
“Siapa lo?!, jangan ikut campur urusan gue.” Ucap Jo dengan suara keras
“Wanita ini tadi bersama gue.” Jawab Haikal dengan nada yang tidak kalah keras.
“Cih, bukan urusan gue, wanita ini uda gue beli.” Ucap Jo menunjuk Carmelia disampingnya.
Carmelia menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, menatap Haikal dengan tatapan memohon pertolongan, Haikal menatap Carmelia balik ia melihat sorot mata Carmelia yang memohon agar ia mau menolongnya.
“Dia bukan barang bung!” Haikal berusaha menarik tangan Carmelia, tetapi dengan cepat Jo menarik tangan Carmelia yang satunya lagi, Haikal kalah cepat dengan gerakan Jo yang lebih dulu menarik tangan Carmelia.
“Aach, lepasin ucap Carmelia sambil memukul lengan Jo.”
“Diem lo!. Bentak Jo didepan wajah Carmelia membuat Carmelia bergidik ngeri mendengar suara Jo.
“Pergi lo, jangan campurin urusan gue.” Ucap Jo menatap Haikal dengan mata melotot, melihat Jo yang masih berbicara dengan Haikal Carmelia mengambil kesempatan ia mengigit tangan Jo yang sedang memagang tangannya kuat.
“Aaaaa..” teriak Jo
“Kurang ajar lo”
“PLAK!” Jo menampar pipi Carmelia membuat wanita itu terpental kesamping, Haikal membulatkan kedua matanya melihat Jo menapar Carmelia keras.
“Hei, jangan kasar!” ucap Haikal mendekati Jo dan menarik kerah bajunya lalu melanyangkan pukulannya tepat diwajah.
“Bugh” Jo terhuyung karena pukulan Haikal.
“Si*l*n lo!!” Jo memegang ujung bibirnya yang sudah mengeluarkan darah karena pukulan Haikal, dia mendekati Haikal dan langsung melayangkan pukulannya untuk membalas.
__ADS_1
“Bugh!” pukulan Jo juga mengenai bibir Haikal. Pukulan itu membuat Haikal jadi geram dan menghampiri Jo untuk memukul kedua kalinya, tapi sayang pukulan Haikal yang kedua kalinya meleset, Jo dapat membaca kemana arah pukulan Haikal, dan secepat kilat Jo langsung menyerang balik memukul perut Haikal yang membuat Haikal tertunduk memegang perutnya yang terasa sakit.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Jo, ia langsung melayangkan kembali pikulannya bertubi-tubi. Pukulan, tendangan diterima Haikal dari Jo membuat pria itu jatuh tersungkur. Melihat Haikal yang tergeletak dan ingin segera bangkit Jo langsung menghampiri ingin memukul kembali. Carmeila membulatkan matanya ketika melihat Haikal jatuh tersungkur dan melihat Jo yang menghampiri Haikal ingin melayangkan pukulannya kembali.
Carmelia panik ia berusaha membantu Haikal, matanya mulai mecari-cari benda yang dapat ia gunakan untuk membantu Haikal, sampai ia melihat sebuah batu besar tidak jauh darinya, ia berlari mengambil batu itu dan dipukulkannya batu itu ke kepala Jo.
“Bugh!”
“Aaaaa” Jo memegang kepala belakangnya, ia melihat banyak darah ditangannya lalu ia menoleh kebelakang melihat siapa yang telah memukulnya dengan batu, ia segera bangkit dan ingin menghampiri Carmelia, tetapi tubuhnya langsung oleng dan tersungkur ke tanah dengan darah yang terus keluar dari kepalanya.
Carmelia terkejut melihat Jo yang tersungkur ditanah, Carmelia membuka matanya lebar dengan mulut ternganga tidak percaya kalau ia sudah memukul Jo. melihat Carmelia yang ketakukan Haikal segera bangkit dan menghampiri Carmelia.
“Ayo cepat kita pergi dari sini.” Ucapnya dengan nafas sedikit tersendat karena menahan sakit diperutnya, Carmelia masih bergeming menatap Jo yang sudah tidak bergerak sama sekali.
“Ayo cepat pergi dari sini.” Haikal menarik tangan Carmelia agar mereka cepat pergi dari tempat tersebut. Carmelia menggelengkan kepalanya panik, ia menarik rambutnya karena takut.
Haikal langsung menarik tangan Carmelia tanpa bicara sedikit pun, Carmelia yang ditarik Haikal berjalan dengan perasaan takut dan terus menerus berkata tidak.
“Tidak om, ini tidak benar.” Ucapnya sambil menangis
Haikal tidak mempedulikan ucapan Carmelia ia terus menarik tangan wanita itu untuk segera pergi,
sesampainya mereka ditempat Haikal memarkirkan mobilnya Haikal langsung menyuruh Carmelia masuk ke dalam mobilnya, dan ia berlari berputar untuk segera masuk ke dalam mobil dan duduk dibelakang kemudi.
Carmelia terus-terusan berceloteh tidak jelas, wajah yang ketakutan dan tangan yang terus-terusan menarik-narik rambutnya panik. semula Haikal tidak mempedulikan Carmelia disampingnya, yang ia inginkan saat ini hanya segera pergi dari tempat itu.
Setelah ia merasa sudah cukup jauh dari tempat tersebut Haikal menepikan mobilnya ia langsung mendekati Carmelia yang masih nampak ketakutan, ia mengambil sebotol air mineral yang tersedia dimobil lalu membuka tutupnya.
__ADS_1
“Ini minum dulu.” Haikal memberikan air mineral tersebut, Carmelia mengambil botor itu tanpa menoleh, pandngannya terus menatap lurus kedepan dengan mulut berceloteh tidak jelas, ia meneguk air didalam botol itu,
“Tarik nafas kamu pelan-pelan” ucap Haikal ketika Carmelia selesai meneguk air yang ia berikan, Carmelia mengikuti ucapan Haikal, ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan, ia ulangi lagi sampai beberapa kali dan akhirnya ia menangis.
Haikal menarik Carmelia kedalam pelukannya untuk menenangkannya.
“Sudah jangan menangis, kamu sekarang aman.” Ucap Haikal sambil mengusap-usap rambut Carmelia. Carmelia mendongakan wajahnya menatap wajah Haikal.
“Aku membunuhnya.” Ucapnya lirih
Haikal menggelengkan kepalanya. “Tidak, kamu tidak membunuhnya, dia masih hidup.” Ucap Haikal.
Carmelia melonggarkan pelukan Haikal ia menatap lurus kedepan. “Aku harus pergi.” Ucapnya sambil
ingin membuka pintu mobil. Haikal menarik tangan Carmelia.
“Kamu mau kemana?” tanyanya
“Aku harus pergi om, aku ngga mau om kena masalah karena aku.” Ucap Carmelia panik, ia menepis tangan
Haikal. Haikal menarik kembali tangan Carmelia dan segera mengunci pintu mobilnya.
“Diiam disini, kamu ikut aku.” Ucapnya sambil menyalakan mobilnya kembali.
“Mau kemana om?” tanya Carmelia bingung.
Haikal tidak mempedulikan pertanyaan Carmelia, ia terus menjalankan mobilnya tanpa berbicara sedikit pun.
__ADS_1