CEO Rambut Emas

CEO Rambut Emas
Flower


__ADS_3

Akhirnya semua administrasi selesai, sepertinya aku membutuhkan seorang sekretaris. Kenapa rasanya seorang CEO seperti ku harus mengerjakan hal merepotkan ini? Padahal aku ingin sekali melihat malaikat kecilku masak. Aku merasa sangat bersalah karena Joline jadi harus ikutan mengalami hal menyebalkan ini. Seharusnya ini moment kami bermesraan. Baru berpisah beberapa jam saja aku sudah kangen dengan suaranya.


Aku tidak sabar ingin melihat Joline. Aku seperti ter hipnotis sama Wanita mungil dan lucu itu, aku sudah bertemu banyak wanita selama ini tapi Joline sangat berbeda dari semua yang kutemui selama ini. Walau dengan tubuhnya yang mini itu Ia memiliki hati dan ambisi seperti matahari, tidak hanya besar tapi juga hangat dan kadang berapi-api.


Dia adalah wanita yang sangat ambisius dan mandiri, aku jadi teringat dulu saat aku mendekatinya dengan cara tebar pesona. Padahal cara itu tidak pernah gagal saat aku lakukan pada wanita lain tapi ketika ku terapkan untuk memikat Joline hasilnya justru sebaliknya. Ia bukan hanya tidak tertarik bahkan menghindarku, namun saat ku pikat dengan pengetahuan Ia berubah menjadi sosok yang sangat terbuka. Baru pertama kali aku bertemu wanita yang lebih tertarik pada pengetahuanku dibanding fisikku.


Ia bukan tipikal wanita manja yang gila perhatian dan lemah lembut. Uniknya Joline tidak pernah puas untuk meningkatkan nilai dirinya, dia bertumbuh setiap harinya. Hal itu menjadikannya sosok yang tidak gampang goyah dan memiliki pendirian. Lucunya Ia tidak bisa melihat semua kelebihan itu dan masih merasa kurang. Mataku melihat sebuah toko bunga saat menunggu lampu merah. Apakah Ia suka bunga? Akhirnya aku memutuskan mampir ke toko bunga itu dan membeli beberapa tangkai bunga tulip. Entah kenapa aku melihat beberapa kemiripan Joline dengan bunga tulip, warna cerah yang bisa memikat siapapun dan Ia sangat kokoh, semoga Ia menyukai nya.


Akhirnya aku tiba di apartementku, padahal sebelumnya aku tidak pernah merasa se-antusias ini saat pulang ke apartement. Ketika aku menekan PIN masuk rumahku dan begitu pintu terbuka aroma khas masakan Indonesia langsung tercium olehku. Aku sedikit kaget dengan aroma kuat khas masakan Indonesia ini tapi aku menyukainya.


"Kamu sudah pulang?" Suara Joline terdengar dari arah dapur, rasanya sangat asing jika ada yang menyambutku pulang seperti ini.


"Kamu masak masakan Indonesia?" Kataku seraya menggantungkan Jaketku, apa Joline sudah kangen dengan makanan Indonesia? Padahal aku tau beberapa restoran Indo yang enak di sekitar sini, restoran yang akan ku kunjungi ketika kangen dengan masakan Indo. Walaupun rasanya tidak sebanding tapi cukup mengobati rasa kangen.


Tidak lama Joline muncul dengan celemek yang terlihat sedikit kepanjangan, karena perbedaan tinggi badan cukup signifikan. Hal itu membuatnya terlihat sangat mengemaskan. Bukannya menjawab pertanyaanku Joline malah berjalan mendekat, aku sendiri masih salah fokus dengan celemeknya yang di ikat cepol dibagian belakang leher karena kepanjangan. Kenapa semua yang Ia lakukan terasa sangat manis? Aku mengeluarkan ponselku dengan niat memotretnya, sekarang hobby baruku adalah memotret semua tindakan Joline. Tapi belum sempat aku mengeluarkan ponselku, tiba-tiba kedua tangan mungilnya melingkari pinggangku dan memelukku


"Welcome home" Katanya sambil menempelkan wajahnya di dadaku, jantungku berdebar kencang dan hatiku serasa mencair. Seperti kataku sebelumnya, wanita kecil ini memiliki hati yang bisa menghangatkan siapapun. Rasa dingin yang kurasakan sebelumnya langsung hilang bergitu saja. Aku membalas pelukannya dan mencium ujung kepalanya, samar-samar tercium aroma rempah bumbu dari rambutnya dan itu membuat tersenyum kecil. Aku baru tau kalau aroma bawang bisa menjadi seharum ini jika tercium dari badan Joline. Ternyata begini rasanya jika ada yang menunggu kita pulang dirumah.


