
Alexa yang tak bisa mengalihkan pandangannya dari Arman, membuat Arman pun kembali menatap mata Alexa. Mereka saling pandang dalam diam, dengan perasaan yang berkecamuk aneh. Alexa merasa sangat bingung dan merasa asing, dengan sosok Arman yang entah mengapa mengingatkannya pada sosok VJ yang sudah pergi dari dalam hidupnya.
Sosok VJ yang tidak mungkin kembali dalam kehidupannya, meskipun masih tetap berada dalam hatinya. Membuat Alexa merasa gugup tak karuan. Ia merasa, perasaan itu tidak boleh ia rasakan. Perasaan yang seharusnya tak secepat ini bertumbuh dalam hatinya.
Namun, Arman yang terus mendekatkan wajahnya pada Alexa. Dengan mendorong sedikit meja yang menghalangi kedekatan keduanya. Membuat kursi yang diduduki oleh Alexa, perlahan mundur ke belakang, dan hampir saja terjatuh. Namun, dengan ketepatan tangan panjang milik Arman. Ia berhasil menahan kursi yang diduduki Alexa agar tidak terjatuh.
Kembali keduanya saling bertatapan dengan manik mata yang saling bertemu. Membuat degup jantung keduanya saling berlomba cukup kencang. Arman jelas sangat terkejut akan kedekatan wajah keduanya. Wanita yang tidak pernah ia pikirkan akan hadir dalam hidupnya. Wanita yang tidak pernah ia harapkan sebelumnya.
Namun, hatinya bergetar dengan hanya menatap mata indah milik Alexa. Terlebih hembusan napas keduanya yang sangat cepat dan terasa mengenai wajah masing-masing. Arman pun tersadar saat tak sengaja menyentuh rambut halus milik Alexa. Perlahan, Arman menarik kembali kursi yang diduduki Alexa dan mulai menjauh dari Alexa.
Melangkah selangkah ke belakang, dan berdiri dengan gugup.
“Ehem,” Arman yang salah tingkah memalingkan wajahnya dengan berdehem untuk menormalkan jantungnya yang berdetak cukup kencang.
Alexa pun membenarkan posisi duduknya dan merapihkan rambutnya. Keduanya jelas sangat gugup saat ini.
“Ya Pak, ada yang bisa aku bantu?” tanya Alexa mencoba untuk bersikap profesional.
“Ah, aku ... ingin kau untuk melakukan rapat pemegam saham hari ini,” jawab Arman mengutarakan maksudnya mendekati meja Alexa.
“Hari ini Pak?” tanya Alexa terkejut.
“Ya, hari ini juga. Tidak besok atau pun lusa. Tapi hari ini,” jawab Arman masih sedikit gugup.
“Baik Pak, akan saya laksakan.”
“Oke, kalau begitu aku kembali ke ruanganku.”
Arman dan Alexa masih sama-sama merasa gugup. Arman pun kembali ke ruangannya dengan wajah yang memerah. Begitu pun Alexa yang terus mencoba untuk konsentrasi dan tidak memikirkan apa yang baru saja terjadi antara dirinya dengan Arman.
__ADS_1
Alexa pun mulai membuat proposal pemberitahuan untuk mengadakan rapat pemegang saham yang akan dilaksanakan jam satu siang. Beberapa Alexa kirim melalui email. Namun, tak jarang Alexa pun tetap harus menghubungi para pemilik saham untuk menjelaskan apa yang akan mereka bahas.
“Maaf, tapi kami tidak bisa datang.”
“Kenapa Bu? Sebentar saja, kami juga sudah menyiapkan cemilan yang enak. Sesuai kesukaan ibu,” ucap Alexa mencoba membujuk.
“Kau pikir aku tidak punya kesibukan!”
“Benarkah? Tentu saja, saya akan datang.”
“Tapi, kenapa harus hari ini? Apa tidak bisa besok saja?”
Alexa cukup pusing menghadapi para pemilik saham yang beragam responnya. Dari yang banyak alasan dan permintaan. Antusias dan tak jarang mereka marah karena agenda rapat yang sangat mendadak itu.
Namun, tentu saja Alexa bisa dengan gesit dan terampil untuk membujuk para pemegang saham tersebut dan berhasil serta bersedia untuk menghadiri rapat siang itu.
