CEO Dadakan Dari Desa

CEO Dadakan Dari Desa
bab 15 - Perjalanan Malam


__ADS_3

Damar menemukan nomor kenalannya dan langsung menghubunginya.


“Halo,” ucap seorang pria di sebrang.


“Astaga ... apa kabar Harun? Apa kau masih menjadi peternak sapi?” tanya Damar seolah mereka akrab.


“Aku tau siapa yang menelpon, tapi ada keperluan apa kau menelpon malam-malam begini? Aku yakin aku tidak punya hutang denganmu. Damar,” ucap Harun sedikit ketus.


“Wah ... kenapa kau terdengar sangat tidak menyukaiku? Padahal aku hanya ingin memberikan kau sedikit pekerjaan,” ucap Damar dan membuat Harun terkejut.


“Pekerjaa? Pekerjaan apa yang kau maksud?” tanya Harun penasaran.


“Kau tau, orang-orang yang tinggal di desa sebelah? Apa ... kau mengenali mereka semua?” tanya Damar.


“Orang-orang desa sebelah? Ada apa dengan mereka? Kau ... berencana apa dengan mereka?”


“Kau banyak sekali bertanya, jika tidak mau aku akan mencari orang lain saja!” ancam Damar kesal karena Harun cukup berisik.


“Ah ... tidak begitu, aku hanya harus tau apa yang harus aku lakukan jika aku mengenal banyak orang di sana,” jelas Harun dengan suara yang lebih rendah. Mencoba untuk membujuk Damar agar tidak marah padanya.


“Mungkin besok atau lusa, akan datang orang-orang dari kota untuk membeli tanah mereka dan menawarkan perumahan dusun untuk mereka tempati dengan harga yang terlampau murah.”


“Benarkah? Bukankah itu penawaran yang sangat bagus?”


“Tidak, kau harus membujuk dan menghasut orang-orang untuk tidak menerima kedatangan mereka dan menolak apa pun yang mereka tawarkan,” jelas Damar.


“Kenapa? Aku pikir, orang-orang akan menerima penawaran seperti itu.”


“Mereka ... penipu. Karena kalian tinggal di desa, jadi kalian tidak tau jika ada orang-orang yang begitu licik seperti mereka. Karena itu, jika tidak mau kehilangan semuanya. Kau harus membujuk mereka menolak apa pun penawaran yang mereka beri.”


“Baiklah, aku akan melakukannya. Tapi, berapa yang akan kau bayar padaku? Dengar, aku tidak mau kau membayar sedikit. Karena mempengaruhi orang-orang seperti mereka sangat sulit,” ucap Harun mulai negoisasi.


“Astaga ... kau pikir aku siapa yang akan memberikan kau bayaran kecil. Tiga juta.”


“Sepuluh juta!”


“Kau gila!” pekik Damar terkejut karena Harun menyebutkan angkat yang terlampau tinggi.

__ADS_1


“Kau tidak mau? Kalau begitu cari saja orang lain. Kau tau, jika usahaku sedang sepi.”


“Baiklah, lima juta,” tawar Damar.


“Delapan juta.”


“Harun, apa kau ingin merampokku?”


“Aku punya anak yang harus masuk kuliah tahun ini. Apa kau tau berapa biayanya?”


“Oke, enam juta gak bisa tambah lagi. Itu bayaran pas dariku,” ucap Damar menghentikan negoisasinya.


“Oke, malam ini aku ingin kau langsung mentransfernya.”


“Setengahnya, jika kau berhasil menghasut orang-orang itu. Aku akan langsung mentransfernya setengahnya lagi.”


“Oke, aku tunggu kabar selanjutnya.”


Damar pun mengakhiri panggilan teleponnya dengan menghela napas karena harus mengocek kantongnya lebih banyak.


Sementara itu saat hendak pulang, Arman bertemu dengan beberapa karyawan lain dalam lift. Beberapa dari mereka memberikan selamat atas keberhasilan Arman dalam memimpin rapat hari ini. Mereka pun menunjukkan dukungan mereka pada kinerja Arman yang luar biasa.


Hingga mereka pun hendak berpisah di lobi, salah satu pegawai pun menawarkan untuk makan malam bersama sebelum pulang.


“Bagaimana jika kita merayakan kesuksesan Pak Arman dengan makan malam bersama?”


