CEO Rambut Emas

CEO Rambut Emas
Niat Tersembunyi


__ADS_3

Setelah hari yang melelahkan akhirnya aku tiba di rumah tercintaku, seperti yang di alami karyawan mana pun yang menyelesaikan tugas menumpuk setelah pulang dari liburan. Aku melakukan pijitan pada mataku yang lelah karena seharian menatapi layar komputer, aku mengirimkan pesan pada Cesper untuk update kabar dan sekarang aku memutuskan mandi untuk menghilangkan lelah.


Saat mandi aku mengingat gosip yang terbaru yang dibahas pagi ini, kondisi CC Group sekarang bisa dibilang kurang bagus. Dimulai dari dampak Covid-19 yang membuat jalur export import terganggu, turunnya harga produk dipasaran hingga munculnya pesaing baru yang menawarkan benefit yang jauh lebih mengiurkan. Di saat seperti ini Pak Chronicles yang merupakan pemegang saham terbesar malah jatuh sakit dan masih belum ada penggantinya.


Pak Chronicle terkenal dengan kemampuan memimpin yang bagus sehingga sebelum adanya berita beliau jatuh sakit tidak menimbulkan efek yang signifikan. Namun, kini CC Group yang dalam kondisi krisis malah kehilangan seorang pemimpin, hal itu membuat para pemegang saham CC Group mulai khawatir, apakah CC Group mampu melewati badai kali ini?


Apakah Cesper tau hal ini? Ternyata salah satu alasan Pak Chronicle begitu gencar mempersiapkan penggantinya adalah karena kesehatannya yang sudah jauh dari kata produktif. Aku tau Cesper terlihat tidak acuh tapi jauh dari lubuk hatinya Ia mencemaskan kesehatan ayahnya. Apa yang terjadi jika Cesper meninggalkan CC Group disaat seperti ini? Apakah benar tidak apa-apa?


Setelah selesai mandi aku keluar dari kamar dengan kondisi hanya berbalut handuk, karena tinggal sendiri aku jadi memiliki kebiasaan ganti baju diluar kamar mandi.


"Hei!"


"Kyaaaaa!" Aku terloncat kaget karena mendapatkan ada suara orang lain dirumahku


"Hahahahaha" Nita tertawa hingga terduduk di lantai


Masih dengan jantung yang berdebar aku menatap gerem ke arah Nita


"Sumpah lo harus lihat ekspresimu tadi" Kata Nita masih dengan posisi terduduk dilantai


"Seperti katak ke jepit resleting" Aku bertolak pinggang melihatnya yang terbaling dilantai


"Seharusnya aku tidak pernah kasih tau PIN rumahku" Kataku kesel sambil berjalan menglangkahi Nita kearah dapur untuk minum air.


Jantungku seperti berhenti berdetak sejenak karena cukup trauma dengan kejadian penculikan di Stockholm beberapa hari lalu. Aku memang ada janji bertemu Nita hari ini, ada banyak sekali pertanyaan yang mau ku tanyakan ke Nita termasuk gosip terakhir itu begitu juga Nita yang ingin mengetahui cerita yang terjadi antara aku dan Cesper selama kami di Stockholm,


Kami duduk nyaman di sofa sambil melakukan perawatan, selama di Stockholm kulitku menjadi sangat kering. Muka ku yang sudah boros ini menjadi semakin kelihatan tua jika tidak melakukan perawatan intens seperti ini.


"Jadi kalian sudah jadian?" Kata Nita dengan muka yang bermaskeran timun

__ADS_1


"Iya" Kataku dengan sedikit malu


"Pantas saja segala sesuatu tentang Cesper begitu misterius" Komentar Nita masih takjud


Selama aku cerita Nita terus menerus memperlihatkan wajah kaget, Ia berkomentar bahwa kisah cintaku yang memiliki banyak plot twist dan berakhir happy ending.


"Tapi ada yang aneh dari ceritamu"Komentar Nita


"Bagian yang mana?" Kataku penasaran


"Soal Ben" Jawaban Nita membuatku terdiam sesaat


"Kamu yakin itu kebetulan? Aku rasa Ia mendekatimu dengan niat tersembunyi" Firasatku menjadi tidak enak karena Nita memiliki pendapat yang sama dengan Cesper


"Kira-kira apa niat baik atau buruk?" Kataku ragu


"Aku tidak yakin" Lanjut Nita


"Coba ingat-ingat, apakah kalian tidak pernah bertemu sebelumnya?" Lanjut Nita


"Iya, aku yakin pertemuan pertama kami itu di night club itu"


Bahas soal Ben aku jadi ingat Jasnya, aku buru-buru jalan ke arah lemari dan mengambil Jasnya. Aku lupa total soal mengembalikan jas ini. Sebaiknya segera ku kembalikan dan akhiri semua hal yang ada hubungan dengannya, mau itu niat baik atau buruk yang jelas Cesper sudah memintaku menjauhinya maka sebaiknya aku tuntaskan saja semua yang berhubungan dengannya.


Aku pun mengirim pesan pada Ben dan menanyakan alamat untuk aku kirim jas ini.


Tidak lama setelah aku mengirim pesan ke nomor yang tertera di kartu nama itu, ponselku langsung menerima panggilan masuk


Aku sedikit shock dan Nita menatap kearahku penasaran siapa yang menelepon malam-malam begini

__ADS_1


"Dari Ben" Kataku dan hal itu berhasil membuat Nita bangun dari sofa dan langsung berjalan kearahku


Aku menatap nya geram karena Ia menjatuhkan timun yang barusan di mukanya ke sofaku


"loudspeaker" katanya seraya menunjuk poonsel ku


Aku memutarkan bola mata dan mengikuti perintahnya


"Halo?" Kata ku


"Hei, Joline" Suara Ben terdengar dari seberang telepon


"Aku pikir Anda tidak ada niat mengembalikannya lagi" lanjut Ben


"Mohon maaf, ada sedikit kejadian, akan segera saya kirimkan jadi bisa infokan alamatmu?" Kataku dengan sedikit nada bersalah


Ben terdiam beberapa detik sebelum menjawab


"Saya tidak bisa memberitahu alamat tinggal, bagaimana kalau kita ketemuan saja?" Jawab Ben berhasil membuat aku dan Nita saling bertatapan


Alasan konyol seperti apa itu? Aku dan Nita pun melakukan bisik-bisikan untuk berdiskusi


"Halo? Anda masih disana?" Tanya Ben karena Ben menunggu cukup lama balasanku


"Ba.. Baiklah" Jawabku dengan ragu


"Oke, akan ku kirimkan tempat ketemuan kita" Akhir Ben


"Lihat? Ia punya maksud tersembunyi, modusnya terlihat jelas" Komen Nita begitu telepon kami terputus

__ADS_1


Aku memutarkan bola mata dan menganggap reaksi Nita berlebihan. Aku hanya perlu mengembalikan jasnya dan pulang, tidak ada yang perlu diwaspadai. Hanya saja memang terdengar sedikit aneh alasan Ia tidak bisa memberitahu alamat tinggalnya tapi itu bukan urusanku.


Awalnya aku berniat memberitahu hal ini kepada Cesper, tapi mengingat reaksi Cesper yang pasti tidak akan suka jika aku harus bertemu dengan Ben. Akhirnya ku putuskan untuk tidak info ke Cespe, lagian aku hanya mengembalikan jasnya.


__ADS_2