CEO Dadakan Dari Desa

CEO Dadakan Dari Desa
Bab 6


__ADS_3

"Sayaaang ... kumohon berhentilah meratapi hal-hal yang menyedihkan. Kita semua tidak mau hal itu terjadi, kan?" rengek Elexa, yang kesusahan mengatasi isakan tangisnya.


Hidungnya memerah, air matanya terus saja berurai, seolah tak mau berhenti, Alexa melihat ke arah VJ, berharap jika kata-kata itu tidak keluar dari mulutnya saat ini.


Bagaimana bisa dia memintanya untuk menikah dengan orang yang tidak dia kenal untuk menggantikan posisinya. Padahal dia sungguh sangat tahu akan perasaan Alexa dan tak akan pernah ada orang lain yang mampu menggantikan posisinya.


Digenggamnya dengan erat telapak tangan suaminya itu. Namun, tiba-tiba mesin rekam detak jantung di ruangan itu berbunyi dengan ritme yang sangat cepat. "Lhoo ... ya ampun, maafkan aku, Sayang ...," panik Alexa yang langsung sadar bahwa keadaan suaminya itu tiba-tiba memburuk. Dia semakin menangis.


Perempuan itu segera menekan tombol pemanggil tim medis dengan tangannya yang bergetar melihat kondisi suaminya. Beberapa saat kemudian, berbondong-bondonglah tim medis datang untuk memeriksa VJ.


Alexa, Arman, Pak Hari, dan penghulu itu langsung diminta untuk meninggalkan ruangan.


"Maaf, silahkan tunggu di.luar untuk memudahkan tim medis melakukan pekerjaannya," ucap suster.


Mereka semua keluar, diluar Alexa duduk di lantai dengan menekuk kedua kakinya, Alexa menangis sejadi-jadinya.


"Huhuhu ... Ya Tuhan ... apa yang bisa kulakukan? Mimpi buruk ini rasanya tidak berkesudahan," ucapnya dalam hati. Perempuan itu merasa separuh jiwanya hilang, ketika suaminya dengan lantang memintanya untuk menikah lagi.


"Tidak ... aku benar-benar tidak mau menyerahkan cintaku ini," batin Alexa lagi. Dia menghapus air matanya, sesaat ketika dokter membuka pintu.


"Bu Alexa ...," sapa dokter yang bernama Andre tersebut.


"Tidaaaak ...," bantah Alexa. Dia sudah paham betul bagaimana perangai dokter itu ketika selesai melakukan tindakan pada suaminya, tapi saat itu air mukanya keruh, membuat Alexa langsung paham apa yang akan terjadi. Alexa pun berubah menjadi sedih air matanya menetes kembali.


"Maaf, tenanglah. Ini memang sudah digaris takdirkan begini, Bu. Saya harap apapun yang akan keluarga Ibu alami saat ini, tidak membuat Ibu menyerah akan hidup, begitu saja. Silahkan Anda masuk, Pak VJ menantikan Anda. Saya pamit dulu ke pasien lainnya." Kata-kata Dokter Andre ini tidak sepenuhnya dicerna oleh Alexa. Mata wanita itu menatap hampa pada dokter sekaligus temannya itu.


Alexa langsung menghambur ke dalam ruangan. Tampak VJ membuka kelopak matanya perlahan. "Sayang ... aku mencintaimu ... sssh ... dengarkan aku dulu," lirih VJ dengan tatapan memohon.


Segala kata-kata yang ingin dimuntahkan bibir Alexa itu dikulumnya lagi. Dia tidak ingin egois dengan perasaan sedihnya, sebab terlihat di depan mata kepalanya, suaminya itu sedang berjuang antara hidup dan mati. Alexa hanya mengangguk saja sambil menggenggam sebelah telapak tangan VJ.


"Alexa, sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu, walaupun aku tak mampu lagi berada di sisimu, karena rasa sayangku inilah, aku menginginkanmu sekaligus memintamu untuk menikah dengan Arman."


Alexa menggeleng-gelengkan kepalanya wanita itu tak mampu berkata apa-apa lagi hanya isak tangis yang terdengar, dan cucuran air mata wanita itu.


"Dengarkan aku, ini demi kebaikanmu sayang, Arman akan bisa menjagamu, aku sangat yakin itu, dia pemuda yang baik, dan jujur. Kelak rasa sayangnya akan melindungi mu, menjagamu, bahkan mungkin akan melebihi rasa sayangku padamu, hingga kau akan lupa padaku."


"Tidak VJ, jangan katakan itu, kau tak akan pernah tergantikan," ucap Alexa sambil terus menggelengkan kepalanya wanita itu tidak terima jika suaminya mengatakan hal seperti itu.


