Cerita Cinta Najendra

Cerita Cinta Najendra
Sebuah Penawaran


__ADS_3

Seorang lelaki bertubuh jangkung itu melihat hiruk pikuk nya kota Jakarta dari Roop top rumah sakit yang kini sedang di tempati oleh salah satu orang terpenting di hidupnya.


Memasukan tangan nya di saku celana, menghirup udara yang cukup sejuk di malam ini, nafas menghembus kasar, ia kembali mengingat kejadian di cafe tadi.


"Bagai mana penawaran saya Tuan Jendra?" Tanya lelaki yang mengaku sebagai kakak kandung Nadia dengan menarik sudut bibirnya.


"Cih" Jendra membuang muka nya kala melihat sudut bibir orang di depan nya ini terangkat


"Baiklah jika anda tidak mau menerima tawaran saya, mungkin setelah Nadia bangun anda bisa bersiap untuk menjelaskan semuanya, atau mungkin bersiap untuk mengejar adik saya, ah dia cukup sulit untuk di rayu tuan muda, dan mungkin saja ketika adik saya tau semuanya dia bisa saja pergi dari negara ini dan anda tidak bisa melihatnya lagi, ia akan sangat kecewa bukan? Karena tau semuanya bukan dari Anda tapi dari saya selaku kaka kandung nya" tutur Saga panjang lebar, sebuah pernyataan yang di barengi dengan sebuah ancaman di dalamnya.


Ancaman yang membuat Jendra gelisah dari duduknya ia tidak bisa membayangkan apa yang Saga katakan jika semua itu terjadi, akan seberat apa hidupnya jika gadis yang dekap erat-erat itu tiba-tiba pergi dari hadapannya ah ralat bukan dari hadapannya tapi dari hidupnya.


"Baiklah mungkin saya bisa pergi sekarang, selamat malam Tuan Najendra" ucap Saga yang terbangun dari duduknya, tapi baru saja ia melangkahkan kakinya suara Jendra menghentikan.


"Tunggu"


Saga menyunggingkan senyumnya "Ya Tuan Jendra?"


"Saya terima penawaran anda, lakukan tes DNA, tapi ada syarat yang harus anda terima" ucap nya dengan menatap Saga yang berdiri di depan nya.


Saga tidak bertanya melalui mulutnya tapi melalui raut muka nya, ia hanya memandang Jendra dengan alis yang ia naikan.


"Teman saya akan menjadi saksi tes DNA anda, tidak menutup kemungkinan anda bermain curang bukan?" Lanjutnya dengan tangan ia taruh di atas dagunya.


"Tidak masalah, silahkan atur waktunya Tuan Jendra, saya tidak akan keberatan dengan persyaratan yang anda berikan, anda bisa menghubungi saya kapan saja tes DNA itu akan di lakukan, selamat malam" ucap Saga dengan tubuh yang meninggalkan cafe tersebut.


Kembali ke sebuah Roop top yang saat ini sedang Jendra pijak, ia lagi-lagi menghembuskan nafasnya kasar, saat ini tidak ada lagi cara yang bisa ia lakukan selain menuruti apa mau lelaki yang mengaku sebagai kakak kandung Nadia, ketakutan dalam dirinya akan kehilangan Nadia terlalu besar sehingga membuat ia melakukan apapun agar gadis itu tetap berada di sisinya.

__ADS_1


Ia menarik benda pipih dari kantong celananya, menelpon seseorang lewat benda pipih itu.


"Ke Roop top, ada yang perlu gue omongin sama Lo"


Tanpa mendengar jawaban dari seseorang di sebrang sana, Jendra mematikan telepon sepihak


Sedangkan di sebrang sana yang di telpon sedang misuh-misuh dari duduknya.


"Kebiasaan banget gobl*k, maen matiin aja gue aja belum jawab apa-apa" gerutunya dengan langkah lebar, orang itu adalah Arza kini ia sedang menekan tombol yang berada di dalam lift untuk bisa naik ke Roop top rumah sakit.


