
Dengan seluruh kekuatan, langkah kaki jenjang itu menapak lantai koridor rumah sakit, dengan langkah lebar dan tegas ia mempercepat lagi langkahnya, nafasnya memburu, peluh berceceran di sekitar dahinya, tiba di suatu ruangan, tangan itu dengan cepat mendorong sebuah kenop pintu.
1 detik 2 detik 3,4 di detik kelima ia tersadar dari diam nya, melangkah kan lagi kakinya mendekati sebuah tubuh gadis yang sudah seminggu lebih ini hampir membuat nya kehilangan kewarasan, tubuh gadis itu memunggunginya, sebuah suara membuat ia memberhentikan lagi langkahnya kakinya yang tinggal selangkah lagi dapat menyentuh tubuh mungil itu.
"Dari siuman dia gak mau ketemu siapapun, dia cuman ngomong pengen ketemu Lo" ujar seorang gadis berambut sebahu dengan mata coklat itu, ialah sepupunya.
Tubuh mungil itu memutar kan tubuhnya, memfokuskan matanya pada sebuah manik mata Hazel seorang laki-laki yang sudah hampir kehilangan kewarasan karena dirinya, mata itu saling beradu tidak berkedip barang sedetik pun, satu langkah lagi ia menubruk kan tubuhnya jangkung nya dengan tubuh mungil itu, mendekap nya dengan erat, sebuah bulir air mata jatuh tanpa permisi, bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan.
Tubuh jangkung itu tidak gagal, melainkan sedang mengalami kesulitan, dan kesulitan itu sudah ia lewati, semua kesedihan dalam pelupuk mata itu mendadak runtuh, dengan sebuah dekapan kecil, pundak yang berat itu akhirnya ringan kembali, dua insan itu saling menuntaskan rasa rindunya dengan sebuah dekapan yang di selingi air mata di kedua pasang mata Hazel mereka.
Dekapan itu perlahan terurai, tangan laki-laki itu mengapit kedua pipi sang gadis, mata keduanya kembali bertemu saling bertubrukan, jelas kerinduan dari keduanya, bibir lelaki itu perlahan melengkungkan senyumnya, namun bukan sapaan sebuah senyuman yang lelaki itu dapatkan melainkan bibir gadis itu kembali bergetar, menubruk kan lagi tubuh mungil nya dengan tubuh jangkung seorang lelaki bernama Najendra Aji Dartama, lelaki itu mendekap erat pundak sang gadis, mengusap Surai itu dengan sayang Surai wanita yang sudah sangat sukses membuatnya kehilangan kewarasan ah lupakan kalian pasti sangat bosan mendengar sebuah kalimat kehilangan kewarasan.
Tapi itulah kenyataannya, Jendra dengan sekuat tenaga untuk tetap untuk tetap menjaga kewarasan nya ketika gadis kecilnya tak kunjung sadarkan diri, yang membuat ia bahkan melupakan kapan terakhir kali ia makan, kapan terakhir ia menginjakkan kakinya di lantai kamar tidur nya, wanita itu bernama Nadiana Putri Mahesa, gadis itu sudah sadar dari tidur nyenyak nya.
Setelah 15 menit terlewati Jendra berhasil menenangkan Nadia, Tubuh mungil itu kembali terbaring di atas kasur rumah sakit, tidak tertidur ia hanya diam memandang sebuah atap kamar rumah sakit, tangannya dengan setia berada di dalam genggaman sang lelaki.
"Kak" sangat lirih, Nadia menatap Jendra dengan tatapan sendunya, kelibatan kejadian di bangunan itu kini memenuhi pikirannya, rasa takut masih hinggap dalam dirinya, takut sangat takut, ia menatap lelaki yang telah menyelamatkan hidupnya, jika Jendra tidak datang tepat waktu mungkin Nadia sudah tiada saat ini.
"Iya? Jangan banyak gerak sama ngomong dulu ya Na, lo harus banyak istirahat dulu" jawab Jendra cepat
Nadia hanya diam menurut pada ucapan lelaki itu.
