
Setelah rapat selesai, Arman dan Alexa pun kembali ke ruangan mereka. Saat hendak masuk ke ruangannya, Arman yang mendengar suara adzan terhenti dan menatap pada Alexa yang baru saja duduk pada kursinya.
“Sudah waktunya solat, yuk solat berjamaah di dalam,” ucap Arman dengan santainya.
Namun, Alexa terdiam dan tidak langsung menjawab ajakan Arman itu. Hingga membuat Arman heran.
“Kenapa ... tidak jawab? Apa kau ... sedang halangan?” tanya Arman mencoba berpikir positif.
“Tidak bukan begitu, sejujurnya aku sedikit heran. Karena kita selalu saja solat berjamaah berdua di ruangan kau. Kenapa ... tidak solat di mushola bawah saja? Aku yakin tempatnya lebih nyaman di banding di ruangan yang jadi kecil,” jelas Alexa yang merasa cukup janggal.
“Hmm ... barangkali Alexa justru yang tidak enak dilihat orang jadi aku memutuskan untuk mengajak sholat di ruangannya saja,” jawab Arman sederhana.
Alexa merasa tersentuh sebab Arman ternyata memikirkan perasaannya. Ia tidak menyangka jika Arman begitu perduli dan peka sampai memikirkan hal kecil seperti ini. Hatinya cukup merasa senang akan perlakuan hangat Arman terhadap dirinya.
Tetapi lagi-lagi Alexa harus menepis kuat-kuat perasaan itu dan kembali mengingatkan diri bahwa dirinya tidak boleh terlalu cepat terlarut akan perlakuan baik pria lain padahal suaminya belum lama ini meninggal.
Apa yang akan orang lain pikir kan jika mengetahui tentang dirinya dan Arman. Sudah pasti banyak yang akan menghina dirinya dan menganggap dirinya sebagai wanita yang mudah berpaling.
“Baik, Aku mengerti. Terimakasih karena sudah memikirkan perasaan aku,” ucap Alexa dan akan bersiap-siap untuk melaksanakan solat berjamaah bersama dengan Arman.
Setelah salat berjamaah mereka kembali menjalankan pekerjaan masing-masing. Arman kembali mengkaji data-data tentang progres pembangunan proyek perusahaannya di mana pun. Sementara Alexa membantu membereskan berkas-berkas yang harus segera dilakukan.
Jo datang tidak lama dan menyapa Alexa yang sedang sibuk dengan pekerjaanya.
__ADS_1
“Siang Bu Alexa, apa Pak Arman ada di dalam? Apa ... dia sedang sibuk?” tanya Jo yang menjadi cukup akrab dengan Alexa karena pekerjaan mereka itu.
“Tentu saja, dia akan sangat fokus saat sedang bekerja. Jadi, kau harus mengetuk pintu dengan cukup keras,” jawab Alexa menanggapi candaan Jo.
“Oke, thanks.”
Jo pun mengetuk pintu ruangan Arman dan tak ada sautan dari dalam. Arman terlalu berlarut pada pekerjaannya hingga benar-benar tidak mendengar suara ketukan pintu. Mau tidak mau, Jo pun membuka pintu dengan kencang dan menyadarkan Arman.
“Hai Jo, kapan kau datang? Aku tidak dengar suara ketukan,” sapa Arman dan hanya melirik sekilas pada Jo yang berjalan masuk.
“Aku hanya ingin mengingatkan agar kau bisa menyisihkan waktunya untuk les bahasa Inggris juga seperti yang sudah dijadwalkan Bu Alexa untuk kau,” ucap Jo dan memberikan dokumen yang harus di tanda tangani oleh Arman.
“Ah kau benar, tentu saja aku tidak lupa. Tapi, sepertinya aku tidak bisa datang ke sana. Sebaiknya guru les privat itu yang datang ke sini. Karena waktuku cukup padat sekali,” ucap Arman dan langsung menghubungi Alexa.
“Ya pak.”
“Baik Pak, saya akan langsung menghubungi Bu Inggrid untuk datang ke sini,” ucap Alexa dan langsung menutup teleponnya.
