
Mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, mungkin orang lain yang melihat cara Jendra membawa motor sekarang adalah pemuda yang membawa motor dengan ugal-ugalan, peduli setan dengan semua anggapan orang saat ini, di pikirannya Sekarang hanyalah keselamatan gadis kecilnya.
Mengandalkan sebuah lokasi yang sejak 3 jam Daffa lacak, Jendra dengan lihai mengelak-elok motor kesayangannya, sampai tibanya di sebuah jalanan berbatu yang cukup sulit ia tempuh, tentu dengan teman-temannya yang sejak tadi memang mengikuti motornya.
"Dra" sebuah teriakan di belakangnya membuat ia menepikan motornya
"Jalan nya udah bener? Liat di depan sana, makin parah, banyak rumput tinggi"
Jendra mengangguk sebagai jawaban, ia mengeluarkan Handphone yang berada di sakunya, lalu memberikan handphone itu ke pada yang bertanya.
"Jalan nya udah bener, tapi bukan ke rerumputan itu, ke Kanan"
Melanjutkan lagi perjalanan dan sekitar 500m dari tempat mereka berhenti tadi ternyata memang ada persimpangan ke sebelah kanan, terlihat ada bekas ban mobil di jalan itu.
Jendra segera menarik pedal gas motornya, mengikuti jalanan berbatu itu.
Tampak dari kejauhan sebuah bangunan kumuh yang sudah terbengkalai, Jendra segera turun dari motornya, saat hendak mengayunkan kakinya untuk masuk ke dalam, Arza menarik tangan lelaki itu.
"Jangan gegabah, liat dulu sekitar"
"Maju 5 anggota periksa setiap sudut bangunan" sebuah earphone kecil yang bertengger di telinga Arza, earphone yang menghubungkan ia bersama Anggota yang mengikuti mereka.
Setiap sudut telah mereka periksa tidak ada kejanggalan apapun atau sekalipun orang, lalu kemana seseorang yang telah menyekap Nadia? Atau mungkin Nadia bahkan tidak ada disini?
Nadia segera mengayunkan kaki jenjang nya ke dalam bangunan terbengkalai itu, bangunan terbengkalai yang terdapat 3 lantai, di lantai ke satu ia tidak mendapatkan apapun ia menarik kakinya lagi menuju lantai 2 nihil ia bersama teman-temannya bahkan tidak mendapatkan apapun.
Namun di sisi lain Haikal ternyata sudah mendahului mereka untuk naik ke lantai 3, sebuah kepulan asap menarik atensi nya, Haikal sempat terdiam untuk beberapa saat.
"Dra"
Mendengar Haikal yang menyebut namanya, Jendra segera menaiki tangga untuk menghampiri si pemanggil.
"Dra, Asap" tunjuknya pada sebuah ruangan di sebrang mereka, tanpa banyak bicara Jendra langsung berlari ke arah asap tersebut.
Bruk
Bruk
Bruk
Tiga kali dobrakan pada pintu ruangan itu, kepulan asap mulai menyebar, kobaran api dari dalam ruangan itu mulai menjalar ke langit-langit bangunan, kepulan asap yang tebal membuat mereka terbatuk, begitupun dengan Jendra, tenaga lelaki itu sudah cukup terkuras habis.
"Na? Ini Gue, lo dimana?"
__ADS_1
"Nadia"
"Na ini gue Riri plis bikin tanda-tanda lo ada disini"
"Nadia"
Beberapa panggilan yang menyebut nama Nadia dari mulut mereka, tapi nyatanya hening tidak ada sahutan apapun, mereka mulai waspada ketika api mulai turun ke tiang-tiang bangunan.
Melihat nanar api yang kian menyebar "Na" lirih sangat lirih suara itu, Jendra tenaga nya hampir terkuras habis, benang putus asa itu mulai terlihat, Riri dengan segera memeluk sang lelaki.
"Ayo bang yakin, Nadia pasti ada disini" Memeluk sang lelaki serta mengusap punggung nya pelan, memberikan sebuah kekuatan untuk bangkit kembali.
"Kakak"
Sayup-sayup mendengar suara sang gadis kecilnya, mata yang awalnya tertutup itu kini terbuka spontan.
