
Aku melihat sekeliling untuk memastikan semua pesanan kami sudah datang, semua bersenang-senang baik dengan makanan maupun rekan kerja lainnya, ini lah yang kita butuhkan setelah peperangan dua bulan penuh. Aku tersenyum kecil melihat tingkah mereka, walaupun tim kami hanya 15 orang tapi mereka adalah orang pilihan, orang yang menghabiskan waktuku lebih banyak dibanding dengan keluargaku sendiri, mereka lah hal terberat yang harus ku tinggalkan dalam kota ini, aku pasti akan sangat merindukan tim ini.
Di ikuti dengan pengembangan perusahaan, manajemen dan petinggi perusahaan mulai mengembangkan usaha sektor yang lebih menantang. Aku masih tidak bisa percaya diberi kesempatan untuk memimpin satu perusahaan baru yang baru di akuisisi oleh group CC awal tahun kemarin, tentu saja ini bisa dilihat sebagai kesempatan maupun tantang bagiku. Saat surat perintah dari petinggi turun banyak manager yang menolak, alasan mereka cukup bervariasi tapi mayoritas karena alasan keluarga dan sudah nyaman dengan zona kerja mereka sehingga banyak yang tidak berani mengambil resiko ini.
Berbeda dengan yang lain, yang aku lihat justru ini bisa menjadikan batu pijakan dalam karirku. Walaupun menjadi manager termudah sudah cukup menjamin karirku tapi jika ada kesempatan yang lebih bagus kenapa tidak? Selama masih ada kesempatan maka aku akan berjuang, tidak ada yang tau batas dari diri kita kalau tidak dicoba.
Renungan ku buyar saat melihat sosok Cesper. Sosok yang kuhindari sekaligus ku rindukan. Hari ini ia mengenakan kemeja berwarna biru gelap dengan motif garis putih, dua kanci kemeja teratasnya dibiarkan terbuka, lengan kemeja yang dilipat hingga siku memperlihatkan lengannya yang kokoh, ekor kemejanya juga yang sudah keluar dari celana, rambut acak-acaknya menambahkan aura seksinya. Ku yakin hampir semua wanita di resto ini memiliki pendapat yang sama dengan ku, hanya dalam hitungan detik dia sudah mencuri semua perhatian.
Sepertinya dia langsung mampir kesini begitu selesai dari kantor, Cesper menoleh sana-sini mengabaikan semua tatapan kagum yang tertuju padanya. Saat mata kami bertemu aku baru sadar akulah sosok yang dia cari dari tadi, aku tersenyum kaku padanya, detik selanjutnya dia melangkah mendekat diikuti semua tatapan semua orang mengikuti arah dia melangkah.
Jantungku lagi-lagi berdetak pada kecepatan tidak normal, kenapa dia terlihat begitu tergesah-gesah? Tunggu, bagaimana kalau dia memelukku lagi seperti tempo hari? Pikiran itu melintas begitu saja, memikirkan terseret dalam perhatian yang didapatkan Cesper membuatku makin salah tingkah. Seharusnya kuberitahu budaya menyapa di Indonesia, akan sangat canggung jika kami berpelukan dan dilihat semua orang disini.
Benar saja saat sudah dekat Cesper membuka kedua tangannya, aku dengan tanggap langsung menutup kedua tangannya dengan gerakan jabat tangan.
"Welcome Mr Cesper!" Kataku buru-buru untuk membuat jabatan tangan ini terlihat natural
Terlihat raut muka kecewa dari Cesper, saat aku hendak melepaskan jabat tangan kami Cesper mengeratkan genggaman sehingga pandanganku kembali ke wajahnya dan seperti terkunci oleh kedua bola matanya aku tidak bisa bergerak.
"I miss you Miss Joline" Katanya parau, aku hanya tersenyum karena bingung harus memberikan reaksi apa.
"Mohon maaf baru bisa mentraktirmu sekarang" Kataku untuk mencairkan suasana
__ADS_1
"Ini bukan soal makanan, saya bilang i miss you Miss Joline" Ulang Cesper menekan pada bagian namaku. Hal itu berhasil membuat pipiku merona
"i gonna miss you too" Jawabku singkat
"What do you mean gonna?" Aku buru-buru menceritakan soal rotasiku untuk mengakhiri kecanggungan ini.
"Rotasi?" Ulang Cesper terlihat kaget dan aku bisa merasakan ia melonggarkan genggamanya, kesempatanku untuk melepaskan jabatan tangan kami.
"Iya, project disini sudah selesai. Saya akan dipindahkan ke Cabang kota XXX yang butuh banyak orang karena ekspansi"
Cesper terdiam beberapa detik dengan ekspresi yang sulit dibaca,
"Jadi ini merupakan pesta perpisahaanmu?"
"Pilihan yang tepat untuk menunda pengumuman itu Miss Joline" Kata Cesper penuh makna
"Yah, walau aku tidak suka menunda tapi kalau menundanya hingga beberapa jam saja tidak masalah" Kataku dengan senyuman senang karena telah keluar dari rasa canggung tadi
"Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi dimasa depan dan semua memiliki kemungkinan berubah walau hanya selisih 1 detik" Kata Cesper dengan tatapan dingin
"Cesper!" Aku menoleh ke pemilik suara berat itu, seorang pria berambut pirang dan kulit pucat sedang berdiri menatap kearah kami. Sosok itu terlihat sangat familiar, apakah salah satu karyawan yang pernah ku interview?
__ADS_1
"Sebentar" Kata Cesper dan berjalan kearahnya, meninggalkanku dengan perasaan bingung atas maksud ucapannya.
Mereka terlihat berbincang dan menelepon seseorang, aku masih berusaha berpikir dimana aku pernah melihatnya. Bunyi notif ponsel membuyarkan pikiranku
Aku melihat pesan masuk dari Pak Fendi
"Joline saya baru dapat konfirmasi bahwa project baru di kota XXX ditunda hingga waktu yang belum ditentukan, oleh karena itu soal rotasimu juga akan ditunda. Berhubungan project disini juga sudah selesai kamu sementara dipindahkan ke team HR Business Partners.
Untuk informasi lebih lanjut akan saya info di meeting besok.
Oh ya, terima kasih dan mohon maaf saya tidak bisa hadir diacara malam ini karena Keluarga Istri saya berkunjung
Best Regard
Fendi"
Aku terdiam dan membacanya berulang-ulang. Kenapa ini semua begitu tiba-tiba, tidak hanya rotasiku yang ditunda tapi juga soal perpindahan ke section lain,
"What wrong Miss Joline?" Seperti biasa Cesper lagi-lagi muncul tanpa suara
"Rotasi saya dibatalkan" jawabku singkat karena masih shock dengan pesan masuk Pak Fendi
__ADS_1
"See? Semua memiliki kemungkinan berubah walau hanya 1 detik" Aku melihat Cesper yang memasang wajah kemenangan dan aku bahkan tidak mengerti kenapa dia terlihat begitu senang.