Cerita Cinta Najendra

Cerita Cinta Najendra
Rencana selanjutnya


__ADS_3

Menyantap makanan yang di bawakan oleh Arza, mereka duduk di sofa panjang itu, dengan posisi Nadia dan Riri duduk di karpet bulu sedangkan Arza dan Jendra duduk di sofa.


Setelah perdebatan mengenai sate di pagi hari yang pada akhirnya tetap mereka makan juga.


"Gue mau nanya deh" ucap Nadia dengan mulut yang masih penuh


"Telen dulu makanan di mulut lo" kilah Jendra


Nadia hanya tersenyum sebagai jawaban merasa bersalah, karena tak sopan ketika berbicara saat makanan masih ada di mulut, setelah menelan makanan di mulutnya, ia melanjutkan perkataannya.


"Kalian dari mana dapet kunci kamar gue?" Tanya Nadia, pertanyaan yang dari semalam ia pikirkan, jujur ia memang sedikit terkejut ketika ada yang bisa masuk ke dalam kamarnya padahal jelas-jelas pintu itu terkunci.


"Dari bapak kost lo, lo inget kan gue yang nyariin Lo kost ini jadi gue pernah nyimpen nomor bapak kost lo" jawab Riri


"Oh iya juga, tapi kenapa kalian bisa sampe sini?" Tanya nya lagi


"Lo gak inget lo semalem chat gue pas cowo Lo kesini?" Tanya Riri


Nadia mengernyit kan dahinya sekejap sebelum menjawab.


"Oh iya gue inget"


..........


{Ri, Al dateng ke kost gue, gue agak takut tapi kayanya gapapa gue cuman pengen tau aja dia mau ngapain kesini}


Send foto


Saat mendapatkan pesan dari Nadia, gadis berambut sebahu itu hendak menarik selimutnya untuk segera datang ke alam mimpi, ia urungkan saat dengan dahi yang berkerut ia membaca pesan dari Nadia, membangkitkan lagi tubuhnya dari kasur dan mengambil sebuah cardigan yang ia gantung di belakang pintu kamar nya, menyambar kunci motornya segera melajukan motor matic nya menuju Arah Kost Sepupunya, Jendra


Beberapa kali ketukan di pintu kamar Jendra tidak membuat lelaki itu keluar dari kamarnya, Riri bahkan sudah menggedor pintu Jendra tapi lelaki itu masih tak kunjung keluar, ia menarik benda pipih dari saku celana yang ia pakai, saat ia akan menekan icon panggilan ternyata lelaki itu sudah membuka pintu kamarnya


Tanpa adanya persetujuan dari Jendra Riri segera menyeret tangan Jendra untuk pergi


"Lo ngapain anjir RI, Lo mau bawa gue kemana" sewot Jendra yang matanya sudah tersisa 5 wat itu


"Ribet Lo, ayo bang"ujar Riri tanpa mendengar ocehan dari sepupunya.


"Ri ini udah malem gila, Lo mau bawa gue kemana?" Jendra melepaskan paksa cekalan tangan Riri pada tangan nya


"Bacot, Lula lagi bahaya" ucap Riri akhirnya


"Ha?" Beo Jendra tak mengerti

__ADS_1


"Lo bisa gak, gak usah banyak tanya dulu anj*g, mending ikut gue sekarang" Riri yang sudah kesal akhirnya


Tanpa banyak bertanya lagi Jendra segera mengikuti ucapan adiknya itu, mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, untungnya jalanan cukup senggang saat ini, mungkin karena sudah memasuki tengah malam


Tidak sampai 15 menit mereka sudah masuk ke dalam perumahan kost Nadia, dari jarak jauh Jendra melihat Seorang lelaki yang masih duduk di motornya tepat di depan kost Nadia, dengan sebuah ponsel yang di tempelkan di telinga, sepertinya lelaki itu sedang menelpon seseorang.


Jendra sengaja memberhentikan motornya sedikit jauh dari Kost Nadia, tapi masih bisa ia jangkau dari penglihatannya.


"Dia ngapain kesini" tanya Jendra dengan dahi yang berkerut


"Gue juga gak tau, tadi Nadia ngabarin gue dia Dateng ke kost nya katanya dia takut, ya gue panik lah secara Lo tau sendiri gimana mereka sekarang, apalagi sama kondisi tu cowo yang udah beberapa Minggu ilang kaya di telan bumi" jawab Riri dengan raut muka kesal nya.


"Wajar Nadia takut, Lo liat penampilan nya" ucap Jendra menunjuk dengan dagunya


"Iya gue liat dari tadi juga bego, terus ini kita mau diem aja disini?


