
"Jadi Kamu menyukainya?" Kata Cesper tanpa mengalihkan pemandangannya dari jalan
"Ya, menarik" Kata ku singkat dan tiba-tiba Cesper menginjak rem mobilnya
Aku sangat kaget dan menatap ke arah Cesper
"Ada apa?" Kataku panik dan melihat ke segala sisi jalan
"Jadi kamu suka yang kurus kering seperti itu?" Pertanyaan Cesper berhasil membuatku terdiam,
Aku butuh beberapa detik untuk mencerna maksud pertanyaan Cesper, Cesper melototi ku dengan satu alis terangkat dan tatapan - Are you serious?
Setelah memahami maksudnya aku memutarkan bola mata dan menghelas nafas panjang
"Maksudku pekerjaannya Cesper" Kataku seraya mengangkat kedua tanganku layaknya Khaby Lame
"Oh, Kamu mengangetkanku" Kata Cesper kembali menginjak gas mobilnya
"Itu kalimatku!" Kataku melotot ke arah Cesper, aku mengelus dadaku karena kupikir kami menabrak seseorang atau sejenisnya.
Bagi pembaca mohon jangan dicontoh apa yang di lakukan Cesper sebelumnya, menginjak rem mendadak ditengah jalan raya seperti tadi itu sangat berbahaya. Beruntung dibelakang kami tidak ada kendaraan lain.
"Maaf" Kata Cesper menyesal
Jadi Cesper masih memikirkan Jakop? Padahal Jakop tidak sekurus itu, mungkin benar dibandingkan dengan postur tubuh mayoritas penduduk sini Jakop termasuk kurus. Mungkin ini kah yang dmaksud XL di Asia maka XS di Eropa?
Tapi Jakop memang memiliki wajah yang tampan, kacamata yang mengantung di hidung mancungnya memberi kesan profesional, ditambah brewokannya membuat Ia terlihat sangat berkarisma. Tipikal nerd tapi ada kesan sexy, dia jelas merupakan tipe idaman Nita, seharusnya ku foto dan kirim ke Nita.
Aku jadi tersenyum sendiri mengingat apa reaksi Nita jika tau aku bekerja di perusahaan yang managernya setampan Jakop.
"Apa yang lucu?" Suara Cesper membuatku tersadar dari lamunanku
"Hah?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa" Kataku cepat karena tidak ingin ketahuan memikirkan pria lain saat sedang bersamanya
Cesper melirik kearahku sekilas dan kembali melihat kearah jalan
"Apa aku beli saja ya Hero tech ini?" Gumam Cesper berhasil membuatku memutarkan bola mata
-----------
"Jadi apa Kabar Pak Chronicles?" Tanya ku pada Cesper saat kami tiba di sebuah restoran yang terletak di tepi pelabuhan
Awalnya Cesper mengajaku makan di salah satu kapal yang di pelabuhan tersebut tapi aku menolak karena aku bisa dibilang orang yang mabuk laut jadi akhirnya kami makan di restoran yang dekat dengan pelabuhan.
Kami memilih kursi outdoor karena ingin menikmati pemandangan laut, restoran ini memiliki design yang sangat sederhana. Kursi rotan yang berwarna coklat di padu dengan alas duduk berwarna merah putih kotak-kotak yang sangat menarik perhatian. Tenda warna cream terlihat serasi dengan warna selimut yang di gantung di setiap kursi, kemudian di bawah tenda dihias dengan lampu gantung yang di lilit dan terhubung dengan tenda-tenda lain, membuat suasana jadi sangat ramai dan juga hangat.
Hari ini kami memutuskan mencicipi masakan masakan Turki, aku memesan kebab tapi yang datang entah kenapa seperti Pizza. Ukuran Kebab disini sangat besar, aku mulai mengerti kenapa saat kami makan di rumah makan Padang tempo hari Cesper tidak merasa kaget dengan porsi yang menggunung itu. Ternyata bisa dibilang porsi makanan disini mayoritas seperti itu, aku mulai khawatir bagaimana cara aku menghabiskannya.