"Iya Alexa kau benar, tidak akan ada yang bisa menggantikan posisiku. Sekalipun aku tiada dan tak mampu menjagamu lagi. aku akan tetap bersamamu di sini, di hatimu." VJ tersenyum meletakkan tangannya di atas dada Alexa.


VJ menarik napasnya begitu dalam, "apa kau menyayangiku Alexa, jika iya, maka aku mohon menikahlah dengan Arman, lalu, dengan penghulu dan Pak Hari sebagai saksi di sini, menikahlah dengan Arman," pinta VJ yang mengerahkan segala kekuatannya tersebut.


Sebenarnya lelaki itu pun tak rela jika melihat wanita yang dia sayangi menikah dengan orang lain di hadapannya namun dia harus mengikhlaskannya ini semua demi kebaikan Alexa karena rasa sayangnya dia ingin wanita itu tetap bahagia dengan semua peninggalannya.


Air mata Alexa langsung mengucur deras lagi. Dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan bangkit berdiri, membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


Sementara Arman yang dari tadi ikut mendengarkannya hanya terdiam membeku. Rahangnya yang kokoh mengeras, menahan gejolak bantahan yang ingin ia lontarkan.


Namun, VJ menoleh ke arah mereka yang ada di kamarnya itu dan berkata lagi, "Ini adalah permintaan terakhirku ...."


Di saat itu lah, ibarat petir yang menyambar di siang bolong, rasanya Arman juga lemas, menerima wasiat yang seperti itu. Alexa bergerak mundur sampai dia menabrak Arman yang sedang berdiri.


Tak punya pilihan lain dan demi menghormati permintaan terakhir suaminya, Alexa pun setuju dan akan menikah dengan Arman. Arman tak mampu berkata apa-apa lagi, mulutnya seakan kelu dan tidak dapat menggerakkan lidahnya untuk berbicara.


"Baiklah, jika memang itu yang kau inginkan dan bisa membuatmu bahagia. Aku akan melakukannya." Dengan berderai Ir mata, Alexa kemudian mendekati VJ suaminya.


VJ tersenyum ke arah Alexa dia pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah asisten pribadinya yang juga ada di dalam ruangan itu bersama dengan seorang wanita.


VJ menganggukkan kepalanya sebagai kode, ya lelaki itu bernama Joe. Asisten sekaligus tangan kanan VJ, dia yang mengurus dan membantu VJ selama ini, dan dia jugalah yang akan membantu dan mengurus Arman setelah kepergian VJ nanti.


Jo langsung menghampiri Alexa dia menyerahkan Alexa pada wanita yang ada di sampingnya wanita itu langsung mengajak Alexa untuk keluar dari ruangan tersebut ke ruangan yang lain yang sudah dipersiapkan oleh Joe dan dokter Andre sebelumnya.


Beberapa saat kemudian seorang gadis tengah menatap pantulan dirinya didepan cermin. Gaun indah itu melekat dengan sempurna ditubuh rampingnya. Mahkota indah juga tertanam dikepala nya. Dia sangat cantik dengan rambut yang sengaja digerai indah. Beberapa jepit rambut ikut melekat di bagian rambutnya. Anting, gelang dan juga kalung menghiasi bagian tubuhnya. Sehingga membuat kecantikannya begitu terpancar seribu kali lipat.


Namun, anehnya air mata justru berjatuhan dipipi cantiknya hingga membuat bedak-bedak itu terkikis oleh air mata. Semua orang pasti bahagia dihari pernikahannya. Namun tidak dengan Alexa yang masih menatap dirinya dicermin sambil menangis. Dia menangis tertahan dan menggeleng tak percaya jika sebentar lagi dia akan menjadi seorang istri dari pria yang sama sekali tidak dia kenal.


"Ayo sekarang sudah waktunya, kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi," ucap Joe. Lelaki itu kini tengah berdiri di depan pintu dia hendak memanggil Alexa untuk cepat datang ke ruang rawat VJ.


"Baik". Alexa menyeka air matanya dengan pelan takut jika make up nya luntur.


Alexa keluar dari ruang rias, lebih tepatnya adalah ruangan yang telah disulap menjadi ruang rias untuknya.


Disana dia sudah ditunggu oleh beberapa orang, termasuk dokter Andre dan juga beberapa perawat. Sebelumnya VJ meminta izin pada Andre untuk melakukan sebuah pernikahan di rumah sakit tersebut.


Andre pun tidak mampu menolak keinginan VJ karena dia mengetahui betul bagaimana kondisinya saat ini.


Alexa menghela nafas pelan, ingin rasanya dia kabur tapi dia tidak mau, mungkin dia meninggalkan VJ saat ini.


Dia berjalan menuju ruang rawat VJ. Disana seorang pria tengah berdiri dengan tuxedo mahal yang melekat ditubuh kekarnya.


