CEO Dadakan Dari Desa

CEO Dadakan Dari Desa
Bab 16 - Hasutan


__ADS_3

Arman masih tersenyum lebar dalam mimpinya. Jantungnya yang berdegup kencang karena mendapatkan sosok wanita yang sangat cantik dan juga anggun menjadi istrinya. Arman masih tidak percaya, terlebih saat dirinya hendak menggenggam tangan Alexa yang saat itu tersenyum malu-malu.


Keduanya terlihat sangat canggung dengan nuansa pernikahan yang sangat indah dan mewah. Alexa mengulurkan tangannya, dengan perasaan yang gugup Arman pun menyambut tangan Alexa. Dan dengan perlahan Alexa membawa tangan Arman dan mengecupnya dengan lembut.


Dalam posisi tersebut, para tamu pun menyemangati Arman untuk mengecup kening Alexa. Arman masih gugup dan dengan perlahan ia pun mendekatkan wajahnya untuk mengecup kening Alexa.


Lima senti, empat senti, tiga senti, dua senti. Jarak terus terhapus di antara keduanya. Hingga tinggal satu senti lagi suara alarm membangunkan Arman dari mimpi indahnya itu.


Arman membuka matanya dengan perasaan yang tidak karuan.


“Astagfirulloh, apa yang baru saja aku mimpikan? Bukan saatnya bermimpi yang enak-enak,” ucap Arman dan mengusap wajahnya. Ia pun mematikan alarm pada ponselnya yang menunjukkan pukul empat pagi.


Arman turun dari atas ranjangnya dan menuju toilet. Ia pun membersihkan diri dan segera mengambil air wudhu. Setelah itu, Arman pun bersiap-siap untuk melaksanakan solat. Ia tahu jika ada mushola di tempat penginapan itu.


Arman mengambil sarungnya dan keluar dari kamar. Lalu mendekati kamar Alexa dan dengan tanpa perasaan takut menganggu Arman pun mengetuk kamar Alexa.


Tok ... Tok ...


Suara ketukan beberapa kali terdengar dan membangunkan Alexa dari tidur cantiknya.


“Siapa?” teriak Alexa tanpa melihat jam di mejanya. Matanya masih setengah terpejam dengan duduk di atas ranjangnya.


“Ini aku, Arman. Apa kau belum bangun?” tanya Arman dari luar kamar.


“Arman? Kenapa dia mengetuk pintu jam ... segini?” Mata Alexa terbuka lebar saat melihat jam yang menunjukan pukul empat pagi lewat sepuluh menit.


Alexa melihat tubuhnya yang hanya memakai pakaian tidur. Menatap pantulan dirinya pada cermin dengan rambut yang acak-acakan dan make up yang tidak sepenuhnya terhapus. Alexa langsung menyilangkan tangannya pada dadanya dengan perasaan yang sedikit takut.

__ADS_1


“Ya ampun, bagaimana ini? Tapi, aku belum siap,” ucap Alexa. Sebagai seorang istri sebenarnya ia sudah siap melayani Arman hanya saja Alexa masih sering teringat akan VJ dan menjadi canggung untuk melakukan itu sekarang.


“Alexa ... apa kau tidur lagi?” tanya Arman lagi yang sudah menunggu cukup lama di luar sana.


Alexa semakin gugup dan mulai ketakutan dengan pikirannya sendiri. Arman kembali mengetuk pintu kamar Alexa dengan memanggil namanya. Alexa pun terburu mendekati pintu kamar dengan mengambil selimut dan menutupi tubuhnya.


“Arman ... apa yang membawamu pagi-pagi ke kamarku?” tanya Alexa dengan sangat canggung. Arman bisa melihat betapa pucatnya Alexa dan terlihat tidak nyaman.


“Kau ... tidak tidur?” tanya Arman heran.


“Aku tidur, dan baru bangun,” jawab Alexa gugup.


“Lalu, kenapa kau membalut tubuhmu dengan selimut? Apa kau tidak tahu jam berapa sekarang?”


“Apa ... kau mau melihat tubuhku tanpa selimut?” tanya Alexa semakin panik.


“Apa? Kau masih tidur ya, kenapa bicaranya ngelantur? Sebentar lagi waktu subuh tiba. Siap-siaplah. Kita harus solat berjamaah di mushola lantai pertama,” jelas Arman dan membuat Alexa semakin salah tingkah karena telah salah berprasangka.


