Cerita Cinta Najendra

Cerita Cinta Najendra
Kilas Di Balik Masa Lalu Nadia (2)


__ADS_3

Kini mereka berdua sudah duduk di kursi kelas, pelajaran akan dia mulai sekitar 5 menit lagi, tapi Diana malah menelungkupkan kepalanya di atas meja.


"Anjg jangan molor, bentar lagi si botak masuk entar lu kena hukum lagi, gue kena lagi"


Tak ada sahutan dari Nadia membuat Anora memutar bola mata nya malas.


\*⁠\⁠0⁠/⁠\*


Pelajaran telah di mulai sejak 30 menit yang lalu, kini Diana sudah tidak menelungkupkan lagi kepalanya di meja, karena ia terganggu oleh ocehan sahabatnya yang tidak mau ikut di hukum karena ulahnya.


"Ngantuk gue anjing" gerutu Anora yang sejak tadi tidak berhenti menguap, pelajaran pertama di mulai dengan pelajaran fisika, pelajaran yang membuat mereka berdua bosan tidak tertolong.


"Perhatiin, guru lagi jelasin" Jawab Nadia acuh dengan sebuah pulpen dalam gigitan giginya, Gadis itu sering kali mengigit pulpen ketika ia merasa bosan


"Monyet, tadi aja lo molor" sewot Anora


"Lo bangunin gue" jawab Nadia acuh dengan alis yang ia naikkan sebelah


"Iya juga si, ah tau ah ngantuk gue, ayo ke kantin"


"Caranya?" Diana menaikan sebelah alisnya


"Gua pura-pura sa-


PANGGILAN KEPADA NADIANA PUTRI PRATAMA DI TUNGGU DI RUANG GURU, SEKALI LAGI PANGGILAN KEPADA NADIANA PUTRI MAHESA DI TUNGGU DI RUANG GURU.


Ucapan Anora terpotong oleh perngeras suara yang memanggil nama sahabatnya, pak Hardi yang sedang menjelaskan pelajaran menghentikan kegiatan nya, satu kelas melirik Nadia yang kening nya berkerut.


"Nadia silahkan ke ruang guru" pak Hardi


Tanpa jawaban Nadia segera melangkahkan kakinya menuju ruang guru


"Ada apaan si"


"Bikin masalah lagi kali dia"


"Gaada bosen-bosen nya banget bikin masalah"


Brak


Satu gebrakan di meja Anora ketika mendengar desas desis yang bermunculan dari teman-teman sekalasnya perihal Nadia yang di panggil ke ruang guru


"Lu pada mending gak usah pada sok tau deh, bacot banget perasaan" sewot Anora yang berdiri dari duduknya dengan tangan yang ia kepalkan di atas meja.


"Athea jaga sikap kamu" pak Hardi


"Mereka yang harus jaga sikap pak, bukan saya" tentang Anora dengan dahi yang berkerut


"Yasudah diam semuanya, kita lanjutkan pembahasan pelajaran"


Sedangkan di sisi lain, kini Nadia sudah berada didepan pintu ruang guru, pintu itu tertutup sehingga membuat Nadia harus mengetuknya, ketiga kali ketukan pintu itu terbuka memperlihatkan Bu Raya selaku guru BK sekaligus guru killer yang tidak sedikit di benci oleh murid-murid.


"Masuk"


Nadia masuk ke ruangan itu, ia melihat tiga gadis yang duduk dengan angkuhnya menatap kedatangan Nadia, dengan satu lelaki yang berada di samping mereka.


"Duduk"

__ADS_1


"Ada apa ya Bu, ibu manggil saya kesini? Tanya Nadia


"Apa benar tadi pagi kamu nyiram Laura dengan air pel an?" Tanya Bu Raya sembari menatap tajam mata Nadia


Nadia menghembuskan nafas nya kasar


Mau manifulatif rupanya


"Maksud ibu?"


"Jawab pertanyaan saya Nadia"


"Memang kenapa? Dia juga nyiram air pel an kepada Dinda kelas IPA sebelas, lalu salah saya dimana?" Tentang Nadia dengan menatap wajah tigas gadis yang berada di depan nya


"Loh kok Lo malah fitnah gue sih" sewot Laura


Nadia menaikan sebelah alisnya


"Lo mau manifulatif?"


"Lo fitnah tau gak, Bu, Gibran, liatkan dia malah fitnah saya bukan nya minta maaf"


"Dih anjing" Nadia


"Jaga sikap kamu Nadia"


"Ribet"


"Bu maaf tapi sepertinya disini saya tidak salah jadi saya pamit saya masih ada kelas"


"Siapa yang nyuruh Lo pergi?" Sewot Laura


"Sudah-sudah, tadi orang tua Laura sudah telpon saya dan meminta saya menghukum kamu dengan hukuman yang setimpal karena sudah membully Laura"


"Gila kali" Nadia


"Izinkan saya yang menangani masalah ini Bu," tengah Gibran


"Baik Gibran ibu serahkan semuanya sama kamu"


Setelah kepergian Guru killer itu hanya menyisakan 3 orang di dalam sana, Laura yang masih memandang Diana dengan tatapan tajam nya, sedangkan yang di tatap merasa biasa saja bahkan dengan santai nya ia menaikan sebelah kaki nya.


