CEO Rambut Emas

CEO Rambut Emas
Bad Day


__ADS_3

Aku segera berlari menghampiri Ben, Aku memeriksa seluruh badannya yang terlihat bersih tanpa darah maupun luka tapi kenapa Ia sampai gemetar seperti ini?


"Ben? Ben? Kau tidak apa-apa?" Kataku berusaha melihat wajahnya


Ben tidak menjawab, Ia bahkan tidak bergerak dan seluruh badannya begitu tegang. Aku memeriksa raut wajahnya yang terlihat pucat, keringat dingin, tatapan tidak fokus dan mengalami kesulitan bernafas. Kerumunan makin ramai dan beberapa orang menawarkan Setelah sadar aku segera melepaskan blazerku dan menutupi kepala Ben dan berbisik


"Dengarkan aku Ben"


"Semua baik-baik saja"


"sekarang kamu sudah aman"


"Kamu tidak melihat orang-orang sekelilingmu, mereka sudah bubar"


"Sekarang tarik nafas dalam-dalam"


"Semua baik-baik saja"


Setelah beberapa detik terlihat pundak Ben yang bergerak teratur yang menandakan Ia mengikuti arahanku


"Bagus, tarik dan buang nafas pelan-pelan" Kataku berusaha menenangkan Ben


"Apakah kamu bisa berdiri?" Tanyaku setelah Ben cukup tenang, Ben mengangguk tanpa bersuara,


"Oke, sekarang aku akan mengantarmu kedalam mobilku" Kataku dan Aku pun membantu Ben berdiri dan membantunya jalan dan masuk dalam mobil dengan posisi blazer yang masih menutupi kepalanya


Setelah berhasil mengantar Ben kedalam mobilku, aku pun membereskan sisanya dengan bantuan polisi dan jasa asuransi lainnya. Setelah melakukan pengecekan CCTV, ternyata Ben menabrak tiang lampu merah untuk menghindari anak kecil yang tiba-tiba berlari kearah jalanan. Puji Tuhan satu-satunya korban dalam kecelakaan ini hanya mobil Ben. Karena kebiasaan warga +62 yang suka mengumpul tiap ada kejadian membuat Scopophobia Ben kambuh dan untuk pertama kalinya aku melihat langsung serangan panik yang ditimbulkan Scopophobia ini.


---------------------

__ADS_1


"Silakan" Kataku seraya memberikan Burger kepada Ben.


Kami sekarang sedang menikmati makan malam dalam mobilku, makanan cepat saji yang aku pesan via drive thru. Awalnya aku ingin membawa nya makan di restoran tapi karena kondisi Ben masih belum 100% pulih, akhirnya aku memutuskan menghindari tempat umum dulu. Tangan Ben terlihat masih sedikit gemetar saat Ia menerima makanan dari tanganku,


"Maafkan aku dan terima kasih" Suara Ben menyadarkan pikiranku. Ini kalimat pertama yang keluar dari mulutnya setelah kejadian tadi,apakah berkat micin yang ada di makanan cepat saji ini? tentu saja bukan.


"Santai saja, anggap ini balasanku dengan kejadian akhir tahun dulu" Kataku seraya memasukin es krim kedalam mulutku, tidak ada yang lebih baik dari sesuap es krim setelah hari yang panjang. Aku mengecek sebentar pesan maupun panggilan masuk di ponselku dan tentu saja dua nama teratas yang mencari ku adalah Cesper dan Nita. Tanpa ku sadari aku memutarkan bola mata, Mereka seperti anak kehilangan induk karena aku tidak membalas pesan mereka.


Aku segera mengirim pesan singkat ke Cesper bahwa Aku akan menghubungi nya sebentar lagi dan untuk Nita saat aku hendak menelepon nya tiba-tiba pintu kiri mobil aku terbuka dengan keras dan


"Bit*h! Where the hell you been?!" Kalimat pertama Nita membuatku maupun Ben shock


Nita tidak kalah kaget karena melihat sosok Ben yang duduk di kursi penumpang depan mobilku. Nita dan Ben bertatapan cukup lama, mungkin karena sama-sama kaget dan entah kenapa Aku seperti menyaksikan adegan drama dengan efek slow motion dan atmosfer merah muda di sekeliling mereka.


