CEO Dadakan Dari Desa

CEO Dadakan Dari Desa
bab 17 - Jurus Membujuk Alexa


__ADS_3

Sebuah mobil berhenti di depan pedesaan. Tanah yang menjulang luas dengan persawahan yang besar terlihat begitu asri dan damai. Arman tersenyum melihat pemandangan yang indah itu. Namun, dahinya berdenyit saat melihat kumpulan warga yang sudah memenuhi tempat itu.


Terlihat beberapa ibu-ibu berdaster dengan tangan yang penuh dengan peralatan rumah tangga terlihat marah. Mereka bahkan membawa panci penebah sapu dan lain-lain dengan berkacak pinggang sementara beberapa bapak-bapak yang berkalungkan sarung itu juga tampak garang menyambut kedatangan mereka.


“Apa itu? Kenapa mereka berkumpul dengan seperti itu?” tanya Alexa terkejut dan tidak menyangka akan melihat pemandangan yang sangat mencurigakan seperti itu.


“Wah ... sepertinya kita sudah disambut dengan panci dan juga sapu,” ucap Arman sudah menduga akan kejadian mana para warga akan protes terhadap proyek mereka tetapi tidak menyangka bahwa bahkan sebelum proyek dimulai sudah terjadi pergeseran seperti ini.


“Kau sudah menebaknya? Apa yang harus kita lakukan sekarang? Sepertinya mereka akan langsung mengusir kita,” ucap Alexa sudah pesimis.


“Jangan patah semangat seperti itu. Aku yakin, mereka tidak akan langsung memukul kita dengan apa yang mereka pegang itu. Setidaknya, kita tidak akan di makan bukan?” ucap Arman bercanda dengan wajah yang serius.


Alexa mendelik kesal dengan lelucon Arman yang sama sekali tidak lucu.


“Tidak lucu yaa? Kalau begitu kita berdoa saja dulu, semoga mereka tidak akan memakan kita hidup-hidup,” ucap Arman dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Alexa.


Arman mencoba untuk tabah dan mengucapkan doa dulu sebelum dia mengajak kedua orang tersebut turun dari mobil.


“Bismillah, Ya Alloh dengan nama-MU hamba mohon berikan kami kemudahan untuk melewati ujian hari ini. Hamba yakin, KAU akan selalu berada di sisi hamba yang memasrahkan semuanya pada-MU. Amiin,” ucap Arman berdoa.


“Amiiin ...” sahut Jo paling keras. Alexa pun hanya mengaminkan dari dalam hati.


“Ayo turun,” ucap Arman mengajak Alexa dan Jo turun dari mobil.


Dengan berjalan lebih dahulu, Arman pun melempar senyuman pada semua penduduk desa yang sudah menatap mereka dengan tatapan yang tajam.


“Assalamuaikum bapak-bapak, ibu-ibu ... ya ampun. Saya tidak menyangka jika kedatangan saya akan disambut seperti ini,” sapa Arman mencoba ramah. Ia bahkan langsung menyalami semua bapak-bapak yang ada di sana tanpa malu sedikit pun.

__ADS_1


“Tidak perlu!” ucap salah satu bapak-bapak dengan ketus menapik tangan Arman.


Arman pun hanya bisa tersenyum kecut dan menarik kembali tangannya.


“Baiklah, karena semuanya sepertinya sudah ada di sini. Saya akan memperkenalkan diri, nama Saya Arman dan saya –“


“Tidak perlu basa-basi! Kami menolak adanya pembangunan di sini!” teriak bapak-bapak yang terlihat seperti pemimpin para penduduk desa.


Wajahnya begitu keras dengan perangai yang galak. Alexa yang berdiri di belakang Arman sampai terkejut dan sangat tidak menyukai sikap bapak-bapak itu.


“Wah ... anda sangat hebat sekali. Bagaimana anda tahu, jika saya datang ke sini untuk berdiskusi tentang pembanguna di sini,” ucap Arman terlihat sangat manis dan lembut. Senyumannya yang begitu menawan membuat beberapa ibu-ibu di sana terpesona dan tersenyum malu.


“Bagaimana bisa ada pemuda tampan seperti itu.”


