
Sampai di restoran yang mewah,Dito memilih restoran ini karena memang dia menyukai makanan disini dan ada satu alasan lain yang mungkin menjadi alasan paling penting kenapa Dito memilih restoran ini.
Jam sudah menunjukkan jam 10 pagi.
Dito setelah sampai restoran ke arah resepsionis dan pelayanan restoran pun datang dan memberikan tempat mereka berdua untuk duduk.
Rena yang baru pertama kali ke sini hanya menatap kagum arsitektur bergaya Eropa yang khas itu dengan ukiran-ukiran dewa dewi dari negri Yunani.
"Wah, bagus banget," Ucap Rena menatap ke arah langit-langit restoran dengan kagum.
"Saya adalah arsitek nya, " Ucap Dito dengan biasa nada nya namun tercermin kepuasan dalam diri nya.
"Bos, arsitek nya, luar biasa bos memang berbakat, " Ucap Rena dengan antusias, ia mengucapakan kekaguman nya kepada bos nya dengan antusias awal nya menatap Dito lalu menatap ke arah sekeliling restoran dengan kagum.
Dengan kesombongan yang membumbung tinggi Dito berjalan menuju meja yang di tetapkan.
Rena dan Dito duduk bersebrangan di kursi yang di depan nya membentang meja persegi panjang warna putih di atas meja nya terukir dengan cantik dua buah garis berwarna emas.
Restoran ini pun memiliki standarisasi teknologi yang cukup baik dimana pemesanan menu di lakukan di layar sentuh yang ada di tengah -tengah meja, dimana ketika kita mengetuk meja akan timbul layar (yang ukuran nya seperti layar tablet) dan di situ kita bisa memesan menu dengan mudah.
"Wah!!!, hebat saya baru tahu perusahaan kita menciptakan inovasi teknologi seperti ini," Ucap Rena menghadap ke arah Dito.
"Devisi pengembangan teknologi sebelum nya memang belum masuk ke perusahaan baru tahun ini dilakukan akuisisi," Ucap Dito.
"Makanan nya terlihat enak semua.... wah saya mau memesan stik domba emas....," Ucap Rena menatap ke arah Dito.
__ADS_1
"Tapi pak... ini bapak yang traktir kan.... hehe... soal nya uang saya sudah habis menjadi sereal yang keluar dari perut pak... hehe, " Ucap Rena sambil tertawa kecil.
"Untung makanan nya belum dipesan, coba saja kalau kamu berbicara seperti itu saat kita makan aku pasti sudah memuntahkan makan nya karena kata-kata mu!," Dito menatap dengan mata yang mewakili sedikit perasaan jengkel nya.
"Jangan berucap seperti itu lagi lain kali... itu benar -benar menjijikkan," Ucap Dito, ia mengucapakan kata-kata nya dengan ekspresi datar dan nada yang agak tegas.
"Maaf ya... bos, " Ucap Rena menunduk.
"salah terus," Ucap Rena dalam hati.
"Yasudah gapapa asalkan jangan terulang lagi, " Ucap Dito.
"Oke bos, " ucap Rena mengangkat kepala nya dan menatap ke arah Dito.
"Tapi ini bos yang bayar kan?, " Tanya Rena sekali lagi.
"Bos,..ngomong-ngomong memang bos tadi pagi gak sarapan? kalau mau kerja sepagi apapun jangan lupa sarapan, " Ucap Rena.
"Hemmm, " Dito yang gensian tentu nya akan memperlihatkan sisi keras nya padahal di dalam nya sudah meleleh oleh perhatian Rena.
Makanan yang di tunggu-tunggu akhirnya datang...
"One golden lamb steak,one premium beef steak
and two cold tea walsa," Ucap pelayan yang membacakan kembali pesanan nya sedangkan pelayan yang lain menyajikan makanan nya.
__ADS_1
Tea walsa adalah sejenis minuman teh lemon namun nama nya saja yang berbeda.
Rena sangat terlihat bersemangat dengan makanan yang sudah ada di depan nya.
"Bukan nya kau sudah sarapan! kenapa wajah mu seperti bertahun-tahun belum makan saat melihat makanan, " Ucap Dito.
"Bos ini beda bos, saya belum pernah makan steak domba yang ada emas nya pak, kalau makan emas cincin tetangga saya pernah baru pak,saya pernah saking kesal nya sama tetangga saya cincin yang ada di jari manis nya saya lepasin terus saya makan walaupun saya gak makan cincin itu benar-benar yang saya lakukan hanya pura-pura memakan nya, gak ada rasa nya ternyata bos, kalau emas disini ada rasanya gak yah," Ucap Rena.
"Ha.. ha.. ha lucu juga kamu waktu kecil... sama lah seperti kamu sekarang...," Dito tertawa mendengar cerita Rena namun tanpa sadar ia mengucapakan kata-kata yang seharusnya tidak ia ucapkan.
"Seperti saya sekarang, berarti saya lucu dong," Ucap Rena tersenyum.
Menyadari kesalahannya nya Dito mematung beberapa detik setelah itu ia kembali ke posisi batu sempurna.
Dan berkata:
"lucu yang ku maksud adalah kebiasaan melakukan hal-hal b*doh!, " Ucap Dito dengan wajah tegak layak nya papan tanpa perasaan.
"Wah,... menyakitkan sekali kata-kata itu, tidak ada yang lebih menyakitkan kata-kata dia,lebih dari hari ini, adakah obat yang bisa menyembuhkan hati ku yang sampai sekarang masih terasa sangat nyeri," Ucap Rena memeras bagian dada nya yang sakit akibat di tusuk oleh pedang tak bertulang.
"Ayok Rena jangan baperan, setiap orang punya kelebihan kekurangan, kekurangan bos mu ya ini,... semangat," Ucap Rena dalam hati.
............. Selamat Membaca ...........
Sketsa
__ADS_1