Cerita Cinta Najendra

Cerita Cinta Najendra
Rumah Sakit


__ADS_3

Kobaran api bagaikan sebuah benteng di antar mereka bertiga, menahan perih di tangan kanan nya yang terkena timpaan balok besar, sekuat tenaga Arza bangun dari jatuhnya, napasnya sudah tidak karuan, peluh berceceran dimana-mana.


"Jendra, ulurin tangan lo" teriak arza


Tidak ada sahutan dari sebrang sana, hening hanya suara kobaran api di sekitar mereka.


"Dra" teriaknya lagi


"Dra? Jangan becanda"


Hening lagi, sial seribu sial pikiran nya berkecamuk menduga-duga apa yang terjadi pada temannya itu


"Bang Arza" suara itu, lemah dan sangat kecil


"Nad"


"Nadia? Itu Lo?


"Kakak pingsan" suara parau di sebrang sana suara yang terdengar sangat lemah


Mata Arza terbuka sempurna, benar dugaannya, sang ketua yang memberikan arahan pada anggota nya untuk menjauhi si jago merah itu kini tidak sadarkan diri karena kehabisan oksigen.


Dengan memberanikan diri, Arza berdiri sempurna menatap benteng api di hadapannya, ia bersiap untuk melompat, tapi saat kaki kanannya baru terangkat suara seseorang mengalihkan atensi nya.


"Arza, Jendra, Nadia" suara itu, suara yang ia kenal


"Bintang?"


Ya Bintang lelaki itu memutuskan untuk mengikuti Arza ketika melihat Arza dengan tekad nya memasuki bangunan yang sudah terbakar itu.


"Jendra mana?" Tanya bintang pada Arza yang kini sudah berada di hadapannya.


"Di sana, Lo diem disini nanti tarik tangan gue" ucap Arza menunjuk ke sebrangnya, dengan melihat kobaran api yang menjadi benteng mereka.


Dengan sekali lompatan, Arza berhasil menghindari benteng api itu, kini ia melihat jelas Jendra yang terbaring sudah tidak sadarkan diri dan Nadia yang kondisi nya sudah sangat lemah.


"Nad, pegang tangan gue" Arza memberikan tangan kanan nya untuk Nadia, tangan kiri ia gunakan untuk menopang Jendra.


Dengan keadaan sangat lemah, Nadia menggapai tangan Lelaki itu, berusaha bangun dan terlihat tidak lemah.


Grepp!


Satu kali hentakan, tangan Arza berhasil menahan pinggang Nadia untuk tidak terjatuh.

__ADS_1


"Nad, sekuat tenaga lo, sebisa lo, pegang Jendra, kalo gue lompat lo harus bisa lompat"


Nadia mengangguk lemah, ia hanya bisa mengikuti semua yang lelaki itu katakan, ia sangat lemah, jika tidak ada tangan Arza yang berada di pinggang nya, mungkin gadis itu sudah tumbang kembali.


"Inget kata gue"


"Za tangan lo" bintang di sebrang sana sudah bersiap menerima uluran tangan Arza.


Sekuat tenaga menahan Jendra, Arza menerima uluran tangan Bintang.


"Za lompat" bintang memberi aba-aba


Bughh


Satu kali lompatan berhasil, tapi sial hanya Jendra yang ia bawa dalam genggaman nya.


"****"


Saat Arza akan melompat kembali membawa Nadia, Bintang menahan tangan nya.


"Gue aja"


Lelaki jangkung itu melihat arah langit-langit bangunan sebelum melompat, tidak ingin ada kejadian di luar dugaan ia segera melompat kan diri ke dalam ruangan.


Dan benar dugaan, Nadia tidak sadarkan diri dan terlepas dari genggaman Arza, bintang membawa Nadia ke dalam gendongan nya.


Berhasil membawa Nadia dan Jendra dalam gendongan masing-masing, Arza dan Bintang segera melarikan diri keluar bangunan.


"Nadia, Jendra" lirih Riri ketika melihat kondisi Nadia dan Jendra yang jauh dari kata baik-baik saja.


"PANGGIL AMBULANCE" teriak Riri histeris, terdapat Daffa yang berada di sisinya sejak ia menangis, berusaha menenangkan adik dari sang ketuanya.