"Keluar" Gibran


"Oh okey, bye" saat Nadia sudah melangkahkan kaki nya ..


"Bukan Lo tapi dia" menunjuk Laura dengan mata nya


"Loh? Oh kamu mau hukum dia kan? Oke aku percaya sama kamu, hukum dia seberat-beratnya"


Setelah kepergian Laura kini hanya menyisakan Gibran dan Nadia, sedari tadi tatapan matanya masih melekat pada Nadia.


"Lo lagi Lo lagi, bisa gak Lo gak buat kerjaan terus buat gua?" Ucap Gibran seorang lelaki yang tadi duduk di bersebelahan dengan Laura


Nadia menaikan sebelah alisnya


"Yaudah lu lepasin gua, udah beres kan" ucap Nadia enteng

__ADS_1


"Mimpi, bersihin lantai satu dan lantai dua,toilet cewe, sama toilet guru" ucap Gibran


"Anjing, gila ya Lo" jawab Nadia dengan menatap wajah lelaki itu nyalang


"Gua gak bilang Lo anjing"


"Terserah lah monyet, babi emang murid kesayangan Bu Raya" umpat Nadia lagi dengan muka yang sudah sangat masam


Toktok


Suara ketukan pintu menahan umpatan Nadia


Bu Raya masuk dengan sepasang suami istri di belakang nya, dan tentunya ada Laura disana


Apalagi ini anjing.Nadia


"Silahkan duduk Pak,Bu" ucap Bu Raya


Gibran sedikit tertegun melihat sepasang paruh baya yang dia sudah tau mereka siapa, kadatangan mereka cukup menekankan situasi, pasalnya Gibran sudah memintai izin kepada guru BK nya itu untuk mengurus permasalahan ini tanpa melibatkan apapun lagi, tapi nyatanya sekarang tugas nya tidak bisa segampang apa yang sudah ia bayangkan.


"Bu maaf, bukankah saya sudah meminta izin untuk menyelesaikan masalah ini?" Gibran bersuara


"Iya Gibran, tapi mereka selaku ibu dan ayah Laura mau menyelesaikan masalah ini.


Gibran tidak bisa menjawab, entahlah apa lagi yang akan terjadi setelah ini


"Anak tidak tau sopan santun" sewot Bu intan selaku ibu Laura


Manik matanya menatap tajam Nadia


"Saya mau anak ini di hukum dengan hukuman yang setimpal" ucap Danu selaku ayah Laura


"Berani-beraninya membully anak saya"


"Saya? Membully anak bapak? Bukan nya kebalik ya?"


"Berani kamu. Menjawab saya" danu


"Loh kenapa gak berani, kita sama-sama makan nasi jadi tidak ada yang perlu di takutkan disini, orang tua sama anak, sama-sama playing Victim nya" ucap Nadia sambil memutar bola matanya


Gibran sedikit tertegun dengan jawaban Nadia yang terlampau berani, dan Gibran mengakui semua yang Nadia katakan benar nyatanya, karena pada nyatanya sudah ada beberapa kali kasus yang berhubungan dengan Laura, orang tua Laura selalu menutupi semua kesalahan Laura, dan membicarakan ke fublik bahwa Laura tidak bersalah, tapi dari beberapa hal itu, tanpa orang lain tau kasus yang sudah ia tangani itu sangat berbeda jauh dengan kenyataan yang ada.


"Mi, Pi, tuh liatkan dia aja ngomongnya gaada sopan santun nya" adu Laura dengan suara mencari pembelaan.


"Iya sayang, biar mami, dan papi hukum dia"


Suasana di ruang itu sudah sangat panas dengan per adu cekcokan nya orang tua Laura dengan Nadia,


Nadia yang berusaha mengontrol emosinya, ia masih berbicara dengan batasan mengingat mereka berdua adalah orang yang lebih Tua dari Nadia.


"Menjawab saja kamu, apakah orang tua mu itu tidak mengajarkan sopan santun hah?" Tunjuk wanita paruh baya selaku ibu dari Laura


"Seperti yang tidakdi ajarkan sopan Santun itu anak ibu bukan saya" jawab Nadia lagi dengan berani nya


"Panggil orang tua anak kurang ajar ini Bu"


cih

__ADS_1


(BUAT KALIAN YANG BINGUNG KOK ALURNYA JADI NADIA SMA? INI LAGI FLASH BACK KE MASA LALU NADIA YA, SEMUANYA AKU PERJELAS YA KARENA BAKAL NGARUH KE ALUR CERITA)


__ADS_2