“Itu benar, seharusnya aku menikah dengan pemuda tampan dan gagah seperti itu. Kenapa aku harus berakhir pada pria perut buncit dan kumis yang tebal.”


“Pokoknya kami tidak perduli! Kami akan terus menolak pembangunan apa pun itu, sekali pun kalian menawarkan ganti rugi yang fantastis. Kami, akan terus menolaknya!” seru bapak-bapak tadi yang bernama Heru.


Lagi-lagi para ibu-ibu itu begitu terpesona dan terkagum dengan sikap lembut dan juga sopan Arman. Alexa sampai geli sendiri melihat reaksi para ibu-ibu itu.


“Tidak ada yang namanya diskusi, pendapat kami tetap sama! Pergi dari sini!” ucap Pak Heru dengan menangkat parangnya. Arman, Alexa dan Jo cukup terkejut terlebih para bapak-bapak yang lain mulai ikut-ikutan mengacungkan perkakas yang mereka bawa.


Arman menoleh ke kanan dan ke kiri lalu berjalan mendekati Pak Heru. Alexa terkejut dan hendak menghentikan, tapi Jo menahanya dan menggelengkan kepalanya.


“Kita harus percayakan semuanya pada Pak Arman, Bu Alexa harus menahan diri,” ucap Jo menghentikan sikap Alexa. Alexa pun mendesah mencoba untuk menahan emosinya.


“Nama saya Arman, nama bapak siapa?” tanya Arman.

__ADS_1


“Kau sudah menyebutkan namamu tadi, tak perlu berkenalan dan pergi saja dari sini!” jawab Pak Heru ketus.


“Wah bapak masih ingat nama saya rupanya,” ucap Arman tersenyum senang.


“Tapi, apakah ada warung di sekitar sini?” tanya Arman lagi.


“Harus berapa kali aku katakan! tidak ada urusannya dengan warung dan aku juga tidak mau memberitahu. Pergi sana!”


Arman tidak pantang langsung menyerah, ia pun langsung mengapit lengan Pak Heru dan kembali berbisik.


“Bukankah sepertinya lebih enak jika kita bicarakan masalah ini sambil makan-makan toh Aku juga tidak serta-merta akan langsung membangun bangunan di hari ini juga,” ucap Arman kembali membujuk.


Jelas semua yang ada di sana cukup terkejut dengan ucapan Arman. Kembali ibu-ibu yang ada di belakang pun jadi menyetujui Arman karena selain kata-kata itu terdengar masuk akal saat menuturkannya Arman yang berwajah tampan itu terlihat begitu sabar dan tulus.


“Sepertinya tidak masalah jika kau yang membayarnya, hei pemuda tampan,” ucap ketua ibu-ibu di sana.


Arman pun tersenyum lebar dan mengedipkan matanya sebelah.


“Tentu saja, saya bersedia untuk membayar semuanya. Terlebih untuk wanita cantik seperti semua ibu-ibu yang ada di sini,” ucap Arman dengan sangat manis.


“Astaga ... sepertinya dia menjual wajah tampannya. Kenapa harus pemuda tampan seperti itu!” ucap para bapak jadi dongkol karena yakin kata-kata ibu itu pasti gara-gara melihat sosok Arman yang tampan.


“Aku penasaran dan tidak habis pikir bagaimana para warga itu sudah siap sedia menyambut kita padahal tidak ada yang memberitahukan mereka juga kalau perwakilan perusahaan yang datang untuk mengecek lokasi tersebut,” gumam Alexa penuh kecurigaan.


“Baiklah, pak kau yang memimpin jalannya. Mari kita berpesta,” ucap Arman dan menarik Pak Heru untuk pergi ke salah satu warung makan yang ada di sana.


“Ayo semuanya! Kita makan yang banyak sambil membicarkan semua keinginan kita!” teriak Arman pada semua warga yang ada di situ untuk ikut bersama-sama makan di desa itu sambil berembug.

__ADS_1


Alexa menggelengkan kepalanya dengan semua tindakan Arman yang di luar perkiraannya. Ia dan Jo pun ikut menyusul dari belakang dan mengikuti langkah Arman bersama warga pada salah satu rumah makan yang ada di sana.


Arman tersenyum senang, karena langkah pertamanya telah berhasil. dia bahagia melihat senyuman Alexa.


__ADS_2