CEO Rambut Emas

CEO Rambut Emas
Rahasia Ben


__ADS_3

Aku memasuki sebuah restoran yang terletak cukup jauh dari area kantor dan juga restorannya terlihat sepi. Aku mengambil nafas dalam-dalam dan berdoa agar tidak ada hal mengejutkan atau hal yang tidak di inginkan lagi. Mungkin karena terpengaruhi omongan Nita Aku menjadi sedikit was-was dengan apa yang di rencanakan Ben. Hidup ku setelah berhubungan dengan Cesper benar-benar berubah 180 derajat, selalu ada kejutan tak terduga, semoga hal itu tidak terjadi kali ini.


Setelah selesai mengamati sekeliling, aku melangkah masuk kedalam resto, diluar dugaan design interior restorannya terlihat sangat berbeda dari luar, Dibanding resto ini lebih mirip dengan perpustakaan, suasanannya sangat sepi tapi ada banyak sekali buku yang tersusun rapi di sudut-sudut resto. Sekarang Aku jadi mengerti kenapa resto ini begitu terpencil, ternyata memang konsepnya memang untuk mereka yang suka kesunyian. Sepertinya ini akan menjadi tempat favorite untuk mereka yang suka membaca sekaligus menghabiskan waktu me time, Aku jadi merasa bersalah karena sudah mencurigai Ben duluan.


Karena restonya sepi aku bisa langsung melihat Ben yang duduk di salah satu meja, Ia tampaknya tidak sadar kehadiranku. Ben terlihat sangat nyaman dengan buku yang dibacanya yang ditemani segelas kopi hitam, dari sikapnya Aku yakin Ben pelanggan tetap resto ini. Aku berjalan mendekati Ben dan mengetuk kecil mejanya,saking miripnya suasana resto ini dengan perpustakaan membuat Aku tidak enak bersuara.


Ketukan kecilku berhasil mengalihkan pandangan Ben dari bacaanya.


"Hei, maaf Aku tidak sadar Anda sudah disini" Ben terlihat kaget


"Tidak masalah" Aku menjawab singkat seraya duduk di kursi depannya


"Sepertinya Anda sering kesini" Kataku basa-basi


"Ini tempat rahasia ku" Kata Ben sambil tersenyum tipis, dugaan ku benar


"Ini Jas-nya" Kataku seraya mengembalikan jasnya, alasan utama pertemuan hari ini


"Sebenarnya Jas ini hanya alasan ku agar Anda mau menemui saya" Kalimat Ben membuatku terdiam


Aku tidak menjawab dan membiarkan Ben melanjutkan kalimatnya


"Saya butuh bantuan Anda" Lanjut Ben


Sepertinya Ben bukan tipe orang yang suka basa-basi, pesanan ku saja belum datang tapi Ia sudah langsung mengarah ke inti pertemuan hari ini, tiba-tiba aku merasa ter intimidasi karena Ben terlihat jauh lebih serius dibanding biasanya. Well, aku memang lebih suka langsung membahas intinya daripada basa-basi tidak jelas.


"Bujuklah Cesper menjadi CEO CC Group" Kalimat Ben berhasil membuatku memiringkan kepala.


Lagi-lagi topik ini, sebelumnya Bapaknya sekarang Ben. Entah kenapa aku jadi sedikit kesel


"Kenapa harus Saya?" Tanyaku singkat


"Karena kalau Anda yang minta Cesper pasti akan setuju"

__ADS_1


"But why me?"


"Karena Anda bisa"


"Kenapa tidak Anda saja yang jadi CEO?" Kataku yang mulai kehabisan kesabaran


"Karena Saya tidak bisa"


"Why not?"


"Karena Saya menderita Scopophobia*"


"Silakan Teh MANDI-nya (Manis Dingin)" pesanan aku datang di saat yang kurang tepat, mana nama pesanannya konyol begini lagi.


"Silakan di nikmati dulu air MANDI-nya" Kata Ben sambil ketawa kecil


Aku memutar kan bola mata dan memilih meneguk untuk mendinginkan kepala karena sedikit terbawa emosi.


"Apa maksudnya?" Kata ku setelah sedikit tenang


Ben sudah berusaha sangat keras untuk menyembuhkan phobia tersebut dengan berbagai terapi tapi tidak berhasil karena Ia belum bisa berdamai dengan penyebab Scopophobia tersebut, Ben tidak menceritakan detail penyebab Scopophobia nya tapi Ben tidak memberitahu siapapun mengenai gangguan mental yang dialami ini. Karena jika berita mengenai dirinya yang mengalami gangguan mental ini sampai ke telinga media maka akan menimbulkan kehebohan yang akan memperburuk sindrom Scopophobia nya.