"Jangan pikirin apapun, jangan penuhi otak lo sama semua hal yang bikin lo sakit, ilangin semuanya" lanjut lelaki itu dengan mengusap tangan mungil itu lembut
__ADS_1
"Gak bisa" jawab Nadia dengan menggelengkan perlahan kepalanya, dengan air mata yang kembali turun tanpa permisi
"Sut sut, tidur ya Na, biar pikiran Lo istirahat" Jendra mengalihkan tangannya ke atas surai Nadia mengusap kepala itu dengan penuh sayang, sangat lembut hingga membuat mata Hazel itu kian tertutup seiring berjalan nya waktu.
Jendra menghembuskan nafasnya pelan ketika ia berhasil menidurkan gadis kecil itu, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Nadia hingga lehernya,
Meninggalkan Nadia di kamar itu, Jendra menghampiri Riri.
"Arza dimana?" Tanya Jendra ketika ia sudah berhasil berada tepat di depan Riri
"Masih sama Saga" jawab Riri yang bangun dari duduk nya
Jendra mengangguk sebagai jawaban, baru saja ia membuka mulutnya untuk kembali bertanya Riri sudah membungkam Jendra dengan perkataan nya
Lelaki itu mengangguk sebagai jawaban, ia benar-benar menyesal ketika Nadia bangun dari tidur panjangnya lelaki itu tidak berada di sisi Nadia.
"Tadi pas Lo pergi gue ajak Nadia ngobrol engga ngobrol sih lebih tepatnya gue ngomong sendiri, gue gak tau ini karena Nadia ngerespon omongan gue atau cuman kebetulan aja, banyak yang gue obrolin sama dia, salah satunya tentang Lo berhenti buat cari siapa dalang dari penculikan dia" Jeda Riri dengan kaki yang melangkah perlahan menuju pintu kamar Nadia wanita itu sedikit berjinjit memastikan gadis itu sudah istirahat dengan nyaman.
"Setelah itu gue dapet telpon dari bokap Lo, gue tinggalin Nadia keluar ternyata pas gue keluar dari kamar Nadia sadar terus-
"Ngapain Bokap gue telpon Lo?" Potong Jendra cepat
"Lo inget soal berita tentang penculikan Nadia?" Tanya Riri menatap lelaki itu, Jendra mengangguk sebagai jawaban dengan dahi yang berkerut, seolah bertanya apa maksudnya?
__ADS_1
"Liat ini" Gadis berambut sebahu itu menunjukkan sebuah foto seorang lelaki dan seorang perempuan yang sedang terbaring di atas tanah dengan posisi bersebelahan, dengan kondisi yang cukup tidak bisa di bilang baik, yang ternyata isi foto itu adalah dirinya dan Nadia
Dahi lelaki itu berkerut memandang foto tersebut siapa pikirnya yang mengambil foto itu rasanya tidak akan ada yang tau karena kondisi saat itu pun hanya tertuju pada keselamatan mereka berdua
"Om mulai tau siapa Nadia di hidup Lo, dia sempet marah pas liat foto itu, dia bilang Lo bodoh ngorbanin keselamatan Lo sendiri cuman buat cewe itu, tapi gue bilang Nadia juga sahabat gue"
"Terus?"
"Om matiin telpon nya, sampe sekarang gaada nelpon lagi"
Jendra berjalan menuju pintu kamar Nadia, ia melihat Nadia dari jendela kamar itu "Penculikan kemarin bakal membekas di diri Nadia Ri"
"Maksud Lo?" Tanya gadis itu dengan dahi yang berkerut, pasalnya ia tidak mengerti apa yang Lelaki itu maksud
"Matanya, gue liat matanya, penuh sama kehawatiran, dia gelisah, matanya gak tenang Ri, tadi tangan nya dingin banget dia juga terus-terusan nangis" jawab lelaki itu dengan tatapan sendu nya melihat Nadia yang sedang tertidur itu
"Gue takut ini jadi trauma baru buat dia" lanjutnya lagi
"Gue harap ini semua gak jadi trauma baru buat dia, Nadia udah terlalu cape sama isi pikirannya"
"Gue ju-
"MANA ADIK SAYA!!"
__ADS_1
sebuah teriakan memotong ucapan Jendra