
Menatap lurus segerombolan orang yang berada di depan nya saat ini, Jendra berdecih pelan.
"Oh ini yang laporin Geng gue ke polisi? Cih jagoan kesiangan" ucap seseorang yang menghampiri Jendra tanpa takut.
"Kita bertemu lagi Najendra, how did you rest for one year? Udah jago? Atau malah lebih pecundang dari sebelumnya?" Ejek orang itu melihat Jendra seolah meremehkan
"Udah bagus lo ngilang bukan malah muncul lagi tiba-tiba jadi pahlawan kesiangan" lanjutnya lagi dengan tangan yang di lipat di dada
Tidak menjawab bahkan tidak bergeming akan ucapan lawan bicaranya, Reyhan Aditya, sang wakil ketua Bruiser, Jendra tidak peduli dengan semua umpatan Reyhan kepadanya, matanya diam-diam mencari sosok ketua dari Bruiser.
Pengecut, sampe Nadia luka walaupun seujung kuku, lo mati di tangan gue Alfaro.
SERANG!!!
pertumpahan darah yang tidak ter elakan Antara Aodra dan Bruiser, hampir semua anggota Aodra turun ke lapangan, Reyhan yang sejak tadi melawan Jendra hampir kewalahan dengan kekuatan bela diri Jendra.
Satu persatu anggota Bruiser ternyata mengepung Jendra dan membantu Reyhan, Terlihat Jendra yang mulai kewalahan karena ia hampir melawan sekitar 20 anggota Bruiser.
Licik
Satu kata untuk Reyhan, Haikal yang menyadari Jendra tengah di kepung dan mulai kewalahan pun masuk ke dalam kepungan Jendra, mengalahkan lawan satu persatu hingga hanya tersisa dua orang, Jendra yang masih melawan Reyhan, dan Haikal yang saat ini sedang menghajar habis-habisan anggota Bruiser,
"Pengecut anying maen keroyokan" ucap Haikal yang masih membabi buta menghajar lawan nya.
"Lo menang hari ini ngga buat hari selanjutnya nya" ucap Reyhan yang masih menatap Jendra dengan napas yang memburu
"Lo menang karena main kandang"lanjut nya lagi
"Bro" jawab Jendra dengan menepuk pundak Reyhan "Lo yang datang sendiri dan lo yang kalah, see You lost not because I played cage but basically you're the loser" lanjutnya dengan menekan kan kata loser di akhir kalimat nya
"Cabut" teriak Reyhan yang mengakui kekalahan atas pertarungan antara Aodra dan Bruiser.
Reyhan beserta anggota nya yang masih tersisa itu pergi meninggalkan Markas Aodra dengan keadaan kacau, beberapa anggota Bruiser yang sudah tidak sadarkan diri tergeletak di setiap penjuru markas Aodra.
"Cih dia bahkan gak bawa anggota nya yang udah sekarat" ucap Bintang yang melihat satu persatu anggota Bruiser yang Reyhan tinggalkan begitu saja.
"Urus" ucap Jendra yang meninggalkan mereka
"Anggota inti semua ikut gue" ucap nya kembali sebelum meninggalkan anggota Aodra
"Urus semuanya sampe bersih" ucap Arza kepada salah satu anggota Aodra.
lelaki itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Meninggalkan semua kekacauan yang berada di luar markas, kini semua anggota inti dan sang ketua berada di ruang pribadi Jendra, dan tentu ada Riri disana.
__ADS_1
Sejak kedatangan Bruiser Jendra menyembunyikan Riri di ruang pribadinya, tidak mau adiknya ikut turun campur tentang permasalahan nya dengan Bruiser.
"Faro gaada di antara mereka" ucap Jendra
"Bang? Your seriously?" Jawab Riri dengan raut muka yang kaget
Jendra mengangguk untuk pertanyaan Riri, dia menatap Arza yang saat ini berada di depan nya.
"Lo masih mau bilang kalo Nadia ilang bukan ulah Faro?" Tanya Jendra yang menatap Arza.
"Kita cari Nadia bareng-bareng sekarang bukan saatnya harus berantem" tengah Daffa.
"Lo udah coba lacak handphone Nadia?" Tanya Jendra menatap Daffa
"Ha? Oh anjing iya kan gue hacker" jawabnya dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"Goblok"
Menunggu Hasil dari Daffa, Jendra menyandarkan tubuhnya ke kepala sofa yang ia duduki, memijat pelipisnya, pusing melanda kepalanya, memikirkan gadis kecilnya yang saat ini entah berada dimana.
Na? Lo dimana?
gue khawatir, gue kangen
Nad...
