CEO Dadakan Dari Desa

CEO Dadakan Dari Desa
Bab 7


__ADS_3

"Tidak ... Tidak mungkin, VJ ...!" teriak Alexa menghambur ke dalam pelukan jasad yang kini terbujur kaku itu.


Alexa menangis tergugu, "kenapa ... Kenapa kau pergi meninggalkanku VJ?"


Sambil terus mengguncang-guncangkan tubuh VJ Alexa merasa tak percaya, sekaligus tak terima jika VJ pergi dengan secepat ini.


Air mata alex tak terelakan lagi, terus saja mengalir. Dia menangis sesegukan, sambil memeluk VJ.


Arman dan semua orang yang disana melihat itu merasa sedih, terlebih lagi Joe asisten pribadinya, lelaki itu ikut menitikkan air mata.


"Ikhlaskan dia Alexa, jangan kau menghambat kepergiannya dengan air matamu. Tentunya kau tau, di tak bisa melihatmu menangis dan sedih seperti ini. Kau harus bahagia dan mengurus semuanya seperti yang telah di amanahkan oleh VJ," ujar Joe mengingatkannya.


"Tenangkan lah dirimu Lexa, kita harus segera mengurus pemakamannya sekarang, aku akan mengeluarkan surat kematiannya."


Dokter Andre pergi setelah mengatakannya, dia sendiri pun ikut sedih akan kepergian sahabat terbaiknya.


Satu-persatu orang di ruangan itu pergi, kini tinggallah, Joe, Alexa, dan Arman. Joe lalu berpamitan pada Alexa untuk mengurus keperluan pemakaman VJ.


"Saya permisi dulu, Nona, akan mengurus pemakaman tuan, sebaiknya nona pulang di antarkan oleh tuan Arman, dan bersiap untuk menyambut jenasah tuan VJ nanti saat pulang ke rumah."


Joe membungkukkan kepalanya dan berlalu pergi setelah mengatakan hal tersebut pada Alexa. Alexa masih terdiam membeku di samping jenazah VJ.


Arman mendekati Alexa, yang masih terisak. ”Alexa, lebih baik kita pulang dulu, menyiapkan penyambutan terakhir kalinya di rumah untuk VJ."


Alexa yang mendengar ucapan Arman langsung bangun dan melihat ke arah lelaki itu dia mengusap air matanya dan sekali lagi melihat ke arah VJ yang telah terbaring kaku di atas brangkar.


Alexa seolah merasa tak tega untuk meninggalkan VJ sendirian di sana, wanita itu berjalan sambil terus saja menoleh ke arah VJ.


Arman kini mengemudikan mobilnya Alexa masih saja menangis di sepanjang perjalanan butuh waktu 25 menit untuk mereka tiba di kediaman nya.


Rumah itu sudah ramai seluruh keluarga pun sudah berkumpul di sana, Alexa turun dari dalam mobil dia berjalan gontai memasuki rumah di ikuti oleh Arman di sampingnya.


Joe sudah mempersiapkan segala sesuatunya lelaki itu pun sudah berada di rumah duka dan meminta beberapa orang untuk menyiapkan penyambutan jenazah VJ.


Saat Alexa masuk ke dalam rumah semua mata tertuju kepadanya pandangan tajam dan sinis mereka arahkan kepada wanita itu.


Ada juga yang berbisik menghinanya, namun segera Arman mendekati wanita itu dan mengajaknya untuk naik ke atas ke kamar.


"Jangan hiraukan ucapan mereka, kau harus segera bersiap, sebentar lagi jenasah VJ akan datang," ucap Arman mengingatkan Alexa.


Alexa pun berjalan menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya, dia segera bersiap, dibantu oleh pelayan dalam rumahnya.


Kini semuanya sudah siap Alexa pun turun dari kamar menuju ke ruang tengah ia duduk di sana didampingi oleh Arman di sampingnya.


Semua sudah berkumpul, bahkan banyak yang berdatangan memberikan ucapan Bela sungkawa kepada Alexa.

__ADS_1


Wanita itu terus saja menyalami tamu yang datang banyak sekali kolega dari perusahaan suaminya dan karyawan-karyawan yang ikut serta datang ke rumah duka.