"Masih sama" Kata Cesper seraya mengangkat kedua bahunya tidak peduli
"Apakah dari ben tidak ada info apa-apa?" Tanyaku, karena ini sudah beberapa hari sejak kami memberitahu Ben soal kondisi Pak Chronicles
Aku jadi mempertanyakan hubungan Ben dan Cesper, apakah mereka juga tidak akur? bagaimana dengan anggota lain dari Pak Chronicles? Bagaimana mereka memandang Cesper? Masalah keluarga mereka sangat rumit.
Aku jadi memikirkan pertemuanku dengan Ben yang sedikit unik, Ben terkenal sebagai anak pertama CC Group yang pembangkang dan suka main-main tapi setau aku Ia seharusnya tinggal di Singapura juga tapi kenapa saat itu Ia bisa muncul di club malam itu?
Dari pada itu ada pertanyaan yang jauh lebih menggangguku, aku mengigit bibir bawahku dengan ragu dan bertanya pada Cesper
"Apakah kamu sungguh baik-baik saja?"
Cesper terlihat diam sejenak kemudian Ia menatap kearahku dengan kepala miring dan mulutnya yang masih mengunyah makanan, seolah tidak mengerti maksud pertanyaanku. Bagaimana bisa Ia masih terlihat setampan ini bahkan saat sedang makan? Rasanya Pria didepanku ini makan bukan untuk menambah tenaga saja tapi juga menambah ketampanannya.
"Maksudku apakah kamu tidak penasaran?" Kataku setelah berhasil menenangkan debaran jantungku
Mengenai sosok wanita di foto itu, bisa saja Cesper mencari tahu sendiri seperti menelpon Ibunya yang di Indonesia dari pada digantung seperti sekarang. Awalnya Cesper memang terlihat sedih tapi belakangan ini Ia sudah kembali ceria, itu hal bagus tapi sepertinya dia sedikit terlalu santai.
__ADS_1
Jika Aku dalam posisi Cesper, pasti sekarang merasa sangat frustrasi hingga tidak ada selera makan, tapi melihat Cesper yang sekarang membuatku bertanya-tanya sebenarnya apa yang dipikirkannya. Kenapa Ia bisa bersikap seolah semua itu tidak terjadi.
"Awalnya iya aku penasaran, tapi" Jawab Cesper, Ia memberi jeda yang cukup panjang seperti berusaha mencari kata-kata yang tepat
"Sekarang tidak lagi karena semua itu telah berlalu" Kata Cesper sambil tersenyum ke arahku
Aku tidak memberi reaksi apapun karena menunggu Ia menjelaskan maksud kalimatnya
"Apapun cerita tua bangka itu, tidak mengubah fakta bahwa orang yang selama ini telah merawatku adalah Ibuku yang di Indonesia" Kata Cesper
"Terlepas dari hubungan darah atau tidak, bagiku Dia lah Ibuku" Jawab Cesper singkat dan tersenyum menenangkan
Layaknya bunga salju yang mencair karena tersiram hangatnya udara awal musim semi, aku tak kuasa menahan diri untuk memegang wajah Cesper dan mengusap pelan pipinya dengan ibu jariku.
Aku tersenyum pada Cesper karena merasa sangat bangga padanya, Ia yang kini sudah berhasil berdamai dengan kegalauannya. Aku ikut senang melihatnya semakin dewasa.
"Yang terpenting lagi ada kamu disisiku Joline" Kata Cesper seraya mengenggam tanganku yang ada dipipinya
"Selama ada Kamu disisiku maka semua akan baik-baik saja" Kata Cesper dengan mata dipejamkan dan mencium bagian dalam tanganku
"I Love You" Akhir Cesper
Hati ku berdebar sangat kencang, padahal tiga kata itu sering aku dengar dari orang terdekat tapi entah kenapa terdengar beribu bahkan berjuta kali lipat lebih merdu jika dengar dari bibir Cesper.
"I love you too" balasku
Padahal ditengah musim dingin tapi rasanya sehangat musim semi
Padahal ditempat umum yang ramai tapi rasanya seperti hanya ada kami berdua
Padahal suasana restoran yang begitu ribut tapi yang terdengar itu hanya suara detak jantung yang begitu keras
Ternyata seperti ini manisnya jatuh cinta
__ADS_1
Aku berharap waktu bisa berhenti agar kebahagian dan kehangatan ini bisa bertahan sedikit lama.