Cerita Cinta Najendra

Cerita Cinta Najendra
Kilas Di Balik Masa Lalu Nadia (1)


__ADS_3

Tidak ku sangka dewasa semenyakitkan ini


Dengan seluruh kekuatan aku menghembuskan nafas lelahku, semuanya terasa menyakitkan semuanya terasa menyedihkan, tamparan makian selalu terdengar setiap malam entah sudah ke berapa kali aku mendengarnya rasanya aku ingin menghilang, aku selalu bertanya pada tuhan mengapa aku harus di lahirkan semenyedihkan ini.


Aku beranjak mengambil jaket ku yang ku simpan di belakang pintu, mengambil sebuah pematik di dalam tas dan keluar membanting pintu, makian dan teriakan masih terdengar di balik bilik kamar org tua ku, aku sudah muak aku berusaha tidak mau peduli, aku menaiki motor besarku dan menarik pedal gas dengan kecepatan tinggi, aku melupakan kesedihan ku dengan cara ini,


Hahaha lihatlah aku sangat menyedihkan bukan duduk sendiri menyesap nikotin di antara himpitan jariku, lagi-lagi air mata keluar tanpa permisi, aku memejamkan mata meluruhkan semua amarahku rasanya aku ingin menyerah, menyerah dengan semesta yang bercanda nya kelewatan.


Hahaha lagi2 aku tertawa dalam isakan, bukan tertawa karena lawakan tapi tertawa melihat diri sendiri kenapa harus semenyedihkan ini.


Handphone di saku ku bergetar, tidak sedikit pun niatku mengambilnya aku sudah terlalu muak dan sudah tau siapa yang sekarang menghubungiku, 2, 3, 4, 5 akhirnya aku mengambil benda pipih itu aku melihat siapa yang menelpon ku.


"Lo dimana?"


"Danau"


Panggilan terputus sepihak, aku mematikan telpon, saat ini aku sedang tidak ingin bicara dengan siapapun aku hanya ingin menenangkan sedikit pikiranku


Sayup-sayup aku mendengar suara motor mendekatiku hah sudah ku duga dia akan datang, dia menepuk bahu ku seolah menguatkanku, dia duduk disampingku tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Dunia becanda nya gak asik anjing"


"Bertahan bentar lagi, gua yakin lu gak selemah itu buat nyerah kan" org itu menatapku dengan perasaan iba


"Gua cape No"


Almeta Anora


Gadis berambut hitam panjang dengan hidung mancung dan mempunyai mata yang berkilau, gadis itu cukup masuk ke dalam siswa pintar di SMA Kencana, Almeta Anora lah namanya, mempunyai nama panggilan Ano, dia rajin tapi sedikit pemalas juga, gadis ceria dengan 1000 kelakuan absurd nya, walau sedikit freak menurutku, dia Sahabatku sejak aku masih duduk di bangku SD dia satu2nya org yang saat ini selalu mendukung ku dalam keadaan apapun, dalam keadaan seperti ini dia berusaha membuatku bertahan.


"Lo mau balik? Atau nginep apart gua?" Tanya Ano yang masih setia duduk di sampingku dengan lutut yang ia tekuk di depan tubuhnya.


"Lo tau jawaban nya kenapa harus nanya" ucapku acuh


Ia hanya mengangguk sebagai jawaban, menarik tubuhnya untuk bangun dari duduk.

__ADS_1


"Ayo balik, gua punya banyak makanan di rumah"


Menghela nafas sebentar aku beranjak dari duduk ku menaiki motor dan menutup kaca helm yang ku pakai.


Setelah sampai, aku merebahkan diri ku di kasur dengan sebelah tanganku menutupi mata sebentar aku memejamkan mata ku, dari dapur Ano sudah memanggil untuk makan malam


\*⁠\⁠0⁠/⁠\*


POV Author


Kembali ke rumah setelah menenangkan diri, Nadia, gadis itu membawa motor besarnya masuk ke dalam rumah, membuka pintu menelisik kanan kiri apa ada pecahan bekas pertangkaran org tua nya semalam, tapi terlihat semuanya rapih dan bersih, ia berjalan ke dapur melihat bibi yang menjaganya sejak kecil dan bekerja di rumahnya selama bertahun2.


