
Aku menatap wajah tua bangka yang terbaring lemas di ranjang rumah sakit, dibantu beberapa alat medis yang terpasang di tubuhnya
Sudah bau tanah - Batinku
Aku mengambil fotonya,
*He is dying*
ketik ku singkat dan mengirimnya ke nomor Ben
Tidak lama Ben membalas dengan emoticon Ok dan hal itu membuatku tertawa geli, Ia bahkan tidak terlihat khawatir. Sungguh keluarga yang lucu.
Setelah ini keluarga "Nya" akan datang maka urusanku sudah selesai, sungguh merepotkan.
Walau aku sangat membencinya tapi hati nurani ku berkata lain, terutama saat melihat Ia yang terbaling dilantai kemarin. Perasaan takut jika kami tidak akan ada kesempatan berdebat seperti dulu lagi. Disisi lain aku melihat wajah Joline yang tertidur pulas, malaikat kecil ku ini pasti kelelahan karena harus ikut bermalam di rumah sakit. Padahal harusnya Ia menikmati liburan yang menyenangkan di sini tapi malah terus mengalami hal tidak menyenangkan seperti ini.
Aku menyelimuti nya dan berjalan ke arah balkon untuk mencari udara segar karena muak dengan bau-bau obatan di rumah sakit. Aku kembali menatap foto yang di kasih tua bangka itu, rasanya sangat asing. Ia sangat cantik, kulit seputih salju, rambut pirang dan mata biru, khas penduduk utara yang kekurangan vitamin D. Aku sangat muak dengan masalah keluarga Chronicles, tidak bisakah Aku hidup seperti ini saja?
Ini sama saja seperti kejadian beberapa tahun lalu. tiba-tiba Ia muncul dan mengaku bahwa dia adalah ayahku dan memintaku bergabung kedalam keluarga "Nya". Setelah semua penderita yang aku alami sekarang Ia ingin aku menerimanya? Bahkan Ia menghalalkan berbagai cara, termasuk melibatkan Joline. Sungguh memuakkan dan menyebalkan.
Sepertinya tidak cukup membuat hidupku kacau, sekarang hanya dengan modal foto ini ia ingin bilang bahwa Ibu yang sudah merawatku dengan susah payah itu adalah orang yang tidak punya hubungan darah denganku? Sepertinya tua bangka itu bisa menjadi sutradara yang sukses jika semua kisah keluarga "Nya" dijadikan serial drama.
Jika seandainya isi surat itu bukan omong kosong maka Ibu pasti sudah mengetahui hal ini. Aku ingin sekali menelepon nya dan menanyakan apakah Ia mengenal wanita di foto, tapi apakah aku siap menerima kenyataannya? Jika benar bahwa wanita dalam ini adalah Ibu kandungku maka Ia sama saja seperti tua bangka itu. Mereka adalah manusia tidak bertanggung jawab yang telah membuangku, aku tidak sudi dan tidak akan pernah mau menganggap mereka adalah orangtua ku. Aku menatap langit yang mendung, apa kelahiranku di dunia ini merupakan sebuah kesalahan? kenapa rasanya tidak ada yang mau menerimaku
"Hei" Suara lembut Joline mengalihkan pikiran ku
"Sejak kapan kamu bangun?" Kataku, Ia terlihat sangat menggemaskan dengan muka yang sedikit bengkak akibat udara yang makin dingin.
"Everything okey?" Pertanyaan Joline membuat aku terdiam, biasanya aku akan menjawab dengan gampang bahwa Aku baik-baik saja tapi jika di depan Joline aku tidak bisa. Karena pemilik mata coklat yang indah ini seolah-olah bisa membaca seluruh isi hatiku hingga aku tidak bisa berbohong sama sekali. Sama seperti sekarang, tanpa menjawab pun Ia sudah mengetahuinya.
__ADS_1
Joline memeluku dan mengusap pelan punggungku,
"Everything gonna be alright" Katanya pelan dan saat itu juga semua ketakutan, keraguan dan beban tadi hilang menguap begitu saja ke udara.
Aku membalas pelukannya dan tersenyum kecil.
"Yeah, everything gonna be alright" kataku pada diriku sendiri, tidak masalah seluruh dunia membuangku asalkan wanita yang berada di pelukanku ini tidak melakukannya maka semua akan baik-baik saja. Karena Ia adalah duniaku.
