CEO Dadakan Dari Desa

CEO Dadakan Dari Desa
Bab 21 - Weekend


__ADS_3

Sejujurnya, Alexa dan Arman semakin hari semakin merasa nyaman dan canggung satu sama lain. Alexa mulai terbiasa bertemu dan melihat Arman baik di rumah, mau pun saat di kantor. Meski pun keduanya, belum pernah sekali pun bersikap seperti layaknya pasangan suami istri. Batasan yang tak hanya dilakukan oleh Alexa, tapi juga Arman yang tau diri.


Keduanya mulai merasa terbebani dengan status mereka yang sudah resmi sah menjadi suami istri. Terlebih Alexa yang menyadari kodratnya sebagai seorang istri yang mempunyai kewajiban untuk melayani Arman, tak hanya keperluan saat hendak pergi bekerja. Atau saat perut Arman sudah bunyi kelaparan.


Namun, juga dalam urusan kamar. Sayangnya, keduanya masih tidur dengan kamar yang terpisah. Seperti saat keduanya pergi ke luar kota beberapa minggu yang lalu. Bahkan Alexa masih canggung jika tidak sengaja harus berpas-pasan dengan Arman tepat di kamar dirinya atau pun kamar yang di tempati oleh Arman.


Bahkan sejak adegan pergi dinas ke luar kota dan tinggal di kamar penginapan yang berbeda itu Alexa juga jadi semakin canggung terhadap Arman di rumah. Tetapi Alexa juga tetap mawas diri dan mengingatkan dirinya bahwa hal ini tidak baik karena bagaimanapun mereka adalah pasangan yang sah.


Dan membuat Alexa mengatur strategi untuk memulai pendekatan dengan Arman sekali pun itu adalah yang sangat sulit untuk dilakukan. Dan sepertinya, rencananya akan mulai berjalan saat asisten rumah tangga mereka izin untuk pulang kampung karena ibunya sakit. Kebetulan hari itu adalah weekend dan mereka harus Stay di rumah saja karena tidak ada kegiatan kantor.


“Harus hari ini yaa?” tanya Alexa merasa berat.


“Iya bu, maafkan saya karena saya takut jika saya tidak pulang sekarang. Saya tidak akan melihat wajah ibu saya lagi.”


“Tapi ini weekend,” gumam Alexa berat hati.


“Apa Bu?”


“Tidak, baiklah. Pulang naik taksi saja biar cepat sampainya. Aku akan memesankan taksi untukmu,” ucap Alexa dan mengambil ponselnya.


“Jangan Bu, saya naik bis saja dari sini.”


“Kalau begitu kapan sampainya? Tenang saja, dan ini untuk bekal kamu selama di kampung. Titip salam untuk ibu kamu yaa, semoga cepat sembuh,” ucap Alexa memberikan beberapa lembar uang untuk bekal asisten rumah tangganya.


Pagi itu, begitu merepotkan bagi Alexa. Karena ia harus menyiapkan sarapan karena asisten rumah tangga mereka yang tidak sempat membuatkan sarapan atau pun membereskan rumah.

__ADS_1


Alexa sedang berada di dapur dan mulai membuka kulkas. Ia melihat isi kulkas dan melihat banyak sekali bahan makanan. Sayangnya Alexa sama sekali tidak tahu caranya memasak dan asal mengambil bahan.


Alexa mencoba membuat pancake ala sarapan Eropa. Dengan melihat buku menu, Alexa pun mulai berperang dengan tepung dan telur. Hingga setengah jam kemudian, adonan yang sangat encer tersaji di atas teflon panas dan membuat pancake itu langsung hangus.


Alexa hampir menyerah, ia pun membuat adonan kedua yang lebih kental. Satu pancake pun berhasil ia buat meski pun warnanya tidak terlalu gosong. Alexa tersenyum puas dengan hasil masakannya.


Wajahnya yang penuh dengan noda tepung langsung beralih pada mesin cuci. Alexa pun mencuci semua pakaiannya dan juga milik Arman. Ia sedikit canggung karena harus mencuci pakaian pria lain selain VJ. Tapi lagi-lagi Alexa mencoba mengalihkan pikirannya dan langsung memasukka semua pakaian kotor itu pada mesin cuci.