Jendra mengutak-atik handphone menuliskan beberapa bubble chat pada Nadia, rasanya ia ingin menghilang saja sekarang, Nadia adalah dunia nya, Nadia adalah rumahnya, lalu sekarang rumah yang ia tempat tiba-tiba menghilang.
Haikal datang dengan membawa beberapa bungkus makanan dalam tanganya.
"Makan dulu dah" ucap Haikal yang membuka satu persatu bungkus makanan itu
Tidak ada jawaban dari Jendra, lelaki itu masih setia menutupi wajahnya dengan tangan.
"Dra, makan dulu Lo terakhir makan tadi pagi"
"Duluan"
Hanya itu jawaban dari Jendra, mereka menatap Jendra dengan tatapan nanar, pertama kalinya dalam hidup mereka melihat Jendra Se pendiam ini, walaupun biasanya tidak banyak bicara pun, ia tidak pernah menolak ketika di ajak makan.
Setengah jam menunggu hasil dari Daffa Jendra mulai gelisah dari posisi duduknya.
"Daf gimana?"
"Dra, sorry banget ini mah Lo baru nanyain itu sekitar 2 menit yang lalu, susah buat nge lacak hp Nadia, eror terus gue yakin hp Nadia udah di setting GPS nya" Jawab Daffa jengkel karena pasalnya sejak tadi Jendra tidak berhenti bertanya pada Daffa, bahkan ketika Daffa baru menyalakan Komputer nya
__ADS_1
"Ck"
Jendra mengambil jaket yang ia simpan di kepala sofa dan mengambil kunci motornya melangkah kan kaki tanpa ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
"Woi, jangan gegabah" Saut Arza bangun dari duduk nya ketika melihat Jendra yang sudah melangkah kan kakinya
Jendra yang sudah melangkah kan kakinya itu langsung berhenti ketika Arza bangun dari duduknya "Gue gk mungkin cuman diem aja nunggu kepastian Nadia dimana" Jawab nya
"Sabar dikit lagi Dra"
"Engga anjing gue takut Nadia kenapa-napa"
Tanpa mau cekcok lama dengan anggota nya, Jendra membulatkan tekadnya untuk mencari Nadia, sosok yang saat ini menjadi tujuan dalam hidupnya.
"Ah anjing" Umpat Arza kala melihat Jendra yang pergi melajukan motornya
"Ikutin deh gue takut dia gegabah kalo emosi gitu" ujar Daffa yang masih sibuk mengotak-atik komputer di depan nya
Semua anggota inti beserta Riri mengikuti perginya Jendra, kecuali Daffa, ia masih fokus dengan komputer nya, mencari keberadaan gadis kecil ketuanya sedikit menguras tenaga, 1 jam tangan nya masih mengotak-atik komputer yang berada di depan nya tidak membuahkan hasil apapun.
Kini Jendra bersama teman-temannya berada di dekat Markas Bruiser, memantau semua keadaan di dalam sana, sudah 1 jam berlalu tapi dia tidak mendapatkan hasil apapun, sekarang hanya Daffa satu-satunya harapan yang ia punya.
Dering ponsel Jendra berbunyi.
Dra Lo dimana?
Markas bruiser
Balik, gue ada info, percuma Lo mau diem disitu sampe kiamat pun gak bakal dapet apa-apa
Setelah mendapatkan informasi dari Daffa mereka semua kembali ke markas Aodra, menatap layar komputer tentang keberadaan gadis kecilnya, keningnya berkerut melihat lokasi yang Daffa dapatkan.
"Gak mungkin, kayanya lo salah" Ucap Jendra ketika melihat lokasi yang di dapatkan Daffa lokasi yang sangat jauh dari perkiraan nya, tempat terpencil dan di tengah-tengah hutan
"Gila gue sampe 3 jam duduk melototin ni komputer lu bilang salah" Jawab Daffa dengan alis yang ia naikan sebelah
"Lo liat? Ini tempat terpencil, hutan"
"Bang, ayolah lo lupa Faro se cerdik apa, cari sekarang sebelum Nadia kenapa-napa" ucap Riri yang sudah jengkel melihat sepupunya itu terlalu berbelit-belit
Semua mengangguk setuju tentang ucapan Riri.
"Kumpulin beberapa anggota buat mantau dari kejauhan, gue yakin Faro nyimpen antek-anteknya buat jaga-jaga disana" Jawab Jendra Akhirnya
"i have come to bring disaster for you Alfaro, kita lihat se licik apa diri Lo bajingan"
__ADS_1
Tanganya mengepal sempurna yeng sudah menahan emosi sejak tadi, menarik pedal gas motornya dengan kecepatan tinggi.