
Haikal meminum semua air dalam gelas yang diberikan Carmelia kepadanya sampai tandas tak tersisa, ia mengusap-usap dadanya agar kembali tenang dan melanjutkan kembali aktifitas makannya. Melihat Haikal yang kembali tenang Carmelia kembali melanjutkan makannya.
Haikal bangkit dari duduknya ketika ia selesai dengan makan siangnya, ia beranjak ke sofa ruang televisi dan mendudukan bokongnya disana, pandangannya sempat melirik Carmelia yang masih membersihkan meja makan dari sisa –sisa makan siang mereka. Tatapannya kembali ia alihkan ke kantong belanja yang tergeletak didepannya.
Setelah selesai Carmelia menghampiri Haikal yang masih duduk disofa dengan laptop dipangkuannya.
“Om ups maaf….kamu ngga kembali ke kantor?’ tanya Carmelia setelah ia mendudukan bokongnya disofa single samping Haikal. Haikal menoleh sekilas dan melanjutkan kembali pekerjaannya.
“Itu semua buat kamu.” Haikal menunjuk kantong belanja yang tergeletak di atas meja dengan dagunya, Carmelia melirik kantong-kantong belanja tersebut dan membukanya, matanya membulat sempurna ketika melihat isi kantong tersebut.
“Waaah baju?” ucapnya dengan mata berbinar,
“Ini buat aku?” tanyanya. Haikal mengangguk sebagai jawaban.
“Besok kamu bisa mulai berekrja diperusahaanku.” Ucap Haikal dengan pandangan tetap fokus ke laptop dipangkuannya.
“Serius?” tanya Carmelia dengan senyum yang merekah, Haikal mengangguk lagi sebagai jawaban, lalu ia menutup laptop dipangkuannya dan bangkit dari duduknya.
“Aku harus kembali ke kantor, untuk hari pertama kamu bekerja aku akan jemput kamu jadi harus bangun pagi dan siap-siap.” Ucap Haikal sambil melangkahkan kakinya ke pintu keluar.
“Siap tuan hihi” Carmelia cekikikan sambil mengangkat tangannya seperti orang hormat, Haikal hanya menggelengkan kepalanya dan keluar dari unit apartemennya.
Setelah Haikal pergi Carmelia mencoba satu persatu pakaian yang dibelikan Haikal untuknya, terakhir tangannya membuka paperbag kecil yang masih tegeletak didepannya, matanya melebar sempurna dengan mulut ternganga setelah melihat isi paperbag tersebut.
”Pakaian dalam.” Gumamnya.
“Iih kok dia bisa tau ukuran aku?” ucapnya kesal sambil mengerucutkan bibirnya,
“Apa jangan-jangan dia sering perhatiin..…” ucapannya terhenti, ia menatap ke arah buah dada dan bagian bawahnya, ia menghentakan kakinya kesal setelah membayangkan kalau Haikal sering memperhatikan area-area intinya,
“Cih dasar om om mesum.”
**
__ADS_1
Menjelang malam, Haikal kembali ke rumah orang tuanya untuk mengistirahatkan dirinya yang seharian disibukan dengan pekerjaan kantor, langkah kakinya terhenti ketika ia melihat dua orang tengah duduk diruang tamu. “mama”. Ucapnya ketika melihat wAnita paruh baya dengan seorang wAnita muda yang duduk didepannya.
“Hai sayang, sudah pulang ya?” wanita itu menghampiri Haikal, melihat sang mama menghampirinya Haikal juga ikut menghampiri untuk salim.
“ Mama kapan pulang?” tanyanya ketika jarak mereka sudah dekat. “Tadi siang.” Jawab wanita yang dipanggil mama oleh Haikal.
“Kamu tidak menyapa Anita?” tanyanya sambil melirik wanita muda yang duduk dihadapannya.
“Hai Nit.” Sapa Haikal sekilas.
“Aku ke kamar dulu ya ma, capek dikator masih banyak kerjaan.” Pamit Haikal dengan wajah lesu.
"Loh ada Anita kok kamu pergi.” Ucap mamanya.
“Capek ma.” Jawab Haikal cepat, dan berlalu meninggalkan dua wanita yang masih bergeming ditempatnya.
Raya menatap punggung Haikal yang pergi meninggalkannya dengan Anita diruang tamu, ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
“Maaf ya Anita kalau Haikal seperti itu.” Ucap Raya sungkan ketika ia kembali mendudukan bokongnya disofa depan Anita.