Bunyi sirine ambulans sudah mulai terdengar, bisa mendongakkan kepalanya memandang ke arah pintu yang terbuka lebar seolah menyambut kedatangan jasad suaminya.


Wanita itu berjalan secara perlahan mendekati pintu mobil ambulans sudah terlihat dan memasuki pelataran rumahnya.


Alexa terdiam menatap nanar pada peti mati yang kini di gotong memasuki rumah duka, saat peti itu di letakkan terlihat jelas sekali wajah VJ yang tersenyum.


Seolah dia merasa bahagia disaat kepergiannya, Alexa mendekati peti mati itu membuka penutup wajah dan tersenyum melihat wajah VJ yang begitu berseri.


"Apa kau bahagia sekarang, aku sudah memenuhi permintaan terakhirmu, aku berjanji akan melaksanakan amanah mu, pergilah dengan tenang, namun perlu kau tau, selamanya kau akan selalu ada di hatiku, tak akan pernah tergantikan oleh siapapun." Air mata Alexa saja jatuh membasahi pipinya kembali saat kata-kata itu terucap.


Arman hanya menoleh ke arah Alexa saat mendengar perkataan wanita itu dia memaklumi apa yang diucapkan oleh Alexa.


Kini giliran Arman berdiri dan melihat VJ untuk terakhir kalinya.


"Terima kasih atas kepercayaan yang kamu berikan padaku aku berjanji akan menjaganya dengan baik dan sepenuh hatiku aku akan berusaha menjalankan amanahmu semampu dan sebisa ku."


Alexa yang mendengar perkataan lelaki yang kini menjadi suaminya hanya menoleh kepadanya. Melihat ke arah wajahnya, namun saat Arman melihat ke arahnya Alexa langsung membuang pandangannya ke arah jenasah VJ.


Joe menginstruksikan untuk jenazah dibawa dan dikebumikan sebelum petang.


Peti mati itu pun langsung di gotong untuk dibawa ke dalam mobil ambulans menuju ke pemakaman.


Alexa naik mobil bersama dengan VJ dan Joe, mereka akan mengantar kepergian VJ untuk terakhir kalinya.


Jenasah itu di turunkan kedalam lubang kubur, Alexa meraung menangis sejadi mungkin, saat dia melihat jenasah VJ di kuburkan.


Arman memegangi wanita itu, agar proses pemakamannya berjalan lancar, semua orang yang melihat itu merasakan kesedihan yang di alami Alexa.


Arman menyerahkan keranjang bunga, meminta agar Alexa untuk menaburkan bunga segar di atas kuburan VJ.


Alexa langsung menerima keranjang bunga itu dan menaburkannya tak lupa dia meletakkan buket bunga mawar putih segar di atas kuburan VJ.


"Beristirahatlah dengan tenang, sayang. Sekarang kau sudah tidak merasa sakit lagi," ucap Alexa sambil menangis kembali air matanya turun begitu saja tanpa dia minta.


Hari pun mulai petang kini sudah jam 05.00 sore Arman mengajak Alexa untuk pulang ke kediamannya dengan berat hati Alexa melangkah meninggalkan pemakaman itu.


Di rumah duka lebih tepatnya di rumah Alexa semua keluarga VJ sudah berkumpul menanti kedatangan wanita itu untuk mendengar penjelasan darinya.


Arman dan Alexa tiba di rumah damar langsung berdiri menghampiri wanita itu dan menariknya secara kasar.


"Apa yang sebenarnya sudah kamu lakukan wanita licik, katakan pada kami sekarang juga dan jelaskan," ucap Damar begitu geram terlihat sekali kilatan marah di matanya lelaki itu baru saja mendengar kabar dari orang kepercayaannya jika Alexa sudah menikah dengan Arman dan semua harta warisan itu jatuh pada Alexa dan Arman.


Bahkan Arman yang menduduki posisi CEO dalam perusahaannya yang seharusnya itu jatuh ke tangan Damar.

__ADS_1


"Aku harus berkata dan menjelaskan apalagi Damar." Alexa selalu memandang ke arah Damar, "apa yang kau lihat dan kau dengar saat ini itulah yang terjadi," ujarnya lagi sambil membuang pandangannya menatap lurus kearah semua orang yang kini tengah duduk di ruang tamu.


