
Arman dan Alexa pun selesai makan siang bersama dengan canggung dan tanpa suara sedikit pun. Keduanya masih beradaptasi satu sama lain dan tak ingin mengusik acara makan siang mereka yang begitu singkat.
Setelah membayar pesanan mereka, Arman dan Alexa pun langsung bergegas kembali ke kantor tanpa membuang-buang waktu karena agenda mereka yang sudah dijanjikan akan melakukan rapat pemegang saham tepat jam satu siang.
Saat tiba di kantor, Jo pun langsung mendekati Arman dan mengabari jika semua persiapan sudah selesai. Bahkan ruangan pun sudah disiapkan dengan secepat mungkin. Materi mereka pun sudah rampung dan Jo hanya tinggal menerima perintah dari Arman untuk memulai rapat itu.
“Apa semuanya sudah datang?” tanya Arman berjalan cepat dengan diikuti oleh Jo dan juga Alexa.
“Sudah Pak, apakah anda mau saya mulai sekarang?” tanya Jo yang sedikit bingung karena Arman tidak berjalan ke arah ruang meeting yang sudah ia persiapkan.
“Oke, kau tunggu saja di sana duluan. Kau yang akan menjadi moderatornya. Aku akan menyusul,” ucap Arman menatap Jo.
“Baik Pak, akan saya persiapkan semuanya. Permisi,” ucap Jo dan pergi ke ruang meeting. Sementara Arman kembali ke ruangannya dengan Alexa yang masih berjalan di belakangnya.
“Apa ada yang ketinggalan di ruangan Bapak?” tanya Alexa heran, namun tetap mengikuti sampai masuk ke ruangan Arman.
“Tidak ada, hanya saja kita harus solat dhuhur dulu kan,” ucap Arman tersenyum manis dan berlalu ke toilet.
“Kita?” gumam Alexa hampir saja tidak bernapas mendengarnya. Namun, ia coba untuk kembali sadar dan menyiapkan perlengkapan solat untuk mereka.
Beberapa saat kemudian, keduanya pun sudah selesai melaksanakan solat dzuhur berjamaah. Saat sedang bersiap-siap untuk pergi ke ruang meeting. Tiba-tiba saja Alexa kepikiran tentang para pemilik saham yang sudah pasti menunggu lama di sana.
__ADS_1
Alexa menatap Arman yang memasang dasi sedikit miring, ia pun langsung mendekat dan tanpa permisi membenarkan dasi yang Arman kenakan.
“Apa ... tidak masalah jika kita terlambat?” tanya Alexa dengan serius memasangkan kembali dasi di leher Arman.
“Terlambat bagaimana?” tanya Arman tidak mengerti dan menatap wajah Alexa dengan sangat intens.
“Apakah tidak takut membuat para peserta rapat dan pemegang saham menunggu lebih lama?” jelas Alexa lagi. Perlahan mata Alexa menatap wajah Arman yang rupanya sudah menatap Alexa sejak tadi.
Arman tersenyum kecil lalu menjawab, “ini kan kewajiban dan memang waktu kita tadi sudah kepotong untuk mengerjakan duluan masa mau mengorbankan ibadah sedangkan makan saja kita tidak lupa.”
Arman terus tersenyum dengan sangat manis, membuat Alexa cukup gugup sekaligus malu karena menanyakan pertanyaan yang sudah pasti jawabannya. Alexa pun sudah selesai memasangkan dasi dan berjalan mundur.
“Sudah siap? Yuk,” ajak Arman dan berjalan lebih dahulu. Membiarkan Alexa menyusul dengan masih malu.
“Astaga, sampai kapan kita harus menunggu orang yang tidak bisa tepat waktu? Bukankah CEO baru itu yang meminta kita datang jam satu siang? Apa dia tidak tau berapa banyak yang kita korbankan untuk datang ke sini? Apalagi meminta kita datang tiba-tiba tanpa membuat janji lebih dulu!” ucap Damar penuh dengan kebencian.