"Halo?" Kataku berhasil memutuskan kontak mata mereka dan akhirnya Nita menatap ke arahku.


Nita menutupi pintu mobil penumpang, Ia memutari mobilku dan membuka pintu mobil pengemudi kemudian menyeretku keluar dari mobil, meninggalkan Ben yang kebingungan dalam mobil.


"Bagaimana penampilan ku sekarang?" Lanjut Nita berhasil membuatku kehilangan selera makan


"Kau sudah punya Cesper so he is mine now" Aku langsung menyumbat mulut Nita dengan eskrim untuk mencegah pembicaraan ini makin tidak jelas


"Jeongsin chalyeo!!" Kataku seraya pura-pura menampar pipinya dan Nita pun ikutan pura-pura ditampar dan kini Ia memegang pipinya dan menundukan kepala


Aku yakin Ben pasti sangat bingung menyaksikan kami berdua dari mobil, kami memang sering melakukan tindakan konyol dan dramatis yang seperti ini hingga membuatnya menjadi kebiasaan.


"Jaga image Nita, ingat Ben adalah anak pertama CEO CC Group" Bisik ku pada Nita dan beberapa kali tersenyum ke arah Ben, berusaha terlihat natural.


"Jadi apa yang terjadi? kenapa kau tidak menjawab telepon maupun pesan ku?" Kata Nita setelah tenang

__ADS_1


"Akan ku ceritakan nanti, bagaimana kau bisa ada disini?" Tanyaku


"Aku khawatir, stress dan memutuskan beli es krim, kemudian aku melihat mobil mu yang masuk jalur drive thru juga" Jelas Nita singkat, padat dan jelas


"Maaf menganggu" Suara Ben berhasil membuat kami berdua kaget.


"Apakah kalian baik-baik saja?" Lanjut Ben membuat ku dan Nita saling bertatapan


"Iya kami baik-baik saja" Kataku cepat sebelum Nita mengatakan sesuatu yang konyol


"Jika boleh tau ini dengan?" Kata Ben dengan sopan mengarah ke Nita


"Nita, salam kenal" Aku hampir muntah melihat perubahan suara Nita yang dibuat-buat, biasanya Ia melakukan ini untuk memikat lawan jenis dan tentu saja tidak pernah gagal. Sepertinya Nita memberi kode yang cukup keras pada Ben bahwa Ia tertarik padanya. Tapi bukan kah ini terlalu beresiko? Bagaimanpun Ben adalah anak dari Bos Nita?


Ben hanya tersenyum tipis seraya menjabat tangan Nita, melihat reaksi Ben yang sekarang sepertinya kondisi Ben sudah membaik. Akhirnya kami bertiga memutuskan pergi ke cafe terdekat untuk sekedar nongkrong bareng, Ben yang meminta hal ini karena Ia ingin berterima kasih atas kejadian hari ini.


Aku pun menceritakan pada Nita bahwa Ben mengalami kecelakaan setelah pertemuan kami tapi aku tidak memberitahu soal Scopophobia karena Ben pernah bilang bahwa Ia ingin merahasiakan itu dari orang lain.


"Astaga? Apakah Anda baik-baik saja?" Reaksi Nita setelah mendengar ceritaku


"Aku baik-baik saja, semua berkat sahabat Anda" Kata Ben dengan sopan, aku hanya tersenyum tipis


"Ku beritahu ya, she's taken jadi jangan jatuh cinta padanya" Kalimat Nita hampir membuat bakso yang ada dalam mulutku keluar


Ben langsung tertawa mendengar peringatan Nita dan Aku menendang kaki Nita memberi kode untuk jaga mulut, Aku meminum jus jeruk untuk membantu menurunkan bakso yang sedikit macet di tenggorokan karena kaget dengan ucapan Nita tapi kalimat Ben malah lebih membuatku kaget


"Tenang saja, i am gay anyway"


Aku berhasil menahan jus jeruk keluar dari mulutku tapi

__ADS_1


Bruuuhhh!!


Jus jeruk ku tetap keluar setelah melihat ekspresi Nita yang seperti orang mati dan parahnya semburan itu mengenai muka Nita, ini pasti hari ter-sial dalam hidup Nita.


__ADS_2