
Sebuah mata tajam yang siap menghunus lawan itu memerah karena menahan emosi, Jendra mendengar semuanya, mendengar apa yang terucap dari bibir Gadis kecil yang sedang meringkuk di atas lantai dengan tangan yang bergetar hebat.
Bugh
Bugh
Dua kali pukulan mendarat di rahang lelaki jangkung yang mengaku sebagai kakak kandung Nadia, Nadia memejamkan matanya kuat kala mendengar sebuah pukulan itu.
"Ternyata gue salah anggap lo bukan orang jahat buat Nadia"
Bugh
Satu tendangan keras melayang di perut Saga, Nadia berteriak histeris kala Lelaki yang beradu argumen dengan nya jatuh terkulai.
"Kak udah" Suara histeris itu memenuhi ruang rawat inap Nadia, Mendengar teriakan Nadia, Riri yang sejak tadi berada di depan kamar rawat inap Nadia mendorong pintu dengan kasar tidak memperdulikan Jendra yang melayangkan lagi tinjuan nya pada Saga, Gadis itu menarik Nadia ke dalam dekapannya.
"Berhenti" Racau Nadia yang berada dalam dekapan sahabat nya itu
"Ri, berhenti" rintih Nadia dengan tangan yang masih bergetar hebat walaupun sudah Riri cekal
"Bang udah" Riri bangkit dari tempat nya, menarik lengan baju Jendra untuk berhenti
"Udah, kasian Nadia"
Dengan napas yang memburu, Jendra menatap nyalang Lelaki yang penampilannya sudah tidak serapih tadi.
Jendra menghampiri lelaki itu dengan langkah lebarnya, menarik kerah kemeja yang lelaki itu pakai.
"Pergi dari hadapan Nadia bajingan, sekali pun Lo kakak kandung Nadia, gue gak akan pernah segan-segan buat hajar Lo, kalo Lo nyakitin dia" dengan sorot mata yang tajam dan tekanan di setiap Perkataannya, Jendra menghempaskan cengkraman tangan nya.
__ADS_1
Tatapan nya beralih ke sebuah gadis yang masih terduduk di dingin nya lantai kamar rumah sakit, gadis itu terduduk dengan mata yang terus mengeluarkan cairan bening, tanpa pikir panjang Jendra merengkuh tubuh yang bergetar itu ke dalam dekapannya.
"Gue disini Na, jangan takut, gaada yang nyakitin Lo lagi"
Nadia menangis hebat dalam dekapan lelaki bermata hazel itu, lelaki yang sudah menghajar kakak kandung nya tepat di depan matanya
"Kakak gak harus pukul dia, dia Abang Nana" Rintih kecil itu dalam pelukan Jendra
"Dia udah nyakitin lo Na, gue gak bisa liat lo kaya tadi" Jawab Jendra dengan kembali mempererat pelukannya pada tubuh kecil Nadia.
Gue denger semuanya Na
Tidak ada jawaban dari Nadia, gadis itu masih menyesuaikan emosi dalam dirinya, menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Jendra membuat ia bisa menenangkan diri dengan cepat, sebuah nafas yang memburu tadi kini berubah menjadi nafas yang teratur kembali.
Mendapatkan sinyal bahwa gadis itu sudah tenang, Jendra melepaskan dekapan hangatnya, memandang sebuah mata Hazel berwarna coklat itu dengan tatapan teduh nya, mata yang sembab, bibir yang masih pucat, tapi kecantikan itu tidak pernah hilang dari wajah Nadia.
"Pindah ke kasur ya Na, disini dingin"
Tanpa jawaban, Jendra mengangkat tubuh kecil Nadia ke sebuah Sofa yang berada di sebrang kasur rumah sakit itu.
Dengan cekatan Riri memberikan sebuah air putih kepada Nadia, menepuk pundak gadis itu pelan, Nadia menerima gelas itu dengan perlahan, meminum air putih itu sampai habis setengah, tatapannya terikat pada sebuah netra tajam milik Jendra.
"Kak"
"Cerita ke gue kalo Lo udah siapa Na, jangan pernah paksain apapun" Jendra menatap mantap tatapan teduh milik Nadia, ia tidak ingin memaksa Nadia untuk menceritakan semuanya ketika gadis itu belum siap, ia tidak ingin ada sebuah paksaan apapun tercipta dalam cerita yang Nadia jabarkan nantinya.