------------
Cesper mengantarku pulang ke Airbnb dan memintaku berkemas semua barangku untuk dipindahin ke apartemen nya. Cesper saat ini membutuhkan seseorang disampingnya karena itu aku memutuskan menemaninya hingga Ia kembali tenang. Lagi-lagi aku melihat sisi baru Cesper, ternyata Cesper tidak memiliki masa kecil yang bahagia seperti anak pada umumnya, semua itu karena ia yang terlahir tanpa seorang ayah dan saat pindah ke Indonesia Ia juga cukup ter asingkan karena terlihat berbeda dengan orang asia pada umumnya.
Karena itu karakter Cesper secara natural terbentuk menjadi seseorang yang sulit di dekati, Ia terlihat ramah tapi sebenarnya dalam keramahannya terdapat sebuah tembok, tembok kokoh yang membatasi diri dan tidak bisa di lewati siapapun. Setelah melewati masa kalemnya tiba-tiba Pak Chronicles muncul dan mengaku bahwa Ia adalah ayahnya dan Pak Chronicles yang tidak jauh beda seperti orang asing bagi Cesper sedang berusaha melewati tembok itu.
Orang yang selama bisa melewati tembok itu hanya Ibunya tapi kini Cesper dihadapi kenyataan bahwa orang yang selama ini di anggap Ibu itu adalah orang yang asing yang tidak memiliki hubungan darah dengannya. Sekarang Ia pasti sangat terpukul, dengan kata lain Cesper yang sekarang mengalami krisis identitas. Mungkin itu alasannya Ia tidak berani menelepon Ibunya yang di Indonesia untuk minta penjelasan
Kira-kira apa yang bisa kulakukan untuk Cesper agar Ia semangat lagi? Batinku
Tiba-tiba sebuah ide berlian muncul di kepalaku dan aku segera bersiap-siap mengemasi barangku dan menghubungi Cesper
------------
"Kamu sudah siap?" Tanya Cesper dari seberang telepon
"Iya" Jawabku singkat sambil mengecek tidak ada lagi barang yang tertinggal
"10 menit lagi aku sampai" Katanya dan 8 menit kemudian Ia muncul di depan airbnb ku
Setelah memindahkan semua koperku ke bagasi mobil, seperti biasa Cesper memberiku segelas kopi hangat.
__ADS_1
"Jadi sudah tau malam nanti mau makan dimana?" Tanya Cesper seraya memasang sabuk pengamanku
"Apartementmu" Kataku sambil melihat jam yang menunjukan jam 15.20.
"Maksudnya?" Tanya Cesper bingung
"Hari ini Koki Joline yang akan turun tangan" Kataku sambil memamerkan deretan gigiku, Cesper menatapku dengan alis diangkat sebelah
"Jadi sekarang ayok kita ke super market buat belanja" Kataku percaya diri
Akhirnya kami ke super market untuk belanja beberapa sayuran dan bahan mentah, Cesper terlihat bingung tapi Ia nurut saja. Kami pun mulai belanja dan Cesper seperti kamus berjalanku yang membantuku menerjemah kalimat-kalimat asing yang tertera di bahan makanan itu. Kami terlihat seperti sepasang pengantin baru yang melakukan belanja bulanan.
"Sebenarnya apa rencanamu Nona Joline?" Kata Cesper setelah selesai memasukin semua belanjaannya ke bagasi mobil
"Kan sudah aku bilang, hari ini kita makan di apartemenmu saja" Kataku singkat,
"Aku tidak tau kalau kamu bisa masak" Kata Cesper
"Apa sekarang kamu meragukan kemampuan masakku?" Kataku dengan alis terangkat sebelah, hal itu berhasil berhasil membuat Cesper tertawa.
Akhirnya kami melaju menuju kediaman Cesper dan diluar dugaan apartement Cesper sangat besar. Tidak hanya besar tapi sangat besar.
"Sepertinya aku harus pergi sebentar, ada beberapa administrasi yang perlu di urus di rumah sakit. Kamu tidak keberatan ku tinggal sendirian?" Kata Cesper seraya memakai kembali jaket dinginnya
"Iya tidak masalah" Balasku dan akhirnya Cesper pergi lagi
Aku melihat lagi tempat tinggal Cesper yang sangat modern dan minimalis ini, mengingat sangat sulit mendapatkan akomodasi di Stockholm sepertinya Cesper menghabiskan cukup banyak uang untuk tempat tinggal ini. Semua terlihat begitu nyaman tapi entah kenapa terasa kosong, tidak ada kesan "rumah" sama sekali. Workaholic seperti Cesper pasti lebih banyak menghabiskan waktu di kantor dari pada disini.
"Baiklah mari kita mulai" Kataku pada diriku sendiri
__ADS_1