Arman baru saja bangun dari tidurnya. Ia bergadang semalaman mengerjakan proposal proyek baru. Dan melihat kondisi dapur yang sangat berantakan membuatnya sedikit terkejut. Tak lama Alexa datang dengan panik.


“Ah kau sudah bangun? Apa suara mesin cuci membangunkanmu?” tanya Alexa yang rupanya mesin cucinya berisik karena kepenuhan muatan.


Arman menatapnya dengan bingung karena tidak biasanya Alexa melakukan pekerjaan rumah.


“Bibi pulang kampung pagi-pagi sekali, ibunya sakit jadi aku tidak bisa menahannya. Dan aku akan mulai melakukan pekerjaan rumah. Kau ... santai saja. Apa sudah lapar? Aku baru saja membuat pancake,” ucap Alexa dan pergi ke dapur.


Arman yang melihat Alexa kesulitan pun berjalan mendekat dan tanpa mengatakan apa-apa, Arman langsung mengambilkan piring itu dengan berdiri di belakang Alexa.


Alexa cukup terkejut karena bisa merasaka tubuh Arman yang menempel pada punggungnya.


“Apa piring yang ini?” tanya Arman dan terkejut saat Alexa berbalik dan membuat keduanya saling menatap dengan jarak yang begitu dekat.


Jelas degup jantung keduanya terdengar sangat kencang. Wajah mereka pun memerah karena kedekatan keduanya yang tidak di sengaja. Arman yang pertama kali sadar dan langsung mundur selangkah.


“Aku mau mandi dulu,” ucap Arman dan berlalu ke kamarnya setelah menaruh piring tersebut di atas meja.

__ADS_1


Alexa memegang dadanya yang berdetak seperti akan meledak. Ia pun mencoba untuk menenangkan pikirannya dan mulai meyiapkan sarapan mereka.


Beberapa saat kemudian, Arman dan Alexa pun sudah berada di ruang makan. Keduanya terlihat sangat canggung. Arman pun menatap heran pada pancake yang aneh bentuknya. Bahkan ada yang gosong dan juga belum matang. Perlahan Arman mencicipi pancake itu. Namun, wajahnya biasa saja dan menghabiskan pancake itu dengan cepat.


“Apa enak?” tanya Alexa penasaran.


“Enak kok, terimakasih atas makanannya. Aku sudah selesai, biar aku yang mencuci piring. Kau habiskan makanmu saja dulu,” ucap Arman dan membawa piringnya ke dapur.


Alexa yang bingung dan tidak percaya pun mencicipi pancake buatannya.


“Huek gak enak. Aku akan pesen makan saja buat siang,” ucap Alexa heran sendiri.


Sepanjang hari Arman hanya ada di kamarnya. Ia masih sibuk sekali meski pun itu adalah akhir pekan. Sementara Alexa memiliki waktu yang cukup senggang dan menghabiskan waktu dengan beberes rumah.


Selesai beberes dan cuci piring, Alexa hendak menaruh kembali piring ke atas lemari. Namun, dirinya yang tidak sampai kembali kesulitan. Tepat saat Arman keluar untuk membawakan piring kotornya setelah makan siang tadi dan lupa menaruhnya saat hari sudah mulai malam.


“Apa kau butuh bantuan?” tanya Arman dan berjalan mendekat.


“Tidak perlu, aku bisa sendiri,” tolak Alexa dan terus berjinjit. Arman pun tidak mempermasalahkan dan menaruh bekas piringnya.


Sialnya, Alexa yang berhasil menaruh piring itu tergelincir dan hampir saja terjatuh. Arman pun dengan sigap langsung menangkap tubuh Alexa dan membuat keduanya kembali dekat dengan jantung yang terus berdegup tak karuan.


Arman dan Alexa membelalakan mata mereka. Napas mereka pun mulai semakin cepat. Kini Alexa yang tersadar lebih dahulu dan langsung mendorong tubuh Arman. Keduanya pun kembali canggung.


“Makan malam, sebaiknya kita di luar saja. Aku akan siap-siap,” ucap Alexa dan pergi terlebih dahulu. Ia sangat malu dengan makanannya dan memilih makan di luar saja.

__ADS_1


Arman pun mengembangkan senyumannya melihat betapa gugupnya Alexa dan membuatnya merasa gemas.


__ADS_2