Sementara Alexa sibuk membujuk pada pemegang saham untuk menghadiri rapat siang ini, Arman meminta Jo untuk membantunya membuatkan materi presentasi untuk rapat siang ini.
“Itu benar, lalu apa yang akan Pak Arman sampaikan pada pemilik saham? Karena sudah pasti, mereka akan sangat marah tentang penurunan nilai saham,” ucap Jo merespon ucapan Arman.
“Karena itu, aku mau presentasinya seputar proyek dan target kita di masa depan.”
“Seputar proyek dan target di masa depan? Maksud Pak Arman?” tanya Jo tidak mengerti.
“Aku sebagai orang desa tahu bagaimana cara menaklukkan para makelar desa yang menguasai tanah agar bisa menjualnya ke perusahaan kita terlebih dahulu baru mereka berurusan dengan pemerintah. Bukan sebaliknya berurusan dengan pemerintah terlebih dahulu lalu membeli ke makelar karena hal itu bisa menimbulkan perselisihan hingga para makelar Desa akhirnya mempekerjakan para preman untuk mengacaukan proyek kita,” jelas Arman dan membuat Jo sangat takjub mendengarnya.
“Wah ... itu ide yang sangat bagus. Dengan begitu, tidak perlu adanya pihak ketiga yang akan membuat kita tidak bisa memenangkan para orang desa itu,” sahut Jo sangat menyetujui ide dari Arman itu.
Waktu pun berlalu dengan sangat cepat, bahan materi mereka pun hampir rampung. Namun, jam yang sudah memasuki jam istirahat menyadarkan Arman. Ia melirik pada jam di tangannya dan langsung menutup laptop mereka.
__ADS_1
“Sudah waktunya makan siang, kau pergilah makan siang,” ucap Arman dengan tersenyum kecil.
“Lalu, Pak Arman tidak mau makan siang bersama?” tanya Jo heran.
“Aku akan menyusul sebentar lagi –“
Tok ... Tok ...
Ucapan Arman terhenti saat pintu ruangannya diketuk dan Alexa membuka pintu. Arman tersenyum canggung saat Alexa berjalan masuk.
“Sudah jam istirat, bagaimana kalau kita makan siang bersama di kantin?” tanya Alexa dengan sama gugupnya.
“Oke,” jawab Arman tanpa berpikir panjang. Sampai Jo terheran-heran degan sikap Arman itu.
Mereka bertiga pun turun menggunakan lift, namun sebenarnya Alexa sangat canggung apalagi nanti mereka bertemu dengan semua staf dan Arman sangat peka akan hal itu maka Arman pun mengajak Alexa untuk makan di luar saja.
“Hmm, Jo aku dan Alexa akan makan di luar. Kau di kantin saja,” ucap Arman menahan tangan Alexa saat hendak keluar dari lift. Jo pun mengerti maksud Arman dan membiarkan keduanya bersama dan menjalin hubungan untuk lebih dekat lagi.
Kini keduanya berada di mobil dengan Arman yang akan menyetir. Arman sangat mengerti jika wanita paling tidak bisa ditanya dan diberikan sebuah pilihan, karena mereka akan menjawabnya dengan ‘terserah’. Karena itu, Arman pun langsung mencari restoran atau tempat makan yang dekat dengan kantor mereka melalui google map.
“Ketemu,” ucap Arman dan langsung menentukan pilihannya pada foodcourt tak jauh dari kantor.
“Apanya yang ketemu?” tanya Alexa terkejut karena keduanya hanya saling diam saja sejak tadi.
“Tempat makan kita,” ucap Arman tersenyum manis dan langsung menjalankan mobilnya.
Alexa cukup terkejut karena Arman tidak bertanya sekali pun, namun ia masih mencoba untuk mengerti dan tak bertanya apa-apa. Hingga mereka pun sampai pada foodcourt. Keduanya pun langsung masuk dan duduk di salah satu meja yang kosong.
“Silahkan pesan saja apa pun yang kau mau,” ucap Arman. Alexa lagi-lagi cukup terkesiap dengan sikap Arman yang tidak seperti lelaki pada umumnya.
__ADS_1
“Aku mau nasi campur saja,” ucap Arman tanpa ditanya. Alexa pun tersenyum kecil mendengar pilihan Arman itu.