"Aku siap kak" Jawab Nadia dengan satu tangan nya yang memegang tangan Besar Jendra.
Jendra terdiam kelu mendapatkan Jawa spontan dari gadis itu, pandangan teduh Nadia menatap tulus mata Jendra, "tapi gak disini"
__ADS_1
sebuah taman rumah sakit kini menjadi saksi bagaimana Nadia menjabarkan kehidupan nya di masa lalu, ucapan demi ucapan terucap di bibir kecil sang gadis bernama Nadiana Putri Mahesa, Duduk di kursi roda yang di dorong oleh Jendra, Nadia menatap dedaunan yang terbang tertiup angin, Bibir nya tak henti berucap, ada Jendra disana, yang masih setia mendengarkan kisah hidup gadis itu.
°°°°°
Menyesap sebuah kopi pahit yang berada dalam genggaman tangan nya, Jendra berkecamuk dengan pikiran nya sendiri saat ini, Mendengar kisah hidup Gadis kecil bernama Nadiana Putri Mahesa membuat ia berpikir selama ini lelaki itu tidak pernah salah kaprah untuk selalu menjaga gadis itu.
Sedikit demi sedikit, sebuah titik terang kini mulai terbuka, Jendra menemukan sebuah jawaban dari seribu pertanyaan dalam otaknya, dengan tidak secara langsung Nadia sudah benar-benar menganggap dirinya bukan lah orang lain lagi dalam kehidupan Nadia, setelah dengan berani nya Nadia menceritakan semua kisah kehidupan nya pada lelaki yang ia temui satu tahun terakhir ini.
"Lambung lo gak kuat sama kopi pahit Dra"
Sebuah suara berat mampu menghentikan gelas berisi kopi itu hingga menggantung di udara, Jendra menengok an kepalanya, seorang laki-laki berawakan jangkung kini berada di hadapannya.
"Sesekali" Jawab Jendra dengan sebuah kekehan di akhir kalimat nya
"Gimana soal cowo itu?"
Jendra menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, Jelas Jendra tau siapa yang orang di depan nya itu maksud dengan sebutan 'cowo itu' tapi jelas ia tidak tau dan cukup tidak memikirkan dimana berada lelaki itu, lelaki yang sempat mengaku sebagai kakak kandung Nadia.
"Jadi dia emang bener Kaka kandung Nadia?"
"Secara biologis iya, tapi secara manusiawi gue rasa bukan" Jawab Jendra dengan memasukkan sebuh permen ke dalam mulutnya
"Maksud Lo?"
"Dia brengsek Daf"
Sebuah suara yang membuat Jendra menggantungkan cangkir kopi nya di udara adalah Daffa, lelaki itu sejak kemarin bahkan kesulitan untuk berbicara dengan Jendra karena lelaki itu selalu setia menemani Nadia, kini ada saatnya Lelaki itu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berbicara dengan Jendra, membicarakan perihal semua masalah yang dihadapi oleh Jendra,
Daffa mengkerutkan keningnya ketika mendapatkan sebuah jawaban tak terduga dari bibir Jendra, ia mengerjapkan matanya bingung, apa yang di maksud dari ucapan lelaki di depan nya.
__ADS_1
"Dia bukan orang yang bisa di percaya, gue denger semuanya, gue denger apa yang Terucap dari bibir Nadia, Nadia sakit Daf, Nadia butuh gue, dia gak punya kakak yang baik buat dia, selama ini dia nyimpen semuanya sendirian dia mikul beban seberat itu sendirian, akhirnya semua pertanyaan dalam otak gue sekarang terjawab satu persatu"
Daffa mendengarkan semua ucapan Jendra dengan ekspresi wajah yang tidak bisa artikan, dahi nya berkerut sempurna sekarang, banyak pertanyaan dalam otaknya rasanya ingin sekali ia meruntunkan pertanyaan kepada lelaki di depan nya ini, tapi Daffa bukan lah orang yang sembarangan, ia menunggu waktu yang tepat untuk mendapatkan semua jawaban dalam dirinya.