Sejak perusahaan Arman terkenal di seluruh penjuru Indonesia dan mendapatkan proyek juga dari perusahaan Filipina. Arman jadi merasa tertuntut untuk bisa bahasa Inggris dan dia setuju saja ketika Alexa merekomendasikannya untuk les privat.
Beberapa waktu kemudian, Bu Inggrid pun sudah tiba di kantor Arman dan langsung menemui resepsionis.
“Jika boleh tau, dengan siapa?” tanya resepsionis pada Bu Inggrid yang ingin menemui Arman.
__ADS_1
“Ah saya adalah guru les privat bahasa inggris. Inggrid, saya sudah membuat janji dengan Pak Arman,” jawab Bu Inggrid. Dan tepat saat itu Damar sedang ada di lobi dan mendengarkan semua itu.
“Wah apa ini ... bos besar tidak bisa bahasa inggris? Ironis sekali,” gumam Damar yang sangat senang mendengar kabar itu.
Sebuah kabar yang sangat menguntungkan bagi Damar. Diam-diam, Damar yang sangat tidak menyukai Arman pun mulai menyebarkan gosip. Ia menceritakan pada para bawahan Arman jika betapa memalukannya sudah menjadi seorang bos masih harus belajar bahasa Inggris.
Tentu saja, berita itu sangat menghebohkan dan menggemparkan seluruh isi perusahaan. Tak ada satu pun pegawai yang ketinggalan berita itu dan terus membicarakan tentang kelemahan Arman. Hingga berita itu sampai di telinga Arman melalui Jo yang menyampaikannya pada Arman.
“Saya yakin jika semua ini bermula dari Pak Damar yang sangat ingin sekali menjatuhkan anda. Apa yang ingin Pak Arman lakukan pada orang-orang yang sudah membicarakan anda di belakang?” tanya Jo merasa sangat kesal.
“Abaikan saja. Toh itu memang fakta, lagi pula kemampuan bahasa inggrisku sudah banyak peningkatan,” jawab Arman dengan sabar mencegah Jo juga untuk tidak berbuat apapun.
Setelah kepergian Jo, Arman pun kembali merenungkan semua yang telah terjadi beberapa hari ini. Ia berpikir jika dirinya terlalu sibuk pada pekerjaan sehingga lupa melakukan bonding dan pendekatan pada para pegawainya. Hingga Arman pun mendapatkan sebuah ide.
Arman pun mengambil jas dan tasnya lalu keluar dari ruangannya dan mengejutkan Alexa yang belum siap untuk pergi.
“Alexa, maafkan aku tapi sepertinya kita tidak bisa maka siang di luar siang ini. Aku ingin, kau mengajak semua pegawai untuk makan siang perusahaan. Semuanya harus ikut, oke,” ucap Arman dan pergi meninggalkan Alexa yang kebingungan sendiri.
Rupanya Arman pergi untuk membooking sebuah restoran yang tidak jauh dari kantor. Seluruh pegawai pun sudah berada di sana dan sangat gugup karena tidak biasanya mereka melakukan makan siang perusahaan.
Makan siang itu pun terasa cukup canggung dan kurang nyaman. Arman bisa merasakannya sendiri namun berusaha untuk terus berbaur dengan para pegawai lainnya dengan bertanya ini itu.
“Jangan hiraukan saya, tapi kita santai saja. Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan pada kalian semua yang ada di sini. Apakah ada di antara kalia semua yang juga punya keinginan yang sama untuk belajar bahasa Inggris?” tanya Arman dan membuat semuanya merasa bersalah karena sudah ketahuan sudah membicarakan Arman diam-diam.
__ADS_1
“Santai saja, kita menganggap pembicaraan itu obrolan santai saja. Jadi jangan terlalu tegang,” ucap Arman lagi namun masih mendapatkan kesan canggung.
“Lalu bagaimana kalau perusahaan kita juga mengadakan semacam pelatihan agar tidak melulu menargetkan income saja tetapi juga pemberdayaan karyawan?” ucap Arman lagi dan membuat semua kaget dan tidak menduga perkataan Bosnya itu dalam artian positif.