
"lo dimana si Jendra ah" ocehan Riri yang masih mengotak Atik handphone di tangan nya.
Ia sejenak berpikir lalu menelpon seseorang di sebrang sana,
"Halo? Napa Ri?" Di sebarang sana menjawab panggilan dari Riri
"Bang? Lo lagi sama Jendra gak?" Tanya Riri pada Arza yang sedang ia panggil
"Ha? Engga, tadi pulang katanya pengen istirahat, kenapa emang?" Jawab Arza
"Dia gaada bilang mau pergi sama Nadia?" Tanya nya lagi
"Gaada, Napa si emang yallah", Arza mulai jengkel dengan Riri yang banyak bertanya tapi tidak mengatakan ada apa
Hening tidak ada jawaban dari sebrang sana.
"Ri?"
"Nadia gaada di kost nya dan posisi pintu kamar nya kebuka" jawab Riri akhirnya
"Anjing Ri serius" Arza yang memang sedari tadi sedang rebahan itu reflek bangun mendengar pernyataan dari Riri
"Sumpah, gue panik bang ini gimana" Jawab Riri lagi, terdengar suara nya yang sudah bergetar karena panik
"Gue kesitu sama anak-anak" Arza spontan
Setelah mendengar dari Riri bahwa Nadia tidak ada di kost nya dengan kamar yang terbuka, banyak dugaan di dalam kepala Arza, ia berusaha menghapus semua rasa cemas dalam pikiran nya.
Motor Kawasaki Ninja ZX-14R berwarna Hitam itu kini sudah terparkir di depan kost Nadia, Arza segera berlari menghampiri Riri yang masih berdiri dengan mondar mandir di depan kamar Nadia.
Dan benar kamar kost Nadia terbuka dengan barang-barang yang sudah tidak berada dalam posisinya.
"Bang, ini gimana" ucap nya kala melihat Arza yang sudah berdiri di hadapannya, terlihat sekali raut muka yang sangat panik dengan keringat yang bercucuran di dahinya
"Anak-anak lagi nyusul dulu Jendra ke kost nya, gue gak tau dia dimana anjing, mana hp nya gak aktif" omelnya yang sedari tadi beberapa kali menelpon Jendra
"Gue khawatir bang" Ucap Riri dengan mata yang berkaca-kaca.
"Lo tenang dulu Ri, gue yakin Nadia gapapa" jawab Arza menepuk pundak Riri beberapa kali.
Sedangkan di sisi lain, Daffa dan Haikal sedang menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi menuju ke tempat tinggal Jendra.
__ADS_1
"Ketua Lo nyusahin banget goblok" ucap Daffa
"Ketua maneh juga ya bangsat"
Sesampainya di tempat tinggal Jendra, Daffa dan Haikal segera mengetuk beberapa kali pintu kamar Jendra, tanpa butuh waktu lama Jendra memunculkan batang hidung nya dengan wajah yang masih mengantuk, matanya bahkan masih terpejam.
"Anjing lah hp lo kenapa gak aktif goblog" ucap Haikal memarahi Jendra
"Napa si gue udah bilang gue pengen istirahat" jawab Arka yang matanya masih tertutup
"Ikut gue" jawab Daffa menarik tangan Jendra
Arka masih berdiam diri di tempat ketika Daffa menarik tangannya.
"Dra anjing ayolah Nadia ilang" Ucap Daffa yang sudah mulai kesal pada Jendra
Setelah mendengar perkataan Daffa bagai di sambar petir di siang bolong Jendra merasakan denyut dalam dirinya, ia linglung sangat linglung pasalnya ia baru membuka matanya saat tertidur pulas bahkan nyawanya belum terkumpul sempurna.
"Maksud lo, apasi ngelantur deh" Jawab Jendra dengan menggaruk kepalanya
"Gue serius Najendra, anjing lah ayo" jengkel Haikal
"Tadi Arza di telpon Riri, nanyain lo, pintu kamar Nadia kebuka tapi Nadia gaada di dalem, barang-barang yang ada di dalem juga udah berantakan" Ucap Daffa dengan cepat ketika melihat Lelaki itu masih tidak bergerak
"Jendra anjing lo mau sampe kapan diem disini". Daffa yang sudah kepalang jengkel itu akhirnya menarik kasar tubuh Jendra
Tanpa menjawab Omelan Daffa dan Haikal, Jendra melepaskan cekalan tangan Daffa pada tangan nya, segera memasuki kembali kamarnya untuk mengambil Hoodie.
Mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, Jendra bagai kesetanan saat ini, mendengar gadis kecilnya yang tiba-tiba hilang membuat nya bagai di sambar petir di siang bolong, bagaimana tidak, bukan kah tadi sebelum tidur ia melihat beberapa bubble pesan dari Nadia.
Memarkirkan asal motor besarnya, Jendra berlari di susul oleh Haikal dan Daffa, menghampiri Riri yang saat ini berada dalam dekapan Arza, dan melihat Bintang yang memejamkan matanya di samping Arza.
"Ri, gimana?" Tanya Jendra yang segera mendekati Riri, Riri melepaskan dekapan Arza, menggelengkan kepalanya untuk jawab Jendra
Jendra menatap kamar Nadia yang sudah tidak bisa di bilang rapih, tatapan nya lurus dan dingin, sangat dingin, Arza menepuk pundak sahabatnya itu untuk menenangkan.
Tidak ada yang berani membuka suara lagi setelah melihat tatapan Jendra pada kamar Nadia, tatapan emosi terpancar dari matanya.
"Bang, gue baru inget, di lantai 1 di pojok ada cctv" ucap Riri menghapus air matanya kasar, bagaikan sebuah pertolongan dari tuhan Jendra segera menuruni tangga di ikuti teman-temannya.
"Gue telpon bapak kost bentar"
__ADS_1
Setelah mengobrol dengan bapak kost, kini Jendra dan teman-temannya melihat layar komputer yang menampilkan sebuah rekaman cctv di jam yang sudah ia kira-kira Nadia menghilang.
Dari layar komputer itu Jendra melihat seseorang memakai Hoodie hitam memakai masker menyeret Nadia dengan kasar, tangan nya terkepal sempurna melihat gadis kesayangan nya di seret bagai hewan.
Setelah mendapatkan duplikat rekaman cctv itu, Jendra menghampiri lagi kamar Nadia, memeriksa beberapa barang bukti yang harus ia kantongi saat ini.
"Dra darah" ucap Haikal melihat sebuah bercak darah di lantai kamar Nadia, Jendra berjongkok untuk melihat darah yang di katakan oleh Haikal, lagi-lagi tangan nya terkepal sempurna melihat darah itu.
"Kumpulin anak-anak" ucap nya dingin.
Tanpa berlama-lama Jendra, beserta teman-temannya kini berada di markas Aodra.
"Cek semua cctv jalan" ucap nya pada semua anggota
"Awasi semua pergerakan Bruiser, gue curiga semua ulah Faro" ucap nya lagi
"Anggota yang lain kemana?" Tanya nya karena ia melihat anggota Aodra yang berkurang.
"Mantau Bruiser sesuai kata Lo tadi pagi" jawab Arza
"Oke, langsung suruh mereka laporan ke gue kalo ada kejanggalan"
"Tapi Dra, gue sempet nanya ke anggota yang ngawasin Faro, dia gaada pergerakan mencurigakan" kilah Arza
"Lo lupa? Dia cerdik Za, dia bisa ngelakuin apa aja" jawab Jendra menatap Arza dengan Dahi yang berkerut
"Tapi Dra, kalo Alfaro penyebab nya Nadia ilang, Lo inget gak? Dia bahkan gak pernah nyariin Nadia, terus tiba-tiba dia culik Nadia ini di luar kepala gue" jawab Arza sedikit menentang perkiraan Jendra
"Za kok lo tiba-tiba nge bela bajingan itu sih" Riri yang sejak tadi diam kini sedikit tersulut emosi karena ucapan Arza.
"Ri gue gak salah loh ngomong gini, Lo ada mikir kesitu gak? Gue bahkan gaada mikir kalo Faro penyebab semuanya"
"Za anjing" ucap Daffa mengingatkan
"Apa? Gue bukan bela dia tapi kaya gak mungkin, kalo pun Faro mau ketemu Nadia, gak harus sampe culik Nadia, Lo tau sendiri kan Nadia gimana sama Faro, dia yang selalu nyariin Faro, harusnya dia seneng dong kalo Faro tiba-tiba dateng"
"Gabung aja sekalian sama dia lo anjing kalo bela dia terus" Riri mulai tersulut emosi sekarang "Lo gak tau se bajingan apa Alfaro Za, gak usah lo so nge bela dia kalo lo bahkan gak tau se bajingan apa Faro", lanjut nya lagi
Riri melihat raut muka Jendra, Riri tau sepupunya itu kini sedang menahan Amarah, matanya memerah berusaha menahan emosi yang sudah berada dalam kepalanya.
Brugh!!
__ADS_1
"Bang, kita di serang!"
"Lo mengundang kematian lo sendiri Alfaro" gumam Jendra dengan mengepalkan tangannya