
Di sore hari Dito dan Rena berangkat menuju sebuah restoran Chinese mewah untuk bertemu dengan pemilik nya untuk keperluan bisnis.
Klien ini sangat lah penting karena proyek yang di ajukan adalah mega proyek yang sangat profitable.
Sesampainya di restoran mereka berdua di sambut oleh hiasan bernuansa kultural dari negri tirai bambu.
Rena ke bagian resepsionis, Dito dan Rena di bawa menuju ke meja yang sudah di reservasi.
Betapa terkejut nya Rena bahwa pemilik restoran makanan chinese ini adalah Theo.
Di meja bulat berwarna merah ciri khas dari restoran ini yang memang perwakilan kultur dari negri yang makmur itu, Theo yang berpakaian santai, hanya memakai baju lengan panjang dan levis berwarna putih, rambut nya di gerai sampai menyentuh bahu, ia terlihat tampan dan berwibawa walaupun pakainya terkesan santai.
Sebenarnya mood Dito sedang dalam kondisi baik karena belum ada yang memancing amarah nya.
Sampai......
Awal nya biasa saja diantara mereka bahkan Rena dan Theo yang saling mengenal seolah-olah tidak mengenal satu sama lain.
"Selamat sore pak, Dito seorang pengusaha muda yang sukses, " Ucap Theo sambil menyodorkan tangan kepada Dito.
"Senang bertemu anda usaha anda sangat tumbuh pesat hal itu tidak bisa di pungkiri karena kehebatan anda, " Ucap Dito menjabat tangan Theo.
Dito dan Rena di suguhkan makanan dan minuman yang banyak dengan berbagai variasi makanan dan wine yang berkualitas tinggi.
__ADS_1
sebagai penghormatan Theo menuangkan wine itu ke dalam gelas wine milik Dito dan sebelum Rena yang mengucapkan bahwa dia tidak minum wine, gelas Rena yang ada di depan nya di gantikan dengan teh yang hangat.
"Rena, kamu tidak minum wine kan?, ini adalah teh hangat di dalam teh ada ramuan herbal yang diracik untuk membuat pikiran menjadi lebih tenang, meredakan stress," Ucap Theo.
"Terimakasih, pak, " Ucap Rena, dengan senyum kikuk.
Dito memandang Rena seakan meminta jawaban.
Namun jawaban itu datang bukan dari Rena namun dari Theo.
"Saya adalah kakak dari pegawai pak Dito yang tewas kemarin," Ucap Theo.
"Rena dan saya pernah bertemu sebelum nya dan saya tahu bahwa Rena tidak bisa minum wine dari pertemuan kami saat itu, " Ucap Theo.
"Silahkan dinikmati,nanti sambil makan kita bicara-bicara soal bisnis, " Ucap Theo.
Rena dan Dito mulai menyicipi makanan.
Rena yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi nya memunculkan ekspresi kagum akan makanan yang yang di cicipi nya.
"Wah, enak pak Theo, luar biasa saya suka makanan nya," Ucap Rena dengan raut wajah senang dan jari jempol yang diangkat.
"Memang enak," Ucap Theo sambil tersenyum kepada Rena.
__ADS_1
Rena tampak menikmati memakan claypot seafood sampai dunia nya seolah-olah hanya terfokus kepada pot yang ada di depan nya.
Melihat Theo banyak tersenyum sebenarnya membuat satu pertanyaan dalam pikiran nya "Kenapa dia berbeda."
Namun seakan tidak perduli dengan pikiran nya dan lebih tergoda oleh makanan yang ada di depan nya ia melanjutkan memakan claypot seafood miliknya.
Dito yang sebenarnya menikmati makanan tersebut menjadi tidak selera lagi karena urusan hati, urusan perut terkalahkan oleh urusan hati.
"Sebaik nya kita percepatan membahas tentang bisnis," Ucap Dito.
Mendengar apa yang diucapkan Dito membuat Rena bergegas menyiapkan diri nya dan peralatan nya untuk mencatat hasil diskusi kali ini, saking terburu -buru nya membuat Rena lupa mengelap sisa bumbu di bagian samping kiri bibir nya.
"Ini tisu, kamu bukan anak kecil lagi lihat saja wajah mu penuh keriput, " Ucap Theo sambil memberikan tisu kepada Rena dan tersenyum (seperti nya senyum nya, senyum meledek).
"Ah," Ucap Rena.
"Di samping bibir kiri kamu ada bekas bumbu , " Ucap Theo.
"Oh, iya Pak saya gak tahu, makasih pak," Ucap Rena dan langsung mengambil tisu yang di tawarkan pada nya.
"Dia, tidak berbeda sama saja!!, " Ucap Rena dalam hati.
.......... SELAMAT MEMBACA ........
__ADS_1
.