
“Siapa yang suruh kamu pindah dari apartemen ini?” tanya Haikal dengan suara pelan namun penuh penekanan.
Carmelia menghentikan langkah kakinya, ia menoleh ke belakang melihat Haikal bangkit dari duduknya dan menatapnya tajam.
“Siapa yang menyuruh kamu pindah dari apartemen ini?” Haikal mengulangi kembali pertanyaanya.
“Tidak ada.” jawab Carmelia pelan
“Itu keinginan aku sendiri.” ucapnya lagi sambil menatap Haikal didepannya.
“Kenapa kamu memutuskan untuk pindah dari sini?, apa karena kamu sekarang sudah merasa hebat?, dan sudah punya penghasilan lagi?” tanya Haikal bertubi-tubi sambil melangkah mendekati Carmelia dengan tatapan dingin.
Carmelia menggeleng. “Tidak bukan itu.” jawabnya pelan
“Aku tidak bisa terus menerus menumpang disini.” ucap Carmelia lagi.
Haikal menatap Carmelia dengan tatapan tidak terbaca, “Mau tidak mau kamu harus tetap disini.” ucap Haikal tegas.
“Tidak, aku tidak mau disini, lagi pula aku sudah membayar uang muka rumah tersebut” ucap Carmelia sambil menatap Haikal tanpa ekspresi.
“Aku akan mengganti uangmu sepuluh kali lipat, jadi jangan pernah berpikir untuk pergi dari sini!” ucap Haikal dengan wajah menahan amarah.
“Aku tetap tidak mau disini.” Carmelia membalikan badannya dan melangkah meninggalkan Haikal.
Baru dua langkah,Haikal menarik lengan Carmelia sehingga tubuh Carmelia berbenturan dengan tubuh Haikal.
Haikal menatap Carmelia dengan tatapan dingin. Carmelia berusaha memberontak melepaskan genggaman tangan Haikal dipergelangan tangannya. Melihat Carmelia yang terus memberontak Haikal menarik tubuh Carmelia dan memeluknya dengan erat. Carmelia melebarkan kedua matanya tatapan mereka bertemu, tubuhnya menempel tanpa jarak. Nafas Haikal yang menerpa wajah Carmelia membuat jantung Carmelia berdetak kencang.
Deg.
Tangan Haikal yang terbebas menahan tengkuk Carmelia, dengan paksa ia ******* bibir merekah Carmelia. Carmelia semakin melebarkan kedua matanya ketika ia merasakan bibir Haikal menempel dibibirnya dan ******* dengan kasar.
__ADS_1
Carmelia berusaha memberontak dan melepaskan l*m*T*n Haikal, tetapi karena tenaga Haikal lebih kuat darinya pangutan Haikal tidak terlepas sama sekali bahkan semakin ganas Haikal m*l*m*t abis bibir Carmelia.
Haikal mendorong Carmelia hingga ke dinding, Carmelia merasakan benturan punggungnya dengan dinding. Merasa terkunci Carmelia berusaha mendorong dada Haikal untuk menjauh. Haikal tidak memberikan celah sedikit pun. Carmelia tersentak kaget dan mulai menangis, pergerakannya melemah hanya isakan tangisan yang terdengar membuat Haikal menghentikan aksinya dan melonggarkan pelukannya.
Tubuh Carmelia melemah sambil terisak, lalu ia berjongkok menelungkupkan wajahnya di antara kedua kakinya sambil terus menangis. Haikal memejamkan kedua matanya menyesali perbuatannya.
“Apa yang aku lakukan.” gumamnya dalam hati. Ia pun akhirnya berjongkok mengikuti Carmelia yang masih berjongkok didepannya. Ia meraih kepala Carmelia dan memeluknya erat.
“Maafkan aku.” ucapnya lirih
Carmelia tidak menjawab ia terus menangis didada bidang Haikal. Haikal memegang dagu caremlia agar menatapanya lalu ia mendekatkan keningnya ke kening Carmelia.
“Maafkan aku.” ucapnya lagi, “Aku khilaf, aku hanya tidak ingin kamu pergi dari sini.” kedua tangannya mengusap air mata yang jatuh dipipi Carmelia.
Carmelia tetap tidak menanggapi ucapan Haikal. Kedua mata mereka bertemu selama beberapa detik, tidak ingin terhanyut dengan tatapan yang Haikal berikan Carmelia menundukan wajahnya.
Haikal mengangkat tubuh Carmelia, ia menggendong Carmelia dan membawanya ke kamar. Carmelia yang berusaha memberontak mengurungkan niatnya karena ucapan Haikal.