“Ya sudah diminum tehnya dulu, besok kamu datang saja ke kantornya Haikal, ajak dia makan siang, ngga apa sekali-kali perempuan yang lebih agresif.” Ucap Raya sambil tertawa, yang dijawab anggukan oleh Anita.
"Iya tante besok saya akan ke kantor Haikal.” Ucap Anita sambil meletakkan kembali cangkir teh yang baru saja ia seruput isinya.
Didalam kamar setelah Haikal selesai dengan aktifitasnya dikamar mandi ia melangkahkan kakinya ke lemari pakaian untuk mengambil pakaian rumah yang akan ia kenakan, setelah itu ia melangkah ke tempat tidur mengambil laptop yang tergeletak di atas ranjang dan membukanya, tetapi tiba-tiba terlintas dipikirannya apa yang sedang Carmelia lakukan, ia melirik ponsel di atas meja kecil disamping tempat tidur, tangannya terjulur ingin meraih ponsel tersebut tetapi pergerakannya terhenti ketika ia sadar kalau ia tidak tahu no ponsel Carmelia.
“Aakh kenapa aku tidak menayakan no ponselnya ya.” Gumamnya pelan, “Eh apa dia punya ponsel? Waktu dia datang kan dia tidak membawa apa-apa.” Ucapnya lagi.
Haikal memutuskan untuk melakukan panggilan ke nomor lain.
“Hallo Handi, kamu masih dijalan?” tanyanya ketika penggilan itu tersambung.
“Iya pak, saya masih dijalan.” Jawab seseorang dari seberang sana.
__ADS_1
“Han bisa kamu mampir ke toko ponsel sebentar, belikan aku ponsel keluaran terbaru beserta nomornya ya, lalu kamu antarkan ke apartemenku, kasih wanita yang ada disana.” Perintahnya,
“Baik pak. Saya akan mampir ke toko ponsel dulu.” Jawab lelaki yang dipanggil handi.
“Oke Jan kalau begitu terima kasih ya.” Haikal langsung menutup panggilannya ketika ia merasa sudah cukup memberi perintah kepada asistennya.
**
Carmelia masih sibuk dengan remote tv ditangannya, sejak tadi tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengutak-atik dan mencari-cari chanel tv yang ingin ia tonton, matanya masih menatap televisi didepannya tetap mulutnya mulai meguap lebar tanda ia mulai mengantuk, ketika ia ingin memejamkan matanya tiba-tiba bel aparteme berbunyi yang mebuat Carmelia membuka matanya lebar menatap pintu apartmen.
“Siapa ya malam-malam begini datang” gumannya.” Kalau si om yang datang pasti langsung masuk tanpa memencet bel lagi.” Ucapnya pelan, bel kembali berbunyi untuk kedua kalinya, dengan terpaksa Carmelia bangkit dari duduknya dan menghampiri pintu apartemen tersebut.
“Ceklek” pintu terbuka sedikit, nampak lelaki muda berkamata terlihat disela-sela pintu yang terbuka.
“Cari siapa?” tanya Carmelia takut
“Maaf nona ini ada kiriman dari pak Haikal.” jawab lelaki itu sambil menunjukan paperbag kecil ditangannya, Carmelia membuka pintu apartemen sedikt lebih lebar, ia menatap paperbag ditangan lelaki itu.
Melihat Carmelia sudah membuka pintu apartemen dengan lebar lelaki itu menyerahkan paperbag ditangannya ke hadapan Carmelia.
”Apa ini?” Carmelia mengambil paperbag dari lelaki muda tersebut dan mengintip sekilas isinya.
“Handphone nona.” Jawab lelaki itu.
“Handphone?” tanyanya sambil mengerutkan dahinya bingung, lelaki muda itu hanya mengangguk mengiyakan.
Merasa tugasnya sudah selesai lelaki itu pun pamit untuk pergi.” Saya pergi ya nona, selamat malam.” Pamitnya.
Carmelia mengangguk mengiyakan.” Iya terima kasih ya.” Ucapnya sambil menutup pintu apartemen itu kembali setelah melihat lelaki itu mebalikan tubuhnya untuk pergi.
Carmelia membuka paprebag yang ia terima, matanya membulat ketika ia melihat isinya benar sebuah handphone.
“Ini untuk aku?” tanyanya bingung, ia lalu menyalakan handphone tersebut, senyumnya kembali merekah.
__ADS_1
“Waaah si om benar-benar baik ternyata, hihi.” Ucapnya sambil cekikikan