"Apa itu?" Kata Joline setelah melepaskan pelukannya

__ADS_1


"Ah ini? Untukmu" Kataku seraya memberinya bunga yang ku beli tadi


"Kamu kok bisa tau aku suka tulip?" Katanya tanpa mengalihkan matanya dari bunga itu, matanya bersinar dan tersenyum lebar. Kali ini aku tidak ingin melewatkan dan dengan cepat memotretnya. Aku berniat membuat satu ruangan galeri yang isinya foto Joline semua lengkap dengan semua dekripsi kegiatan apa yang Ia lakukan saat itu. Jadi jika kami punya anak nanti diriku bisa menceritakan detail perjalanan Ia terbentuk.


"Aku hanya menebak" Jawabku jujur, Ia terlihat sangat tersentuh. Syukurlah Ia menyukainya


"Ayo masuk" Katanya sambil menggandeng tanganku, aku tersenyum kecil melihat tingkahnya,


Lagi-lagi hatiku menghangat ketika melihat meja makan yang biasanya kosong itu kini terisi penuh, aku kehilangan kata-kata. Apartement yang sebelumnya terasa kosong dan suram, hanya dengan kehadiran makhluk mungil ini bisa berubah menjadi sehangat ini. Apa Joline memang punya kemampuan menghangatkan seperti matahari?


"Aku tidak tau kamu suka masakan apa jadi aku buat apapun dengan bahan yang ada" Aku masih terlalu shock untuk merespon apa yang dibicarakan Joline tapi aku juga tidak kalah kaget melihat kondisi dapurku yang sudah seperti kapal pecah di ujung sana. sepertinya Ia bekerja cukup keras untuk menyiapkan makan malam hari ini.


"Jangan lihat yang disana, lihat saja ini" Katanya dengan wajahku sedikit cemberut, hal itu berhasil membuatku tertawa.


Kali ini aku yang memegang kedua pipinya dan mencium bibirnya, awalnya ia tidak memberi reaksi tapi lama-lama dia membalas ciumanku. Aku menggendongnya hingga sekarang Ia terduduk di ujung meja makan. Kami pun melakukan ciuman yang cukup lama, pelan tapi intim. Awalnya hanya ciuman pelahan berubah menjadi french kiss yang panas, kami saling bersilat lidah dengan nafas yang semakin berat akibat kekurangan oksigen.


Tring! Suara sendok yang jatuh dari meja menyadarkan kami


"Ayo makan, sepertinya kamu sudah sangat lapar" Kata Joline dengan wajah merona

__ADS_1


Ia sengaja menekan di bagian kelaparan


"Terima kasih" Kataku dengan tulus dan kami pun mulai makan


Aku memang sudah sangat lapar karena melewatkan FIKA tadi, ditambah masakan mengiurkan ini membuat perutku bersorak ria. Saat aku memasuki suapan pertama rasanya sangat enak, sepertinya Joline tidak hanya punya otak yang pintar tapi Ia juga punya skill memasak yang diatas rata-rata. Rasanya aku semakin jatuh cinta sama wanita ini, tanpa sengaja pertama ujung mataku menangkap sosok Joline yang menatapku dengan tatapan cemas, lagi-lagi Ia tidak menyadari kelebihannya yang Ia miliki ini.


"Gimana rasanya?" Katanya dengan penuh penasaran, melihat reaksinya yang lucu membuatku ingin menggodanya


"Gawat" Kataku dengan kening berkerut sambil memejamkan mata


"Apa? kenapa?" Tanyanya dengan wajah cemas karena mendapatkan reaksi yang tidak diharapkan


"Gawat karena kedepannya Anda harus jadi koki tetapku" Ekspresinya langsung berubah, aku tersenyum kecil melihat reaksinya


"Syukurlah" Katanya legah dan akhirnya Ia juga mulai manikmati masakannya


"tapi sungguh ini enak sekali" Kataku sambil memasukan beberapa suap kedalam mulutku padahal suapan sebelumnya masih belum tertelan


"Makannya pelan-pelan" Kata Joline seraya meletakan air minum di samping piringku

__ADS_1


Apakah aku boleh langsung menikahi wanita di depanku ini? Batinku


__ADS_2