“Aku mohon biarkan seperti ini dulu, aku tidak mau kamu pergi.” ucap Haikal pelan, nafasnya yang memburu terasa dileher Carmelia karena tubuh mereka yang tanpa jarak, dan akhirnya mereka tertidur.
Tiga puluh menit kemudian Haikal membuka kedua matanya, tangannya yang masih melingkar ditubuh Carmelia tidak bergeser sama sekali, ia mencoba mengangkat tangganya dan melihat Carmelia yang masih tertidur dengan lelap, ia mencium pucuk kepala Carmelia sesaat lalu bangkit menuju kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian Haikal keluar dari kamar mandi dan melihat Carmelia yang masih terlelap dengan tidurnya membuat Haikal kembali naik ke atas tempat tidur dan kembali memeluk Carmelia.
Carmelia menggerakkan tubuhnya perlahan, ia masih mersakan tangan Haikal yang memeluknya dengan erat, ia mengangkat tangan Haikal perlahan tetapi Haikal mengeretkan kembali pelukkannya.
“jangan pergi, aku mohon.” ucap Haikal pelan, Carmelia menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya pelan.
Merasa pelukan Haikal yang tidak akan terlepas akhirnya Carmelia membiarkan Haikal terus memeluknya. “Kenapa aku tidak boleh pergi?” tanya Carmelia dengan tubuh yang masih membelakangi Haikal.
“Karena a-aku mencintaimu.” ucap Haikal pelan. Carmelia melebarkan kedua matanya mendengar ucapan Haikal.
__ADS_1
Deg
Jantungnya berdetak semakin kencang dan tubuhnya gemetar ketika Haikal semakin mengeratkan pelukkannya.
“Tolong lepaskan aku tidak bisa bernafas.” pintanya pelan
Haikal membalikan tubuh Carmelia agar menghadapnya, pandangan mereka bertemu membuat Carmelia menundukan wajahnya karena tidak kuat menatap mata Haikal.
Haikal memegang dagu Carmelia dan mengangkat wajah caremlia agar melihat dirinya, mata mereka kembali bertemu.
“Aku mencintaimu Carmelia.” ucap Haikal lagi, ia kembali mendekatkan bibirnya ke bibr Carmelia dan mengecupnya pelan. Carmelia terdiam sesaat membuat Haikal tersenyum dan kembali mengecup bibirnya.
“Maafkan aku, maafkan perbuatan aku yang sudah kasar padamu, aku hanya tidak ingin kehilanganmu,” tangan Haikal mengusap-usap lembut pipi Carmelia.
“Aku melakukan semua ini karena aku mencintaimu.” Ucapnya lagi dengan tangan yang mulai mengusap-usap bibir Carmelia.
Carmelia bergeming ia hanya menatap mata Haikal mencari kejujuran disana, tatapan Haikal sendu dan penuh cinta membuat Carmelia yakin kalau Haikal benar-benar mencintainya.
“A-aku..”
“Ssst...” Haikal meletakkan telunjuknya dibibir Carmelia.
“Jangan katakan apa-apa” ucapnya dengan tatapan cinta.
Carmelia mengangguk mengiyakan dengan tatapan sendu menatap mata Haikal.
Haikal kembali mengecup bibir Carmelia lembut, melihat Carmelia yang bergeming tanpa membalas c**m*nnya membuat ia kembali mengecup berkali-kali dan m*l*m*tnya, Carmelia mulai membalas ******* Haikal pelan, c**m*n itu terus menuntut, hingga Carmelia membuka mulut. Ia mencengkram dada Haikal, sementara itu Haikal mulai memasukan l*d*hnya dan memainkannya membelit lidah Carmelia hingga berhasil dia c*l*m dan dia sesap.
Pangutan mereka terus terjadi selama beberapa detik membuat Carmelia hampir kehabisan nafas. Haikal menindih tubuh Carmelia tanpa melepaskan pangutan mereka, ia membuka kedua matanya karena ia merasakan kalau Carmelia mulai susah bernafas, hingga membuat ia melepaskan ci**m*n mereka dengan terpaksa.
Haikal menatap mata Carmelia lekat, ia mengusap pipi dan bibir Carmelia yang terlihata bengkak karen ulahnya, lalu ia tersenyum memandang wanita dibawah tubuhnya.
__ADS_1
“Tidurlah kembali.” ucapnya sambil merebahkan tubuhnya disamping Carmelia dan menarik wanita tersebut dalam dekapannya. Carmelia berusaha memejamkan kembali matanya didada bidang Haikal, dan akhirnya mereka kembali terlelap.