Wajahnya sangat tampan, itulah pandangan Alexa tentang Arman yang akan menjadi suaminya beberapa saat lagi. Alexa berjalan mendekati VJ.


"Kau sangat cantik sekali sayang, sebenarnya aku tak rela menyerahkanmu padanya tapi aku harus melakukannya, andai umurku lebih panjang lagi."


VJ kemudian menggerakkan tangannya ke arah Jo pun paham lalu kan sebuah berkas kepada VJ, VJ menyodorkan berkas itu ke arah Alexa, dengan berderai air mata, Alexa menandatangi surat cerai yang diulurkan suaminya.


"Kini, kau bukan lagi istriku Alexandria."


Arman hanya mampu melihat apa yang terjadi di hadapannya tanpa dapat berkata-kata lagi.


Pak penghulu pun meminta mereka untuk duduk ruangan itu kini sudah disulap menjadi tempat untuk pernikahan Alexa dan Arman.

__ADS_1


"Pak, lakukan sekarang juga, waktu saya tidak banyak," ucap VJ pada pak penghulu.


Pak penghulu itu selalu berjalan ke sisi sebelah kiri VJ yang kini tengah berbaring di tempat tidur. Sedangkan Joe mengarahkan Arman dan Alexa untuk berada di sebelah kanan VJ.


Pak penghulu itu mengulurkan tangan kanannya diikuti dengan Arman juga mengulurkan tangan kanannya dan menjabat tangan pak penghulu.


"Ikuti ucapan saya, yang sebelumnya sudah saya ajarkan tadi," penghulu itu mengingatkan Arman.


"Saya terima nikah dan kawinnya Alexandria binti VJ dengan mas kawin seperangkat alat sholat, dan seperangkat berlian dibayar tunai." Dengan lantang Arman mengucapkan kalimat sakral di dalam hidupnya.


"Bagaimana saksi, sah?”


Sah ...


Sah ...


Kalimat itu menggema didalam ruangan. VJ meneteskan air matanya ketika kata sah itu terucap dari beberapa orang. Kini Alexa sudah resmi menikah dan menjadi istri Arman.


Alexa mencium punggung tangan Arman begitupun Arman, mengecup kening Alexa. VJ tersenyum melihatnya.


"Sini mendekatkan Alexa," ucap VJ yang semakin lemah kondisinya. Alexa pun mendekat ke arah VJ.


"Berbahagialah, Alexa. Dengan kehidupanmu yang baru, berjanjilah padaku, untuk kau akan selalu menjadi istri yang baik bagi suamimu, belajar dan berusahalah untuk menyayanginya dan menerimanya."


Air mata Alexa semakin turun dengan deras mendengar ucapan VJ padanya dia menggelengkan kepalanya namun sedetik kemudian dia lalu menganggukkan kepalanya dia tak ingin membantah ucapan VJ kali ini dan berusaha untuk menyenangkan hatinya di saat-saat terakhirnya.


DJ tersenyum saat melihat Alexa menganggukkan kepalanya walaupun dengan berderai air mata namun wanita itu mau menurut permintaannya.


"Arman." VJ lalu menolehkan pandangannya ke arah Arman.


Arman langsung mendekat ke arahnya tangan kiri VJ memegang tangan Alexa, sedangkan tangan kanan VJ memegang tangan Arman.


"Arman, aku titip Alexa, jagalah dia, sayangilah dia dan jadilah suami yang baik untuknya berusaha untuk mencintainya Arman aku bisa menjamin jika dia adalah perempuan yang baik untukmu." Dengan sedikit terbata-bata VJ mengucapkannya.


"Aku janji padamu, aku akan menjaganya dan berusaha sebaik mungkin padanya." Hanya itu kata-kata yang mampu Arman ucapkan dia tak tahu lagi harus berucap seperti apa di hadapan VJ ini terlalu mendadak dan terlalu cepat baginya.


VJ kemudian menyatukan tangan Arman dan Alexa. Alexa melihat ke arah tangannya lalu mengarahkan pandangannya ke arah Arman begitupun juga dengan Arman melakukan hal yang sama.


VJ tersenyum kearah keduanya, lalu memejamkan mata.


Mesin di dalam ruangan itu seketika berbunyi menandakan jika VJ telah tiada. Lelaki itu pergi dengan senyum di bibirnya.


"Tidak ... VJ!" Alexa berteriak dia begitu panik ketika mendengar serta melihat ke arah mesin detak jantung VJ sudah tidak ada lagi.


Andre lalu berjalan mendekat ke arah VJ dia menyentuh nadi VJ yang ada di tangannya setelah itu membuka kelopak matanya tak lupa pula tangannya ia arahkan di depan hidung VJ.

__ADS_1


Dokter Andre melihat ke arah Alexa dan menggelengkan kepalanya.


__ADS_2