
Di sebuah rumah makan yang terletak di pinggir desa tepat perlintasan, seluruh warga desa berkumpul dengan perasaan yang cukup senang. Pasalnya Arman menjanjikan untuk mentraktir mereka makan sepuasnya.
Semua warga pun sudah duduk berjejer pada semua meja yang tersedia. Mereka duduk lesehan dengan menu sederhana makanan desa. Namun, mewah bagi semua warga desa yang memang tidak semua dari kalangan berada.
Arman yang sudah terbiasa dengan nuansa desa itu dengan mudahnya bergaul dan beradaptasi. Namun, berbeda dengan Alexa yang tak pernah merasakan makan dengan duduk di lantai. Apa lagi saat menu semuanya sudah berjejer di meja.
Ikan bakar khas desa dengan nasi bakar dan sambal yang begitu menggugah selera. Alexa yang baru pertama kali memakan makanan seperti ini sangat bingung. Apa lagi mereka harus makan dengan tangan.
Arman dan Jo sudah memulai makan dengan menikmati makan siang itu. Namun, tidak bagi Alexa yang tak terbiasa makan tanpa sendok atau pun garpu. Alexa memandang makanan di piringnya dan memandang semua orang yang ada di sana yang terlihat sangat menikmati hidangan itu.
Arman pun tersadar jika Alexa tak memakan makanannya dan hanya menatapnya saja dari tadi. Arman pun mendekatkan wajahnya dan berbisik pada Alexa.
“Kenapa tidak di makan?” tanya Arman heran. Alexa sedikit terkejut dengan kedekatan mereka. Namun, ia berusaha untuk mencoba tenang karena banyak mata yang melihat kedekatan mereka.
“Aku masih kenyang, jika kau mau menambah silahkan makan saja punyaku,” ucap Alexa mengalah dan lebih memilih tidak makan dan mendorong piringnya ke arah Arman.
“Kau mau sendok dan garpu?” tanya Arman yang menyadari kendala Alexa. Alexa menatap terkejut namun langsung memalingkan pandangannya.
“Tidak, aku tidak terlalu lapar. Kau saja yang makan, sepertinya semuanya terlihat sangat menikmati makanan ini,” jawab Alexa masih ingin mempertahankan harga dirinya dibanding perut keroncongannya yang sudah kelaparan.
__ADS_1
“Maklum, mereka itu dari kalangan miskin, makanya pas diajak makan gratis, mereka mudah tertarik. Maaf ya karena membuat kalian harus ikut makan di tempat yang seperti ini. Karena bagaimanapun kita hrus mengambil hati para warga. Dan setelah membuat mereka senang dengan kita, maka akan sangat mudah untu membujuk mereka. Setidaknya, kita bisa berbicara dengan tenang,” jelas Arman merasa tidak enak dengan Alexa dan juga Jo karena harus merasakan makan dengan standar di bawah mereka.
“Tidak masalah Pak, saya bisa beradaptasi dengan sangat cepat. Jadi, jangan terlalu memikirkan saya,” ucap Jo mengerti.
“Oke, terimakasih.”
“Aku juga tidak masalah, aku sangat mengerti apa yang sedang kau lakukan adalah untuk menarik hati mereka. Jadi, bukan masalah juga bagiku,” ucap Alexa tersenyum mengerti. Arman pun bisa dengan mudah melancarkan aksinya karena dukungan Alexa dan juga Jo yang sangat membantu dirinya.
Acara makan-makan pun sudah selesai, kini waktunya Arman kembali mengambil hati para warga dengan menjelaskan maksud dan rencana dirinya datang pada desa mereka.
“Jadi, pembangunan ini tidak akan kami lakukan jika para warga tidak menyetujui pembangunan ini. Tapi, bukan berarti saya akan dengan mudah menyerah. Jika boleh tau, apa saja kekhawatiran dan ketakutan para warga di sini saat mendengar tentang pembangunan yang akan kami lakukan di sini?” tanya Arman dengan sangat jelas dan mudah sekali dipahami.