Joe yang akan menjelaskan kepada kalian serta pengacara kepercayaan dari VJ sendiri yang akan mengatakannya.


Alexa lalu berjalan ke arah ruang tamu dan duduk di kursi yang biasa ditempati oleh VJ sedangkan Arman mengikutinya di belakang.


Tak lama kemudian Joe dan pengacara itu datang, mereka akan membacakan surat wasiat yang ditinggalkan oleh VJ.


"Baiklah, karena semua sudah berkumpul disini, surat wasiat itu akan di bacakan oleh pak Hari, selaku pengacara dari VJ," ucap Joe.


"Silahkan pak Hari."


Pak hari membungkukan kepalanya dan tersenyum dia pun mengeluarkan sebuah berkas yang ada di dalam tasnya.


"Saya yang bertanda tangan dibawah ini, VJ Permana. Menyatakan jika seluruh harta yang saya miliki saya berikan kepada Alexandria selaku istri saya dan untuk perusahaan saya akan menyerahkan itu kepada Arman selaku dari suami Alexa yang baru dialah yang akan mengurus perusahaan saya dan surat ini saya buat dengan sebenar-benarnya tanpa paksaan siapapun tidak ada satupun orang yang bisa mengambilnya dari mereka. Setelah ini Arman ataupun Alexa menghilang tidak ditemukan ataupun meninggal dunia maka seluruh harta kekayaan itu beserta dengan perusahaan akan disumbangkan ke yayasan panti asuhan kasih bunda."


Per hari langsung menutup berkas itu dan menyerahkannya pada Alexa selaku pemegang semua harta yang dimiliki oleh VJ.


"Surat ini dibuat secara resmi oleh pak VJ, saya serahkan berkas ini ke pada pemilih barunya, semua harta kekayaan pak VJ ada dalam berkas ini, pa saj yang dia miliki dan beberapa perusahan yang sudah tersebar di beberapa kota besar."


Damar menggeram tertahan tangannya mengepal sangat kuat hingga semua kukunya memutih pucat.


Dia tak pernah menyangka jika VJ akan melakukan hal ini pada mereka yang seharusnya menerima adalah damar dan adiknya selaku keluarga dari VJ.


Karena Alexa tidak memiliki anak namun nyatanya VJ malah meminta Alexa untuk menikah dengan Damar hingga mereka pun tidak bisa mengganggu gugat harta warisan tersebut.


Tanpa banyak bicara damar langsung meninggalkan mereka namun saat dia berjalan melewati Alexa langkah lelaki itu berhenti lalu menolehkan wajahnya ke arah Alexa melihat perempuan itu yang tengah duduk manis di kursi kebesarannya.


"Aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya ku miliki, aku akan merebutnya darimu." Damar langsung pergi melenggang begitu saja meninggalkan rumah itu


Diikuti oleh yang lainnya mereka semua pergi meninggalkan Alexa seorang diri.


Joe segera berpamitan pada Alexa, gitu juga dengan pak hari kini tinggallah Arman dan Alexa di dalam rumah itu.


Alexa menangis kembali air matanya turun begitu saja ia berusaha untuk tegar dan kuat saat berhadapan dengan keluarga VJ.


Yah itulah yang dia lakukan atas permintaan VJ, Arman yang melihat Alexa begitu sedih tak mampu melakukan apa-apa.


Dia merasa bingung dan serba salah saat ini dia ingin menghibur Alexa namun langkahnya tertahan.


"Lexa, lebih baik kau istirahat dikamar," ucap Arman yang tak dihiraukan oleh Alexa wanita itu hanya diam saja, seolah tak mendengarkan ucapannya.


Arman lalu memanggil bibi dan memintanya membawa Alexa untuk beristirahat di kamar, Bibi segera mendekat Alexa lalu memapahnya dan membawanya untuk naik ke atas.


Sedangkan Arman lelaki itu berjalan lalu duduk di sofa, dia merasa lelah sekali bukan hanya lelah fisiknya namun juga pikirannya Arman menghembuskan nafas penuh dada mengeluarkan segala rasa sesak yang ada di dalam dadanya lelaki itu lalu memejamkan mata nya namun pikirannya menerawang entah kemana.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan setelah ini." Terdengar sekali heula nafas yang cukup berat saat mengucapkan kalimat itu.


__ADS_2