“Ahh apa yang sedang aku pikirkan?” gumam Alexa tersipu betapa kotornya pikirannya di pagi hari.


Alexa pun langsung ke toilet untuk bersih-bersih lalu mengambil air wudhu. Ia pun memakai pakaian sopan dan mengambil mukenanya. Lalu keluar dari kamar dan menyusul Arman yang sudah menungguinya sejak tadi.


Arman tersenyum kecil karena tau, betapa canggungnya Alexa yang entah mengapa sangat salah tingkah saat dirinya menghampiri di pagi hari. Keduanya pun berjalan ke arah mushola di lantai pertama dengan berjalan beriringan.


Beberapa saat kemudian, keduanya pun sudah selesai solat subuh dan kembali ke kamar masing-masing.


“Alexa, jangan lupa untuk sarapan jam enam pagi. Aku tunggu di bawah yaa,” ucap Arman dan berjalan ke arah kamarnya.

__ADS_1


Alexa masih terdiam di tempatnya dengan menatap punggung lebar Arman. Diam-diam Alexa sebenarnya kagum akan sikap dari Arman yang memang layak disebut Imam dalam rumah tangga tersebut. Tetapi tak bisa dipungkirinya juga untuk membuka hati kepada pria lain Alexa juga masih merasa enggan. Namun, sepertinya Arman pun mengerti akan dirinya perihal ini.


“Tidak masuk? Apa ada yang mau kau katakan padaku?” tanya Arman yang tiba-tiba saja menoleh. Jelas hal itu membuat Alexa terkejut.


“Ah tidak, masuklah. Aku akan turun tepat jam enam pagi,” ucap Alexa.


“Oke,” ucap Arman dan masuk ke dalam kamarnya.


Mereka pun menghabiskan waktu tersisa untuk mandi dan bersiap-siap untuk sarapan dan langsung berangkat ke desa yang mereka akan datangi.


Di kamarnya, Arman tersenyum sendiri saat mengingat Alexa yang terus saja terlihat gugup saat sedang bersama dengannya. Arman tidak mengerti dengan apa yang Alexa rasakan. Terlebih mimpinya yang terasa nyata pagi tadi.


“Ah ... apa yang aku pikirkan. Bukan, belum saatnya memikirkan masalah ini. Aku tau, jika orang-orang sedang meremehkan aku yang bukan siapa-siapa tapi berani menerima perusahaan VJ. Bahkan sampai menikahi istrinya. Aku harus membuktikan jika aku adalah orang yang layak.”


Arman pun membenahi pikirannya dan fokus pada pekerjaannya. Ia kembali mempelajari apa saja yang harus ia lakukan saat ini. Hingga waktu pun menunjukkan pukul enam pagi. Arman pun langsung menutup laptopnya dan bergegas keluar kamar.


Tepat saat itu Alexa sudah ada di depan kamarnya dan hendak mengetuk pintu.


“Alexa, kau sudah siap?” tanya Arman menatap Alexa yang kembali gugup.


“Sudah, aku pikir kau belum keluar dari kamar,” ucap Alexa malu-malu.


“Aku baru saja akan ke bawah. Yuk,” ajak Arman dan berjalan beriringan degan Alexa menuju tempat sarapan.


Jo sudah menunggu kedatangan keduanya dan sudah menyiapkan sarapan untuk mereka. Setelah selesai sarapan. Mereka pun langsung bergegas menuju desa yang mereka tuju.


Sementara itu, Harun sudah berada di desa sejak pagi-pagi sekali. Ia mengumpulkan para penduduk desa yang memang sudah beraktifitas sejak sebelum subuh. Harun pun memulai mempengaruhi para penduduk desa akan apa yang disampaikan oleh Damar terhadapnya.

__ADS_1


Awalnya semua tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Harun, namun lambat laun mereka semua mulai terpengaruh terlebih saat Harun menjelaskan tempat tinggal yang akan mereka tempati jauh dari kota dan sangat buruk.


“Jika kalian menyetujui pembangunan, dan menerima tempat tinggal yang mereka tawarkan. Kalian akan tinggal jauh lebih buruk dari pada di sini. Tak ada sinar matahari yang masuk ke dalam rumah kalian,” jelas Harun dengan sangat meyakinkan.


__ADS_2