"Ambulance nya lagi di jalan Ri" ucap Daffa lembut dengan tangan yang mengusap bahu Riri pelan.


"Gue takut Daf" suaranya bergetar begitu banyak ketakutan dalam dirinya, melihat sahabatnya sudah tidak sadarkan diri begitupun dengan sepupunya, itu adalah patah hati bagi Riri.


"Engga, percaya mereka gapapa" merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya, menguatkan hati bahwa ia juga baik-baik saja, walaupun dalam kenyataannya hatinya sakit melihat sang ketua dan Nadia dalam kondisi yang sangat tidak baik-baik saja.


"Gue takut Daf... Mereka..."


"Sut jangan Gegabah mereka gapapa Ri" kembali menenangkan sang gadis bahwa semua baik-baik saja.


Sedangkan di sisi lain, Haikal mengepalkan tanganya sempurna.

__ADS_1


"Siapapun lo, mati lo di tangan gue anjing"


Haikal datang membawa sebotol air minum yang ia berikan kepada Arza dan Bintang, mereka berdua sama dengan Nadia Dan Jendra keadaannya sangat jauh dari baik, hanya saja perbedaan nya Nadia dan Jendra yang tidak sadarkan diri, tapi tidak dengan Bintang dan Arza.


Napas mereka masih belum teratur, oksigen yang terkuras sejak Indra penciumannya menghirup asap tebal dari kebakaran.


Melihat sekeliling sudah terdapat beberapa mobil pemadam kebakaran yang sedang berusaha melumpuhkan si jago merah.


2 mobil ambulance kini menghampiri mereka, beberapa anggota Aodra segera membantu mengangkat Jendra dan Nadia ke dalam ambulance dan menempatkan mereka di atas brangkar.


Riri Dan Daffa memasuki Ambulance tersebut, menemani Nadia yang kini masih terbaring tidak sadarkan diri.


Sedangkan Arza dan Bintang menemani Jendra di dalam ambulance yang lain, sembari mengumpulkan kembali tenaga yang sudah terkuras.


.....


Sebuah mata hazel dalam brangkar itu terbuka perlahan, menatap langit-langit kamar rumah sakit. mengernyit kan keningnya berkali-kali, mengumpulkan sebuah kesadaran.


"Bin, Za"


Sebuah suara parau mengalihkan atensi Arza dan Bintang, mereka mendongakkan kepalanya yang tertunduk, melihat Sang ketua kini sadar dari pingsan nya.


"Nadia mana? Kenapa gue disini" Tanya nya dengan tangan yang mengurut pangkal hidungnya


"Dra, lo hampir bikin gue mati anjing" keluh Arza dengan memukul pelan lengan sang lelaki


Jendra menggelengkan kepalanya pening "Gue ngapain disini?" Tanya nya.


"Lo di rumah sakit, lo pingsan dari kemaren, Lo istirahat dulu deh kondisi lo belum stabil" ujar Arza


"Nadia mana?" Tanya Jendra dengan tatapan kosong


"Nadia... Lagi istirahat, dia butuh banyak istirahat" ucap Arza dengan menatap Bintang.


"Gue mau ketemu Nadia Za" ucap nya seraya bangun dari brangkar itu, namun baru saja lelaki itu hendak turun dari brangkar nya, Arza menahan pundak sang lelaki.


"Lo istirahat dulu deh Dra mending, keadaan lo belum stabil banget, dokter bilang lo harus full istirahat"


"Gue mau ketemu Nadia Za, lo kenapa dah" ucap Jendra mengernyit kan keningnya, heran terhadap sikap Arza yang menahan-nahan dirinya untuk bertemu Nadia


"Nadia gapapa kan?" Tanya Jendra akhirnya yang membuat mereka berdua diam seribu bahasa


Hening, sangat hening tidak ada sahutan dari siapapun, entah itu Arza ataupun Bintang, lidahnya kelu, diam dengan seribu bahasa entah apa jawaban yang pantas untuk mereka berdua lontarkan pada Jendra

__ADS_1


"Bin, Nadia gapapa kan?" Tanya nya lagi dengan mengguncangkan lengan lelaki jangkung itu


"Nadia... Dia...


__ADS_2