"Ri? Lo denger kan?" Tanya Jendra memastikan bahwa ia sedang tidak berhalusinasi sekarang.
Riri mengangguk sebagai jawaban, mereka berdua kini bangun dari duduknya. Mendobrak lagi pintu ruangan itu.
Brak
Dengan bantuan Arza dan Haikal yang mengandalkan Kaki mereka, pintu ruangan itu kini terbuka.
"Kak Ana disini" sahut sang gadis yang entah dari mana suaranya.
Melompati beberapa balok kayu yang sudah terbakar, Jendra berusaha menahan kakinya untuk tidak salah melangkah.
"Za bawa Riri keluar, semuanya keluar biar gue yang cari" teriakan dari bibir Jendra ketika melihat Api yang sudah menyebar hampir ke seluruh bangunan.
Tanpa mendengar sahutan dari anggota nya Jendra berjalan mendekati suara yang tadi ia dengar, suara sang gadis kecil, mengibaskan tangan di depan wajahnya untuk menghindari asap, terbatuk beberapa kali ketika asap masuk ke dalam Indra cium nya.
Di sisi lain kini semua anggota sudah berada di luar bangunan, menatap bangunan yang sudah habis terbakar oleh si jago merah.
Ada Jendra di dalam sana, lelaki yang kini berjuang menyelamatkan dunia nya, Nadiana, gadis yang sudah membuat Jendra kalang kabut mencari keberadaan nya.
5 menit
10 menit
15 menit
Tidak ada tanda-tanda bahwa lelaki itu akan keluar membawa sang gadis, resah mulai terdengar dari bibir anggota nya, begitu juga dengan Riri, yang sejak tadi tidak bisa menahan air matanya.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, ternyata Arza kini masuk ke dalam bangunan, berharap ia bisa membantu ke dua orang yang saat ini menjadi jajaran penting di kehidupan nya.
"Za"
"Arza jangan nekat"
Beberapa teriakan terdengar di rungu lelaki itu, tidak ia pedulikan di pikiran nya saat ini adalah Jendra dan Nadia, keselamatan mereka menjadi yang utama.
Menaiki tangga dengan sempurna Arza melangkahkan kakinya di tangga terakhir tujuan nya, tangga menuju lantai tiga, saat melangkahkan kakinya di tangga terakhir sebuah balok besar terjatuh tepat di atas kepalanya.
brugh!
"Arghhh" Sebuah rintihan terdengar dari mulutnya, ia berhasil menghindari balok itu tepat di atas kepalanya, tapi sayang balok itu ternyata berhasil menghantam kakinya.
Dengan sekuat tenaga ia bangun dari jatuhnya, menghindari balok itu dengan satu kaki lainya, setelah berhasil kembali bangun, dengan kaki tertatih ia mengayunkan kembali kakinya menaiki tangga.
Masuk ke dalam ruangan yang ia tinggalkan bersama anggota nya atas perintah Jendra
"Dra" teriak nya menggelegar di setiap sudut ruangan
Dari penglihatan nya, di balik kabut asap yang memenuhi ruangan itu, samar-samar ia melihat Jendra, Arza melihat ke langit-langit bangunan memastikan tidak ada yang akan terjatuh lagi.
Sttt!!
Satu kali lompatan telah berhasil
"Dra" teriaknya
"Za? Lo ngapain disini? Keluar Za"
"Bacot, pegang tangan gue" Arza mengulurkan tangan nya ketika ia sudah melihat dengan jelas ada Jendra di depan nya dan Nadia yang berada di pelukan sang lelaki.
Sekuat tenaga Jendra mengulurkan tangan nya pada Arza tapi cukup sulit karena ia harus menahan Nadia dalam pelukan nya.
"****" umpat Arza ketika tak berhasil menahan tangan Jendra untuk tidak terlepas
Brugh!
Lagi-lagi sebuah balok besar yang berasal dari langit-langit bangunan menghantam mereka.
"Arghhh"
Jendra tumbang dengan kondisi tidak sadarkan diri, matanya kian tertutup ketika melihat kobaran api sudah menyebar ke seluruh bangunan.
__ADS_1