
Damar berjalan ke arah ruangannya dengan menahan emosi yang mulai membesar sejak keputusan diakhir rapat tadi. Sesaat setelah ia masuk ke ruangannya, Damar yang marah langsung mengamuk. Ia sangat kesal dan melempar semua berkas yang ada di mejanya.
Matanya memerah dengan napas yang tersenggal. Damar sangat tidak menyukai Arman yang telah mengambil banyak perhatian di hari pertamanya.
“Sial! Bagaimana bisa ... dia melakukan ini? Tidak ... tidak bisa aku biarkan ini terjadi. Aku ... tidak akan membiarkan dia berhasil melakukan proyek ini. Tidak akan, lihat saja! Aku ... akan membuat kau hancur sehancur-hancurnya!” ucap Damar meluapkan amarahnya.
Damar benar-benar dipenuhi emosi saat ini. Ia tidak bisa tinggal diam membiarkan Arman melaksanakan proyeknya dengan mulus begitu saja. Tangannya mengepal menahan semua amarah yang bergemuruh dalam hatinya.
Tiba-tiba saja ia teringat akan adiknya yang sudah pasti akan selalu berada di pihaknya dan akan mendukung serta membantu dirinya untuk menggagalkan rencana Arman. Dengan terburu, Damar pun mengambil ponsel dari saku celananya dan mencari nomor telepon adiknya.
“Halo Dimas, kita harus bertemu dan ajak sepupu yang lain. Ada yang mau aku bahas,” ucap Damar tanpa basa-basi.
“Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba kau meminta bertemu seperti ini?” tanya Dimas masih bersikap santai.
“Kau hanya harus melakukan apa yang aku katakan! Mengerti?” ucap Damar penuh dengan kemarahan.
“Ba-baiklah. Aku akan memesan resto Jepang dekat kantormu. Akan aku kabari lagi,” jawab Dimas ketakutan mendengar suara emosi Damar. Damar pun langsung menutup panggilan teleponnya.
Ia menatap dengan penuh kebencian dan menarik napas kuat-kuat. Rahangnya mengeras mengingat ucapan Arman yang akan langsung melakukan reset ke desa malam ini.
Di sebuah restoran milik keluarga, Damar dan Dimas pun saling bertemu di tempat parkiran.
“Kau bilang resto Jepang? Aku tidak tahu kalau di sini ada menu baru?” tanya Damar yang heran karena tempat pertemuan mereka yang berubah.
“Mereka bilang, restoran di dekat kantormu sangat jauh. Dan mereka ingin melihat restoran keluarga kita sudah seperti apa sekarang ini,” ucap Dimas mencoba menenangkan Damar. Damar tidak berkomentar apa pun dan memasuki restoran tersebut.
Beberapa saudara dan sepupu jauh mereka pun sudah berdatangan. Mereka cukup takjub dengan perkembangan restoran yang lebih mirip dengan resto hotel begitu mewah. Makanan yang disajikan pun memiliki aroma yang begitu lezat dengan kualitas premium nomor satu.
“Astaga ... bukan kah daging di sini begitu empuk dan lezat?”
__ADS_1
“Kau benar, memang tidak bisa diragukan lagi masakan resto bintang lima.”
“Tapi, aku sangat menyayangkan tentang kematian VJ yang begitu tiba-tiba saja,” ucap salah satu dari mereka.
“Itu benar, aku pikir aku baru saja dibohongi. Karena aku pikir VJ bukan orang yang mudah terkena penyakit.”
“Usianya masih terlalu muda. Aku kasihan pada istrinya.”
Damar tersenyum mendengar perbincangan mereka yang seolah-olah benar-benar perduli dan merasa kehilangan dengan wajah yang tersenyum lebar.
“Itu benar, aku pun sangat menyayangkan kepergian VJ yang tak duga-duga. Tetapi malah menyerahkan perusahaan kepada orang asing,” ucap Damar berpura-pura sedih. Saudara itu kaget dan tidak mengerti apa maksud ucapan Damar.
“Apa yang kau bicarakan? Kami tidak mendengar apa-apa.”