Pak Heru berdiri dari tempat duduknya dan mulai mengemukakan pendapatnya mewakili seluruh warga.
“Baik, saya terima pendapatnya. Namun, saya akan menjelaskan jika proyek ini sudah kami memperhitungkan daerah sekitar dan tidak mungkin sampai sengaja menghalangi sinar matahari. Kalau pun nanti memang benar sampai begitu, itu berarti memang rumah ibu-ibu dan bapak-bapak yang sekarang sudah kurang layak huni. Dan kami, menawarkan kalian untuk pindah pada gedung rusun yang akan kami bangun. Dan tentunya dengan proses yang mudah dan cicilan yang murah sebab bangunan itu khusus kami bangun untuk warga desa yang sangat membutuhkan hunian sehat,” tutur Arman dan sangat mudah dimengerti.
“Jadi, kami akan mendapatkan rumah yang layak huni?” tanya salah satu dari mereka.
“Tentu saja, rumah yang sangat nyaman dan tentram. Rumah yang akan terus berdiri dengan kokoh sampai anak-anak kalian tumbuh dewasa dan menikah. Bahkan sampai kalian punya cucu dan cicit. Kami, akan menjamin hal itu,” jelas Arman lagi.
__ADS_1
Akhir dari perbincangan itu pun berhasil dengan persetujuan. Arman pun memberikan uang saku pada mereka yang telah mau menghadiri perbincangan itu dengan cukup besar dan berhasil merebut hati para warga.
Alexa cukup terpukau dengan cara kerja Arman yang terbilang lebih lihai dari pada orang-orang yang bahkan perpendidikan tinggi.
“Kau sudah bekerja dengan sangat keras. Aku senang karena kita bisa pulang dengan kabar yang sangat bagus. Aku yakin, semua dewan direksi pasti sangat senang. Terlebih para pemilik saham,” ucap Alexa memuji Arman.
“Tentu, dan kita akan bekerja lebih keras lagi dari ini,” ucap Arman tersenyum lebar.
Waktu pun berlalu dengan cepat. Semua proyek yang Arman lakukan berkembang pesat karena dirinya semakin dipercaya para partner dan pemerintah untuk membangun daerah tertinggal. Arman yang hanya berasal dari desa selalu pandai ambil hati warga sebab dia memahami keinginan dan kebutuhan para warga desa.
Kesuksesan pun melengkapi karir Arman sebagai CEO baru dan mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak. Namun, tentu saja dibalik kesuksesan Arman selalu saja ada orang yang tidak menyukainya.
Damar selalu saja menentang semua proyek yang akan Arman lakukan dan menunjukkannya secara terang-terangan di setiap rapat. Sayangnya, argumennya selalu saja dipatahkan oleh Arman. Dan Arman selalu saja bisa dengan mudah membuktikan bahwa dirinya mampu dan berhasil menjalankan semua proyeknya.
Seperti rapat hari ini, Damar kembali menentang proyek yang akan dilakukan Arman di pedesaan yang sangat jauh dari kota.
“Kau pikir, di mana otakmu itu! Apa guna perusahaannya Cuma mengurusi desa yang bahkan tidak tersentuh listrik dan internet?” seru Damar merasa akan menang kali ini.
“Sayangnya, pemerintah dan perusahaan swasta lainnya sudah setuju untuk melakukan pembangunan di sana dan memadai listrik serta internet yang mereka butuhkan.”
__ADS_1
“Kau bisa menjamin bahwa proyek itu tidak akan gagal?”
“Tentu saja, kau bisa lihat jika income dari semua proyek yang aku lakukan jauh lebih bagus ketimbang semasa VJ ada. Apa yang bisa kau lakukan sebagai gantinya?” tantang Arman tersenyum menang dan berhasil membungkam Damar yang terus merasa kesal dan marah.