Ting


Lift terbuka lelaki itu mengendarkan pandangnya, ada tangga tepat berada di sisi lift itu, tangga menuju Roop top yang Jendra katakan tadi, ia segera menarik kakinya untuk menaiki tangga tersebut


Tepat saat ia sampai di Roop top itu, ia melihat Jendra yang berdiri dengan tangan yang di masukan di saku celana, Jendra membalikkan tubuhnya ketika mendengar langkah Arza ia hanya melihat Arza sekilas lalu duduk di sebuah kursi yang tersedia di sana.


"Besok lo harus temenin orang yang ngaku jadi kakak Nadia buat tes DNA" Ucap Jendra akhirnya setelah sekitar 10 menit ia hanya diam


"Ha?" hanya itu yang Arza katakan, ia mengerutkan keningnya mencerna apa yang baru saja Jendra katakan.


"Kalo dia tes DNA sendiri gak nutup kemungkinan kalo dia curang, atau mungkin dia bikin tes DNA palsu, gue cuman mau keselamatan Nadia buat sekarang"


"Lo percaya di Kakak kandung Nadia?" Jawab Arza dengan memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Jendra


"Percaya gak percaya, tapi dia bawa satu bukti yang menurut gue ini bukti kuat kalo dia beneran Kakak kandung Nadia" ucap nya dengan menarik sebuah kertas dari saku nya, sebuah kertas fotocopy kartu keluarga yang sudah usang yang ia bawa di cafe tadi.


Arza menarik kertas tersebut dari tangan Jendra, membaca satu persatu deretan nama di foto copy kartu keluarga itu.

__ADS_1


"Ada nama Nadia disini" ujarnya dengan menunjuk nama paling terakhir di deretan nama kartu keluarga itu.


Jendra mengangguk membenarkan "dan tanggal lahirnya sama"


"Berarti dia emang kakak kandung Nadia?" Tanya Arza yang masih sibuk memperhatikan kartu keluarga itu


"Bisa jadi, awalnya gue gak percaya dia kakak kandung Nadia, dia nawarin buat tes DNA gua awalnya juga nolak karena gue takut dia nipu gue atau bahkan bikin tes DNA palsu" tutur Jendra


"Tapi menurut gue gak masalah kalo bener dia kakak kandung Nadia, asal dia gak bikin Nadia celaka, tapi kenapa akhirnya lo mau dia tes DNA?" Tanya Arza


"Dia ngulik informasi tentang gue, dan dia udah tau siapa gue" jawab nya tenang


Mata Arza kini membola sempurna "Hah?"


"Gue gak tau keluarga Nadia itu sebenarnya siapa, tapi yang pasti di liat dari kecerdikan Saga gue yakin keluarga Nadia bukan keluarga biasa, Buktinya Saga dengan mudahnya cari informasi gue dan itu lengkap, dia tau gue anak tunggal Dartama" Tutur menjelaskan


"Gila, gue yakin dia bukan orang sembarangan Dra, apalagi bisa ngulik informasi tentang lo dan itu bener"


"Pas gue nolak buat dia tes DNA, dia sempet ancam gue kalo dia sendiri yang bakal bilang ke Nadia gue yang sebenarnya, dan sialnya dia tau itu kelemahan gue, dia bakal bikin Nadia jauh sejauh-jauhnya nya dari gue bukan lagi dari hadapan gue tapi dari hidup gue, itu bisa bikin gue gila, Lo tau sendiri gue belum bilang siapa gue sebenernya sama Nadia, bukan tentang keluarga gue aja, tapi tentang kalian juga" tutur nya panjang lebar


Arza mengangguk kan kepalanya "yaudah gue harap ini bukan bahaya aja entah buat Nadia atau buat lo juga yang penting, dan semoga aja dia beneran Kakak kandung Nadia, jadi dia bisa bantu kita juga buat usut kasus ini"


"Gue harap lo bisa di andelin kali ini" ucap nya dengan menepuk pundak Arza


"Dih gobl*k, kapan gue gak bisa di andelin?" jawabnya dengan memukul tangan Jendra.


Mereka berdua menarik tubuhnya untuk kembali ke kamar rawat inap Nadia, pasalnya mungkin sudah satu jam mereka berada di Roop top sana.

__ADS_1


__ADS_2