"Dia belum pergi bego, eh tapi kenapa gue gak liat Nadia ya" tanya Jendra karena sejak ia datang ia tidak melihat batang hidung Nadia barang sedetik pun


"Kayanya pas kita kesini Nadia udah pergi duluan deh bang, kayanya mereka abis adu mulut, Lo liat aja muka tu cowo, gak enak banget di liat nya anjir, ya tetep ganteng si tapi gak enak banget gue liatnya" oceh Riri yang masih setia duduk di belakang Jendra


"Cih gantengan gue kemana-mana" jawab Jendra spontan


Setelah melihat lelaki yang sejak tadi Jendra dan Riri bicarakan itu sudah pergi dari halaman kost Nadia, Jendra segera memarkirkan motornya tepat di depan kost Nadia, Riri membuka pintu pagar dan segera naik ke lantai 2 di kamar Nadia, tepat saat di akhir tangga mereka sayup-sayup mendengar tangisan seseorang yang membuat mereka mempercepat langkah nya.


Melihat ada nama "bapak kost Nadia" ia segera menekan tombol panggilan kepada orang itu, meminta kunci cadangan kamar Nadia dan menjelaskan sedikit apa yang terjadi.


°°°°°°°


"Gue sedikit lega setelah ngeliat Lo gak separah yang gue bayangin" ujar Riri setelah menceritakan semuanya pada Nadia


"Ya lo pikir gue mau ngapain anjing" jawab Nadia terkekeh


"Banyak pikiran gue tentang Lo tau gak"


"Gak lah, nangis doang palingan" jawab Nadia lagi


"Ngomong apasi njing, kok gue plang plongo" potong Arza


"Bocil gak usah tau" jawab Riri dengan terkekeh.


"Monyet" umpat Arza


"Elah ribut Mulu njing makan dulu kek" potong Jendra yang sejak tadi diam mendengarkan

__ADS_1


Membersihkan meja bekas mereka makan, mereka membagi tugas, Jendra membuang sampah, Nadia membersihkan tempat tidur, Arza mencuci piring, sedangkan Riri mengepel setiap sudut ruangan.


"Ini perasaan yang paling gak enak kerjaan nya gue ya njing" umpat Riri.


"Nad, Riri ngeluh nih" teriak Arza mengadu pada tuan rumah


"Yaudah Ri ntar aja sama gue" sahut Nadia yang sedang sibuk dengan bantal-bantal di kamarnya itu


"Woy gak sat becanda gue" potong Riri dengan membawa sebuah ember berisikan air kotor ke hadapan Arza melototi laki-laki itu dengan tangan berada di pinggang


"Lo pengen gue siram sama air pel an ya Za" ucap Riri dengan mata yang melotot menatap Arza


Arza tertawa berhasil mengerjai Riri begitu juga dengan Jendra yang ikut terkekeh geli melihat tingkah mereka.


Setelah selesai mengerjakan semuanya, Riri dan Nadia mendudukkan dirinya di karpet bulu di dekat sofa, sedangkan Jendra dan Arza sudah berpamitan karena ada urusan katanya.


Aktifitas Nadia hari ini hanya di lanjutkan dengan menonton Netflix bersama Riri.


(⁠人⁠\*⁠´⁠∀⁠`⁠)⁠。⁠\*


"Udah nemuin bukti-buktinya?


"Udah tapi baru beberapa"


"Gue minta data nya, anter ke ruangan gue"


Kini Jendra berada di ruangan pribadi nya dengan seseorang yang berdiri di depan nya, orang itu memberikan Jendra sebuah map.


Jendra membuka lembaran demi lembaran kertas di dalam map itu, hingga ia terhenti pada satu nama.


"Dia siapa? Gue baru tau dia" tunjuk Jendra pada sebuah data yang membuat kening nya berkerut.


"Dia termasuk antek-antek tapi di sembunyiin, gue akui mereka pintar dalam strategi gue juga baru tau dia semalem, dia pertahanan buat mereka"


Jendra hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Selanjutnya apa rencana Lo?"


Jendra hanya menjawab dengan senyum nya dengan menyenderkan punggungnya di kepala kursi, tangannya masih memegang pulpen yang sejak tadi ia pegang,


"Kumpulin semua anggota malem ini harus ada semua, gue gak terima alesan apapun buat yang gak bisa hadir" Ucap Jendra sambil bangkit dari duduk nya


Orang itu hanya berdehem sebagai jawaban, setelah kepergian Jendra orang itu kembali membuka lembaran yang sempat membuat Jendra berhenti membuka lembaran kertas itu.

__ADS_1


"Semoga lo gak bakal gegabah Dra" gumam orang itu sebelum melangkahkan kakinya mengikuti Arza


__ADS_2