
Rapat pemegang saham dan beberapa dewan direksi masih berlangsung. Mendengar pembukaan dari Arman, yang mengenai pembangunan di desa dan di kota mendapatkan reaksi pro dan kontra. Ruang rapat pun kembali ramai dengan berbagai macam pendapat mengenai rencana yang akan Arman lakukan di masa depan.
“Wah ... kau benar-benar berusaha sangat keras menunjukkan kemampuan kau dalam memimpin sebuah rapat. Pak Arman, CEO baru kita. Terlihat jelas betapa kau yang masih sangat amatir,” ucap Damar dengan suara yang sangat lantang. Semua hadirin langsung terdiam mendengar ucapan Damar itu. Arman menatap Damar dengan dingin, jelas ia tahu jika Damar sama sekali tidak menyukainya.
“Langsung saja, apa yang ingin kau sampaikan?” tanya Arman tidak mau berbasa-basi.
“Masalah lokasi tidak perlu dipermasalahkan karena ini semua adalah kehendak klien kalau tidak ingin punya pekerjaan di desa yang seharusnya tidak diterima dari awal. Kenapa kau harus mempermasalahkan hal yang tidak bisa kita lakukan?” ucap Damar dengan begitu tinggi hati.
Arman tersenyum menyeringai mendengar kata-kata Damar Karena dia sudah menduga akan ada sanggahan seperti ini. Arman pun berjalan sedikit menjauh dari podium dan kembali menjelaskan presentasinya.
“Apakah kalian semua tahu, jika sebuah perusahaan yang dinamis adalah perusahaan yang selalu maju dan bukannya mandat karena ada tantangan baru. Sekali pun kita terbiasa menghandle proyek di perkotaan atau di daerah terpencil tapi yang jauh dari pemukiman warga justru lebih menantang bukan? Sekaranglah saatnya untuk meningkatkan citra perusahaan kita di mata para penduduk desa,” jelas Arman mematahkan ucapan Damar.
Ia kembali berjalan ke depat podium dan menampilkan data-data yang sudah dipersiapkan.
“Ini adalah citra perusahaan kontraktor di mata para warga desa yaitu adalah perusak ekosistem. Untuk itu alih-alih hanya membuat proyek lancar seharusnya tujuan kita yang terdekat adalah memberikan citra yang baik bagi para warga masyarakat,” lanjut Arman dengan sangat percaya diri.
Penjelasannya cukup meyakinkan. Beberapa hadirin pun menyetujui dengan apa yang disampaikan oleh Arman tersebut. Arman pun merasa sangat yakin jika usulannya itu sangat bisa membangun kembali citra perusahaan yang sudah rusak dan menjadi lebih ramah.
__ADS_1
Sementara itu, Damar mendengus kesal mendengarnya. Ia benar-benar tidak menyangka jika Arman sangat pintar bicara. Bahkan ucapannya dipatahkannya dengan sekali tarikan napas.
“Tunggu sebentar, jika kau akan melakukan hal itu. Langkah apa yang akan kau lakukan sebagai langkah pertama?” tanya salah seorang di sana.
“Langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah, dengan melakukan CSR. Yaitu komitmen kita untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas masyarakat dan lingkungan,” jawab Arman dengan tegas.
Damar tersenyum sinis mendengarnya, ia pun berbisik pada rekan-rekan di sebelahnya.
“Melakukan CSR adalah buang-buang uang perusahaan. Di mana itu juga uang kita yang ditanamkan di perusahaan. Apa yang akan membuat kita untung jika melakukan hal itu,” bisik Damar namun dengan suara yang cukup keras.
Arman pun tersenyum dan mendekat ke arah mejanya. Tangannya ia tumpukan pada meja dan menatap tajam pada Damar.
“Proyek besar ini diminta klien untuk dikerjakan secara maksimal dalam segi performa perusahaan dan kualitasnya. Maka dari itu Aku tidak ingin adanya hal yang terburu-buru toh proyeknya ditujukan kepada para warga tidak mampu agar bisa memiliki tempat tinggal yang layak dalam artian mereka sekarang juga masih punya tempat tinggal di desanya,” ucap Arman dan membuat semua tak bisa lagi berkata-kata.
