disini om, nanti kalau ada hantu gimana?”matanya melihat sekeliling ruangan sambil bergidik ngeri. “IIh”
“Hantunya takut sama kamu.” Jawab Haikal datar.
“Ih om ngeselin.” Bibirnya mengerucut sambil melirik ke Haikal yang tidak peduli sama sekali. Haikal melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya lalu ia bangkit dari duduknya. “Aku harus pulang.” Ucapnya datar.
__ADS_1
Ucapan Haikal sontak membuat Carmelia ikut berdiri. “Hah, jangan om aku ngga mau sendirian disini.” Rengek Carmelia. Haikal menoleh ketika Carmelia mendekatinya, pandangan Carmelia menjuru ke seluruh ruangan dengan tatapan takut, dan tanpa ia sadar ia memegang lengan Haikal dan menempelkan tubuhnya, Haikal bergeming ketika Carmelia yang semakin dekat dengannya, merasa tidak ada pergerakan dari Haikal Carmelia mendongak membuat mata mereka bertemu.
Carmelia terkejut lalu menjauhkan tubuhnya dari Haikal,.
“Hehehe…maaf om refleks.’ Ucapnya kikuk, Haikal menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan ia menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
“Sebelumnya kamu kerja dimana?” Haikal berjalan menjauhi Carmelia dengan kedua tangannya berada disaku celana.
”Café semua suka om.” Jawab Carmelia, Haikal mengangguk paham.
“Besok aku akan kesini lagi, ada beberapa bahan makanan dilemari es bisa kamu olah untuk sarapan besok.” Haikal meraih ponselnya dimeja dan ia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
“Om” panggil Carmelia, Haikal menoleh .” kenapa?”
“om disini aja ya, besok aja om pulangnya.” Carmelia mengatupkan kedua tangannya memohon kepada Haikal. Haikal mendengus kasar.
“ya sudah kamu tidur dikamar sana, aku disini saja.” Haikal kembali mendudukan bokongnya disofa panjang.
“Kamu kira aku tahanan yang bakalan kabur.” Haikal memutar bola matanya malas. Carmelia meninggalkan Haikal yang sudah merebahkan tubuhnya disofa panjang, ia beranjak masuk ke kamar yang ditunjuk Haikal, baru beberapa langkah ia masuk ke kamar tiba-tiba Haikal berteriak.
“Ada baju tidur dilemari, kamu bisa memakainya.” Teriak Haikal dari luar, Carmelia beranjak menuju lemari dan membukanya, ada beberapa baju didalam lemari itu yang diperkirakan pas dengan ukurannya.
“ Baju siapa ini.” Gumamnya pelan, “Apa ini baju pacarnya si om ya.” Carmelia melirik ke arah pintu yang masih terbuka, ia membawa satu baju yang akan ia kenakan.
“Om ini baju pacar om ya, ih om pacaran kok bawa-bawa ke kamar sih?” Carmelia mendektai Haikal yang mulai memejamkan mata, Haikal langsung membuka matanya dan menoleh ke arah Carmelia yang sedang memegang satu baju ditangannya.
“Nawel kamu, itu baju ade aku, uda pakai aja.” Haikal membelakangi Carmelia dan memejamkan kedua matanya kembali.
“Oh..hihihi, kirain.” Carmelia cekikikan sambil berjalan kembali ke dalam kamar, Haikal membalikan tubuhnya kembali melihat Carmelia yang beranjak masuk ke dalam kamar, ia memijat keningnya yang terasa sakit dan kembali memejamkan kedua matanya.
**
Carmelia menggeliat merenggangkan tangannya, perlahan ia membuka kedua matanya cahaya matahari dari
__ADS_1
celah-celah korden jendela yang terbuka sedikit mengenai matanya, sontak ia terkejut dan langsung bangkit dari tidurnya, terduduk sebentar lalu menurunkan kakinya dari ranjang.
“Ceklek” setelah pintu terbuka pandangannya langsung tertuju ke arah sofa panjang didepan kamarnya.
“Eh si om kemana?” kakinya terus melangkah menuju dapur, terdengar suara orang berbicara dari balkon membuat Carmelia melangkahkan kakinya menuju sumber suara, ia melihat kalau Haikal sedang melakukan panggilan lalu ia membalikan tubuhnya menjahui Haikal menuju dapur.
Ia membuka lemari es karena semalam Haikal mengatakan ada beberapa bahan makanan yang dapat ia olah untuk sarapan.
Setelah beberapa menit akhirnya sarapan simple telah tersaji, nasi goreng dengan telor ceplok. Haikal melangkah masuk dari balkon apartemennya ketika ia selesai melakukan panggilan melalui ponselnya, indera penciumannya mencium wangi nasi goreng buatan Carmelia membuat perutnya berbunyi minta diisi.
Ia melangkahkan kakinya menuju meja makan yang sudah ada Carmelia sedang menata sarapan mereka.
“Pagi om.” Sapa Carmelia.
“Am om am om aja, sejak kapan aku nikah sama tante kamu.” Haikal duduk dikursi meja makan, tanpa basa basi ia langsung melahap makanan yang sudah tersedia. “Hehe…terus aku panggil apa?, pakde?” tanya Carmelia yang juga ikut duduk dihadapan Haikal. “huk..huk..huk.” Haikal terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Carmelia.
“Eh om pelan-pelan.” Carmelia menyodorkan segelas air putih ke hadapan Haikal, tanpa banyak tanya Haikal langsung meminum air yang Carmelia berikan.
“Namaku Haikal, rubah panggilanmu.” Haikal berucap dengan ketus dan menatap Carmelia tajam.
“Siap pakde.” Jawab Carmelia dengan tangan seperti tanda hormat, Haikal melototkan kedua matanya menatap
Carmelia, ia menggertakan giginya menahan kesal.
“Hehehe….maaf.” Carmelia terkekeh dengan mengatupkan kedua tangannya didepan dada sebagai permohonan maaf.
Haikal mendengus kasar ia memejamkan kedua matanya mengeluarkan stock kesabarannya yang masih tersisa.
“Kamu bisa berkerja diperusahaan aku.” Ucap Haikal setelah ia menyelesaikan makannya, Carmelia membulatkan matanya dengan senyum sumringah.
“Serius om eh bang eh….aduh aku panggil apa?” Carmelia menggaru-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya setelah aku selesai menyelidiki siapa kamu.” Jawab Haikal datar sambil bangkit dan berjalan meninggalkan meja makan
__ADS_1