“Ah, saya sangat tesanjung dan merasa terhormat dengan tawaran kalian. Tapi, mohon maaf karena saya harus menolaknya karena saya harus melakukan perjalanan dinas malam ini juga,” ucap Arman menolak ajakan mereka.


Namun, mereka tidak merasa kecewa dan mengantarkan kepulangan Arman saat mobilnya sudah datang menjemput.


“Saya pulang duluan yaa,” ucap Arman dan masuk ke dalam mobil lalu di susul oleh Alexa yang sudah mengekori sejak tadi.


“Sepertinya banyak yang menyukai kau,” ucap Alexa memuji Arman.


“Bukan aku, tapi cara kerjaku. Mereka pasti akan membenciku jika aku hanya malas-malasan saja,” jawab Arman dan membuat Alexa tersenyum canggung.


Sesampai di rumah mereka, Arman dan Alexa pun langsung bebersih. Arman mandi terlebih dahulu, sementara Alexa menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.

__ADS_1


Selesai mandi, Arman memakai pakaian biasa dan menghampiri Alexa yang sudah selesai memasak.


“Kau tidak mandi dulu?” tanya Arman mengejutkan Alexa.


“Ah ini baru mau mandi kok, ayam gorengnya akan matang sebentar lagi. Apa kau sudah lapar?” tanya Alexa canggung.


“Tidak, mandilah. Biar aku yang lanjutkan. Kita belum solat isya,” ucap Arman dan mengambil alih dapur.


Alexa sedikit canggung namun langsung berlalu ke kamarnya. Beberapa saat kemudian, keduanya pun selesai melaksanakan solat berjamaah. Lalu menyantap makan malam yang disiapkan oleh Alexa dan dilanjutkan oleh Arman.


Jelas keduanya masih sangat gugup dan salah tingkah. Tapi, mereka berusaha untuk bersikap biasa saja. Setelah itu, Alexa pun menyiapkan pakaian yang akan mereka bawa untuk pergi ke luar kota malam ini.


“Apa kau sudah membawa semuanya?” tanya Arman pada Alexa yang masih memasukkan beberapa barang pada tas mereka. Sementara Jo sudah ada di depan rumah untuk menjemput mereka.


“Sudah selesai, sepertinya tidak ada lagi yang harus dibawa,” ucap Alexa. Arman langsung mengambil tas yang dipegang oleh Alexa dan membawakannya keluar rumah.


“Jika ada yang kurang bisa kita beli di sana. Naiklah,” ucap Arman memasukkan tas dengan dibantu Jo ke dalam bagasi.


Setelah semuanya selesai, mereka pun naik ke mobil dan pergi ke desa yang mereka tuju. Selama perjalanan, Arman masih fokus pada pekerjaanya. Sementara Alexa memainkan ponselnya sejenak. Waktu pun berlalu dengan cepat. Mereka sampai di penginapan tepat tengah malam.


“Selamat datang, ada sudah pesan kamar sebelumnya?” ucap resepsionis menyambut kedatangan mereka.


“Belum, kami pesan dua kamar –“


“Aku ingin kamar terpisah,” sela Alexa pada Jo yang sedang memesan kamar. Jo sempat terkejut, namun ia tersadar akan sesuatu dan memesan kamar terpisah untuk Alexa dan Arman dengan tidak bertanya lebih lanjut.


“Baik, ini kamarnya. Pegawai kami akan mengantar kalian,” ucap resepsionis dan salah satu pegawai pun mengantar mereka ke dalam kamar masing-masing.


Kamar mereka berjejer, dan karena sudah larut malam. Mereka pun langsung masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


Arman pun langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sangat empuk itu. Dan tidak sampai lima detik, Arman sudah terpejam dengan nyenyaknya.


Malam pun berlalu dengan cepat, senja sudah mulai datang. Arman masih pada posisinya ketika tidur dan tidak berubah posisi. Wajahnya terlihat lelah namun, sebuah senyuman terukir dalam wajahnya.


Arman bermimpi indah, ia terkagum pada sosok wanita yang berbalut kebaya duduk di hadapannya dengan tersenyum sangat cantik.


Dalam mimpinya, Arman terlihat bahagia karena sambutan para tamu yang memberikan selamat pada pernikahannya dengan Alexa.

__ADS_1


__ADS_2