“Jadi kalian belum mendengar kabar terbarunya? Wah ... aku sudah bisa menebaknya sih. Karena pergantian pemilik perusahaan begitu cepat. Sehari setelah kematian VJ, pengacaranya memberitahu jika VJ telah menulis wasiat di mana seorang pria asing bernama Arman sebagai penggantinya dan sekarang sedang menjalanka perusahaan seolah-olah itu adalah perusahaanya sendiri. Benar-benar arogan,” jelas Damar dan membuat semua yang ada di sana sangat terkejut mendengarnya.
“Bagaimana bisa VJ melakukan hal itu? Apa kau tidak berusaha untuk menghentikannya?”
“Di mana Alexa sekarang? Bukankah sebagai istri, dia seharusnya menolak keputusan itu?”
“Tidak ada gunanya, sebelum meninggal VJ dan juga Alexa bercerai. Entah apa yang ada di pikiran dua orang itu. Yang jelas Alexa tidak ada sangkut pautnya dengan hal itu,” jelas Damar lagi.
Setelah mereka menghabiskan makan malam itu, Damar dan Dimas pun mengambil waktu sendiri dan berbincang berdua saja. Dimas sangat penasaran karena Damar yang mengajaknya ketemuan dengan sangat tiba-tiba itu.
“Sebenarnya, ada apa? Kenapa kau tidab-tiba meminta bertemu?” tanya Dimas penasaran.
“Kau sudah dengar apa yang aku bicarakan tadi bukan?”
“Ya terus?”
__ADS_1
“Pria bernama Arman itu, melakukan rapat siang tadi. Dan hendak melakukan CSR.”
“Apa?”
“Dan dia akan melakukan reset sekarang. Aku ingin kau membantuku untuk menggagalkan rencana itu,” ucap Damar penuh dengan tekad.
“Baiklah, jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Dimas lagi.
“Kita harus pergi ke desa tempat proyek akan dicanangkan tersebut. Dan menemui para pemilik lahan dan menghasut mereka untuk tidak menyambut kedatangan Arman itu,” jelas Damar dengan licik.
“Aku mengerti, tapi bagaimana kalau kita lebih baik mencari kenalan dulu yang lokasinya dekat dengan desa tersebut untuk mengambil ancang-ancang,” usul Dimas dengan antusias.
“Ancang-ancang bagaimana?” tanya Damar bingung.
“Ya, yaitu dengan melakukan wawancara dengan penduduk setempat. Dan membuat reset yang akan dilakukan oleh Arman hancur berantakan,” jelas Dimas. Damar tersenyum lebar mendengar usulan itu.
“Astaga, kau benar-benar pintar. Harus aku akui, kau benar-benar sangat berguna,” ucap Damar dan tersenyum lebar.
“Tapi, apa kau punya kenalan di sekitar sana?”
“Ya, aku punya,” jawab Damar langsung teringat ada temannya yang punya peternakan sapi di desa itu dan dia langsung mencoba mencari nomor ponselnya.
“Wah itu bagus, dengan begini langkah kita akan lebih cepat dibandingkan Arman. Aku tidak menyangka jika VJ akan memberikan perusahaannya pada orang asing yang begitu bodoh. Dia ... tidak akan bisa mengalahkanmu. Damar,” ucap Dimas menyanjung Damar.
“Kau pikir aku sebodoh apa hah? Pria asing itu tidak akan pernah bisa mengalahkan aku. Dia tidak tahu, siapa yang sedang ia lawan ini. Dasar manusia sombong,” sahut Damar.
“Ya, tentu saja. Dia benar-benar angkuh. Seharusnya dia merasa malu karena telah mengambil hak orang lain dan memanfaatkan atas nama wasiat hanya untuk mengambil perusahaan orang lain. Aku yakin, setelah ini dia akan sangat kewalahan.”
“Jangan khawatir, kali ini aku akan memastikan dia akan kalah dan mengundurkan diri karena tidak sanggup menjalankan proyeknya yang tidak masuk akal ini. Kenapa harus memakai uang perusahaan untuk melakukan hal tidak berguna seperti itu?”
__ADS_1
“Karena dia pria bodoh yang tidak tahu bagaimana kejamnya dunia bisnis,” ucap Dimas begitu senang dan membuat Damar merasa sangat yakin dengan rencananya itu.