"Aku meminta bantuanmu karena sekarang CC Group maupun Ayahku dalam kondisi yang kritis" Jelas Ben


"Jika begini terus Aku khawatir CC Group tidak akan bertahan"


"Jadi ku mohon bujuk lah Cesper, setidaknya hingga ayahku sadar"


"CC Group butuh seorang pemimpin"


- - -


Lagi-lagi mengalami di lemma, jika aku melakukan apa yang diminta Ben maka Aku harus siap LDR dengan Cesper karena sudah terlanjur tanda tangan kontrak dengan Perusahaan Hero Tech. Apakah kami sanggup melakukan LDR? baru pisah beberapa minggu saja rasanya sangat sulit apalagi hingga berbulan-bulan? Tapi bisa saja Pak Chronicles sadar lebih cepat tapi itu semua tidak ada yang pasti.

__ADS_1


Kepalaku jadi sakit memikirkan semua ini, aku berhenti sejenak dan memejamkan mata dan mengambil udara sebanyak mungkin. Ada pepatah yang mengatakan jangan berjanji saat kita senang dan jangan ambil keputusan saat kita sedang emosi. Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama seperti sebelumnya.


Setelah sedikit tenang aku memutuskan untuk berdiskusi dengan Cesper, ini bukan sesuatu yang bisa kuputuskan sendiri. Karena ini menyangkut hubungan kami berdua maka sebaiknya kami bicarakan empat mata dan mengambil alternatif terbaik. Akhirnya Aku memutuskan untuk hubungi Cesper malam nanti, sekaligus menanyakan kabar terbaru Pak Chronicles.


Setelah itu aku melanjutkan perjalananku, sepanjang perjalanan pikiranku kembali ke memikirkan penyebab Ben menderita Scopophobia. Rasa penasaran sedikit menggangguku, jika di lihat dari bahasa tubuh Ben saat Ia membahas Scopophobia yang dideritanya bisa dibilang cukup parah karena Ia terlihat gelisah dan berkeringat dingin hanya menyebut kata itu saja.


Biasanya phobia seperti itu terjadi karena ada kejadian yangcukup parah dimasa lalu hingga membekas dan menjadi penyakit mental, semoga Ben bisa segera berdamai dengan phobianya.


Triing! Triing!


Suara ponsel ku membuyarkan pikiranku, Aku melihat ponselku dan terlihat nama Ben yang melakukan panggilan masuk.


"Panjang umur" Kataku, baru saja aku memikirkan nya.


"Halo"


"......." Tidak ada jawaban dari Ben


"Halo Ben?" Ulangku,


Aku menunggu beberapa detik dan masih tidak ada jawaban, apakah Ben tidak sengaja menekan panggilan keluar ? Saat aku hendak mengakhiri telepon tiba-tiba terdengar suara Ben yang begitu parau


"He.. help" Jantungku seperti berhenti sejenak karena suara Ben begitu pelan dan lemah


"Ada apa?" Kataku panik, Ben tidak menjawab.dan tidak lama panggilan kami pun terputus


Aku buru-buru menepikan mobilku dan menelepon balik ke Ben tapi tidak diangkat sama sekali. Aku pun memutuskan membanting setir ke arah resto kami bertemu tadi tanpa berhenti menelpon ke nomor Ben.


"Angkat dong" Gerutuku tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan, kenapa sih selalu seperti ini.


Saat mobil ku sudah mencapai simpang terakhir yang menuju ke arah resto, ada kemacetan yang cukup parah. Sepertinya ada kecelakaan lampu lalu lintas dan tiba-tiba perasaan ku tidak enak.


"Oh God! please no" Kataku sambil berlari keluar mobil dan berusaha masuk dalam kerumunan yang ada di depanku, terlihat juga asap hitam yang cukup tebal di depan kerumunan itu.

__ADS_1


Aku terus berdoa semoga ini bukan sesuatu yang aku pikirkan, sayangnya apa yang ku pikirkan sungguh terjadi. Aku melihat Ben terduduk menunduk di atas aspal dengan mobilnya yang menabrak tiang lampu lalu lintas, Aku menutup mulutku dan segera berlari kearahnya.


"BEN!!" Teriak ku


__ADS_2