Carmelia

Carmelia
Mengobati Luka


__ADS_3

Setelah tiga puluh menit akhirnya merekasampai disebuah apartemen, Carmelia melihat sekeliling bangunan tersebut dengan takjub.


“Ini dimana om?” tanyanya tanpa menoleh


“Ayo turun.” Ucap Haikal setelah ia memarkirkan mobilnya.


Carmelia membuka pintu mobil dan segera turun, pandangannya terus menatap bangunan didepannya.


“Ini hotel om?” tanyanya bingung.


“Ayo masuk.” Ajak Haikal tanpa menjawab pertanyaan Carmelia.


Carmelia menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak om, aku tidak mau masuk ke hotel itu.” Ucapnya takut


Haikal mengenduskan nafasnya kasar. “ Ini bukan hotel, ini apartemen, ayo masuk” Haikal menarik tangan Carmelia tetapi dengan cepat Carmelia menepis tangan Haikal.


“Tidak om, ngga mau, aku ngga mau ikut om, nanti aku diapa-apain sama om.” Carmelia mundur beberapa langkah mengindari Haikal. Haikal memutar bola matanya malas.


“Siapa yang mau apa-apain kamu, jangan kepedean kamu.” Jawab Haikal ketus


“Mau ikut masuk apa mau tetap disini?” tanya Haikal


“Kalau kamu mau disini ya sudah, jangan salahkan aku kalau nanti ada orang yang lebih jahat nyulik kamu.” Ucap Haikal sambil beranjak pergi setelah ia menakut-nakuti Carmelia.


Carmelia masih bergeming ditempatnya, ia menengok ke kanan dan ke kiri sudah nampak terlihat sepi, lalu ia segera berlari mengejar Haikal yang sudah melangkah masuk ke apartemen.


“Om tunggu, jangan tinggalin aku om.” Carmelia berteriak dibelakang Haikal dan terus berlari mengejarnya. Haikal tidak mempedulikan Carmelia yang terus berteriak dibelakangnya, ia terus melangkah dan masuk ke dalam lift.


“Eh om tunggu, jangan tinggalin aku, eh om jangan ditutup tunggu.” Teriak Carmelia ketka ia melihat pintu lift yang akan tertutup.


Haikal mengulum senyum melihat Carmelia dengan nafas terengah-engah masuk ke dalam lift.

__ADS_1


“Ting” pintu lift terbuka dilantai 3, Haikal melangkahkan kakinya keluar lift menuju unit apartemennya, Carmelia mengikuti langkah Haikal didepannya.


Haikal memencet beberapa angka untuk membuka pintu apartemennya, Carmelia memperhatikan interaksi Haikal tanpa bertanya. Pintu apartemen Haikal terbuka, dan Haikal mempersilakan Carmelia masuk ke dalam.


Kedua mata Carmelia memberalak sempurna ketika melihat isi apartemen tersebut, apartemen yang didominasi warna putih ini tampak bersih dan rapih, semua tertata dengan sempurna, matanya meneliti setiap jengkal isi apartemen tersebut, ia bergumam terus dalam hati melihat kemewahan apartemen tersebut.


“Ini apartemen siapa om” tanyanya tanpa menoleh


“Aku”jawab Haikal cepat. Haikal menuju sofa yang berada diruang televisi ia mendudukan bokongnya dan menyandarkan tubuhnya yang mulai terasa sakit, sekali-kali ia berusaha menggerak-gerakan ujung bibirnya yang mulai terasa kaku dan bengkak.


Carmelia mulai tersadar ketika Haikal mulai merebahkan tubuhnya disofa tersebut, ia melangkah mendekati Haikal dan berjongkok disampingnya.


“Aku obatin ya om.” Ucapnya sambil melihat wajah Haikal yang mulai memejamkan matanya.


Haikal membuka matanya cepat mendengar ucapan Carmelia.


“Memang kamu bisa?” tanyanya mengejek, bibirnya terangkat sedikit dan tersenym sinis.


“Kotak obatnya dimana om?” tanyanya dengan pandangan berkeliling.


“Dilemari dapur yang atas sebelah kiri. “jawab Haikal sambil memejamkan kedua matanya.


Carmelia bangkit dan segera beranjak ke dapur mencari kotak obat disana. Setelah kotak obat sudah ditangan ia mencoba mengobati luka yang ada diwajah Haikal.


“Ssh..pelan-pelan bisa ngga sih?” Haikal meringis ketika Carmelia mengobati luka disudut bibirnya.


“Ini tuh bibir bukan kayu, jangan dicolok-colok kayak gitu.” Ucap Haikal ketus.


“Ini uda pelan-pelan om, tahan sedikit, cengeng amat kayak anak kecil.” Ucap Carmelia asal.


Haikal melebarkan kedua matanya ketika Carmelia menyebutnya anak kecil, tangannya menepis tangan Carmelia yang masih mengobati sudut bibirnya.

__ADS_1


“Kamu bilang aku anak kecil?!” Haikal menatap Carmelia tajam. Carmelia menundukan wajahnya takut karena tatapan Haikal.


“Ya abisnya om bawel.” Gumamnya pelan


“Ih nyebelin nih perempuan, uda ditolong malah ngatain.” Haikal bangkit dari duduknya dan menuju kamar mandi.


“Loh om belum selesai,


besok bibirnya bengkak loh kalau ngga segera di obtain.” Teriak Carmelia.


“Biarin!.” jawab Haikal terus melangkah ke dalam kamar mandi.


“Huu..dasar om om galak, biarin aja tuh bibir besok kayak donald bebek, hihihi.” Gumam Carmelia pelan sambil cekikikan.


Carmelia mengangkat bokongnya yang semula duduk dilantai kini ia dudukan bokongnya disofa, ia menggoyang-goyangkan tubuhnya.


“iih empuk banget ini sofa.” Ucapnya sambil tangannya terus mengelus-elus sofa yang ia duduki. Karena merasa lelah akhirnya ia menaikan kakinya dan merebahkan tubuhnya disofa empuk tersebut, tidak butuh lama akhirnya matanya mulai terpejam.


Dua puluh menit kemudian Haikal keluar dari kamar mandi, ia melihat Carmelia yang sudah terlelap disofa ruang televisi, ia menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Ngga ada suaranya ternyata tidur?” gumamnya.


Haikal melangkahkan kakinya beranjak ke dapur, dan membuka lemari es untuk mencari bahan makanan, dan ia tidak menemukan satu pun bahan makanan yang bisa ia olah, ia tersadar karena apartemennya tidak pernah ia kunjungi wajar kalau tidak ada apa-apa.


Tanpa menunggu lama ia merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel dan memesan makanan via online. Lima belas menit menunggu akhirnya makanan yang ia pesan pun datang, ia meletakkan makanannya dimeja makan dan menatanya.


Matanya beralih menatap Carmelia yang masih tertidur dengan lelap, tanpa ragu ia melangkah mendekati Carmelia, semula niat ingin membangunkannya tetapi mata Haikal malah terpaku dengan wajah Carmelia, ia memandang wajah Carmelia yang tertidur dengan lelap, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Carmelia, disaat wajah mereka mulai


dekat mata Carmelia perlahan terbuka.


“Aaaaaa…….” Carmelia bangkit.

__ADS_1


__ADS_2