“Kenapa kita harus melakukan hal itu? Yang jelas tidak akan membawakan keuntungan besar bagi perusahaan?” tanya Damar terus saja menentang keputusan Arman.
“Menurut Pasal 74UU No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas dan Pasal 15 huruf (b) UU No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal. CSR tersebut dianggap sebagai bagian dari kewajiban yang dilekati sanksi. Dengan menjalankan CSR tentunya banyak memberikan manfaat bagi berbagai pihak, diantaranya: Meningkatkan citra positif dan memperkuat brand perusahaan di mata publik. Dapat membuka kesempatan kerja sama baru antara perusahaan dengan pihak lain. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menjadi target CSR. Bukankah hal itu membuka peluang yang cukup besar bagi perusahaan?” jelas Arman dengan senyuman lebar. Lagi dan lagi Damar semakin kesal dengan ucapan Arman yang selalu saja tidak mau kalah.
__ADS_1
“Bertahun-tahun kita tidak melakukan CSR, kenapa tiba-tiba saja kau bersikeras untuk melakukan CSR?” tanya Damar lagi. Ia terus saja berusaha untuk memojokkan posisi Arman yang baginya tidak layak sebagai CEO yang baru dan memimpin perusahaan.
“Apakah hadirin semua di sini tahu, sanksi jika perusahaan tidak memenuhi Tanggung Jawab Sosial? Perusahaan akan dikenakan Sanksi pidana berupa pidana denda bagi korporasi yang tidak melaksanakan kewajiban tanggung jawab sosial perusahaan. Siapa yang mau bertanggung jawab saat ada sidak?”
Arman menatap tajam pada Damar yang langsung terdiam dan tidak berani lagi membantah ucapan Arman. Ia sudah buntu dan tidak tau lagi harus bicara apa. Arman pun tersenyum simpul dan senang mengetahui bahwa ia adalah pemenang di rapat hari ini.
“Karena itu, kalian tidak perlu khawatir tentang bagaimana pelaksanaannya. Karena Aku sendiri yang akan turun ke lapang untuk mengadakan riset. Yang akan dimulai malam ini juga,” lanjut Arman lagi.
Arman pun langsung duduk di kursinya mengakhiri presentasinya. Semua yang ada di sana pun mulai mengambil suara untuk persetujuan proyek yang akan Arman lakukan mulai hari itu juga. Arman pun memberikan waktu bagi para pemilik saham dan tamu lainnya untuk berdiskusi dan memutuskan keputusan mereka.
Di kursinya, Arman memperhatikan para pemilik saham dan peserta lainnya yang sangat serius untuk mempertimbangkan keputusan apa yang akan mereka berikan. Sementara Jo dan pegawai lainnya sudah mempersiapkan kotak untuk melakukan pemilihan.
Setelah sepuluh menit berlalu, keputusan pun mulai diambil. Para pemilik saham dan peserta lainnya pun mulai berbaris dan memasukkan suara mereka untuk proyek yang akan dilakukan oleh Arman. Setelah semuanya selesai memberikan suara, maka penilaian pun langsung dilakukan.
Arman dan Damar sama-sama gugup karena kubu mereka sama-sama kuat. Namun, Damar harus menelan kekesalannya karena suara yang mendukung proyek Arman lebih banyak dibandingkan suara yang menolaknya.
Kemenangan telak milik Arman. Semuanya pun bertepuk tangan menerima akhir dari keputusan tersebut dan rapat pun berakhir dengan tenang. Semuanya pun pelahan keluar dari ruangan meeting dengan perasaan yang aneh. Mereka benar-benar tidak menyangka jika Arman sangat lihat dan berkemampuan cukup baik untuk memimpin sebuah rapat dan mengusulkan sebuah proyek. Rapat ditutup dengan sebagian besar suara mendukung Arman dan terpukau atas kepemimpinannya di hari pertama ini.
__ADS_1