Jelas hal itu membuat para pemilik saham dan beberapa tamu yang hadir merasa gusar dan terhasut dengan ucapannya barusan. Sedangkan waktu baru menunjukkan pukul satu siang lebih lima menit. Jo yang mendengar itu sedikit kesal karena Damar yang mulai bertingkah.
Terdengar bisik-bisik yang membuat suasana menjadi gelisah dan tidak ramah. Damar tersenyum senang melihat reaksi orang-orang itu. Ia pun semakin bersemangat untuk memanasi ruang rapat itu.
“Seharusnya pemimpin yang baik itu datang duluan dibandingkan para karyawan dan apalagi tamu seperti para pemegang saham yang terhormat, sudah pasti mereka sangat sibuk dan memaksakan diri untuk datang ke sini,” lanjut Damar lagi. Dan tentu saja, ucapannya berhasil membuat kericuhan.
__ADS_1
Mereka pun mulai mengomel dan marah-marah atas keterlambatan Arman. Bahkan sampai memukul meja saking kesalnya.
“Mohon untuk bersabar semua para hadirin,” ucap Jo mencoba menenangkan para tamu.
“Sudahlah, ini belum terlalu lama juga. Lagi pula Pak Arman itu orang baru. Jadi, maklumi saja,” ucap salah seorang dari mereka dan membuat ruangan meeting itu kembali senyap. Hal itu membuat Damar kesal dan dongkol mendengarnya karena ada yang membela Arman.
“Untuk para hadirin yang sudah datang, saya mewakili Pak Arman sangat berterimakasih atas kehadiran pada hadirin. Mohon untuk kembali duduk di posisi masing-masing. Karena Pak Arman akan segera datang,” ucap Jo yang sudah melihat kedatangan Arman dan juga Alexa dari pintu yang terbuka.
Sedetik kemudian, Arman dan Alexa pun memasuki ruangan dengan berjalan beriringan. Pada saat itu orang-orang belum mengerti bahwa Alexa sudah menjadi istri Arman. Karena Arman dan Alexa sepakat untuk membiarkan hal itu dulu sampai nanti para sepupu datang bertandang ke rumah dan memergokinya sendiri.
“Selamat datang Pak Arman, sialahkan duduk di kursi anda,” ucap Jo pun mempersilahkan Arman duduk di kursi utama. Sementara Alexa berdiri di barisan para sekretaris.
“Berhubung Pak Arman sudah sampai, saya akan memberikan sambutan dan melakukan pembukaan –“
“Tidak perlu melakukan basa-basi terlalu lama. Karena bahan yang akan dipresentasikannya lumayan banyak,” sela Arman dan langsung memulai presentasi.
Arman pun berdiri ke atas podium dan meminta Jo untuk memulai presentasi mereka. Para hadirin cukup terkejut dengan sikap Arman itu. Namun, mereka hanya diam mencoba mengikuti arahan Arman dengan tenang.
“Ini adalah proyek yang sedang kita jalankan saat ini. Sementara ini adalah proyek yang sudah kita lakukan,” ucap Arman menunjukkan data yang sudah ia kumpulkan. Ia pun mulai dengan perbandingan proyek sesuai data yang ada.
“Di sini jelas sekali perbedaan yang ada. Dan yang paling signifikan adalah lokasi proyek yang ditangani oleh perusahaan kita yang biasanya kita hanya fokus kepada pembangunan untuk skala kebutuhan yang besar seperti bendungan dan gedung-gedung di kota tapi ini akan menjadi pertama kalinya kita akan mengusung proyek di daerah yang jauh dari perkotaan.”
__ADS_1
“Kalian bisa lihat, bagaimana kita akan membangun pembangunan di daerah yang cukup jauh. Namun, dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan daerah yang dekat dengan kota. Saya sudah mencoba menghitung semuanya dan ... lihat di sini, bukankah angka ini sangat jauh? Lebih dari lima puluh persen, kita akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar jika melakukan pembangunan sedikit lebih jauh. Namun, tetap dengan kualitas yang mencerminkan kualitas perusahaan kita,” lanjut Arman dan membuat semuanya terkejut dengan ide yang diusulkan oleh Arman tersebut.