"Bi" mengusap punggung paruh baya itu


"Nona" bibi pengusap lembut surai gadis itu, Nadia selalu merasakan kasih sayang ketika bersama bibi


"Semalam pergi kemana non? Bibi telpon nona tapi tidak di jawab, bibi khawatir nona kenapa-kenapa"


"Aku sama Ano bi aku cape di rumah"


"Nona, bibi tau pasti nona sangat lelah, sabar ya nona semuanya bakal baik-baik saja" lagi2 bibi mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang


"Engga bi, aku bawa aja, tolong di tempatin aja ya" ucapku beranjak dari duduk


Bibi hanya mengangguk sebagai jawaban, Nadia membawa tubuhnya menaiki tangga, saat ia melewati kamar org tuanya terselip rasa penasaran dalam dirinya, harus kah dia mengetuknya? Sekian lama Nadia hanya berdiam diri melihat pintu kamar itu, pada akhirnya ia memutuskan untuk tidak ingin perduli.


Saat ia menekan handle pintu suara yang meninggi menyambut kedatanganya ke rumah itu.


"Dari mana saja kamu anak sialan, tidak berguna semalaman pergi tanpa pamit pada orang tua mu sendiri"


Nadia hanya diam mematung mendengarkannya bicara.


"Kamu memang sama sialan seperti ibumu yang tidak tau di untung itu dasar anak setan"


Nadia berbalik menatap lelaki paruh baya di depannya yang sudah rapih dengan setelan jas nya, lelaki paruh baya itu menatap Nadia nyalang dengan segala kebencian di sorot matanya.

__ADS_1


Plak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Nadia, gadis itu memegang getir pipinya yang panas akibat tamparan itu, ia bahkan enggan untuk sekedar melihat wajah lelaki paruh baya di depannya.


"Pergi kamu anak sialan, anak tidak berguna" makian demi makian hilang ketika lelaki paruh baya itu menutup pintu dengan keras dan pergi meninggalkan Nadia.


Gadis itu menatap nanar seseorang yang sudah tidak ada di depan nya pantaskah ia menyebutnya seorang ayah? Pantaskah ia berharap bahwa lelaki paruh baya itu adalah superhero nya? Makian dan cacian yang setiap hari selalu diam dalam rungu nya.


Air mata lagi-lagi lolos di pelupuk matanya, gadis itu menghapusnya dengan kasar, dengan segera masuk ke dalam kamar mandi hanya sekedar untuk membersihkan diri dan mengganti baju, mengambil tas ransel, menyambar kunci motor dan segera keluar, udara di rumah itu sudah sangat menyesakan di dadanya.


Saat turun dari tangga ia mengambil tempat bekal yang sudah bibi siapkan, ia celingukan mencari sosok bibi, tapi nihil dia tidak ada di sana, gadis itu merogoh saku celananya mengirim pesan singkat kepada bibi.


Segera ia keluar rumah dan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, berkali-kali handphone di sakunya bergetar, Nadia menepikan motornya dengan kesal, siapa lagi sih pikirnya, ternyata Nama sahabatnya tertera di sana ya ya dia lagi di lagi


"Hmm"


"Lo dimana?"


"Jalan"


"Gua tunggu di parkiran oke, dadah"


Sebelum menjalankan lagi motornya sebuah kekehan terdengar dari bibir kecil Nadia, ia rela menepikan motornya hanya untuk menjawab telepon dari sahabatnya, lalu saat di angkat hanya itu yang ia dengar, ah ingin sekali ia menjitak kepala sahabatnya.


Dari gerbang sekolah Gadis yang sedang menjalankan motornya itu melihat sang sahabat celingukan bingung sebuah ide jahil muncul dalam otaknya.


"Anjing"


Ara sudah mengangkat tangannya untuk memukulku karena mengagetkan nya dengan sebuah kelakson motor


"Siapa suruh ngalangin"


"Monyet"


Nadia hanya berdehem di barengi kekehan menjawab gerutuan sahabatnya itu

__ADS_1


"Hari ini pelajaran pak botak, Lo mau masuk?" Tanya Ano yang berdiri menunggu Nadia turun dari motor besarnya.


Tanpa menjawab, Nadia turun dari motor besarnya melepaskan helm yang melekat di kepalanya, meninggalkan Ano yang masih mengoceh tak jelas Karena ia tinggalkan.


__ADS_2